Khutbah Jumat (1), Ridho Kedua Orang Tua

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Pada Jumat, 26 Juni 2015 aku masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan Yang Maha Hidup untuk menghadiri shalat jumat berjamaah di masjid al-Taqwa Jl. Jemur Wonosari Wonocolo Surabaya Jawa Timur. Aku sangat beruntung bisa mengikuti khutbah yang isinya mudah untuk dicerna. Tapi, khutbah pada saat itu temanya masih tergolong klise, alias sudah lumrah dibicarakan di depan publik oleh para da’i. Tapi, ada hal baru yang bisa kudapatkan dari isi khutbah Jumat pada saat itu.

Ridho Allah ada dalam keridhoan kedua orang tua, sementara murka Allah juga berada dalam kemurkaan kedua orang tua. Jika tidak salah, itu merupakan suatu Hadis, aku lupa siapa periwayatnya. Tapi dulu pernah mempelajari dan menghafalnya ketika masih sekolah. Dengan cermat dan memfokuskan pendengaranku, kusimak dengan baik isi khutbah pada saat itu. Sang da’i atau orator menyampaikan khutbahnya dengan suara dan tempo yang sedang dan baik. Dia berkisah tentang ridho kedua orang tua, khususnya ibu.

Dia menceritakan perjalanan hidupnya sendiri dalam menggapai ridho orang tuanya, ibu. Suatu ketika, istri sang da’i mengalami sakit yang cukup begitu lama dan akut. Tiga bulan seperti yang dikatakan. Sekian lama dirawat di rumah sakit Surabaya tidak bisa disembuhkan maka dirujuk ke salah satu rumah sakit di Jakarta. Di Jakarta, biaya rumah sakit setiap hari Rp. 2500.000,- itu dikeluarkan selama kurang lebih tiga minggu untuk pengobatan istrinya. Dari sekian sampel DNA dan urin yang dilakukan oleh dokter di rumah sakit itu, baik yang dikirim ke rumah sakit dalam negeri atau luar negeri tidak mampu mendiagnosa penyakit istrinya.

Hingga, pada suatu kesempatan sang dokter meminta ijin padanya. Dia heran, kok tiba-tiba dokter baru minta ijin atas pengobatan istrinya, sejak semula dalam melakukan pengobatan tanpa pamit terlebih dahulu padanya. Dokter pun menjelaskan alasan minta ijin untuk pengobatan tersebut, yaitu karena biayanya yang cukup mahal. Sang istri harus disuntik dengan suatu obat seharga Rp. 20.000.000,- jika penyakitnya tidak terdeteksi tiga kali dalam sehari. Dia pun berpikir ulang, jika sehari istrinya disuntik tiga kali, berarti dia harus mengeluarkan uang dalam sehari bukan hanya Rp. 2.500.000,- tapi lebih dari Rp. 30.000.000,- dalam sehari.

Akhirnya dia melobi pada sang dokter, dia meminta agar tetap mendiagnosa penyakitnya. Sang dokter pun menyanggupi dengan syarat, jika penyakitnya masih tidak terdekteksi setelah dilakukan diagnosa ulang, maka harus diberi suntikan tersebut. Dia pun menyetujui, lalu dia pergi ke musolla dan mengambil wudu, lalu melakukan shalat, kemudian berdoa dan bermuhasabah tentang dirinya, dosa-dosanya, dan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya. Dia khawatir ada salah atau dosa yang diperbuat, sehingga mendapat ujian yang begitu memberatkannya.

Di tengah-tengah permenungannya, dia teringat tentang suatu peristiwa sejak dirinya masih remaja dulu. Dia mencuri uang ibunya sebesar Rp. 150,- uang dulu. Dia melakukan hal tersebut karena uang semester sekolahnya sudah nunggak dan orang tuanya tidak tahu, akhirnya uang ibunya dicuri. Rp. 75,- dibayarkan untuk uang semester dan sisanya dibuat jajan. Dengan segera, dia mengambil ponselnya, lalu menelpon ibunya yang ada di rumah.

Sapaannya yang tidak bisa ditutupi oleh kesedihan, ternyata masih mampu ditangkap oleh ibunya. Ibunya pun menanyakan keadaannya, dia bilang baik-baik saja. Kemudian, di tengah percakapannya dia mengingatkan tentang uang Rp. 150 ,- yang pernah dicuri dulu ketika masih remaja.

Anak: “Ibu masih ingat dengan uang Rp. 150,- yang dulu hilang?” Tanyanya dengan nada sedih.

Ibu: “Iya nak. Sampai mati pun aku tidak akan pernah melupakannya.” Jawab sang ibu.

Anak: “Kok sampai demikian ibu?” Tanyanya penuh ketakutan.

Ibu: “Uang itu kukumpulkan dengan jarih payahku untuk membayar tagihan hutang. Ketika uang itu mau kubayarkan, tiba-tiba lenyap dari bawah tikar. Peristiwa itu membuatku tidak bisa memaafkan orang yang telah mencurinya. Aku pun meminta maaf karena tidak membayar hutang. Kamu tahu kan nak, ibu pada waktu itu dipermalukan. Ibu dicemooh dan dicaci-maki di depan orang banyak. Harga diri ibu hancur.” Kisahnya dengan penuh kesedihan.

Anak: “Apakah ibu tahu siapa pencurinya?”

Ibu: “Ibu tidak tahu, nak.”

Anak: “Ibu, saya minta maaf. Uang itu yang mencuri adalah saya sendiri untuk membaya uang semester dan sisanya untuk jajan.” Akunya dengan penyesalan.

Ibu: “Teganya kamu melakukan hal itu, nak? Tapi ini juga salah ibu telah memendam dendam begitu dalam pada pencuri itu, kamu. Ini sebenarnya bukan salah kamu.”

Anak: “Apakah ibu mau memaafkan kesalahanku?” Tanyanya penuh harap.

Ibu: “Iya, nak. Ibu memaafkanmu.”

Anak: “Kalau begitu, saya minta doakan istri saya agar penyakitnya bisa ditemukan dan bisa disembuhkan, bu.” Pintanya penuh harap.

Ibu: “Iya, nak. Abu memaafkanmu dan semoga istrimu cepat sembuh.”

Anak: “Terimakasih, bu.”

Telpon pun ditutup. Dia mendatangi ruang tunggu. Di sana tiba-tiba seorang dokter datang menghampirinya. Penyakit istrinya ternyata bisa diagnosa, sehingga dia tidak harus disuntik dengan obat yang harganya Rp. 20.000.000,- sekali suntik. Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengampun, sang da’i pun menemukan jalan keluar atas problema kehidupannya yang sulit itu. Hal itu tak lain karena ridho ibunya yang barus saja diminta melalui telepon. Istrinya bisa sembuh dengan biaya yang masih bisa dijangkau oleh dirinya.

Surabaya, 27 Juni 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: