HIDUP HANYA MENUNGGU PENGGOROKAN

KOMPAS: Ahad, 17 Mei 2015

Oleh A Muttaqin

HIDUP HANYA MENUNGGU PENGGOROKAN Oleh A Muttaqin (KOMPAS/ Junaidi Khab)

HIDUP HANYA MENUNGGU PENGGOROKAN Oleh A Muttaqin (KOMPAS/ Junaidi Khab)

Ada semacam linuwih yang diturunkan Tuhan kepadaku, tapi justru sering membuat aku gelagapan, yaitu kemampuan mengerti bahasa binatang.

Aku tak ingat pasti, kapan kemampuan ini kudapat. Yang kuingat, di suatu sore yang sejuk, ketika umurku masih bau kencur, seekor kelinci melompat dari gerumbul kembang lalu mengajak aku bicara dan ajaibnya, begitu saja aku mengerti bahasanya. Seperti dapat perkenan ilmu-tiban, sejak itu aku mengerti bahasa macam-macam binatang, termasuk bebek, ayam, merpati, sapi, kambing, kucing, kuda, bahkan kadal. Tapi jangan kau menyangka aku keturunan Sulaiman. Tidak. Tak ada potongan aku yang semprul ini keturunan nabi. Aku hanya keturunan dari kakek-buyut yang semua berprofesi sebagai tukang jagal.

Sialnya, walau aku mengerti bahasa binatang tapi itu tidak membuat aku disegani para binatang seperti Tarzan. Sewaktu bocah, ketika aku masih suka diajak bapakku ke lokasi penjagalan, aku bahkan kerap dilanda ketakutan lantaran melihat prilaku terakhir para binatang itu. Setelah golok besar bapakku memutus dua urat leher binatang-binatang itu, macam-macam reaksinya: ada yang melotot, ada yang merintih, ada yang mengancam, ada yang mengumpat, ada yang mengutuk, namun kebanyakan berupa jerit ketakutan.

Sebagai anak tukang jagal yang tersohor tidak hanya oleh orang kampungku tapi juga oleh mayoritas binatang piaraan di kampung itu, aku pernah dilabrak seekor kambing. Kambing betina itu, entah dapat bisikan dari setan mana, mengaku bahwa ia akan mati di tangan bapakku. Spontan kutonjok congor kambing itu. Kambing itu terjerungup, tapi tetap menyerbu aku dengan macam-macam makian. Ia bilang, minggu lalu pejantannya telah digorok bapakku dan dagingnya diecer sebagai sate. Perbuatan ini sungguh keji, kata kambing betina itu, sebab pejantannya adalah pejuang hak asasi para kambing. Entah ini betul atau tidak, aku tak tahu. Yang jelas, melihat cara pidato si kambing betina yang kelewat bersemangat, aku yakin ia bukan golongan kambing sembarangan.

Pernah pula aku dilabrak seekor bebek jantan. Tampaknya, ia golongan bebek terpelajar. Bebek itu menghadang langkahku pada suatu pagi sambil memelintir sajak abang kita, Chairil Anwar: “Hidup hanya menunda penggorokan”.

Merasa tak percaya dengan pendengaranku, lekas aku tanya bebek itu sekali lagi: “Apa katamu?”

“Hidup hanya menunda penggorokan.”

“Maksudmu?”

“Kau anak tukang jagal sama betul dengan bapakmu yang bebal.”

“Maksudmu?”

“Kami para binatang punya keistimewaan?”

“Maksudmu?”

“Kami tahu kapan dan bagaimana kami akan mati.”

“Maksudmu?”

“Semprul. Besok pagi leherku putus oleh golok bapakmu.”

“Bapakku penjagal kakap. Ia hanya menjagal sapi, kerbau, kuda, atau paling remeh kambing. Bukan bebek macam kau.”

“Sudah kubilang, kami para binatang tahu kapan dan bagaimana kami mati. Ini keistimewaan kami yang tersembunyi. Boleh-boleh saja kau tak percaya, bego!”

Aku terdiam. Memikirkan apa betul omelan bebek ini, bahwa para binatang tahu kapan dan dengan cara apa mereka mati. Ini sukar dipercaya. Tapi, bukankah kambing betina yang menghadangku tempo hari juga berkata demikian. Sebelum aku mendapat jawaban atas ini, si bebek kembali bergumam: “Hidup hanya menunda penggorokan.”

“Hai Bebek, kau tak usah sok membebek Chairil.”

“Sebagai bebek tugasku memang membebek, Bung. Dan betul kata penyair tengik itu, hidup hanya menunda penggorokan.”

“Menunda kekalahan.””Tidak. Tidak, Bung. Kami para bebek tidak bisa dikalahkan. Kami hanya bisa digorok.”

“Maksudmu.”

“Itu harfiah belaka, Bung. Kami hanya digorok dan digorok.”

“Maksudmu?”

“Ah, percuma ngomong sama, Bung.”

Kurasa bebek brengsek itu sudah menyepelekan aku, maka tanpa babibu kuayunkan kaki ke arah bokongnya. Beruntung tendanganku hanya menyepak angin, sebab bebek itu ternyata terbang melipir ke pagar depan rumahku. Aku buka pintu pagar itu dan si bebek melompat sambil kembali memekik: “Hidup hanya menunda penggorokan.”

Tiga hari setelah aku bertemu bebek itu, aku bertandang ke pasar. Seperti biasa, jika tidak menggarap ini-itu, aku mendatangi ibuku yang tiap pagi berjualan daging segar. Aku berjalan ke kanan lalu belok ke kiri kemudian ke kanan lagi, merunut lapak-lapak di pasar itu. Tapi, sebelum sampai di lapak milik ibuku, aku dikejutkan suara kucing: “Hidup hanya menunda penggorokan.”

Aku tersentak. Kutatap kucing itu. Kucing itu juga menatapku. Aku melihat ke kiri dan ke kanan. Takut dianggap gendeng karena kepergok bicara sama kucing, kuseret buntut kucing itu ke tempat sepi lalu aku tanya kenapa ia ikut-ikutan bebek, membebek Chairil Anwar.

“Dia bebek pintar,” kata kucing itu, “tepat benar memelintir sajak Chairil untuk menggambarkan nasib kami.”

“Taruhlah betul begitu,” kataku, “tapi kau kucing. Mana mungkin kau digorok dan digoreng seperti bebek? Dan lagi, kalaulah bebek digorok dan dimakan, itu puncak kemuliaannya sebagai binatang piaraan.”

“Ah, sampean kayak tak tahu saja.”

“Astaga, kenapa para binatang suka bertele-tele. To the point saja.”

“Apa sampean tidak melek. Berjalanlah sepanjang pasar. Tengok ke warung-warung. Plakatnya memang menyebut ayam goreng atau bebek goreng. Tapi minyak yang mendidih bisa membuat keajaiban. Apalagi ini zaman lidah manusia tidak lagi peka. Setelah digoreng dan dicampur bumbu, siapa tahu yang mereka makan adalah daging kucing, anjing, tikus, bahkan daging ba.”

Apa boleh buat. Belum tuntas si kucing berkhutbah, kutendang ia keras-keras. Tubuh kucing itu menghantam lapak merah muda yang menjual aneka BH, celana dalam dan kosmetik khusus perempuan. Terdengar beberapa perempuan menjerit. Mereka mengira kucing itu berniat bunuh diri, tanpa tahu akulah yang menendang kucing keparat itu.

Aku pun buru-buru menuju lapak ibuku.

Di lapak itu, ibu tidak berjualan sendirian. Di lapak 3 x 4 meter itu, ia dibantu tetanggaku, Siti Tillis. Ketahuilah, Si Siti adalah gadis (sebetulnya perawan tua) yang pemurung dan pendiam. Ibuku menyukainya (mungkin juga iba) sebab Siti Tillis tidak banyak omong walau kadang suka berlaku aneh.

Pernah ibu menyuruh Siti menimbang 10 kg daging sapi. Ibu menyuruh Siti menimbang daging bagus untuk pelanggannya yang mempunyai usaha rumah steak. Namun tanpa sepengetahuan ibuku, Siti memasukkan gajih yang oleh ibu sudah dibuang ke keranjang sampah. Tidak hanya itu. Waktu ibu sakit dan memercayakan Siti Tillis berjualan sendirian, ia bahkan sangat semberono mencampur daging anjing untuk penjual soto langganan ibu. Penjual soto yang sudah hafal seluk-beluk tekstur daging itu tentu menaruh curiga dan akhirnya membawa daging itu ke laboratorium setempat.

Terang saja si penjual soto melabrak ibu, keesokan harinya. Setelah dilabrak tukang soto, ibu langsung pulang dan melabrak bapak. Ibu memaki-maki bapak, karena mengira bapaklah yang curang dan mencampur daging sapi dengan daging anjing. Sebagai penjagal kakap, bapak balik melabrak ibu. Setelah diusut dengan seksama, barulah mereka tahu bahwa biang keroknya adalah Siti Tillis. Kendati demikian, ibu tak melabrak Siti. Ibu hanya menegur dengan halus dan berjanji akan menaikkan upah Siti jika ia bekerja dengan betul.

Setelah menikung tiga kali dan berjalan sekitar sebelas lapak, aku sampai di depan lapak milik ibu. Di situ, orang-orang berkerumun dengan suara ribut. Beberapa perempuan menjerit. Beberapa lagi memaki. Dan, ketika aku berhasil menerobos kerumunan, aku hampir mati berdiri melihat tubuh ibuku tersungkur ke tumpukan daging sapi. Dari lehernya, darah masih sesekali mengucur. Sementara di pojok lapak, aku lihat Siti Tillis meringkuk gemetar. Ia hampir modar dihajar orang-orang di pasar.

Seperti kena teluh aku dekati jenazah ibu.

Seekor kucing yang kutendang tadi tiba-tiba nyelonong dari bawah meja dan melompati jenazah ibu-walau dilompati kucing itu tubuh ibu tetap tergeletak kaku.

Melihat jenazah ibu, aku ingat binatang-binatang yang digorok bapakku. Dalam kejang menyambut sakaratul maut, mereka masih sempat memelintir sajak Chairil Anwar: “Hidup hanya menunda penggorokan”, dan mengejang kuat sekali sebelum akhirnya betul-betul mati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: