HAKIM SARMIN

KOMPAS: Ahad, 31 Mei 2015

Oleh Agus Noor

HAKIM SARMIN Oleh Agus Noor (Junaidi Khab/ KOMPAS)

HAKIM SARMIN Oleh Agus Noor (Junaidi Khab/ KOMPAS)

Keadilan memang lebih mudah didapatkan di luar pengadilan, batin Hakim Sarmin saat memandang perempuan yang duduk di kursi terdakwa itu. Selama persidangan perempuan itu hanya membisu, seolah yakin bahwa apa pun yang dikatakan tak akan membuatnya mendapatkan keadilan.

Umurnya 36 tahun, berkulit langsat dan terlihat menjadi semakin bersih dengan kemeja warna lembut yang dikenakan. Rambutnya agak ikal panjang sebahu. Bibir, pipi dan alisnya yang tanpa riasan seolah tak tersentuh dosa. Hanya matanya yang gelap keruh, seperti biji salak lisut, tapi dengan sorot tajam, membuat siapa pun yang menatapnya akan cepat-cepat mencari cara untuk menghindar. Mata seperti itu tak hanya misterius, tapi juga pintar menyimpan rahasia. Siapa pun tak akan menyangka ia membunuh lima lelaki, setelah menyimpan dendamnya begitu lama. Pembunuhan itu begitu rapi, dengan detail rencana yang nyaris sempurna, berlangsung selama dua tahun, dari pembunuhan lelaki pertama sampai lelaki kelima.

Lelaki pertama mati dengan leher terjerat kawat. Lelaki kedua mati disiram bensin dan dibakar. Lelaki ketiga mati dengan wajah pucat ketakutan: lidah dan kedua telinganya dipotong, sementara kemaluannya hancur dihantam lonjoran besi. Lelaki keempat mati dengan kepala remuk. Dan mayat lelaki kelima ditemukan terpotong-potong dalam kantong plastik hitam yang dibuang ke selokan.

Serangkaian pembunuhan itu mungkin akan selamanya tak terungkap, bila bukan karena sesuatu yang tak diduga-duga. Seseorang menemukan dompet yang terjatuh di jalan, dan menyerahkannya ke kantor polisi. Di dompet itu ada KTP dan satu foto lelaki yang kemudian dikenali polisi sebagai orang yang oleh keluarganya dilaporkan telah hilang sejak setahun lewat. KTP itu membawa polisi ke alamat perempuan itu, dan ketika menelisik lebih jauh, ditemukan lima potret lelaki di album foto yang disimpan perempuan itu di laci lemari kamarnya. Lalu polisi tahu, kelima lelaki tersebut sudah tewas. Banyak memang kasus-kasus pembunuhan akhirnya terbongkar karena hal-hal yang sepele. Dari foto-foto itulah kemudian polisi bisa membuktikan kalau perempuan itu memang sudah lama merencanakan membunuh lima lelaki itu. Lima lelaki yang telah memperkosanya.

Perempuan itu tak banyak bicara, sejak polisi menangkap dan menginterogasi. Dan hanya diam membisu selama persidangan, membuat senewen jaksa yang terus mencecarnya. Dalam kebisuannya ia seakan ingin menegaskan: dendam adalah jalan terbaik untuk mendapatkan keadilan. Dan hukum yang buruk membuat orang lebih percaya pada dendam. Bertahun-tahun menjadi hakim, Hakim Sarmin bisa mengenali keteguhan seorang terdakwa dari sorot matanya. Mata perempuan itu mata yang tak lagi takut pada apa pun, bahkan pada kematian. Kematian memang tak lagi menakutkan bagi mereka yang menuntut keadilan.

Hakim Sarmin telah menangani bermacam perkara berat, tapi ini akan menjadi yang terberat dalam karirnya. Ia pernah mengalami tekanan ketika menangani kasus korupsi seorang Jenderal polisi bintang tiga. Pada mulanya, ia merasa bangga karena dipercaya menjadi hakim yang menyidangkan Jenderal polisi. Ia merasa, itu adalah lompatan terbesar dalam karirnya. Sampai kemudian ia menyadari, ia ternyata hanya dikorbankan; karena seperti Tuhan yang bekerja dengan cara rahasia, dalam hukum ada tangan-tangan tak terlihat yang bisa mengatur hasil akhir perkara. Nyaris setiap hari ia menjadi bahan ledekan dan lelucon di koran dan televisi ketika ia membebaskan Jenderal itu dari semua tuntutan. Lelucon terbesar dalam penegakan hukum, begitu koran dan televisi menyebut keputusannya. Hakim kini lebih lucu dari pelawak, komentar lainnya.

Itu pelajaran terpenting baginya selama 22 tahun menjadi hakim.

Kini Hakim Sarmin mesti memutuskan hukuman perempuan itu. Sidang berlangsung tertutup, tapi Hakim Sarmin tahu, di luar sana puluhan wartawan menunggu dan siap menyambar apa yang diputuskannya. Pemberitaan media seringkali lebih kejam dari hasil akhir persidangan.

”Saudari terdakwa, apakah Saudari dalam keadaan sehat?”

Perempuan itu tetap diam.

”Apakah Saudari ingin menjawab apa yang dikatakan jaksa?” Hakim Sarmin bertanya dengan suara pelan, tapi menekan. Seringkali ia menikmati saat-saat seperti ini, ketika para terdakwa dengan tatapan pasrah menyerahkan nasib kepadanya. Tapi perempuan itu tetap bergeming.

”Apakah Saudari akan membantah, bahwa Saudari melakukan semua pembunuhan itu?”

Mata perempuan itu makin menatap tajam.

Dalam persidangan pembela telah menjelaskan semuanya. Peristiwa pemerkosaan itu terjadi enam belas tahun lalu, saat perempuan itu berumur dua puluh tahunan. Malam itu ia pulang kerja naik angkot. Ada dua lelaki di angkot itu yang membuatnya gelisah. Ia ingin turun segera, tetapi angkot malah melaju makin cepat dan tiba-tiba berbelok keluar jalan yang seharusnya dilewati. Ia melawan sekuat tenaga ketika dua lelaki itu menyekapnya. Angkot berhenti di pinggiran sawah, dan ia diseret ke sebuah rumah. Telah menunggu beberapa lelaki di rumah itu. Malam itu menjadi malam paling celaka yang tak pernah ingin diingatnya, tetapi terus menghantui sepanjang hidupnya. Ia memendamnya. Apalagi ketika ia tahu, salah seorang pemerkosanya anak seorang politisi. Ia mengenali wajahnya dari poster-poster yang banyak terpasang di jalanan saat kampanye pemilu.

Ia tahu, ketakutan hanya akan membuat hidupnya makin tak berdaya. Dendam yang tak diselesaikan adalah dendam yang menyedihkan. Seperti kesabaran, dendam juga punya batas. Lalu mulailah ia merencanakan semua pembunuhan itu. Bertahun-tahun ia merencanakannya dengan sabar, menunggu saat terbaik. Pembunuhan pertama selalu menjadi pembunuhan yang tersulit. Ia mesti berjuang keras mengatasi ketakutannya. Dendam memang selalu membutuhkan keberanian. Tapi kemudian ia berhasil melewati ketakutan itu. Baginya rasa takut tak lebih mengerikan dari maut. Dari lelaki pertama yang dibunuhnya itulah ia bisa tahu nama-nama pemerkosa lainnya. Pembela berkali-kali menegaskan bahwa apa yang dialami perempuan itu mesti menjadi pertimbangan. Dalam kasus pemerkosaan, tegas pembela, para pelaku akan melupakan, sementara korban menanggung penderitaannya seumur hidup.

Hakim Sarmin menarik napas dalam-dalam ketika perempuan itu terus menatapnya. Mata yang menuntut keadilan memang selalu menggelisahkan. Pernah Hakim Sarmin mengadili seorang nenek berumur 70 tahun yang mencuri sebungkus biskuit di minimarket. Selama persidangan nenek itu terus menangis dan mengiba, meratap dan bahkan bersujud minta ampun. Ia terpaksa mencuri biskuit itu untuk cucunya yang masih bayi dan sudah dua hari tak makan. Hakim Sarmin selalu teringat pada mata tak berdaya nenek tua itu ketika akhirnya ia menvonis dua tahun penjara.

Beberapa bulan kemudian Hakim Sarmin mendengar nenek tua itu mati karena sakit di penjara. Lalu pada suatu malam almarhum ibunya muncul dalam mimpinya. Hakim Sarmin melihat bayangan ibunya berdiri di bawah pohon besar hitam penuh ular melilit cabang-cabang yang bagai tangan terulur menjulur hendak mencekik. Makin lama pohon itu makin membesar, dan ibunya menjelma bidadari bersayap cahaya yang gemerlapan. Ibunya terlihat menggandeng nenek tua itu. ”Lihatlah, anakku,” kata ibunya. Hakim Sarmin menyaksikan pohon besar penuh ular itu bergemuruh seolah dihantam angin puyuh. Sementara nenek tua yang digandeng ibunya memandangi Hakim Sarmin, sampai Hakim Sarmin menyadari bila mata nenek itu hanya hitam serupa kepompong. ”Jika kau tak bisa melihat kebenaran, suatu hari kebenaran akan mengambil matamu.”

Ibu Hakim Sarmin meninggal dunia ketika Hakim Sarmin masih kanak-kanak. Sebelum meninggal ibunya pernah bercerita sembari dengan lembut mengusap kepala Sarmin yang berbaring di pangkuan. ”Tahukah kau, Sarmin anakku, ketika seseorang mendekati ajalnya, akan muncul bidadari. Bila semasa hidupnya orang itu penuh kebaikan, bidadari itu akan tersenyum dan membawanya ke surga. Tapi bila orang itu jahat, maka bidadari akan mengambil matanya hingga dalam kematian orang itu hanya merasakan kegelapan.” Dalam mimpinya itu, Hakim Sarmin hanya bisa terpana ketika ibunya mencabut kedua matanya dan memberikan kepada nenek tua itu. Seketika Hakim Sarmin disergap kegelapan, dan ia mendengar ibunya berkata, ”Yang membahagiakan seorang ibu hanyalah perbuatan baik anak-anaknya…” Hakim Sarmin melihat nenek tua yang mengenakan matanya. Tapi ia tak lagi mengenali matanya sendiri itu.

Kini dalam pandangan Hakim Sarmin, perempuan yang duduk di kursi terdakwa seperti mengenakan mata nenek tua itu. Mata yang menuntut keadilan!

Ruangan terasa gerah padahal berpenyejuk udara. Hakim Sarmin mengusap ujung lengan toga pelan-pelan, sekadar mengalihkan kegelisahannya. Hakim Sarmin tak bisa menyembunyikan gemetar di rahangnya yang kekar. Bila kulitnya tak hitam kusam, pasti kini ia akan terlihat pucat ketika ia melihat bayangan hitam bersayap yang berdiri di pojok belakang ruang sidang. Kedua alis Hakim Sarmin yang lebat tampak melorot ketika ia menyipitkan matanya. Hakim Sarmin gemetar.

Keadilan tak akan pernah terpuaskan oleh dendam, karena itulah hukum diperlukan. Hakim Sarmin tahu apa yang harus ia putuskan. Jaksa menuntut penjara seumur hidup. Tapi ia akan menvonis mati perempuan itu. Tuhan mengetahui semua kebenaran, tapi di pengadilan, hakimlah yang menentukan. Hakim Sarmin tahu, ia pasti akan kembali diolok-olok karena keputusannya ini. Tapi hukuman mati untuk perempuan itu ia anggap yang terbaik.

Hakim Sarmin bisa memahami dan menerima semua argumen hukum dalam tuntutan jaksa. Tapi Hakim Sarmin tahu persis, ada yang salah dan tak pernah terungkap dalam persidangan. Jaksa dan pembela mengatakan bahwa perempuan itu diperkosa lima lelaki. Itu keliru. Bukan lima. Tapi enam. Hakim Sarmin tahu persis, karena ia ada di sana ketika peristiwa itu terjadi…

(Cerita buat Budi Darma)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: