PERKENALKAN, NAMAKU GERIMIS…

KOMPAS: Ahad, 21 Juni 2015

Oleh Yanusa Nugroho

PERKENALKAN, NAMAKU GERIMIS... Oleh Yanusa Nugroho (Junaidi Khab/ KOMPAS)

PERKENALKAN, NAMAKU GERIMIS… Oleh Yanusa Nugroho (Junaidi Khab/ KOMPAS)

Begitulah suara yang tiba-tiba muncul, di suatu sore musim kering.

Dia terhenyak di antara sunyi yang mengepungnya. Begitu saja, perempuan muda itu datang dan berucap salam kepadanya. Tiba-tiba saja, dia seperti terdesak dan terpaksa masuk ke sebuah dunia yang selalu disebutnya sebagai kenangan. Kenangan, di manakah sebenarnya tempat itu?

Maka, demikianlah yang terjadi. Setiap kalimat yang diucapkan bibir cantik itu, memaksa lidahnya sendiri untuk menciptakan—atau paling tidak—mengambil kosa kata lain, yang lebih indah tentu saja, menurut pertimbangannya.

Percakapan mengalir di beranda itu. Senja melorot dengan sangat cepat, dan menelanjangi tubuh malam yang molek. Laki-laki muda itu kembali di sebuah kenangan.

”Jadi… apa judulnya?” laki-laki itu selalu memulai percakapan dengan pertanyaan seperti itu. Dan pada saat-saat seperti itu, dia selalu saja merasa menjadi laki-laki terbodoh di dunia, yang selalu tak sempat menyisir rambut, mandi, atau bahkan memakai sandal jepit dengan benar. Kegugupan selalu saja mengepungnya. Selalu saja dia merasa tak pernah siap.

”Nggak tahu…” sebuah jawaban lincah, singkat, tajam dan begitu muda, melenting begitu saja.

”Novel apa sih, yang mau ditulis?”

”Pokoknya, yang romantic,” dan seraut wajah riang menyertai ucapan singkat itu.

Mereka di pantai. Laut pasang-naik, karena bulan tanggal empat belas. Lalu, entah mengapa laki-laki itu mengajaknya diam. Mereka menangkap debur ombak, dan menjadikannya sebagai debur jantung mereka sendiri. Desau angin menjelma desah napas.

”Kenapa sih, gak mau pakai BB? Atau WA, kan, jadi lebih gampang ngobrol. Kan, ’memudahkan berhubungan dengan orang terdekat’.. kata iklannya…” lalu debur ombak dan gelak tawa menyatu, di malam itu. Mereka menertawakan ketololan yang mengepung mereka. Mereka menertawakan kebutaan dan kedunguan manusia, yang bahkan mengobrol pun harus menggunakan alat bantu.

Tidak. Laki-laki itu memang tak mau menggunakan alat bantu apa-apa. Dunia maya telah menyata dalam kehidupan yang mengepungnya. Semuanya maya. Itulah sebabnya dia selalu rindu. Jiwanya gelisah karena kesunyian yang mengepungnya. Kesunyian yang mengungkungnya. Inikah hidup yang dihadapinya saat ini?

Lantas kemanakah perginya gelak tawa, canda jenaka, pekik geli, atau sekadar ”aww…” , atau ”iih…”, dan ”genit, ah…” yang dulu selalu mengisi ruang-ruang di rumahnya? Mendadak semuanya lenyap. Mendadak? Mungkin juga sebenarnya tidak, hanya saja, perubahan itu terlalu membosankan untuk diperhatikan. Mungkin juga terlalu sia-sia untuk dicermati. Atau dia sendiri terlalu bebal untuk bisa menangkap gejala?

Anak-anaknya telah beranjak dewasa. Mereka telah memiliki dunia masing-masing. Begitu juga istrinya, yang entah mengapa telah menjelma bidadari dan selalu berada di istana kemayaannya. Istrinya berada di sebuah ruang yang entah di mana. Mungkin memang tengah menikmati ruang yang dibentuknya sendiri, sehingga tak mau lagi keluar menemui suaminya. Ah, entahlah, laki-laki itu bingung sendiri, merasa begitu bodoh, menjadi pecundang tak ketulungan. Merasa menunggu sesuatu yang sia-sia, dan kembali harus mengalah, meringkuk dalam sarung tuanya yang mulai bolong di sana-sini.

”Nanti kalau dapat honor, aku beli-in BB, ya? Mau, ya? Please…”

Laki-laki itu tersenyum. Angin laut menjambak rambutnya yang beruban, mengelabu, di sana-sini.

”Buat apa?”

”Biar kalau nggak bisa bobo, kita bisa berbagi dongeng..Ya, please..mau, ya?”

”Aku tidak punya dongeng apa-apa.”

”Ih, gitu deh.. Sombong. Angkuh. Egois. Makanya ditinggalin istrinya. Biar kapok.”

Begitu saja, tanpa kata dan hanya debur jantung yang menguat, laki-laki itu meraih si dara, memeluknya erat dan menciumnya dengan sepenuh hangat. ”Kamu nggemesin,” bisiknya sesaat kemudian.

”Aku nggak mau BB…aku mau AT…” canda laki-laki itu sambil meraih si dara duduk di sampingnya.

Pasir hangat. Dihangati cahaya dan debur ombak.

”AT? Apa tuh?”

”Aroma Tubuh.”

”Iiih…lagi kangen sama istrinya, ya?”

Laki-laki itu diam saja.

”Kok masih kangen sama dia, sih? Bego.”

Laki-laki itu masih saja diam. Bulan terlalu bulat. Bulan terlalu jauh untuk bisa direngkuh.

”Emang, aku kurang cantik dibanding dia, ya?” Cecar si dara dengan suara nyaris tertelan debur ombak.

”Sudah, ah. Mau ngobrolin novel kamu, atau ngomongin orang lain?” ucap laki-laki itu dengan suara dingin.

Debur ombak mengguruh. Langit bersih. Angin menarik-narik rambut dua orang itu. Bau asin laut mengisi sunyi. ”Lelaki Tua dan Laut,” tiba-tiba si laki-laki menggumam. Entah mengapa dia ingin mengajak gadisnya menjelma Santiago(*) tua, yang selama 84 hari mengarungi lautan lepas dengan biduk kecilnya, dan kembali membawa ikan todak sepanjang hampir 6 meter ke kampungnya.

”…tapi tinggal rangkanya, kan? Kan, dagingnya habis dimakan hiu? Gak mau, ah, sia-sia,” jawab si gadis sambil menyandarkan kepalanya ke pundak si lelaki tua.

”Tapi, setidak-tidaknya dia bisa mengatakan pada hidup, ini lho yang namanya setia. Nah, sekarang, kita, apa yang bisa kita katakan pada hidup kita sendiri; ’ini lho hp versi baru, asyik bisa ceting, bisa cetong, bisa kencing dan tampil kinclong?”

Sekali lagi debur ombak tenggelam oleh gelak tawa si dara. Laki-laki itu mulai sejuk, dia kembali mendengar kegembiraan melonjak-lonjak memijari jiwanya. ”Kalimatmu lucu, kaya’ kalimat iklan..eh, nglamar jadi copywriter aja…gajinya gede.”

”Sudah pernah.”

”Idiih…sombong!”

”Aku bisa lebih sombong daripada batu, kalau aku mau,” gumamnya entah kepada siapa.

Jadi, begitulah. Beberapa sore, setelah kemunculan yang begitu tiba-tiba itu, mereka menikmati pergantian warna langit barat. Dan mereka selalu saja seperti diikat oleh sebuah kesepakatan—tepatnya kesempatan, untuk bertemu dan duduk di pasir pantai. Tak ada yang mereka rencanakan, selain duduk diam, sesekali bercanda, dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja.

”Kamu itu, kalau aku bayangin, kayak Loemadara,” ujar laki-laki itu sambil membayangkan pantai-pantai di Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan. Sesaat dia mengembara di larik-larik kalimat novel Romo Mangun. Sementara si dara yang di sampingnya, yang sambil menyandarkan kepala di pundak laki-laki itu tak mendapatkan gambaran apa-apa dari kalimat itu.

”Siapa, tuh? Pasti cantik, kayak, aku.”

”Bayangkan, begini. Jauh di sebelah sana…dan layangkan kenanganmu, nun, di abad ke-16.. Di kerajaan Jailolo, yang sudah takluk pada kekuasaan Ternate,” sengaja laki-laki itu menciptakan jeda agak panjang, seakan memberi ruang bagi si dara untuk membangun ”dunia”-nya.

”Kok, mandeg? Terusin, dong,” si dara menggoda.

Laki-laki itu kembali membangun Dowingo-Jo_sebuah kampung di Teluk Kau, yang penduduknya sangat terampil membuat kapal-kapal. ”Hanya para dewa yang tahu, sejak kapan kampung itu melahirkan para pembuat kapal dan perahu, yang sanggup melayari samudera raya. Dan di sana, hiduplah seorang kepala kampung yang ketika muda terkenal sebagai perompak lautan: Kiemelaha Kiemadudu,” tambah lelaki itu.

”Terus, hubungannya dengan Loemadara? Oh, aku tahu, pasti dia gadis yang jadi rebutan…terus, dia sudah punya pacar…terus, pacarnya disuruh raja pergi perang…tapi sebetulnya tidak ada perang…lantas…”

Laki-laki itu tergelak, dan sambil memencet hidung bangir itu, dia katakan bahwa si dara sudah mencampuradukkan kisah Loemadara dengan Layonsari-Jayaprana.

Dunia yang perlahan dibangunnya itu, ternyata lebih indah dari dugaannya semula. Laki-laki itu kini menemukan kembali gelak tawanya yang kekanak-kanakan. Dia tak ingin menjadi tua, dia ingin tetap menjadi anak-anak ingusan, yang membiarkan ingusnya keluar masuk lubang hidung, atau memantrai angin agar berembus, ketika menaikkan layang-layang. Dia ingin tetap berkalung katapel, dan menembaki buah-buah kenari di pinggiran jalan, memecahkannya dengan batu, lalu memakan daging gurihnya di pinggiran jalan itu juga.

”Masalahnya, aku enggak pengen jadi Loemadara,” begitu saja bibir cantik itu membisikkan kata-kata ke telinganya. Laki-laki itu diam, paham. Kaukah Loemadara-ku? tanya laki-laki itu dalam hatinya.

”Kenapa? Kan, cantik,” goda laki-laki itu.

“Ya, tapi. ..dia bukan milik Kiemadudu satu-satunya, kan?”

”Ooo..itu. Yaah..nggak apa-apa.”

”Kok, gitu, sih? Kok, nggak apa-apa?”

”Lha, terus, mau jawab apa, coba?”

Tak ada yang berani mengisi sunyi yang tiba-tiba tercipta saat itu. Kedua bibir manusia itu terkunci begitu saja. Meskipun, sesungguhnya, kalimat dan anak-anaknya berdesakan, menggemuruh, tak sabar dalam antrian panjang untuk keluar dan menghambur menemui kebebasan.

Mungkin rasa saling memiliki itu, ada. Mungkin, perasaan hampa itu telah menjadi milik bersama. Di hiruk-pikuk kota, yang bukan hanya disesaki oleh bunyi dan asap, yang dijejali oleh manusia, kendaraan dan gedung-gedung, tetapi juga gelombang elektronik dari pelengkap peradaban, mereka seperti terjebak oleh rasa sepi mereka sendiri.

”Kok, kamu jadi gampang nyerah, gitu, sih,” bisik si cantik itu sambil kembali menyandarkan kepalanya ke pundak laki-laki itu. Rambut panjangnya yang hitam, sesekali dimainkan angin.

”Aku ini Arjuna, lho,” ucap si laki-laki dengan nada canda yang hangat, yang disambut dengan sebuah cubitan dipinggangnya.

”Ge-er.”

”Lho, berapa ratus peperangan sudah kuhadapi, dan semuanya menyimpulkan satu hal: yang ada hanya kekalahan. Tak ada yang namanya kemenangan.”

”Serius amat.”

”Biarin. Yang terjadi di kita ini, nggak serius, menurut kamu?”

”Kenapa jadi rumit, sih? Sebenarnya, kamu, gimana, sih, ke aku?”

”Aku ingin bangun dari tidur ini. Aku ingin ngobrol biasa, dengan suara yang jelas bisa kubedakan intonasinya. Aku ingin menghirup sebatok Kopi Kawa, yang segar, lalu berkelakar tanpa hitung-hitungan untung rugi. Aku berharap banyak, kamu yang bisa membangunkanku dari tidur panjang ini. Aku ingin, kau bisa mendatangkan gerimis di sore kemarau ini. Tak usah hujan, gerimis saja cukup, bagiku.”

Laki-laki itu menghirup kopinya yang telah dingin. Menyibak beberapa halaman buku, mengetikkan kutipan kalimat yang ada di buku, dan tersenyum-senyum sendiri. Dia tengah merampungkan sebuah kisah. Tepat pukul 24, teks itu hancur, menjadi partikel, memasuki lorong gelombang, kemudian memasuki kotak surat masuk entah milik siapa.

Hening di luar sana, juga di sini. Laki-laki itu mencoba berjalan kembali, menelusuri sisa kenangan yang mungkin masih dimilikinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: