Makna Shalat dan Filosofinya

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Segala puji bagi Tuhan semesta alam. Pada hari Jumat, 22 Mei 2015 aku berkesempatan untuk melaksanakan shalat Jumat di Masjid Nasional al-Akbar Surabaya bersama teman kamarku, anak Bangkalan, M Syafi’i. Awalnya dia yang mengajakku untuk shalat ke Masjid Nasional al-Akbar Surabaya, karena dia ingin tahu dan ingin merasakan shalat di sana. Aku mau saja, karena shalat Jumat di dekat tempatku tinggal khotbahnya biasa-biasa saja, kurang menarik. Maka dari itu, aku berharap dari shalat Jumat di Masjid Nasional al-Akbar Surabaya akan memberikan hal baru atau paling tidak khotbah yang lebih menarik.

Harapanku seakan terkabulkan, isi khotbah pada waktu itu sangat menarik bagiku, menceritakan tentang makna gerakan dalam shalat baik makna secara horizontal atau vertikal. Dari sekian banyak ulasan tentang makna dan filosofi shalat, aku hanya memegang beberapa pernyataan yang menurutku lebih penting yaitu mengarah pada persoalan sosial. Tujuan aku shalat Jumat ke Masjid Nasional al-Akbar Surabaya bukan hanya itu saja, tapi di sana lebih nyamana dan luas. Tempat untuk jamaah memang lebih sempurna dibanding dengan masjid-masjid lainnya. Namanya saja Masjid Nasional al-Akbar Surabaya, tidak mengherankan.

Hal yang paling kuingat dari isi khotbah tersebut yaitu tentang hakikat takbirotul ihrom (ucapan takbir yang dibarengi dengan niat) dengan mengangkat kedua tangan. Secara vertikal, amaliyah (pekerjaan) demikian sebagai simbol kepasrahan umat manusia (Islam) kepada Tuhannya. Mengangkat kedua tangan merupakan simbol lemah dan menyerah atas Yang Kuasa (Tuhan). Ketika kita memulai shalat, awal mula kita harus pasrah kepada Tuhan dengan segenap jiwa dan raga, hal tersebut digambarkan dengan mengangkat kedua tangan.

Jika kepasrahan umat manusia (Islam) ketika pasrah kepada Tuhan dengan mengangkat kedua tangan ketika bertakbir, maka tidak jauh berbeda ketika manusia menyerah kepada manusia lain. Misalkan seorang perampok atau pencuri yang tertangkap oleh aparat keamanan, maka mereka diminta untuk angkat tangan dengan melepas segala atribut persenjataan yang dibawa sebagai tanda menyerah dan pasrah (kalah). Apabila dalam shalat kita masih manaruh rasa sombong dan angkuh, maka secara sederhana shalat yang kita lakukan belum sempurna, karena permulaan shalat saja sudah dimulai dengan ritual pasrah, menyerah, dan kalah pada kekuasaan Tuhan.

Pada saat yang sama, pikiranku melayang jauh. Aku teringat dengan Fron Pembela Islam (FPI) yang tergolong aliran Islam radikal. FPI ini setiap melihat kemungkaran selalu menggunakan tenaga untuk menumpasnya. Selain menggunakan tenaga atau otot, di tengah-tengah itu ada suara takbir (Allah Akbar!). Aku jadi berpikir ulang tentang hakikat takbir. Dalam shalat, takbir diucapkan sebagai simbol bahwa Tuhan Mahaagung dan Mahabesar kekuasaan-Nya, selain memang sebagai bentuk kepasrahan umat manusia kepada Tuhannya. Namun, oleh FPI takbir digunakan untuk mengamuk tanpa ampun terhadap orang-orang tertentu yang melakukan maksiat. Aku jadi bingung. Di sisi yang lain takbir disimbolkan sebagai bentuk kepasrahan (dalam shalat), sementara di lain sisi pula takbir dijadikan simbol kekuatan (kekerasan yang dilakukan oleh FPI).

Aku tidak menemukan dalil tentang pengucapan takbir ketika menghancurkan kemaksiatan, karena takbir diucapkan sebagai bentuk simbol kekuasaan Tuhan dan kelemahan manusia. Pada intinya, aku kurang setuju dengan tindakan yang dilakukan FPI ketika mendengar khotbah Jumat, 22 Mei 2015 di Masjid Nasional al-Akbar Surabaya. Begini, aku punya satu pertanyaan sekaligus penyataan. Berhasilkah FPI dengan kekuatannya itu mengubah kemungkaran menjadi kebaikan? Atau mereka hanya merusak, tapi tidak ada pengubahan sama sekali. Bahkan, Islam lebih dipandang sebagai agama yang keras. FPI di sini harus bertanggung jawab atas tindakannya yang mengubah pandangan masyarakat bahwa Islam dipandang sebagai agama yang keras dan kejam dalam urusan kejahatan.

Padahal, dalam hadis yang dijadikan sebagai pegangan oleh FPI tentang kemaksiatan, hadis tersebut bukan memerintahkan agar menghancur kemaksiatan tersebut, tapi mengubahnya agar tidak jadi maksiat. Ya, mengubah dengan tangan. Dalam hal ini, tangan bisa kita maknai sebagai tenaga, bukan kekerasan. Dengan segala tenaga yang kita miliki, jika melihat kemungkaran maka harus mengubahnya dengan tangan (tenaga). Jika tidak bisa menggunakan tenaga maka mengubah dengan lisan, tidak bisa lagi menggunakan lisan, maka mengubah dengan hati. Intinya mengubah, bukan merusak atau menghancurkan dengan membabi-buta. Jika dihancurkan, lalu apanya yang mau diperbaiki? Rusak semua tidak ada sisa. Ingat, mengubah dan menghancurkan itu berbeda. Wajah dan dahi juga berbeda. Mohon maaf sebelumnya kepada saudaraku – FPI – jangan bunuh aku.

Mari kita berdialog dengan pikiran dingin dan hati tenang. Jangan sampai aku ditampar atau dibacok, nanti aku bisa terluka dan berdarah. Bisa-bisa jika Tuhan menghendakiku mati, ya mati beneran. Aku berdoa kepada Tuhan, selamatkan diriku dari kejahatan dunia dan akhirat. Amin.

Surabaya, 29 Mei 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: