Inilah Kisah Wu Wei Terpilih Jawa Pos

Junaidi Khab

Junaidi Khab

BERAGAM kisah wu wei masuk ke e-mail opini@jawapos.co.id. Di antara ribuan e-mail yang masuk, ada 421 e-mail yang memenuhi kriteria untuk diseleksi. Akhirnya, ditentukan 20 pemenang kisah wu wei. Sepuluh pemenang berhak mendapat uang tunai Rp 2 juta plus T-shirt wu wei eksklusif. Sepuluh pemenang lainnya mendapat T-shirt wu wei eksklusif.

Memang tidak semua murni wu wei. Namun, tulisan-tulisan mereka dapat menginspirasi pembaca karena menceritakan capaian-capaian yang diraih dengan kerja keras dan tanpa menyerah apalagi pasrah. Berikut ini adalah nama dan naskah para pemenang kisah wu wei.

10 Pemenang Hadiah Uang Tunai @Rp 2 juta plus T-shirt Ekseklusif Wu Wei:

  1. Gusman Gumaro, Surabaya, gumaro.siregar@gmail.com :Sakit saat Umrah
  2. Adi Purnama, Situbondo, adi_purnama86@yahoo.co.id :Memancing Masader
  3. Nurrohman S., editor Kedaulatan Rakyat Group, Jogjakarta, nurrohmansodiq@gmail.com :Momen Terbaik Fotografer Olahraga
  4. Anggi V. Goenadi, atlet jujitsu, Bontang, Kaltim, avgoenadi@gmail.com :Atlet Jujitsu Menembus Final
  5. Budi Setyawan, salesman perusahaan otomotif, budisetyawanbs@gmail.com :The Best Salesman Otomotif
  6. R. Dian Muliana, Lombok, dianmuliana@gmail.com :Tembus Dua PTN
  7. Dwi Nugroho, dwinugroho1983@gmail.com :Selamat Malam Rachel Weisz
  8. Krismasita Surya, skrismasita10@gmail.com :Jalan Kaki sejak SD
  9. Nur Lailatul Khusnah Laila, nurlailatulkhusnahlaila@yahoo.co.id :Akhirnya Hamil
  10. Kristantidelia, kristantidelia@yahoo.com :Lancar Kerjakan UASBN

10 Pemenang T-shirt Eksklusif Wu Wei:

  1. Ronnald Widjaja, ronnald_s@yahoo.com :Selusin Gol
  2. Tita Dewi, asisten manajer lembaga pendidikan, titart@gmail.com :Semua Lancar
  3. Nana, pekerja media, nana.raso@gmail.com :Marketing Mesin Cuci
  4. Syaifur Rizal, syaifurrizal@gmail.com :Nge-Band saat SMA
  5. Fanny Leestiana, material and metallurgical engineer, fannyleestiana@gmail.com :Hasil Ujian IELTS
  6. Belle Veny, ibu satu putri, belle.spa.sby@gmail.com :Demi ASI
  7. Geraldi Winson, siswa kelas 9 SMP, geraldwinson@gmail.com :Main Game MMO
  8. Sally Evanora, ibu rumah tangga, evanora.sally@dystar.com :Setrika Baju
  9. Dicky Hendro W., pegawai Soloradio, dickysoloradio@gmail.com :Tekad dan Niat
  10. Yosi Gunawan, Blitar, yosipp@yahoo.com :Memikat Superstar

Para pemenang dipersilakan menghubungi Dava Novianti melalui e-mail va@jawapos.co.id atau telepon ke 031-8202219 dengan mencantumkan nama, alamat lengkap, nomor HP, serta nomor rekening (bagi pemenang uang tunai).

***

Naskah Pemenang Kisah Wu Wei:

Sakit Saat Umrah

Tentang wu wei ini saya teringat th 2014. Saat itu akhir maret seharusnya berangkat ke sirkuit sepang dan awal april berangkat umroh. Mengingat kondisi fisik saya yang menderita Ankylosing Spondylitis (AS) dan masih tahap penyembuhan krn keluhan pencernaan, saya harus rela mengorbankan salah satu jadwal tersebut, krn dikhawatirkan terlalu capek. Dengan berat hati saya batalkan untuk berangkat reuni dengan teman2 f1mania surabaya ke sirkuit sepang. Singkat cerita sampailah saya di tanah suci untuk melakukan ibadah umroh. Pembimbing umroh kami beberapa kali menawarkan untuk di dorong kursi roda dlm melaksanakan tawaf dan sai. Namun tawaran itu saya tolak, dan saya bilang bahwa saya niat menjalankan tanpa kursi roda. Saat tawaf semua berjalan lancar saya berhasil mengikuti rombongan, namun berbeda saat sai, ketika menjalani sai putaran ke 3 saya pamit keluar dari rombongan, dan beristirahat sejenak sambil minum air zamzam ditemani istri. Setelah cukup beristirahat saya berniat dan berdoa agar diberi kekuatan untuk menyelesaikan ibadah saya. Alhamdulillah selesailah ibadah sai saya, disusul istri saya sambil terengah engah dan bilang bahwa saya telah mendahului rombongan, serta istri saya harus berlari untuk mengikuti saya. Saya pun terheran heran, saya bilang ke istri bahwa saya hanya berjalan biasa yang secara logika kecepatannya lebih lambat dari berjalannya orang normal, karena harus menahan rasa sakit di sekujur punggung. Namun saat itu saya tidak merasakan capek dan tubuh saya terasa fit. Apakah ini termasuk wu wei?, Wallahu A’lam .

(Gusman Gumaro, gumaro.siregar@gmail.com)

***

Memancing Masader

Saya adalah penghobi mancing, terutama mancing di laut. Saya biasa memancing pada hari minggu pagi. Lokasi favorit saya adalah di pantai pathek situbondo. Lokasinya adalah di keramba apung. Keramba itu merupakan keramba ikan kakap, tapi kita tidak boleh mancing di keramba itu, melainkan mancing di sela sela keramba apung. Target ikan nya jika orang situbondo bilang adalah ikan Masader yaitu ikan yang mirip ikan Baronang tapi mempunyai mulut yang lebih kecil, dan ikan Masader hanya mau makan lumut. Di sela sela keramba, Ikan Masader banyak berkeliaran dan bisa kita lihat dengan jelas.

Memancing ikan Masader cukup sulit. Kenapa di bilang sulit, karena ikan Masader memiliki mulut yang kecil dan jika makan umpan tidak sampai di telan serta memiliki tarikan yang sangat halus sampai kita para pemancing tidak akan sadar saat umpan kita telah habis. Dengan kondisi lumut yang cepat habis terkena air laut dan ikan yang tidak mau menelan umpan, memancing ikan masader adalah sebuah kesulitan tersendiri. Terkadang para pemancing dalam satu jam hanya mendapatkan ikan Masader sebanyak 1 atau 2 buah atau bahkan tidak dapat sama sekali. Tapi di saat itu memancing ikan masader seakan mudah bagi saya, dalam satu jam saya bisa mendapatkan 7 ikan masader. Seakan akan saya bisa menentukan saat menarik kail yang tepat untuk mendapatkan ikan. Tarikan ikan yang sangat halus bisa terasa dengan jelas dan feeling untuk menarik kail begitu saja saya ketahui kapan saat yang tepat.

(Adi Purnama, adi_purnama86@yahoo.co.id)

***

Momen Terbaik Fotografer Olahraga

Langsung saja mas, terima kasih telah memperkenalkan istilah wu wei ini. Bukan apa-apa, secara konsep saya sudah lama merasakan yang namanya wu wei ini (beneran lho), cuma saya tak tahu bahwa itu namanya wu wei. Waktu mas Aza pertama kali nulis wu wei di Happy Wednesday, saya langsung ngeh. Ini dia.

Jadi konsep ini secara tak sengaja saya dapat dari komik Jepang, yaitu Kungfu Boy. Anak-anak yang lahir di era 80-an seharusnya tahu komik yang ditulis Takeshi Maekawa ini. Waktu SMP dan SMA saya memang maniak komik, dan menurut saya, ini komik adalah salah satu yang monumental. Dalam sebuah kisah, si tokoh utama yang bernama Chinmi penasaran ingin mempelajari kungfu satu jari. Nah, guru kungfu satu jari itu, saya ingat benar namanya tabib Lau, bersedia mengajari jika Chinmi lolos tes. Chinmi disuruh mendengarkan kicauan burung tepat di depan air terjun yang deras (bahasa Jawanya: gemrojok). Singkat cerita, semakin Chinmi fokus dan mem-push indera telinganya untuk mendengar suara si burung sambil terpejam dan duduk bersila, dia malah sama sekali ngga bisa mendengar suara burung kecil itu. Berkali-kali sampai hampir frustasi, hingga akhirnya saat si Chinmi terlentang santai, eh loh malah dia bisa mendengar suara burung di tengah derasnya air terjun itu. Ooh jadi intinya, kalau kita rileks saja, justru membantu apa yang kita kerjakan jadi lebih ter-atur dengan sendirinya. Meski itu cerita fiktif, tapi ternyata itu menginspirasi dan sering ‘menyelamatkan’ saya yang notabene adalah orang yang kemrungsungan.

Pengalaman ala wu wei saya banyak. Banyak deh. Saya bekerja di media dan dulu pernah bertahun-tahun menjalankan tugas sebagai fotografer olahraga. Wu wei ini beberapa kali terjadi saat saya motret pertandingan sepakbola. Berkali-kali pengalaman, semakin berusaha mati-matian untuk fokus cari foto terbaik, malah jadinya ngga maksimal. Apalagi dari awal digadang-gadang mau dipasang untuk halaman pertama (depan). Duduk, lalu berdiri, duduk lagi, geser pindah posisi, hufft..

Beberapa kali, motret bola sukses banget. Sebelum kenal istilah wu wei, saya sering membatin dalam hati, “los wae” (“nothing to lose” atau “lepas saja” dalam bahasa Indonesia,). Tapi itu juga biasanya bagi saya sukses kalau diikuti beberapa ritual. Kalau motret sepakbola sore misalnya, pipis lalu sholat ashar dulu, minum air putih, bawa permen karet. Entah mengapa, selalu dapat timing tepat saat menekan tombol rana pas action-nya bagus, bukaan diagfragmanya juga pas, ndilalah-nya juga pas saat mengambil posisi duduk. Everything’s perfect lah.. Kalau sudah begini, pasti ujung-ujungnya pusing. Loh? Iya, soalnya foto-fotonya bagus-bagus semua dan jadinya bingung mau ngasih yang mana ke redaktur halaman. Hehe..

Menurut saya juga, wu wei yang benar-benar wu wei itu terjadi juga bukan karena faktor yang ada dalam internal diri kita saja, tapi entah rasanya ada kekuatan dan spirit dari alam lain atau campur tangan Yang Kuasa. Bisa jadi karena sebelumnya kita ngasih pengemis yang benar-benar membutuhkan, lalu dia mendoakan kita hal yang baik misalnya.. (tet tot, ngelantur kepanjangan..he)

Anyway, makasih untuk sharing pengalaman dan pelajaran wu wei-nya, mas Aza. Sebenarnya waktu wu wei pertama dulu saya udah pengen respon, tapi memang mas Aza kan ngga medsos-an, jadi waktu itu ngga jadi nge-respon dan cuma buat pemikiran saya sendiri saja.

Oh iya, salam buat mas Farid Fandi. Dulu saya salah satu saksi pertama saat kamera Nikon-nya lenyap dicomot orang pas PON 2008 di Kaltim. Dia sih kayanya mau lagi wu wei atau ngga wu wei, foto-fotonya bagus terus ya.. hehe

Saya kirim ini, Rabu (20/5) pukul 20.00 WIB, so saya masih bisa ngucapin Happy Wednesday! Saya juga praktekin ‘do whatever makes you happy on Wednesday’ (kalau saya, Rabu itu pagi berenang, lalu sampe sorenya main piano.he..)

(Nurrohman S, nurrohmansodiq@gmail.com)

***

Atlet Jujitsu Menembus Final

Saya sangat tertarik baca tulisan bersambung ala Mas Azrul dan tentu saja milik Ayahandanya, dan diantara tulisannya, “wu wei” berhasil mencuri minat saya.

Saya jadi teringat pengalaman pribadi, saya adalah seorang Olahragawan (rada berat kalau disebut atlet) dengan bobot badan yang hampir 1 (satu) Kwintal Setengah. (tuh kan berat Hehehe)

Ya, saya adalah seorang Atlet Beladiri Jujitsu, yang sudah aktif berlatih sejak 1995, saat ini lebih banyak berkecimpung sebagai pelatih.

Sebagai seorang dengan “body bahenol” sejak lahir, tentu saja kesulitan terberat saya adalah berusaha berlari dengan beban tubuh saya yang teramat berat. Bernafas saja suka keringetan. :p

Namun ketekunan berhasil menghantarkan saya hingga di tahun 2005, ketika itu saya telah mencapai tingkatan Sabuk Coklat (Kyu I), tingkatan sabuk ke-6 dalam Jujitsu, atau setingkat sebelum mencapai tingkat Pelatih atau Sabuk Hitam. Menyambut pelaksanaan Kejuaraan Nasional Jujitsu tahun 2005 di Surabaya, Propinsi Kaltim pun melaksanakan Selekda, di mana saya menjadi salah satu pesertanya.

Diantara 14 orang yang akhirnya lolos seleksi, saya termasuk yang memiliki tingkat sabuk tertinggi, bersama 1 orang teman saya yang sama-sama dari Bontang. Diakhir Pemusatan Latihan (TC), diumumkan peringkat nilai atlet, dan akhirnya saya berhasil meraih peringkat… 13! di mana peringkat 14 adalah seorang anggota TNI AD dengan tingkat Sabuk Kuning (Tingkat 2), dan hanya mengikuti 1 atau 2 hari pelaksanaan TC untuk kemudian mendapat dispensasi karena tugas di kesatuannya! Teman saya yang juga Sabuk Coklat? Dia peringkat 1. Betapa keren kiprah saya.😦

Singkat cerita, saya beserta rombangan berangkat ke Surabaya untuk bertanding, dan hasil kontingen kami kurang memuaskan. Sampai di hari terakhir pelaksanaan pertandingan, Propinsi Kaltim hanya menyisakan 3 orang yang masih lolos di babak perempat final, yakni si peringkat 1, Atlet muda dari Samarinda dan saya, ya saya, setelah mendapat “bye” dan kemenangan WO karena calon lawan saya cidera, entah saya pakai ajian dari dukun mana.

Kabar buruk menimpa ketika 2 orang rekan saya harus gugur dibabak Perempat Final, karena takluk dari 2 orang atlet Jawa Timur, dan saya menunggu detik-detik pertandingan, yang mempertemukan saya yang saat itu baru 17 tahun dan berbobot 120 Kg, berhadapan dengan Atlet DKI Jakarta asal Daan Mogot Fight Club. Seorang Atlet diusia matang dengan bobot 100 Kg-an namun kekar berotot dan tegap, rambutnya cepak, dan informasi yang beredar berprofesi sebagai seorang Body Guard profesional.

Bisa dibayangkan kala itu bagaimana panik dan gentarnya saya, namun karena saya lebih takut dengan tim pelatih dan official (takut jadi gelandangan di Surabaya karena tidak dipulangkan lebih tepatnya), akhirnya saya kuat kan tekat yang sudah tercecer semenjak melihat penampakan calon musuh saya.

Benar saja, pertandingan baru dimulai, tos Fair Play baru saya julurkan, sang Body Guard langsung menghajar saya tanpa ampun, layaknya maling sendal masjid diamuk masa.

Saking emosionalnya, pukulan-pukulan si Body Guard menerjang ke arah-arah yang tidak diperkenankan seperti telinga dan kepala belakang saya, saya pun tersungkur.

Dari kejauhan saya lihat wasit memberikan kartu kuning, pelatih dan official saya lalu menghampiri dan hanya mengecek sambil lalu, kemudian berkata galak untuk saya segera bangun. Ya, sejujurnya saat itu saya lebih berharap mereka mengusulkan agar saya menyerah saja atau mendramatisir cidera, supaya saya bisa menang karena diskualifikasi musuh, atau minimal menyelesaikan pertandingan lebih awal.

Akhirnya saya (terpaksa) bangkit kembali, dan meneruskan pertandingan. Bukan lebih teredam, musuh saya terlihat menjadi lebih brutal, perlawanan saya seakan tidak berarti karena lagi-lagi hujanan pukulannya menyasar area-area yang terlarang. Pukulan-pukulan brutalnya berujung pada kartu merah dan pelipis, hidung dan bibir saya yang merah merekah karena nyonyor dan berdarah-darah.

Momen kemenangan akhirnya saya dapatkan, indah sekali, pengalaman pertandingan pertama seumur hidup berbuah manis dengan kemenangan di perempat final. Indah asal tidak sambil melihat foto momen ketika wasit mengangkat tangan kanan saya, sementara tangan kiri saya menahan kapas di hidung agar darah berhenti mengalir. Hehe

Tiba di babak semifinal, semangat saya campur aduk, antara gempita dan khawatir rasanya susah dibedakan. Bisikan pelatih saya kala itu terdengar lembut tapi miskin solusi, “habisi”, hanya itu. Musuh saya kala itu, lagi-lagi berasal dari Daan Mogot Fight Club, dan profesinya pun sama dengan lawan di perempat final.

Pikiran saya melayang, saya coba terapkan cara pujaan saya berkelahi, Jacky Chan, ya bertanding tanpa beban, tersenyum mesam-mesem. Let it flow, alias tidak usah ngoyo. Singkat cerita pertandingan berdurasi 5 menit itu berakhir dengan kemenangan Tap Out, dan saya pemenangnya! Wow, kok bisa? Itu pertanyaan yang sama di kepala saya kala itu, menang dengan cara yang sangat kece, berhasil mengunci dalam posisi ground fighting dan musuh menyerah sambil menepukkan tangannya, ya tap out.

Saya pun sempat kebingungan, yang saya pikirkan saat itu hanya saya tidak ngoyo dan main santai saja. Itu mungkin pengalaman wu wei saya. Dan diakhir kejuaraan momen wu wei saya ternyata tidak bisa diulang, di hari yang sama, di babak Final saya bertemu dengan maestro Jujitsu yang kala itu cukup tersohor, David Jack namanya, atlet asal Dojo Untag Surabaya yang mewakili Propinsi Jatim.

Larut dalam euforia kemenangan semifinal, dan agak meremehkan musuh yang badannya jauh lebih langsing, saya kalah dalam babak final dan harus puas pulang dengan medali Perak. Satu-satunya medali yang saat itu dikoleksi kontingan Kaltim.

Pengalaman wu wei itu yang akhirnya membawa saya pada pengalaman-pengalaman kejuaraan berikutnya hingga akhirnya berhasil mencapai prestasi tertinggi, dengan meraih Medali Perak di Asian-Pacific Jujitsu Championship 2013. Luar biasa bukan?

Wu wei, maknanya dalam sekali bagi saya. Tulisan ini pun saya inginkan jauh dari kesan sombong. Tapi sesuai arahan Sensei Azrul Ananda, bahwa Wu Wei tidak dapat dipaksakan, akhirnya ya Wu Wei saja. Kalau ternyata masih sombong, setidaknya tulisan saya ini mengandung Sombong yang Wu Wei. Hehehe

(Anggi V. Goenadi, Bontang, avgoenadi@gmail.com)

***

The Best Salesman Otomotif

Dulu waktu masih sekolah sampai SMA saya dikenal sebagai sosok Pendiam karena memang jarang ngobrol dengan teman-teman ataupun kurang kreatif untuk ngobrol . Jadi kesannya agak ‘kuper”. J

Pada tahun 1996 saya lulus kuliah jurusan Finance Mangement dari sebuah peguruan tinggi di Malang dan setelah itu langsung bekerja di sebuah di perusahaan industri di Pasuruan dan kemudian pada th 1997 saya bekerja di Finance Company sesuai dengan bidang saya – keuangan. Setahun kemudian terjadilah krisis moneter sehingga saya terpaksa juga ikut gerbong Paket Pengunduran Diri masal pada tahun 1998 akhir .L

Beberapa saat kemudian dari info salah satu kolega di perusahaan terdahulu, saya ditawari untuk menjadi salesman oleh salah satu perusahaan otomotif. Jualan mobil ! Sepertinya saya nggak tertarik waktu itu, karena disamping “Pendiam “ J dan juga belum punya pengalaman salesman mobil. Jadi awalnya saya sempat menolak. Namun karena sudah jalannya, akhirnya saya ditawari lagi oleh Kepala Cabangnya langsung. Singkat kata jadilah saya seorang salesman di perusahaan otomotif tersebut. Memang nekat. Pokoknya prinsip saya waktu itu, ya sudah saya coba saja. Yang penting “ I try my Best“.

1 bulan berlalu, jualan saya 0 besar alias Zero. Bulan kedua masihZero lagi. Karena target diberikan dalam 3 bulan, dan pada akhir bulan ketiga harus ada evaluasi , maka harapan saya tinggal bulan ketiga. Dan pada bulan ketiga ini, akhirnya saya ….. ternyata masih nggak jualan lagi. L. Padahal saya sudah melakukan semua yang harus dilakukan , ya sebar brosur , door to door canvassing , minta referensi kesana kemari, dan sebagainya. Laporan tiap hari juga selalu saya buat. Sering juga saya merenung kenapa masih belum jualan ???

Dengan pasrah , saya siap menghadapi segala konsekuensi yg akan diberikan perusahaan kepada saya. Bahkan mau dipecat , saya juga siap. Hikss…L

Ternyata diluar dugaan , Pimpinan masih memberikan kepercayaan kepada saya . Di coba 3 bulan lagi ! Mungkin Pimpinan waktu itu masih melihat ada potensi besar dalam diri saya… wkkk…wkkk..

“OK, Ayo coba lagi. Kali ini harus bisa! “. Saya berusaha fokus , belajar terus dari apa dan siapa saja dan selalu mengamati cara –cara menghadapi customer. Syukurlah pada bulan keempat sy sudah pecah telur alias sudah jualan. Dan singkat kata bulan-bulan berikutnya saya selalu jualan .

Hingga pada suatu saat, saya bertemu dengan calon customer di showroom kantor saya , dan saya “action “, memperkenalkan diri dan mendegarkan cerita customer tsb dan bicara bla.. bla..bla.. . Santai dan sangat enjoy. Beberapa saat kemudian , customer tersebut tidak terasa sudah pamitan pulang darishowroom kantor saya. Dan…. apa yang ada di tangan saya ? Sebuah SPK (surat pesanan kendaraan) yang terisi lengkap dengan uang tunai sebagai tanda jadinya. DEAL !!!

Saya sempat termenung, sepertinya tadi saya dengan santainya hanya bercerita dan bercakap2 bagaikan dengan seorang teman lama, tahu -tahu dihadapan saya sekarang sudah ada SPK dan uang tanda jadi. Astaga …. ternyata saya sudah jualan lagi , kok gampang sekali …wkkk…wkkJ Seperti bukan sebagai salesman yang menawarkan produknya , benar-benar seperti mengalir saja . Tahu –tahu sudah DEAL. Tentu saja saya sangat bersyukur mendapat pengalaman ini yang katanya bos Azrul Ananda …. itu adalah… Wu WEI .

Semenjak itulah grafik penjualan saya makin meningkat pesat hingga dapat menjadi “The Best Salesman se –Indonesia”. Pengalaman wu wei inilah , yang di kemudian hari setelah menjadi Sales Supervisor sering saya sharingkan ke team salesman saya sebagai inspirasi supaya semua bisa merasakan nikmatnya wu wei…..

Jadi sebelum “From zero become hero” ada baiknya terlebih dahulu merasakan “From zero become wu wei….” , supaya kelak tahu-tahu menjadi seorangHero yang wu wei……

(Budi Setyawan, budisetyawanbs@gmail.com)

***

Tembus Dua PTN

Kejadian ini terjadi pada anak sulung saya, anak laki laki satu satunya dalam keluarga saya. Tulisan mas Azrul mengingatkan saya akan kejadian yang sangat berkesan tersebut, saya tidak tahu apakah ini termasuk WU WEI atau tidak…. tapi yg pasti semua ini adalah karunia Tuhan, yang di dapat setelah menempuh perjuangan yang luar biasa hebat dari si anak serta di iringi Doa dari ayah dan ibunya.

Tahun 2013, ketika itu anak sulung saya masih kelas 3 SMA, bercita cita untuk masuk perguruan tinggi ternama. UI, ITB, ITS, Gajah Mada, Brawijaya dan UNDIP, adalah perguruan tinggi yang di tuju. Dan memang merupakan perguruan tinggi paling pavorit di indonesia.

Sejak kelas 2 SMA, anak saya sudah mulai mengikuti BIMBEL, waktu belajarnyapun tidak tanggung tanggung, menyadari bahwa dia tidak pintar, dan berasal dari SMA tidak ternama, di daerah terpencil pula (lombok barat) maka dia menggenjot jam belajarnya, hampir setiap hari dia belajar dari jam 20.00 selepas shalat isya, sampai jam 3.00 dini hari . hal itu dilakukan selama bertahun tahun.

Setelah lulus SMA, SNMPTN (seleksi nasional masuk perguruan tingging negari) pun di ikuti, 3 PTN (perguruan tinggi negri) telah di pilih, saat hari pengumuman, pagi sekali anak saya sudah membeli koran, di koran lokal (lombok post) pengumuman SNMPTN di muat. Kami sekeluarga meneliti dengan cermat, dan berharap anak kami bisa di terima di PTN yang di tuju. Sampai nomor dan nama terakhir, nama anak saya tidak terdata. Tidak Lulus…. GAGAL masuk SNMPTN.

Saya lihat kekecewaan yang sangat besar pada anak saya, sinar matanya menerawang, tanpa banyak cakap diapun masuk kamar dan mengunci pintu.

Jam 21.00 saya ketuk pintu kamarnya, sambil mengajak makan malam dengan menu pavoritnya, sate ayam Madura, saya tawarkan padanya untuk ikut BIMBEL ternama yang ada di jakarta, BIMBEL ini saya ketahui dari internet, menurut keterangan, BIMBEL ini cukup bagus dan biaya untuk ikut BIMBEL ini juga lumayan mahal. lokasinya didekat Kampus UI

Tawaran saya untuk ikut BIMBEL di jakarta langsung di terima anak saya tanpa pikir panjang lagi. Keinginannya untuk bisa masuk PTN (perguruan tinggi negri ) sangat kuat memotivasi dirinya. Malam itu juga dia berkemas… malam itu juga saya pesan tiket. Besok pagi anak saya akan berangkat kejakarta

Pagi pukul 5.00 wita (waktu Lombok) kami sudah di bandara, sebelum berpisah anak saya mencium tangan kedua orang tuanya, memohon doa. Saya masih ingat betul kalimat yang di ucapkan di pintu masuk bandara tempat terakhir saya boleh mengantarnya

“ Mas Kukuh (nama anak saya Kukuh Truna Wijaya) akan ke jakarta, Mas Kukuh akan belajar sungguh sungguh, Mas Kukuh akan masuk salah satu dari 6 PTN yang mas Kukuh inginkan.. Mas Kukuh tidak akan menginjakkan kaki lagi ke Lombok sebelum mas Kukuh bisa masuk 6 PTN itu… Mas Kukuh tidak akan pulang, Mas Kukuh Janji…” , ikrar itu di ucapkan dengan sungguh, tampak pancaran matanya begitu keras. Ibunya yang sangat mengenal kekerasan tekat anaknya, seketika itu juga menangis, sambil memeluk kepala anak lakilaki kami satu satunya dan menciuminya terus menerus… seakan akan ini adalah pertemuan terakhir, dan tidak akan ada pertemuan lagi.

Test yang kedua adalah SBMPTN (Seleksi bersama masuk perguruan tinggi negri) , waktunya satu bulan setelah SNMPTN, istri saya tak henti hentinya Shalat sunat, berdoa kepada Allah agar memberikan kemudahan buat anaknya, supaya bisa masuk perguruan tinggi yang di inginkan, dan mau kembali ke rumah, kumpul lagi bersama keluarga.

Saat pengumuman, kami mendapat kabar bahwa di SBMPTN ini pun anak kami GAGAL…. airmata sang ibupun mengalir.

Dari telpon, anak saya memberi kabar, bahwa dia masih memiliki harapan untuk bisa masuk UI dengan mengikuti SIMAK UI (seleksi masuk UI). Ini adalah ujian mandiri, di adakan di kampus UI, dan di tempat lain di seluruh indonesia yg di tentukan. Dengan harap harap cemas, kami semua menunggu pengumuman hasil SIMAK UI, malang tak dapat di tolak, kali ini pun anak kami GAGAL.

“Mas anak kamu Stress”, kalimat pertama yang saya dengar by phone dari mulut adik saya yg ada di jakarta, tempat di mana anak saya menginap.

“Dari malam sampai jam 5 pagi engga pulang pulang, mutar mutar keliling UI sendirian” , itu kalimat kedua.

Pagi itu juga saya cuti kerja, pesan tiket dan langsung berangkat ke jakarta. Saya temui anak saya sudah kembali ke kamar, sedang belajar lagi, sinar matanya agak redup, badannya kurus, sehingga kepalanya jadi terlihat besar. Tiga kali kegagalan berturut turut benar benar memukul jiwanya. Saya khawatir dia patah semangat.

Lama kami bicara, saya berikan motivasi lewat contoh contoh pengalaman hidup saya, saya tekankan padanya agar tidak lupa berdoa, setelah berusaha dengan keras. Ingatlah kepada TUHAN, karna pada saat seperti ini tidak ada yang bisa menolong kamu selain kamu sendiri dan TUHAN…

“ Ingat” saya tekan kan lagi pada anak saya “ saat ini tinggal kamu dan TUHAN , keberhasilan kamu di tentukan oleh 2 hal, perjuangan keras kamu dan kemudahan yang TUHAN berikan” . Saya tinggalkan anak saya dalam kondisi badan yg lemah karna kurang tidur, akan tetapi saya melihat semangat yang masih bergelora dari pancaran sinar matanya. Selama semangat masih berkobar, saya tidak terlalu khawatir.

UMB yang di selenggrakan oleh beberapa Universitas adalah kesempatan ke empat bagi anak saya untuk bisa masuk ke Universitas yang di tuju, lokasi test di SMA 31, Matraman – Jakarta. Ada 3 pilihan yang bisa di ikuti. Seperti biasa sebelum ikut test, anak saya selalu telpon ibunya dan meminta doa dari kedua orang tuanya… Usaha dan kerja keras sudah di lakukan, namun semua ketentuan di tangan TUHAN, Malang tak dapat di tolak, test kali inipun anak saya GAGAL. Dengan hati yang sedih, saya berdoa kepada TUHAN, semoga kegagalan empat kali berturut turut ini tidak membuat anak saya tidak PUTUS ASA. Habis sudah kesempatan untuk bisa masuk PTN lewat jalur seleksi bersama, satu satunya harapan adalah melalui jalur mandiri, dengan cara mengikuti test dan daftar di kampus masing masing.

Utul (ujian tulis) masuk UGM dan UM (Ujian mandiri ) masuk UNDIP di lakukan hampir bersamaan. Lebih awal UTUL UGM beberapa hari setelah itu baru Ujian mandiri UNDIP, lokasi UTUL UGM di al azhar – jakarta, sedangkan lokasi ujian masuk UNDIP di kampus UNDIP Semarang. Setelah mengikuti UTUL UGM, Anak saya pun berangkat ke semarang untuk ikut UM UNDIP. Kali ini dia berangkat sendiri. Sedih juga , melihat anak usia 18 Tahun, pergi sendirian ke Semarang, demi untuk meraih cita citanya.

Ujian masuk Universitas Brawijaya di lakukan beberapa hari setelah UM UNDIP, anak saya pergi ke Malang untuk ikut test Mandiri Gelombang I di Universitas Brawijaya. Perjalanan di tempuh naik kereta. Sendirian, sampai di malang, segera melakukan pendaftaran di UN Brawijaya dan cari kost kostan buat nginap di sekitar lokasi kampus.

Saya ingat betul saat itu bulan puasa, saya sempat telpon anak saya untuk menanyakan kapan pengumuman masuk UNDIP di umumkan, sekalian juga saya minta nomor ujiannya. Tidak seperti biasanya kalau menjawab telpon, Kali ini anak saya menjawab telpon dengan pelan, kalimat keluar satu demi satu dengan tertib…. tidak pernah mengulangi kalimat yang di ucapkannya sampai 2 kali. Saya mencatat nomor ujiannya, sambil terheran heran dengan perubahan yang terjadi….ada apa dengan anak saya..? apa yang terjadi…?

Malam itu saya dan istri saya tidak bisa tidur, malam dimana pengumuman hasil test ujian mandiri UNDIP akan di umumkan, tepatnya jam 00:00 WIB, atau jam 01:00 WITA. Saya sudah siap dengan perangkat komputer dan modem.

Tepat jam 01:00 wita saya memasukan nomor ujian anak saya ke kolom penerimaan hasil test ujian mandiri website UNDIP , setelah semua nomor saya masukan maka keluar jawaban “SELAMAT, PESERTA DENGAN NO UJIAN .., ATAS NAMA KUKUH TRUNA WIJAYA DINYATAKAN LULUS TEST MANDIRI UNIVERSITAS DIPONEGORO PADA BIDANG STUDI ELEKTRONIKA INSTRUMENTASI” , saya seakan tidak percaya, saya ulangi lagi memasukan no ujian anak saya , jawaban sama yang di tampilkan pada layar monitor.

Istri saya masih bersimpuh di atas sajadah, lengkap dengan mukenanya,matanya terpejam, entah sudah berapa rakaat dia shalat sunat, perlahan saya sentuh tangannya “ Bu Anak kita di terima di UNDIP”.

Tengah malam itu, tangisan pecah tak terkendali, beban yang menghimpit di dada seorang ibu selama berbulan bulan, ditumpahkan sekaligus dalam bentuk isak dan airmata. Tangis itu begitu keras, sampai sampai istri saya sulit bernafas karenanya… khawatir juga saya melihat kondisi istri saya, berulang ulang saya berusaha menenangkan

Setelah semua tenang, jam 2:00 saya telpon anak saya, sekalian membangunkannya untuk sahur, “Assalamualaikum, Mas Kamu lulus, kamu di terima di UNDIP” kabar ini mengawali pembicaraan saya di telpon.

“ iya Pak, Alhamdulillah, Mas Kukuh juga sudah lihat, apakah ibu sudah tau..?”

“Ibu kamu sudah tahu….kamu pulang ya besok, ibu kamu sudah kangen?”

Setelah anak saya pulang kerumah, di suatu sore setelah shalat taraweh, kami berkumpul di meja makan, saya bertanya ke anak saya, “ Mas bagaimana ceritanya kamu bisa lulus test di UNDIP…? “.

Anak saya mengisahkan perjalanannya yang menurut saya berbau Spiritual : ini ceritanya…

Setelah 4 kali gagal test ujian masuk PTN yang Mas Kukuh inginkan, mas Kukuh Sedih banget. Mas Kukuh shalat malam, dan berdoa kepada Tuhan, mohon agar di mudahkan dalam mengikuti UTUL GAJAHMADA dan UM UNDIP.

Malam itu Mas Kukuh bicara kepada Tuhan, Ya Tuhan Mas Kukuh sudah belajar mati matian, sekarang saatnya Mas Kukuh Pasrahkan semua kepada Tuhan. Ya Tuhan berikanlah yang terbaik buat Mas Kukuh, apapun itu akan Mas Kukuh Terima.

Lalu tiba tiba hati Mas Kukuh tenang banget, keinginan dan EGO Mas Kukuh yang kuat itu seakan akan hilang, berganti dengan kepasrahan kepada Tuhan. Malam itu Mas Kukuh bisa tidur dengan nyenyak dan tidak lagi gelisah seperti biasanya.

Pagi itu Mas Kukuh berangkat ikut UTUL UGM dengan hati yg ringan, beban yang begitu besar menghimpit, yang membuat Mas Kukuh gelisah, hilang entah kemana. Mas Kukuh duduk di meja yg sudah di tetapkan, pengawas membagikan soal dan lembar jawaban.

Mas Kukuh berdoa dulu sebelum membuka lembar soal, lalu tiba tiba terbayang wajah Ibu, Wajah Bapak, Wajah adik laras, Wajah adik Cahaya.

Lalu terbayang semua pelajaran yang pernah mas Kukuh Pelajari, bahkan terbayang juga posisi guru saat menerangkan pelajaran tersebut. Bayangan itu masih terus berlanjut ketika Mas Kukuh membuka soal yang pertama, bayangan itu seperti sedang mengajar, seperti saat guru BIMBEL Mas Kukuh menjelaskan di depan kelas, dan anehnya bayangan itu datang silih berganti, kadang guru SMA Mas Kukuh, kadang guru BIMBEL, yang di bahas oleh bayangan bayangan itu adalah soal soal yang sedang Mas Kukuh kerjakan.

Bayangan guru guru Mas Kukuh terus ada, seakan akan sedang mengajar di depan kelas dan mengajarkan soal demi soal sampai soal yang terakhir. Ruangan kala itu sepi sekali, rasanya cuma Mas Kukuh sendirian. Mas Kukuh baru sadar ketika bel tanda usai UTUL berdentang. Dan bayangan itu hilang entah kemana. Soal soal sudah Mas Kukuh kerjakan semua.

Pada saat ujian mandiri UNDIP yang hanya selisih beberapa hari, bayangan itu muncul lagi, guru guru Mas Kukuh datang silih berganti, mengulas semua yang pernah Mas Kukuh Pelajari, kadang mengingatkan kalau ada rumus yang terlupa…suasananya persis seperti saat UTUL UGM.

Itulah Bapak pengalaman Mas Kukuh yang membuat mas Kukuh di terima di UNDIP, demikian anak saya mengakhiri ceritanya.

Demikianlah mas Azrul, pengalaman anak saya, tulisan Mas Asrul yg selalu saya baca setiap rabu, dan pada rabu ini mengingatkan saya mengenai kisah anak saya. Entah ini WUWEI atau bukan. Tapi bagi saya ini adalah karunia yang luar biasa.

Oh ya sebagai penutup saya informasikan bahwa anak saya tidak jadi kuliah di UNDIP, karena beberapa hari kemudian UGM mengumumkan hasil test UTUL dan anak saya di terima, jadi anak saya di terima di 2 universitas ternama, yaitu UNDIP dan UGM, saat ini anak saya memilih kuliah di UGM Djogjakarta. Terima kasih kepada Tuhan atas semua kemudahan yang di berikan.

(R.Dian Muliana, Lombok, dianmuliana@gmail.com)

***

Selamat Malam Rachel Weisz

Pada suatu hari ketika saya bangun pagi, saya menjalankan aktifitas saya seperti hari-hari biasanya. Mandi, sarapan pagi, baca koran, dan siap-siap untuk berangkat kerja. Semua sepertinya berjalan normal seperti biasa, tetapi segalanya berubah ketika saya akan berangkat kerja.

Saat itu saya melewati TV yang sedang di tonton oleh keluarga saya, perhatian saya seketika itu juga teralihkan sebentar ke TV karena saya mendengar sebuah jingle lagu sebuah iklan yang catchy di telinga saya, sehingga menarik perhatian saya dan membuat saya melihat iklan tersebut.

Di iklan tersebut ada seseorang yang wajahnya begitu familiar bagi saya, dan saya tahu bahwa saya pernah melihat orang itu dalam beberapa film ataupun iklan lainnya, tetapi entah mengapa saya tidak bisa mengingat nama orang itu ataupun juga film/iklan apa yang pernah ia bintangi.

Saat itu juga saya dilanda rasa keingintahuan yang sangat besar sekali, dalam perjalanan ke kantor, saya berusaha mengingat-ingatnya tetapi tidak mendapatkan jawaban. Hal itu membuat saya tidak terima, sehingga saya membuat perjanjian dengan diri saya sendiri bahwa sebelum sampai kantor, saya harus sudah bisa menemukan jawabannya.

Tibalah saya di kantor, dan masih saja belum ada jawaban yang muncul dari benak saya. “Baiklah, aku kalah, skor 1-0. Beri saya kesempatan lagi untuk menjawab sebelum makan siang.” ujar saya kepada diri saya sendiri, yang berharap bisa menyeimbangkan kedudukan menjadi satu sama dengan berhasil menjawabnya.

Lalu pada saat jam makan siang tiba…

“Skor 2-0.”

Saya mulai frustrasi, seperti seorang manager sepak bola yang kalut melihat gawang timnya kebobolan untuk yang kedua kalinya dan tanpa balas.

“Lagi… beri saya kesempatan sekali lagi!!!” saya memutuskan untuk memperpanjang waktu permainan hingga jam pulang kantor.

Maka saya berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan jawaban sebelum saya pulang dari kantor. Di saat waktu senggang saya di kantor, saya browsing situs-situs tentang film, berusaha mencari petunjuk tentang orang itu.

Jam di kantor telah menunjukan pukul lima sore…

“Skor 3-0.”

Saya pulang ke rumah dengan suasana hati yang buruk, karena rasa penasaran saya yang belum terjawabkan. Ketika sampai di rumah, ada salah satu keluarga saya yang melihat saya dan mengerti bahwa saya sedang dalam kondisi bad mood, lalu ia bertanya mengapa dan saya menjelaskannya.

Setelah mendengar penjelasan saya, ia hanya tertawa dan memberi petunjuk tentang rasa penasaran saya.

“Semakin kamu berusaha keras menemukan jawabanmu, akan semakin frustasi pula dirimu.” begitu katanya, dan saya terheran-heran mendengar jawabannya.

“Dipikirkan keras-keras saja tidak berhasil, lha… ini kok malah disuruh nyantai. Memangnya jawabannya bisa muncul begitu saja dari atas langit?” batin saya dalam hati, yang meremehkan petunjuk itu.

Saya tidak mengikuti nasihatnya, malah saya semakin berusaha dengan sekuat tenaga.

“Ini adalah extra time yang terakhir, apabila saya tidak bisa menjawabnya sebelum saya mengakhiri hari ini dengan tidur, maka saya mengaku kalah telak.” tantang saya kepada diri saya sendiri.

Sepanjang sore itu saya lalui dengan semakin meningkatkan usaha saya mengingat-ingat siapa orang itu, sesekali saya break sebentar dengan memeriksa akun Facebook saya dan juga mengganti-ganti saluran TV di kamar saya, berharap siapa tahu iklan tadi muncul kembali dan saya bisa mencoba mencari informasi mengenai iklan tersebut.

Tetapi waktu baru berjalan sekitar satu jam saya sudah menyerah, sedangkan jam tidur saya masih sangat lama yaitu jam 12 malam, masih ada sisa waktu sekitar lima jam lagi.

Saya menyerah sebelum waktu extra time berakhir, saya memutuskan bahwa tindakan ini sungguh konyol. Hanya karena rasa penasaran saja tetapi sampai mengacaukan ritme aktifitas saya pada hari itu. Akhirnya saya malas memikirkannya lagi dan masa bodoh dengan orang yang membuat saya penasaran itu.

Lalu saya meneruskan aktifitas rutin saya pada sore hari itu, yaitu melanjutkan menulis novel saya yang belum selesai. Tidak terlintas sedikitpun tentang orang itu dibenak saya, karena saya sudah benar-benar menyerah.

Tanpa sadar waktu telah berlalu dengan cepat dan jam di kamar saya sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam, saya mematikan komputer saya dan bersiap-siap untuk tidur. Ketika saya baru saja berbaring di atas ranjang, tidak lama kemudian ada kejadian aneh.

“Dor !” bunyi pistol wu wei yang memuntahkan sebutir peluru berisikan nama orang tersebut, tepat mengenai kepala saya dan langsung seketika itu juga saya dapat mengingat namanya.

“Dor… dor… dor… dor… dor… dor !!!” kali ini mesin senapan otomatis wu wei memberondong kepalaku dengan peluru-peluru jawaban lainnya, semua film dan iklan yang dibintangi orang itu satu per satu mulai muncul dalam benakku.

Lalu saya bangkit berdiri dari ranjang saya dan mengambil tablet saya di meja komputer untuk membrowsing orang itu dengan menggunakan Google. Saya periksa satu per satu judul film itu dan juga berusaha mencari iklan yang dibintanginya di Youtube.

Kagetnya bukan main ketika saya melihat semua jawaban itu di internet, ternyata peluru-peluru wu wei telah memberikan saya jawaban yang benar. Saya hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, kok bisa yah di saat ketika saya sudah melepaskan semuanya tentang orang itu tetapi malah saya mendapatkan jawabannya.

Malam itu saya bisa tidur pulas karena sudah berhasil mendapatkan jawaban atas rasa penasaran saya yang sangat mengganggu itu.

Terima kasih Wu Wei.

Dan selamat malam Rachel Weisz. Ha..ha..ha..

Dwi Nugroho, dwinugroho1983@gmail.com

***

Jalan Kaki sejak SD

Saya adalah siswi kelas 3 SMA yang baru saja lulus. Setiap pulang sekolah, di kala teman-teman saya pulang dengan menggunakan motor atau dijemput mobil pribadi, saya selalu pulang dengan menggunakan angkot. Kebiasaan pulang sekolah dengan menggunakan angkot ini sudah dibiasakan mama saya sejak saya kelas 6 SD. Sehabis saya sampai di terminal, saya kemudian berjalan kaki dari terminal menuju rumah. Jaraknya lumayan jauh. Saudara-saudara saya dan teman-teman saya saja sampai heran karena saya berjalan begitu jauhnya. Belum lagi ditambah dengan panas terik dan juga kadang saya harus berjalan melewati hujan angin. Tapi siapa yang sangka bahwa kebiasaan ini juga membawa “wu wei” untuk saya. Saat pelajaran olahraga di sekolah, saya termasuk siswi yang handal dalam pelajaran olahraga. Saya menjadi siswi yang paling cepat dari semua siswi di kelas saya saat melakukan test harvard. Ketika tes berlari keliling lapangan 12 kali (lapangan yg dikelilingi = 2 lapangan basket + 1 lapangan voli), walaupun memang saya bukan yang tercepat, tapi saya merasa sudah melampaui target yang saya pasang. H-1, saya pasrah dengan berkata pada mama saya “paling besok aku selesai waktunya 30 menit, pasti aku ga kuat”. Tapi ternyata setelah saya jalani, saya mampu menyelesaikan kurang lebih dalam waktu 19-20 menit. Setelah saya pikir pikir mungkin ini wu wei yang saya dapatkan dari berjalan kaki dr terminal ke rumah saya mulai saya dari kelas 6 SD.

(Krismasita Surya, skrismasita10@gmail.com)

***

Akhirnya Hamil

Saya menikah Tahun 2008 tepatnya tanggal 27 Juli 2008. Awal pernikahan kami bahagia, sengaja saya tidak ber KB agar segera memiliki momongan.Setahun usia pernikahan kami tapi belum ada tanda-tanda kami akan segera memiliki momongan. Kami bersabar atas itu, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan usaha. Usaha yang kami lakukan dimulai dari usaha tradisional (Kami menuruti apa kata orang-orang tua), diantaranya minum jamu, pijet k tukang urut, minum vitamin, mengatur makanan dan pola makan dan sebagainya. Tapi sampai beberapa bulan masih belum ada hasilnya…akhirnya kami memutuskan untuk ke dokter kandungan.

Kami memeriksakan diri, tidak ada kelainan semuanya baik-baik saja….aku lega dan bersyukur. Tapi beberapa bulan berlalu sampai memasuki tahun ke 2 usia pernikahan kami tanda – tanda kehamilan itu belum ada. Orang bilang A, saya lakukan, bilang B saya lakukan, semua saya lakukan. Tapi harapan untuk memiliki buah hati belum juga terwujud.

Malam itu, 27 Juli 2010 Ulang Tahun ke 2…. sesudah sholat isya dalam bersujud saya menangis, sedih, hampir putus asa dan sebagainya..

“Ya Allah usia saya hampir 30 Tahun….tapi saya belum juga dikarunia seorang buah hati…”

Saya sangat takut waktu itu, usia sudah mendekati 30 Tahun tapi tanda-tanda itu belum ada, kecemasan untuk tidak memiliki buah hati begitu kuat. Saya benar-benar depresi dan putus asa. Sampai saya jatuh sakit karena memikirkan itu.

Suami saya selalu bersabar dan selalu menguatkan saya. Meskipun dalam hatinya dia juga memiliki rasa dan kecemasan yang sama dengan saya. Tapi suami saya berusaha untuk menutupi itu.

Beberapa bulan saya dirundung rasa putus asa dan depresi….kecemasan dan kekhawatiran itu benar-benar membuat saya sakit dan dirundung kesedihan.

sampai suatu hari di awal ujung Tahun 2011, ada orang yang arif dan bijaksana yang mengatakan “semua perjuangan itu harus dinikmati….jangan jadikan perjuangan sebagai beban. kalian itu keturunan orang yang punya anak ..pasti kalian akan memiliki anak”.

Semangat itu muncul kembali, kami berusaha untuk memulai usaha memiliki momongan. Dengan prinsip berusaha tapi tetap menikmati usaha tersebut. Kami berobat ke luar kota, kami rencanakan se bahagia mungkin kami berobat. Pulang berobat kami jalan-jalan, makan-makan, rekreasi dan menikmat semua proses itu. Berusaha tapi tidak menjadikan beban.

Setahun sudah tidak terasa kami berobat ke dokter yang sama, sampai-sampai saya lupa kalo saya sedang berobat dan program untuk memiliki anak.

2 ( Dua ) hari saya jatuh sakit, perut mual badan panas dingin, dan muntah-muntah. Suami saya marah-marah karena saya tidak mau makan. Suami saya mengira maagku kumat. Minum obat tapi tetap masih sakit gak sembuh – sembuh. Saya ke dokter umum, dokter memvonis saya sakit maag….minumlah saya obat maag dari dokter tersebut. Tapi sakit saya belum sembuh…

Pagi hari sesudah sholat subuh….tiba-tiba saya buka laci…kok ada alat test untuk kehamilan itupun tinggal 1. Iseng saya mencoba alat test tersebut…Dengan hati berdebar saya mencobanya…Bismillah…..

Saya tidak percaya apa yang terjadi….Garis itu ada 2…

Ya Allah …. benarkah ini…..saya masih belum percaya….suamiku saya panggil…

Ya memang benar garis itu ada 2…

Alhamdulillah … Ya Allah saya memang hamil….

Syukurku tak terkira…

Apakah ini yang dinamakan Wu Wei…menikmati semua perjuangan tanpa menjadi beban..

Yang jelas saya bersyukur atas semuanya…

(Nur lailatul khusnah Laila, nurlailatulkhusnahlaila@yahoo.co.id)

***

Lancar Kerjakan UASBN

Saya delia, usia saya sekarang 19 tahun. Kira kira 7 tahun yg lalu (bisa dibilang) saya mengalami peristiwa yang(mungkin) bisa disebut wu wei atau yg bisa di maksudkan melakukan tapi tidak melakukan. Ketika itu saya duduk di kelas 6 sd dan akan menghadapi UASBN (ujian akhir sekolah berstandart nasional). H-2bulan uasbn sayabelum menguasai materi dg baik. Saatmengikuti tryout pertama pun nilai saya sangat parah jeleknya. Kemudian sayaberusaha sebisa saya untuk memahami materi materi. Tetapi hingga saat tryout terakhir nilai saya tetap saja jelek, malah lebih jelek dari tryout pertama (mungkin karena sudah stres) . Hingga pada hari h saya menerima soal dengan deg degan, begitu terus 3 hari berturut turut saat menerima soal ujian. Saat mengerjakan pun anehnya seperti berlalu begitu saja tau tau waktu mengerjakan tersisa 20 menit dan saya sudah mengerjakan semua soal. Padahal teman teman saya yg notabene jauh lebih pandai dari saya merasa ada yg kesulitan. Tapi saat ujian tadi saya kemana saja, saya seperti tidak di ruang ujian. Enyah siapa yg menjawab semua soal. Hingga pada saat pengumuman saya memperoleh nilai terbaik dengan perolehan 28.70 untuk 3 soal mata pelajaran. Dan hanya berbeda 0,20 dengan teman saya yg selalu juara kelas. Entahlah ini wu wei atau bukan. Trimakasih🙂

(Kristantidelia, kristantidelia@yahoo.com)

Sumber: Jawa Pos.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: