Tentang Dahi yang Ada Bekas Hitamnya

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Menarik sekali khutbah Jumat yang aku dengarkan di masjid Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya pada Jumat, 8 Mei 2015. Aku tidak mengenal nama sang orator, tapi sepertinya dia dimuliakan – terhormat. Setelah shalat Jumat selesai, aku berinisiatif untuk menemuinya jika dia duduk santai di masjid. Tapi, harapanku gagal, setelah shalat Jumat dia langsung keluar. Padahal aku ingin menanyakan suatu hal tentang materi khutbah Jumat dan memberikan sedikit gejolak dalam pikiranku padanya. Ketika berjalan di serambi masjid, dia disambut oleh orang-orang yang pegang talkie-walkie. Oh, ternyata dia diiringi oleh para santrinya (mungkin). Ada yang berfoto berdua di serambi masjid, aku hanya melihatnya dari jarak yang tidak begitu jauh.

Kalian tahu khutbah Jumat yang disampaikan dan masih membekas dalam ingatanku? Tentu kalian masih belum tahu. Maka dari itu, aku akan memberitahu kalian. Temanya tidak jauh dari persoalan bulan Hijriyah, yaitu bulan Rajab dan Sya’ban dalam rangka menyambut bulan Ramadan yang mulia dan penuh berkah. Dia (sang orator) menganjurkan para jamaah sidang Jumat agar membaca al-Quran (sampai khatam) jangan hanya pada bulan Ramadan, tapi di luar bulan Ramadan juga harus demikian. Menarik sekali, kita menyadari kadang di bulan Ramadan main kebut-kebutan soal ibadah, tapi di luar bulan Ramadan kita seakan melupakan ibadah yang dikebut pada bulan Ramadan.

Isra dan Mi’raj

Lebih jauh lagi, sang orator menyampaikan tentang hikmah isra dan mi’raj Rasulullah Muhammad Saw. Yaitu perjalanan nabi Muhammad Saw. yang dilakukan dari Masjid al-Haram menuju Masjid al-Aqsha (isra), lalu dari Masjid al-Aqsha menuju Sidrotu al-Muntaha untuk berjumpa dengan Allah Swt. (mi’raj) yang ditempuh dalam jangka waktu hanya semalam. Pada saat itulah beliau menerima perintah shalat 50 waktu pada awal mulanya. Tapi berhubung saran para nabi yang dijumpainya di langit bawah arsy, sehingga beliau kembali lagi meminta keringanan pada Allah Swt. agar dikurangi 5 waktu, begitu seterusnya hingga beliau kembali berulang kali hingga shalat menjadi lima waktu; shubuh, dzuhud, ‘ashar, maghrib, dan isya’.

Ada satu hal yang mengganjal dalam pikiranku yang ingin kusampaikan pada sang orator tersebut, tapi gagal. Pada bagian penjelasan tentang mi’raj nabi Muhammad Saw. dia menyebutkan bahwa proses menuju Sidrotu al-Muntaha masih belum bisa diilmiahkan, alias masih belum masuk akal. Tapi, aku pernah mendengar atau membaca (lupa rujukannya) proses tersebut sudah bisa diilmiahkan. Pengilmiahan tersebut dilakukan oleh teori ilmu fisika.

Pokoknya begini yang kuingat tentang keilmiahan proses mi’raj nabi Muhammad Saw. Dengan kekuasaan Allah Swt. raga beliau diubah menjadi energi cahaya, lalu dengan bentuk energi cahaya tersebut beliau menempuh perjalanan lebih cepat dari kilat atau cahaya yang ada di bumi. Tidak mengherankan jika peristiwa isra dan mi’raj Rasullah Muhammad Saw. dilakukan dalam jangka waktu semalam. Begitu yang kutahu dan yang kuingat. Kita lihat saja kecepatan cahaya dalam menembus ruangan hampa. Kita nyalakan lampu, tombol switch on jika dipencet (ditekan), maka lampu menyala dan sinarnya dengan bersamaan akan memenuhi ruangan.

Tentang Orang yang Banyak Bersujud

Selain sang orator membicarakan tentang keutamaan bulan-bulan Hijriyah, dia juga menyampaikan tentang orang yang banyak bersujud. Dalam artian, bersujud di sini adalah orang-orang yang beribadah sehingga wajahnya (mukanya) ada tanda-tanda (bekas) sujud/ ibadah. Sebagaimana sudah lumrah kita ketahui, bahwa orang yang dahinya ada bekas hitam, dialah orang yang rajin beribadah dan melakukan banyak sujud. Padahal hal tersebut keliru. Begitu kira-kira anggapan kita selama ini. Tentang singgungan khutbah tersebut bisa kita baca dalam firman Allah Swt. sebagaimana berikut:

Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, berupa ampunan dan pahala yang besar” (QS: al-Fath, 29).

Dalam Tafsir Munir (Tafsir al-Nawawi al-Jawi) dijelaskan tentang maksud penggalan al-Quran pada surah al-Fath ayat 29 yang berbunyi: “Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud” bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang banyak melakukan shalat di waktu malam, maka wajahnya (mukanya) tampak berseri (bagus) pada waktu siang hari”. Yaitu, ini merupakan suatu pernyataan atau penegasan bagi orang yang berakal dan bisa membedakan antara orang yang berjaga malam hanya untuk minum (mabuk-mabukan) dan bermain (judi) dengan orang yang berjaga malam untuk berdzikir (beribadah) dan mengambil manfaat dari ilmu yang didapat (Tafsir Munir – al-Nawawi al-Jawi, jilid II hal. 311).

Kita lihat analisis sederhana dari hasil aku mendengarkan khutbah Jumat tadi di masjid Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya. Kita sudah terperangkap oleh dahi yang ada bekas hitamnya. Orang yang dahinya ada bekas hitamnya, dialah orang yang banyak melakukan sujud, dan sudah dapat dipastikan rajin beribadah. Padahal maksud surat al-Fath ayat 29 tersebut dengan cukup jelas dan terang orang yang banyak bersujud dan ada bekas sujud bukanlah orang yang dahinya ada bekas hitam hingga menjadi kulit mati. Bukan demikian yang dimaksud dalam ayat tersebut.

Dalam bahasa Arab wajah (muka) dan dahi berbeda. Muka bahasa Arab-nya adalah وَجْهٌ sementara dahi bahasa Arab-nya جَبْهَةٌ. Nah, orang yang dahinya hitam itu bukan manandakan seperti yang dimaksud dalam surat al-Fath ayat 29 tersebut. Tapi, orang yang dimaksud wajahnya ada bekas sujud adalah wajah (muka) orang yang sering berjaga malam untuk beribadah akan menampakkan wajah berseri ketika siang hari (Baca: Tafsir Munir). Berbeda dengan orang yang berjaga malam hanya untuk mabuk dan bermain judi, tentu wajah mereka suram karena (mungkin) capek dan lesu tanpa semangat. Mungkin demikian yang bisa kusampaikan bagi kalian. Semoga saja catatan kecil ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Surabaya, 14 Mei 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: