Membangun Rasa Cinta untuk Indonesia

Harian Bhirawa: Jumat, 26 Juni 2015

Laut Atapupu Ketika janji memanggil kita untuk berkumpul kembali (Junaidi Khab)

Laut Atapupu Ketika janji memanggil kita untuk berkumpul kembali (Junaidi Khab)

Judul               : Laut Atapupu Ketika janji memanggil kita untuk berkumpul kembali

Penulis             : Arikho Ginshu

Penerbit           : Metamind (PT Tiga Serangkai)

Cetakan           : I, Maret 2015

Tebal               : vi, 250 hlm.; 20 cm

ISBN               : 978-602-72097-3-2

Peresensi         : Junaidi Khab*

Kehadiran novel yang berjudul “Laut Atapupu Ketika janji memanggil kita untuk berkumpul kembali” ini bukan semata-mata akan berkisah. Tapi ada pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Memang seperti itu karya-karya monumental lainnya, harus ada pesan yang disampaikan dari sebuah kisah. Namun, dalam karya ini bukan sekadar pesan agar manusia berbuat baik kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain. Pesan-pesan yang ingin disampaikan dalam karya ini termaktub sebuah nilai-nilai nasionalisme yang harus dipertahankan agar nusantara (Indonesia) ini benar-benar maju.

Uniknya, kisah-kisah untuk menyampaikan pesan mulia tersebut, penulis berhasil mengemas ide-idenya melalui karya sastra. Kata-katanya tidak begitu indah, namun makna dan pesan-pesannya yang penuh dengan mutiara. Jika dibaca hanya pada bagian awal, pembaca akan merasa bosan karena diksinya yang kurang menarik. Tapi, jika melewati bagian pertama sudah dapat dipastikan, pembaca akan ketagihan dan tidak akan berhenti membacanya, karena setiap akhir cerita selalu disajikan beberapa peristiwa yang membuat pembaca penasaran.

Kekeluargaan

Hal tersebut terbukti dengan keadaan sekolah yang ditempati untuk belajar yang secukupnya saja. Duduk mereka (para murid/ siswa) berjejeran pada meja yang hanya ada lima di sana. Bahkan, ada dua meja yang ditempati bertiga oleh mereka, dengan cara meletakkan sebilah papan di antara dua kursi temannya. Tak hanya meja, kursi mereka untuk belajar pun kurang. Miris sekali melihatnya (hlm. 8).

Andaikan sikap kekeluargaan tidak tertanam di hati sanubari bangsa Indonesia, mereka yang bersekolah dan kekurangan tempat bisa saja saling rebut dan berantem hingga terjadi kesenjangan yang berkepanjangan. Tapi, berkat sikap kekeluargaan yang ditanam di daerah Atambua, segalanya berjalan dengan baik, damai, dan tenteram. Begitu selayaknya bangsa Indonesia sebagaimana diajarkan oleh para founding fathers kita pada masa dahulu.

Spirit Nasionalisme

Jika kita artikan, nasionalisme merupakan kecintaan seseorang terhadap tanah airnya. Bahkan, mencintai tanah (daerah) tempat kita dilahirkan juga merupakan representasi nasionalisme yang dimulai dari hal yang paling dasar. Maka dari itu, kita jangan sampai melupakan tanah kelahiran di mana kita dilahirkan.

Jika daerah kelahiran kita para generasinya dimotivasi dan disemangati, maka mereka akan meninggalkan daerahnya sendiri untuk belajar. Lalu, mereka akan kembali lagi dengan ilmu dan pengetahuan yang luas. Sehingga daerah di mana seseorang dilahirkan bisa maju dan mampu memberikan yang terbaik bagi generasi berikutnya. Salah satunya mereka harus merantau untuk belajar ke luar daerah bukan untuk menetap, tapi untuk kembali ketika sukses, kemudian membangun daerahnya (hlm. 23).

Dengan kata lain, karya ini ingin menyajikan sebuah makna pengabdian bagi daerah (negara) di mana kita dilahirkan untuk memupuk semangat nasionalisme dari yang paling dasar, yaitu mencintai daerahnya masing-masing untuk dimajukan. Sehingga, dengan memajukan daerah di mana kita lahir dan tinggal, maka Indonesia akan maju dan siap bersaing dengan dunia internasional. Logikanya demikian pesan yang ingin disampaikan oleh penulis novel ini. Maka dari itu, kita boleh merantau, tapi jangan sampai melupakan daerah di mana kita dilahirkan.

Kisah-kisah yang disajikan dalam novel ini mampu menyentuh hati setiap pembaca. Bukan hanya perasaan senang saja yang akan berkelebat di hati sanubari, tapi perasaan bangga dan kagum bercampur haru akan menjadi hiasan setiap adegan-adegan yang disajikan oleh penulis. Kisah dalam novel ini juga menceritakan para tokohnya yang terpisah beberapa tahun lamanya, tapi mereka sadar untuk kembali ke tempat mereka masing-masing terlahir dan besar. Untuk apa? Bersatu dan hidup kembali bersama mereka yang tertinggal untuk lebih maju. Selamat membaca dan memajukan daerah kelahiran kita masing-masing!

* Peresensi adalah Pecinta Baca Buku, Bergiat di Komunitas Sastra UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tulisan ini bisa dibaca lebih lanjut melalui: Harian Bhirawa Jatim atau melalui, Harian Bhirawa. Jumat, 26 Juni 2015 Membangun Rasa Cinta untuk Indonesia oleh Junaidi Khab MB. Semoga memberikan manfaat bagi kita semua. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: