Menulis dengan Buku Terbitan Lama

Harian Analisa: Selasa, 9 Juni 2015

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Berbicara buku, juga berbicara tentang dunia, tentang masa, tentang pemikiran, tentang kehidupan, dan tentang berbagai persoalan yang dihadapi oleh manusia. Buku tak lain merupakan akses manusia untuk melihat dunia. Melalui buku, tirai dunia akan mudah disingkap. Cara paling efektif untuk menyingkapnya yaitu dengan membaca buku. Sebagaimana ungkapan sosok Promoedya Ananta Toer, “Dengan membaca kita akan mengenal dunia, dan dengan menulis kita akan dikenal oleh dunia”.

Sudah jelas, buku merupakan sebagai jendela untuk menyingkap tirai kehidupan dan perihal kehidupan di dunia ini. Tanpa buku, manusia akan buta kehidupan yang terus berjalan tanpa menoleh ke masa silam. Kemajuan yang terus dikejar. Sehingga lupa eksistensi buku yang sebenarnya menjadi tonggak penyanggah kemajuan itu.

Seiring dengan kemajuan zaman, buku-buku sedikit demi sedikit mengalami kepunahan. Meskipun masih ada, hanya buku asal-asalan yang penting naik cetak di penerbit. Kepunahan tersebut mungkin akibat dijual oleh pemiliknya, lalu diolah menjadi bahan etalase rumah tangga. Mungkin pula karena diremehkan, lalu hilang dimakan rayap dan termakan api hingga ludes tak tersisa. Hal demikian yang menjadi perhatian dan keprihatinan kita terhadap keberadaan buku. Begitu pula di era modern saat ini, peminat dan penikmat buku sudah mulai berkurang akibat layanan internet dan elektro yang makin memanja kehidupan manusia. Buku sudah berupa file kecil di dalam laptop dan komputer (e-book) yang hanya disimpan sebagai bahan koleksi saja. Sungguh nista buku di era modern ini.

Menghadapi fenomena demikian, keberadaan buku semakin miris dari kalangan pembaca. Mereka lebih menikmati kemajuan elektro bukan memanfaatkan untuk membaca e-book, namun lebih condong pada animasi yang disajikan oleh internet dalam bentuk elektro itu. Buku pun hangus terbakar berhadapan dengan elektro semacam ini. Sehingga para peminat buku sejati mencoba untuk melihat situasi ini dengan analisis yang mampu untuk menghidupkan budaya baca buku.

Ada satu hal yang sangat unik dari eksistensi buku saat ini. Yaitu antara buku klasik (masa lampau) dan buku modern. Buku kuno yang saat ini gencar-gencarnya diincar oleh para pembaca sejati atau pun sebagai koleksi dan referensi suatu karya untuk menyingkap tirai dunia sudah bisa dikatakan langka. Sehingga berbagai karya yang memilki rujukan pada buku kuno lebih banyak diminati daripada memakai referensi buku modern kekinian.

Suatu karya yang memiliki referensi buku tahun 1938-an, misalkan buku karya Ajip Rosidi (1963) akan memiliki nilai tawar tersendiri bagi pembaca dan menarik perhatian. Begitu pula dengan tahun-tahun terbitan pra-1938-an akan lebih menarik lagi jika dijadikan referensi suatu karya. Dengan satu alasan, referensi tersebut terbilang langka dan pemikirannya pun tidak sama dengan buku-buku modern masa kini. Dan hal ini yang menyebabkan suatu karya dengan gagasannya mudah diterima oleh publik, khususnya karya berupa esai di media yang mengutip dari buku terbitan kuno–baik Balai Pustaka dan semasanya atau sebelumnya–akan mudah diterima oleh redaktur. Seakan-akan di sana tersimpan beribu berkah dan misteri.

Sebuah Eksotisme

Buku kuno pada saat ini sudah menjadi bahan langka yang diburu oleh banyak orang. Bahkan jika ada buku karya orang pembesar tempo dulu, buku itu akan dilelang dan dijadikan pajangan di rumah atau di museum-museum sebagai pemanggil pendapatan. Tak jarang pecinta baca buku dan peduli ilmu pengetahuan menyimpan serapat mungkin buku-buku kuno itu agar tidak jatuh pada para tangan pelelang yang hanya akan dijadikan hiasan dan penambah finansial belaka.

Eksistensi buku kuno menjadi nenek moyang yang perlu dihormati dan dijaga. Di balik lembaran-lembaran itu terdapat pemikiran dan nilai kehidupan hakiki yang dirasakan oleh para penulisnya tempo dulu. Anggap saja karya A. Teeuw (1980) yang menceritakan perihal sastra baru Indonesia yang menyibak karya penyair pra-perang pada tahun 1920 M. Nilai eksotis dari buku itu sungguh tampak melalui ulasan kehidupan Muhammad Yamin (1920-1922), Sanusi Pane, dan beberapa tokoh pujangga masa silam memberikan nila lebih perihal kehidupannya yang masih pemula tentang suatu karya dan pemikiran meski hanya lewat lantunan syair.

Buku modern saat ini meski berupa suatu pemikiran dan analisis super melambung ke langit, itu tak lain juga berangkat dari pemikiran-pemikiran para penulis yang memiliki banyak karya dan pada saat ini sudah berupa karya (buku) kuno. Sehingga, keberadaan buku kuno menjadi bahan bacaan dan referensi yang dianggap sakral dan eksotis, bahkan isi pemikiran di dalamnya disucikan. Karena asal mula pemikiran itu berangkat dari buku-buku kuno yang begitu eksotis. Tanpa buku kuno sebagai rujukan dan validitas suatu karya atau pemikiran, maka kehadiran buku era versi modern pun mungkin tak akan memiliki nilai tawar.

Semakin kuno terbitan suatu buku (karya), maka semakin kuat daya tariknya untuk dijadikan bahan rujukan suatu pemikiran di era modern saat ini. Dari sana sebuah buku kuno tampak jelas nilai keeksotisan dan kesakralannya. Secara eksplisit, buku kuno tak lain adalah nenek moyang dari buku-buku yang beredar di berbagai belahan dunia dan toko-toko buku di berbgai kota serta daerah yang menyimpan orisinalitas pemikiran pada kehidupan yang lebih awal. Sehingga mampu memberikan sumbangsih pemikiran bagi generasi berikutnya yang lebih sempurna.

* Penulis adalah Akdemisi dan Bergiat di Komunitas Sastra UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tulisan ini bisa dibaca lebih lanjut di rumah aslinya di: Harian Analisa atau silakan klik tulisan biru sebagaimana terlampir berikut ini: Harian Anaslia. Selasa, 9 Juni 2015 Menulis dengan Buku Terbitan Lama oleh Junaidi Khab. Semoga bermanfaat. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: