Ketika Junaidi Khab Makan Bersama Soekarno

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Malam ini sekitar pukul 20:00 aku makan bersama teman kamar. Aku makan nasi yang dibeli dari warung penjual nasi langgananku. Sebelumnya, kusiapkan sebotol air minum agar nanti ketika makan dan aku ingin minum langsung menuangkan minuman dalam botol itu ke dalam mulut. Enak pikirku, aku tidak harus bersusah-payah menuang air dari galon yang tidak ada dispensernya. Malam itu, aku nambah nasi dari porsi biasanya. Itu pun aku masih beli empat gorengan yang super tembem. Gorengan itu namanya ote-ote, orang Malang menyebutnya weci. Mau kumakan nanti juga saat makan nasi dan sisanya mau dimakan dengan santai mau buat teh-susu hangat agar tambah maknyus.

Lha, ketika aku mau makan di kamar, aku mengambil sendok dan garpu yang mutunya bagus. Sendok-garpu yang harganya mahal. Bagus dan keren bentuknya. Aku tampak mewah saja. Aku tidak lupa membaca doa (basmalah). Lalu kumakan nasi menggunakan sendok dan garpu. Aku memang sudah tahu keutamaan makan menggunakan tangan kanan dan makan menggunakan sendok-garpu. Makan menggunakan tangan ada nilai sunnah Rasul Muhammad Saw. yang jika dikerjakan akan mendapat pahala. Tapi, Rasul katanya dulu ketika makan menggunakan tiga jari. Kamu tahu apa yang dimakan Rasul sehingga mudah menggunakan tiga jari? Beliau makan kurma, roti, atau daging. Jadi mudah untuk menggunakan tiga jari. Bagi orang Indonesia atau masyarakat yang makanan pokoknya adalah nasi dengan sayur lodeh, ya tidak mungkin makan menggunakan tiga jari. Mereka ketika makan harus menggunakan lima jari atau menggunakan sendok.

Tapi, malam itu. Aku ingin berbeda sekali. Aku memiliki sendok-garpu yang baru kubeli beberapa hari yang lalu. Satu alasan aku membeli sendok-garpu, yaitu agar uang hasil tulisanku bisa awet tidak dimakan dan jadi kotoran yang kubuang. Akhirnya, uang dari hasil menulis itu kuawetkan dengan membelanjakannya menjadi sendok-garpu. Selain dijadikan sendok-garpu, biasanya uang dari hasil menulis kubelanjakan banyak buku. Tujuannya agar aku menulis dan dapat uang, serta uang itu bisa tahan lama. Ya itu tadi, kubelanjakan untuk membeli sendok-garpu.

Kamu tahu gak ketika aku makan menggunakan sendok-garpu? Tentu belum tahu. Mari kuberi tahu kalian. Ketika di tengah aku mengunyah nasi dan lauknya, aku ragu dengan caraku yang makan menggunakan sendok-garpu. Aku ingin berhenti menggunakannya. Tapi sendok-garpu sudah kadung kupakai dan harus kucuci. Kuteruskan saja makan dengan menggunakan sendok-garpu berharga menurut pandanganku. Sendok-garpu itu belum ada yang memakai kecuali aku sendiri. Nasi pun habi dengan dua buah ote-ote serta nasi dari temanku yang katanya kebanyakan. Ote-ote tinggal dua. Mau kumakan nanti dengan teh-susu yang akan kubuat. Atau kukasi sama teman yang katanya mau ke kamarku. Tapi dia buru-buru, maka tak jadi kuberikan ote-ote itu dan aku kumakan sambil minum teh-susu deh. Enaknya! Kamu tahu gak lagi? Aku kalau makan itu banyak tapi gak gemuk-gemuk. Kau gak gemuk-gemuk mungkin imbang antara makan banyak dan olahraga.

Setelah makan, kucuci sendok dan tanganku. Oh, percuma saja aku makan menggunakan sendok-garpu. Keinginanku begini, aku makan menggunakan sendok-garpu nanti ketika selesai makan agar tidak cuci tangan. Tapi, apalah daya tanganku harus pegang tulang ayam yang masih ada dagingnya untuk kugigit dan kuhabiskan. Jika menggunakan sendok/garpu sangat sulit memereteli daging ayam yang menempel pada tulang-tulang kecil itu.

Kubuang bungkus nasi dan sendok-garpu kucuci beserta tangan. Setelah itu, aku mencari angin. Setiap selesai makan, aku selalu berkeringat. Minum segelas air saja keringatku banyak mengucur. Tapi badanku tidak bahu seperti kebanyakan teman-temanku yang berkeringat tapi bahu minta ampun. Di sini aku bersyukur pada Tuhan. Tapi, kamu tahu gak agar keringatku tidak bahu? Kau rajin minum jamu, khususnya sejak menyukai olahraga sejak kelas enam (VI) MI.

Aku sebenarnya lebih suka makan menggunakan tangan daripada sendok/garpu. Hal itu lebih nikmat rasanya. Benar, setelah aku santai sambil menunggu teh-susu jadi (siap), kupikir-pikir ada hal terasa hambar dalam diriku saat makan. Aku seakan tidak merasa makan tadi meski nasinya sudah jumbo. Aku pikir lagi. Perasaanku sendiri mengatakan bahwa aku makan terasa kurang enak mungkin karena aku tidak menikmatinya dengan menggunakan tangan. Setelah kupiki-pikir lagi, benar. Aku merasa kurang kenyang dan tidak terasa nikmat tadi ketika makan hingga selesai karena menggunakan sendok-garpu. Aku berkomitmen, jika nanti mau makan lagi aku mau menggunakan tangan saja, dan sendok-garpu itu mau kugunakan ketika makan santai saja atau makan sesuatu yang lain hanya untuk cemilan saja. Begitu mungkin.

Kamu tahu gak bahwa presiden pertama Republik Indonesia, Si Bung Karno (Soekarno) ketika makan selalu menggunakan tangan kanannya? Aku dulu pernah mendapat cerita waktu bersekolah. Jika tidak salah waktu itu aku masih MTs, setingkat SMP gitu. Saudara sepupuku – Taufiq Umar – (Si Upik) pernah bercerita padaku. Entah dari mana dia mendapat cerita itu, aku kurang tahu. Tapi dari cerita itu, aku mendapat semacam pelajaran berharga tentang makan menggunakan tangan kanan kita sendiri.

Kata Si Upik, dulu katanya pernah ada pesta (jamuan) di suatu tempat (tentunya dalam ruangan). Di tempat itu ada banyak orang, sudah tentu. Bukan, maksudku orang Indonesia yang kaya-raya dan orang-orang luar negeri, Eropa-Belanda. Nah, pada saat makan, Soekarno menggunakan tangan kanannya. Lalu ketahuan oleh warga asing Eropa, lalu dia diejek oleh warga asing tadi. “Irlander makan menggunakan tangan!” Begitu ejekan yang diutarakan pada Bung Karno. Sementara Bung Karno sendiri yang makan menggunakan tangan kanannya. Memang di ruang jamuan itu bukan hanya Bung Karno yang tergolong Irlander, atau penduduk pribumi (Indonesia) tapi banyak orang Indonesia lainnya. Cuma, hanya Soekarno lah yang berbeda dengan orang kebanyakan. Dia makan menggunakan kedua tangannya.

Lalu dengan jumawa Bung Karno menjawab, “Saya lebih mulia dari kalian yang makan menggunakan sendok. Asalkan kalian tahu, sendok yang kalian gunakan untuk makan sudah digilir orang banyak, lalu kalian juga menggilir sisanya. Apa yang kalian gilir itu merupakan bekas jilatan orang lain dan bukan hanya satu orang yang menjilatnya, apa tidak jijik dan malu? Sementara tangan saya, saya gunakan sendiri dan selebihnya untuk menyuapi anakku sendiri ketika makan”. Mereka semua yang semula sedikit penuh gelak-tawa dan seringai lambat laun senyap. Soekarno tidak berbicara tentang sunnah Rasul, tapi kemuliaan menggunakan tangan ketika makan dari pada menggunakan sendok-garpu ketika makan. Semoga catatan sederhana ini bisa memberikan manfaat dan renungan diri bagi kita semua. Amin.

CATATAN: Fotoku di atas itu ketika aku masih menjadi mahasiswa baru di IAN Sunan Ampel Surabaya (waktu itu masih IAIN, kini sudah menjadi UIN Sunan Ampel Surabaya/ 2014) yang sedang dibangun Twin Tower-nya.

Surabaya, 16 Mei 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: