Margaku, Sumatera (Minang) dan Makassar (Bugis)

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Pada saat aku menulis catatan ini, air mataku sedikit menggenang. Aku jadi teringat dengan kedua orang tuaku, aku bisa menulis seperti ini, menganalogikan dan merasionalkan suatu hal yang menurut orang lain tidak rasional, hal itu tidak jauh dari peran kedua orang tuaku yang secara tidak langsung mengajariku dari jarak jauh. Kedua orang tuaku meski tidak banyak tahu apa-apa, dia tetap orang tuaku. Orang tuaku tidak pernah bersekolah (formal), tapi dia menyekolahkanku. Apalagi ibuku, dia tidak tahu membaca, tapi dia ingin agar aku bisa membaca. Aku disuruh ngaji ke musolla. Sekarang, aku dikuliahkan. Kerjaan ibuku hanya menyabit rumput atau memasak air nira (la’ang, air mayang siwalan untuk dijadikan gula merah) jika ada, selebihnya dia beraktivitas di ladang. Ya, aku anak petani bukan anak konglomerat yang banyak berjasa dalam kebaikan meski kesombongannya juga luar biasa.

“Jika kalian bertemu dengan salah satu dari kedua orang tuaku (embu’ atau mama’-ku), sekali-kali jangan tanyakan tahu apa dia, tapi tanyakan siapa anaknya? Karena aku (anaknya, Junaidi Khab) adalah pengetahuan dan ilmunya yang tersimpan dalam hidupnya”. Junaidi Khab.

Dalam rumah tangga, aku ini memiliki keunikan. Menurutku unik dan menarik. Aku memanggil orang tua laki-laki (bapak/ayah) dengan sebutan “mamak” (mama’). Awal mula, aku ini sebenarnya malu untuk menyebutkan sebutan kepada orang tua laki-lakiku di hadapan teman-teman. Satu alasan, aku ini orang desa, aku ini hidup di tengah-tengah ketertinggalan, jadi aku takut di-bully oleh teman-teman dan orang-orang yang lebih maju dariku. Aku yakin, bagi teman-temanku yang lain, sebutan kata mama’ kepada ayahku itu terasa aneh dan lucu, kemungkinan besar akan menjadi bahan tertawaan belaka. Ada yang terlupa dan berhasil kuingat, aku tidak menyebutkan sebutan “mamak” di hadapan teman-teman luar daerah atau sesama Madura, karena khawatir mereka tidak paham. Maka dari itu, aku menggunakan sebutan “orang tua laki-laki” untuk ayah ketika berbicara.

Tapi, saat ini aku akan berani untuk mengatakan hal itu. Aku berasal dari sana dan aku hidup dari sana, di tanah kelahiranku di mana aku memanggil ayahku dengan sebutan “mamak” dan aku memanggil ibuku dengan sebutan “embuk”/ (embu’) sebagai bahasa daerah asalku. Aku tidak seperti mereka yang mengubah panggilan kepada kedua orang tuanya yang meniru-niru bahasa bangsa (orang) lain karena dianggap keren dan lebih maju (modern). Aku tetap, memanggil sebutan untuk ayahku menggunakan bahasa daerahku, karena aku ingin bebas. Begitu mungkin pikiran jernihku yang berusaha tetap mengakui kedaerahanku. Ada yang mau menertawakan, ada yang mau mem-bully, silakan. Aku tetap anak embu’ (ibu) dan anak mama’ (ayah) yang akan tetap menjaga keduanya meski hanya sebatas sebutan.

Kita tahu, seiring zaman terus berjalan dan hari terus berputar, sebutan untuk kedua orang tua semakin mengalami perubahan. Ya, aku mengakui karena bahasa sifatnya arbitrari (terserah yang mau pakai) yang akan terus mengalami perubahan dan perkembangan. Tapi, aku tidak mau kehilangan bahasa daerahku yang terus dimasuki oleh bahasa-bahasa daerah lain. Begitu mungkin.

Perlu kalian ketahui bahwa di rumahku, di kampung Kalangka, desa Banjar Barat, kecamatan Gapura, kabupaten Sumenep, pulau Madura, provinsi Jawa Timur, negara Indonesia, seorang ayah dipanggil dengan sebutan “mamak” karena rata-rata mereka adalah seorang pemanjat ulung pohon siwalan. Aku sudah mengamati hal tersebut, tapi sebagian juga ada yang menyebut bukan kata “mamak” kepada ayahnya yang ulung memanjat pohon siwalan. Ada sebagian di antara mereka (ayah yang ulung memanjat pohon siwalan) yang dipanggil dengan sebutan “eppak” (eppa’) atau ayah (bapak). Dan lambat-laun perubahan terjadi sesuai dengan konteks zaman yang terus mengalami perubahan di masyarakat.

Tidak ada yang salah dan tidak perlu ditertawakan, itulah kekayaanku dan kekayaan Indonesia secara umum. Tapi, ada juga seorang ayah yang dipanggil dengan sebutan “mamak” bukan karena dia ulung memanjat pohon siwalan. Kita lihat buktinya di kepulauan, temanku juga memanggil ayahnya dengan sebutan “mamak”, tapi ayahnya bukan pemanjat ulung pohon siwalan. Ayahnya adalah seorang pelaut. Begitu, kita bisa melihat keragaman tersebut dari sudut pandang lokalitas dan tradisi atau budaya yang berkembang.

Sumatera (Minang)

Dalam catatan mini ini aku menggunakan judul “Margaku, Sumatera (Minang) dan Makassar (Bugis)”. Judul itu bukan tanpa alasan. Bahasa yang menyeretku untuk membuat catatan dengan judul demikian. Dalam tradisi masyarakat Minang di Sumatera, sebagaimana aku tahu, sebutan “mamak” juga digunakan. Tapi, konteksnya yang berbeda. Namun, meskipun demikian – ada perbedaan konteks – persamaan penggunaan satu kata atau bahasa menunjukkan bahwa ada sebuah kesamaan dalam hal nenek moyang atau etnis. Aku yakin itu, dan aku bisa melihat dari buku-buku yang banyak bercerita padaku.

Untuk menguatkan tentang penggunaan kata “mamak” di daerah Sumatera, aku tadi sekitar pukul 10:14 WIB (18 Mei 2015) menelpon seorang kawan yang ada di Sumatera, Eka Azwin Lubis. Aku tanya padanya tentang pemakaian kata ganti “mamak” di Sumatera. Memang ada, tapi di sana penggunaan kata “mamak” disandangkan pada seorang ibu. Mungkin mirip “emmak”, pikirku. Menggunakan kata “mamak” seperti yang disebutkan oleh Eka, hanya digunakan oleh orang-orang desa atau orang bawahan, katanya.

Lalu, untuk memastikan lagi, aku mencoba untuk menghubungi mbak Yetti Ka di Padang. Penggunaan kata “mamak” itu, jika di Minang dipakai pada orang laki-laki dari saudara ibu, kepada paman atau pak le. Tapi, jika di daerah Jambi, Bengkulu, dan Palembang kata “mamak” digunakan untuk menyebut ibu. Mirip dengan yang dijelaskan oleh Eka Azwin Lubis. Sebenarnya banyak buku yang menceritakan tentang Madura dan latar belakangnya yang bisa kita baca, di sana lah mungkin sedikit banyak mata kita akan terbuka dan otak kita akan segera segar kembali tentang kehidupan orang Madura, termasuk aku sendiri.

Makassar (Bugis)

Sementara, untuk marga Makassar (Bugis), aku pernah membaca status FB seorang teman senior, kak Raedu Basha. Dalam status tersebut juga menyebutkan tentang bahasa “pangara”. Kata “pangara” dalam masyarakat Madura bisa berarti “akan”. Begini kata kak Raedu Basha dalam statusnya, “”Pangara” bukan hanya bahasa Madura, tapi ia juga bahasa Bugis dan Sulawesi pada umumnya. Di kedua ras itu, “Pangara” satu arti dengan penafsiran yang semakna atau bisa lebih dari sama. Inilah cara kami untuk “kembali” kepada nenek moyang; bagaimana untuk “menjemput” tumpah darah bahasa. Atau, Pangara, adalah bahasa segala bangsa. Saya tidak tahu, itu sudah milik pembaca.

Selain itu, aku lupa baca di mana satu referensi lagi, Nepa yang menjadi nama desa di Sampang, itu katanya nenek moyang masyarakat Madura yang berasal dari Bugis, Makassar. Daerah pertama di Madura yang dihuni oleh orang luar adalah Sampang. Jadi tidak mengherankan jika watak orang Madura sedikit mirip dengan suku Bugis di Makassar. Tidak banyak referensi atau penunjang dari catatan kecil ini, jika di antara pembaca menemukan bukti-bukti lain yang bisa mendukung catatanku ini, silakan berbagi denganku. Junaidi Khab, Si Anak Petani dan Pamanjat Pohon Siwalan, serta anak seorang penyabit rumput di ladang.

Surabaya, 18 Mei 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: