Kiai NU yang Moderat dan Mau Mendengarkan Curhat serta Pendapat

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Sebagaimana umum diketahui bahwa Nahdlatul Ulama (NU) dan warganya merupakan organisasi yang berhaluan pada Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah, yaitu segala keputusan hukum berdasarkan al-Quran, al-Hadits, dan kesepakatan para ulama. Tiga pilar landasan hukum tersebut menjadi ciri khas dalam jiwa NU dan para kiai (ulama)-nya hingga saat ini. Itu pun tidak bisa lepas dari tradisi pemikiran fiqih empat madzhab, yaitu; Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali (Dr. Ahmad Zahro, 2001:1). Sehingga keberadaan NU mudah diterima oleh masyarakat karena pilar-pilar keislamannya itu tidak hanya terpaku kepada al-Quran sebagai sumber utama, atau al-Hadits sebagai sumber kedua.

Terhadap tiga pilar tersebut, seperti yang sering kita lihat di nusantara (Indonesia), bahwa hanyalah para kiai atau ulama yang (seakan-akan) memiliki otoritas penuh untuk menentukan tafsiran atau pandangannya. Ketika kiai atau ulama yang memberikan keputusan (hukum), hal tersebut (seakan-akan lagi) mutlak tidak boleh dibantah oleh pendapat lain. Sementara, selain kiai atau ulama, hanya harus mengikuti pendapat mereka. Padahal kadang di kalangan yang tidak diakui sebagai kiai atau ulama memiliki cara pandang atau pendapat yang berbeda dengan mereka, dan kadang pendapat tersebut yang lebih dianggap valid dan ringan bagi masyarakat.

Para kiai atau ulama di nusantara, mungkin juga di seluruh dunia memiliki pamor yang sulit untuk dikalahkan di lingkungan sosial, maka mayoritas masyarakat berkiblat kepada pemikiran mereka, meskipun kadang tidak begitu paham apa yang dimaksud atau disampaikan oleh mereka. Salah satu alasan mereka dipatuhi, karena status sosialnya di lingkungan masyarakat lebih tinggi dan dihormati.

Pernah ada isu bahwa seorang murid/ santri tidak boleh berpendapat kepada kiai atau ulama. Jika hal mereka mengajukan pendapatnya, mereka bisa dianggap sebagai pembangkang dan murid durhaka yang tidak hormat kepada kiainya. Padahal, disadari atau tidak, seorang kiai kadang tak mau kalah pamor atau label kekiaiannya copot hanya karena persoalan beda pendapat dengan orang lain. Sementara pendapat lain yang lebih absah seakan-akan mau ditepis begitu saja tanpa merenunginya terlebih dahulu.

Sebenarnya banyak kasus di masyarakat yang menunjukkan sekat-sekat perbedaan status sosial, sehingga hukum (syariat) Islam berjalan sebelah, yaitu tidak mau terhadap fenomena baru yang baru datang oleh para kiai, yang mungkin masih jumud dan fanatik dengan perkembangan zaman. Padahal, kita tahu bersama bahwa ajaran Islam itu bersifat universal dan fleksibel, di level dan masyarakat mana pun bisa diterima. Hal itu hakikatnya tergantung kepada pembawanya tentang cara mengadaptasikan dengan lingkungan yang baru tersebut.

Sementara kita mengetahui bahwa yang paling mulia di sisi Tuhan yaitu orang-orang yang bertakwa. Persoalan takwa atau tidak, hanyalah Tuhan yang mengetahuinya. Bukan kiai atau ulama. Kita lihat saja, sudah banyak orang yang dianggap sebagai kiai atau keturunan kiai, di balik itu semua perilakunya bejat dan tak sesuai dengan ajaran Islam. Misalkan sudah banyak di antara mereka (yang tampak seperti kiai) terjerat kasus korupsi dan kasus-kasus lainnya. Ukuran baik dari sisi sosial dan penampilan bukan standar lagi sebagai patokan orang tersebut mulia, tapi perlakuan terhadap masyarakatlah yang menjadi cermin kekiaian mereka selain memiliki kejeniusan dan daya aplikasi berbagai keilmuan yang sangat kuat.

Sepertinya yang dicari oleh mereka (kiai/ ulama) nusantara bukan kebenaran, tapi pembenaran dari masyarakat. Hal tersebut terbukti masyarakat hanya dicekoki oleh nasihat-nasihat dan pendapatnya saja, sementara mereka tidak mau mendengarkan pendapat masyarakat, hal tersebut (mungkin) karena masyarakat dianggap tidak tahu apa-apa. Padahal, status kiai tersebut hanya sebatas di lingkungannya saja. Coba pergi ke tempat yang jauh, sudah barang tentu orang yang biasanya dianggap kiai, di tempat lain tak lain hanya sebagai orang biasa yang tampak bodoh. Ibarat kodok dalam tempurung kelapa.

Maka dari itu, saya menginginkan kiai/ ulama NU yang lebih moderat dan mau mendengarkan curhat serta pendapat dari orang lain, meskipun mereka bukan manusia mulia seperti dirinya. Rasullah Saw. saja dengan para sahabatnya pernah terjadi beda pendapat, beliau tidak lantas menolak, tapi merenungkannya. Setiap sahabatnya berpendapat, beliau selalu mendengarkannya. Begitu juga setiap ada orang yang bercurhat kepadanya, dengan penuh keakraban dan kesabaran beliau pun mendengarkannya. Dari kesabaran tersebut, melalui perenungannya muncul hukum dalam ajaran agama Islam.

Rasulullah Saw. sendiri dalam mencetuskan suatu hukum tidak selalu berpedoman pada pandangannya sendiri dan wahyu ilahi, tapi dari berbagai pendapat sahabat dan orang-orang pada masanya dengan menyesuaikan terhadap budaya masyarakat setempat. Misalkan setelah Nabi Muhammad Saw. mengetahui bahwa sebuah pernikahan akan diselenggarakan di tengah-tengah orang Islam Madinah (kaum Anshar), beliau segera mengirim dua orang penyanyi, karena menurutnya orang-orang Anshor senang bernyanyi[1]. Begitulah cara Rasulullah Saw. melakukan akulturasi ajaran agama Islam. Bukan hanya terpaku pada kehendak dan kepentingan pribadi sehingga orang lain tidak memiliki ruang.

Jika pendapat mereka (sahabat) cenderung pada kebaikan bagi umat manusia, beliau tidak segan-segan menerimanya. Begitulah sikap Rasulullah Saw. dalam menyikapi berbagai macam persoalan hidup, khususnya terkait dengan perihal hukum dan syariat dalam agama Islam yang diaplikasikan dalam kehidupan umat manusia.

Sedangkan kita sudah tahu sendiri bahwa dasar-dasar sikap kemasyarakatan NU tercakup dalam nilai-nilai universal seperti berikut[2]:

Pertama, Tawasut dan i’tidal, sikap tengah dan lurus yang berintikan prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah kehidupan bersama, dan menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat tatarruf (ekstrem).

Kedua, Tasamuth, sikap toleran terhadap perbedaan pandangan, baik dalam masalah keagamaan (terutama mengenai hal-hal yang bersifat furu’/ cabang atau masalah-masalah khilafiyah/yang diperselisihkan), kemasyarakatan, maupun kebudayaan.

Ketiga, Tawazun, sikap seimbang dalam ber-khidmah (mengabdi), baik kepada Allah Swt. yang dikaitkan dengan kehidupan beramsyarakat, kepada sesama manusia, maupun kepada lingkungan. Menyelaraskan kepenitngan masa lalu, masa kini, dan masa mendatang.

Keempat, Amar ma’ruf nahi munkar, selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan bersama, serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.

Keempat dasar sikap kemasyarakatan tersebut sering mengemuka dalam wujud interaksi sosial budaya dan sosial politik. Dalam interaksi sosial budaya, NU dikenal luwes (fleksibel) dan memiliki daya terima yang tinggi terhadap banyak bentuk budaya lokal yang bagi sementara kalangan dianggap mengganggu kemurnian Islam, seperti ziarah kubur para wali, peringatan haul dan slametan (doa bersama dengan menyajikan makanan tertentu berkaitan dengan peringatan kematian seseorang), talqin mayit (memberi “pelajaran” khusus kepada mayat yang baru dikuburkan), pemasangan bedug dan kentongan di masjid, tingkepan (selamatan untuk mendoakan perempuan yang sedang hamil sekitar tujuh bulan), dan sebagainya.

Sedang dalam interaksi sosial politik, NU sering bersikap kooperatif dan kompromistis terhadap kebijakan-kebijakan politik pemerintah, seperti kesediannya untuk menerima konsep Nasakomnya Bung Karno, asa tunggal Pancasilanya Pak Harto, kemauan bergabung dengan partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), berfusi dalam PPP (Partai Persatuan Pembangunan), dan lain sebagainya. NU memang memiliki landasan yang kuat, tapi kita menyadari yang memegangnya juga manusia yang memiliki ego dan hasrat yang tinggi. Jadi, tidak pantas jika suatu kebenaran hanya terpaku pada pendapat kalangan tertentu.

Sebagaimana cara pandang Imam Syafi’i yang memiliki dua pendapat yang dikenal dengan qaul qadim (pendapat lama) dan qaul jadid (pendapat baru) tentang ajaran agama Islam. Pendapat lama muncul ketika beliau masih berada di Makkah, dan ketika pindah ke Madinah, maka muncul pendapat baru tentang suatu hukum. Di sinilah kefleksibelitasan ajaran agama Islam, sehingga mudah diterima oleh masyarakat luas.

Kembali pada kiai atau ulama NU, mereka harus (setidaknya) moderat/ tawasuth, alias sederhana; luwes; pertengahan; penahan nafsu; orang yang berhaluan lunak[3] (Pius A Partanto dan M. Dahlan al Barry, 2001:482). Juga yang mau mendengarkan curhat serta pendapat harus menjadi ciri khas kiai atau ulama NU. Pamor dan sekat-sekat sosial sepertinya sudah berhasil membunuh karakter masyarakat agar tak saling berbagi dengan orang yang berilmu, kiai atau ulama. Di sinilah, secuil harapan agar kiai atau ulama NU bisa berbaur, berbagi, dan saling tukar pendapat berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan dengan rakyat biasa.

* Penulis adalah Akademisi UIN Sunan Ampel Surabya.

Surabaya, 03 Februari 2015

[1] Tariq Ramadan, Biografi Intelektual-Spiritual Muhammad, (Jakarta: Serambi, 2015), hlm. 155.

[2] Dr. Ahmad Zahro, Tradisi Intelektual NU, (Yogyakarta: LkiS, 2004), hlm. 24-25.

[3] Pius A Partanto dan M. Dahlan Al Barry, Kmau Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola,2001), hlm. 42.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: