Sharing dan Diskusi Bersama Keluarga UNSA

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Forum Aktif Menulis Untuk Sahabat (UNSA) Surabaya yang berdiri pada 27 Januari 2010, kemarin pada Minggu, 28 Juni 2015 mengadakan reuni di restoran Sari Ratu Padang Jl. Diponegoro No. 24B Surabaya. Dari kebun binatang Surabaya ke utara sedikit. Sebagaimana agenda yang ditetapkan oleh mas Dang Aji Sidik acara reuni ini akan diisi dengan berbagi tentang tips dan pengalaman dalam dunia tulis-menulis, khususnya cerpen dengan pembicara utama Ken HanggaraUNSA Ambassador 2015 – sekaligus peluncuran buku novel berjudul “Genduk”.

Aku (Junaidi Khab/memakai songkok hitam) menghadiri acara tersebut bersama teman seangkatan dan sealmamater, Masduri yang juga sama-sama berasal dari Sumenep. Cuma bedanya, aku masih mahasiswa, dia sudah sarjana (sudah lulus). Baru pertama sampai di restoran itu, aku dan Masduri dibuat sedikit bingung mencari pintu masuk. Akhirnya lebih sepakat melewati jalan dari depan saja agar tidak nyasar atau salah-salah jalan, padahal ada jalan samping yang lebih cepat masuk dan menemui para anggota UNSA. Di ruang depan, aku dan Masduri langsung dipersilakan untuk menuju ruang dalam atau aku sebut saja ruang belakang karena memang ada di belakang.

Ketika aku masuk, aku melihat sebagian pojok ruangan sudah ada orang-orang berwajah baru duduk santai. Aku kira awalnya mereka adalah pelanggan restoran yang kebetulan juga mau makan di sana, tapi setelah kuperhatikan satu per satu, keyakinanku luntur mereka memegang buku seperti yang ada di meja tempat mengisi daftar hadir. Aku pun langsung mengulurkan tangan ke seorang laki-laki (yang kuyakini mas Aji) lalu seorang perempuan yang kuyakini mbak Jazim Naira Chand.

Aku pun disambut dengan baik oleh (kuyakini yang menyambutku itu) mbak Jazim Naira Chand dan mas Dang Aji Sidik di sebelahnya. Mbak Jazim begitu hangat dan akrab menyambut kedatanganku, dia seakan-akan tidak asing dengan wajahku di dunia maya facebook dengan menyebut namaku saat aku akan mengisi daftar hadir, meski pertemuanku baru pertama kali pada saat itu. Dulu sebenarnya hampir bertemu saat dia membagikan buku (sedekah buku) dan reuni keluarga UNSA, tapi sayangnya aku tidak bisa hadir dan bukuku dititipkan pada Maftuhatus Sa’diyah teman sealmamater denganku di UIN Sunan Ampel Surabaya.

Aku pun mengisi daftar hadir dan mendapat dua eks buku berjudul; satu buku berjudul “Silabus Menulis Cerpen itu Gampang” oleh Ken Hanggara UNSA Ambassador 2015 dan “Kumpulan Cerpen Lima Kidung Mimpi” oleh M Hasbi A.S, Ken Hanggara, Dang Aji Sidik, Jazim Naira Chand, dan Endang SSN. Awalnya, aku duduk berseberangan dengan Masduri, aku menghadap ke arah timur dan Masduri menghadap ke arah barat, sementara mayoritas teman-teman dan termasuk mas Aji dan mbak Jazim di belakangku, akhirnya aku memutuskan untuk duduk di sebelah Masduri dan sama-sama menghadap ke arah barat.

Sekitar setengah jam duduk, setelah teman-teman berdatangan satu per satu, lalu aku dan teman-teman yang lain pindah ke ruangan yang lebih representatif untuk berbagi cerita tentang penulisan cerpen dan penerbitan. Acara pun baru dimulai sekitar pukul 16:20 WIB. Reuni ini dibuka oleh mas Aji dengan prolog tentang dunia penerbitan, kemudian diganti oleh mas Ken Hanggara tentang penulisan cerpen. Aku menyimak dengan saksama hal-hal yang disampaikan oleh mas Aji dan mas Ken. Meski diselingi oleh sedikit gurauan, fokus pendengaranku tetap kupasang dengan baik. Usai prolog disampaikan oleh mereka berdua, tanya-jawab pun berlangsung.

Sharing dan Diskusi Keluarga Forum Aktif Menulis Untuk Sahabat (UNSA) Surabaya di Restoran Sari Ratu Padang Jl. Diponegoro No. 24B Surabaya (Doc. Junaidi Khab)

Sharing dan Diskusi Keluarga Forum Aktif Menulis Untuk Sahabat (UNSA) Surabaya di Restoran Sari Ratu Padang Jl. Diponegoro No. 24B Surabaya (Doc. Junaidi Khab)

Pada reuni UNSA tersebut, aku tidak banyak mengenal atau mengingat nama-nama keluarga UNSA – maaf ya teman-teman. Cuma beberapa orang saja yang mampu kuingat dengan baik nama dan wajah orangnya, di antaranya; Dang Aji Sidik, Jazim Naira Chand, Aris Rahman Yusuf, Ken Hanggara, dan Masduri temanku sendiri. Sementara yang hanya mampu kuingat wajahnya yaitu; mbak-mbak yang memakai topi (keren seh menurutku ala koboi metropolitan) katanya asal Bondowoso, perempuan asal Bangkalan yang menulis novel “The Chef” katanya, laki-laki putih berkacamata dari Majalengka (Sumedang) kuliah jurusan Sastra Inggris, anak ITS, anak SMA yang kukira mahasiswa (karena mayoritas keluarga UNSA masyarakat umum/ tua dan mahasiswa), anak yang rumahnya dekat Wonokromo, dan mas-mas yang tinggal di Juanda akun facebook-nya “Capung” katanya.

Sebenarnya, ada yang sangat kuharapkan dari reuni tersebut – aku bisa ngobrol dengan mereka masing-masing meski hanya lima menitan saja. Tapi tidak bisa, hanya sebagian saja karena mereka masing-masing sibuk dengan gadget-nya, entah apa yang mereka lakukan, atau sekadar iseng saja. Kalau aku bertemu dengan teman, aku pasti antusias untuk ngobrol dan berbagi banyak hal dari pengalaman masing-masing. Aku berharap jika dalam keluarga UNSA ada yang dari beda agama, aku suka itu. Aku tidak tahu, apa di antara teman-temanku kemarin ada yang beda agama, andaikan ada aku senang sekali dan ingin berkenalan.

Tapi, ada yang aku khawatirkan, aku takut di antara teman-temanku ada yang mudah tersinggung. Aku seh biasa-biasa saja, alias tidak mudah tersinggungan (hehe, semoga begitu terus untuk menjalin keakraban satu sama lain). Di antara teman-teman yang hadir, ada seorang perempuan yang seakan-akan aku pernah tahu orang itu, seorang perempuan yang jika tidak keliru pernah menjadi anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Solidaritas UIN Sunan Ampel Surabaya. Aku sungkan menyapanya, takut dia tidak mau disapa oleh aku karena berasal dari almamater yang sama, kadang teman-teman begitu.

Kadang bukan hanya sama almamater yang males bertutur sapa, sesama etnis (Madura) pun kadang malas bertemu dan ngobrol, kejadian ini pernah kualami ketika masih semester-semester awal kuliah. Aku menyapa seorang perempuan asal Madura, dia tidak mengaku orang Madura, setiap berbahasa denganku pasti menggunakan bahasa Indonesia, tapi dengan lainnya ketika kebetulan aku mendengarnya dia menggunakan bahasa Madura. Ah, aku sedikit terpukul. Sudah lah tidak masalah, mungkin dia orang malu mengakui latar belakangnya di hadapanku, entah karena aku yang kurang menarik atau aku yang terlalu udik.

Pada saat adzan maghrib, acara ditunda untuk berbuka puasa dan shalat maghrib. Kemudian dilanjut kembali dengan perkenalan, aku meminta pada mas Aji saat usai buka puasa agar keluarga UNSA satu per satu memperkenalkan dirinya, karena aku tidak banyak mengenal mereka masing-masing. Cuma ada satu yang tidak memperkenalkan diri pada saat perkenalan, dia (lupa namanya) orang Bangkalan, seperti bukan keluarga UNSA, dia hanya mengambil foto saja sepertinya.

Setelah perkenalan, dilanjut dengan bincang santai, lalu pengundian kartu (struk/ kwitansi) pengiriman pos, kemudian pembagian pin oleh mbak Jazim kepada yang bertanya atay bicara saat diskusi, baik dengan mas Aji atau mas Ken. Aku mendapat pin itu, oh senang sekali – kenang-kenangan yang akan kusimpan dengan baik. Setiap aku mendapat hadiah berbentuk apa pun, itu pasti kujaga dengan baik. Terimakasih mbak Jazim Naira Chand dan mas Dang Aji Sidik. Bagi teman-temanku yang lain, aku minta maaf jika ada kata-kata atau tingkahku yang mengganggu (membuat tidak) pada kalian baik yang tertulis atau pun yang tak tertulis. Silakan sampaikan ketidaksukaan (hal yang mengganggu) kalian padaku dengan baik sebagai koreksi agar aku menjadi yang lebih baik bagi kalian.

Aku punya saran untuk reuni keluarga UNSA, yaitu – Agenda Lisan-Tulisan. Jika sejak kemarin hanya diisi oleh diskusi dan sharing, maka untuk reuni berikutnya aku ingin setiap anggota bercerita. Bercerita dengan lisan ibarat kita menulis cepen, karena tidak semua orang mampu bercerita dengan baik. Bagiku, menulis cerpen tidak jauh berbeda dengan bercerita dengan lisan. Kadang seseorang mampu menulis cerita pendek, tapi tidak memiliki kemampuan bercerita dengan lisan yang baik, atau sebaliknya. Maka dari itu, penting menurutku, mengkolaborasikan keduanya. Selain belajar menulis cerpen, juga belajar bercerita dengan lisan yang baik layaknya menulis cerpen. Agenda Lisan-Tulisan ini aku kira cukup baik untuk mengembangkan potensi keluarga UNSA dalam bidang karya tulis dan karya lisan. Semoga.

Surabaya, 29 Juni 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: