Jangan Sampai Tidak Membayar Hutang

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad Saw., beliau bersabda; “Siapa yang mengambil harta manusia (berhutang) disertai maksud akan membayarnya, maka Allah akan membayarkan untuknya. Sebaliknya, siapa yang mengambilnya dengan maksud merusaknya (merugikan), maka Allah akan merusak orang itu”. (HR. Bukhari).

Fenomena utang-piutang kadang memang menjadi persoalan yang rumit. Bahkan, persoalan utang-piutang bisa menghilangkan nyawa orang-orang yang terlibat di dalamnya. Ada banyak kasus pembunuhan dan disintegrasi masyarakat hanya karena hutang yang tidak dibayar. Kadang seseorang yang punya hutang dibunuh karena tidak membayar. Kadang pula orang yang punya piutang yang dibunuh, alias menjadi korban kekerasan karena menagih sesuai tenggat waktu yang disepakati, sementara pihak yang berhutang tak menepatinya. Kemungkinan karena tidak ada barang/uang untuk membayar hutangnya, akhirnya lebih memilih membunuh orang yang memberi pinjaman/hutang.

Kerap kita membaca berita di koran-koran tentang pembunuhan yang diawali dari persoalan utang-piutang seperti yang diceritakan tadi. Fenomena utang-piutang tersebut hendaknya menjadi sebuah pelajaran bagi kita semua. Jangan sampai berhutang jika memang tidak memiliki jaminan untuk membayar, apalagi berniat tidak mau bayar. Begitu pula jangan mudah memberi pinjaman jika pada akhirnya menimbulkan konflik. Sebenarnya hal demikian merupakan persoalan dilematis yang sulit kita temukan jalan keluarnya. Jika tidak memberi pinjaman dianggap tidak pemurah dan biasanya dimusuhi. Begitulah persoalan uang dalam utang-piutang.

Dari hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah tersebut mengajarkan pada kita agar ketika ingin melakukan utang-piutang dengan seseorang, hendaknya dilakukan dengan baik. Dengan kata lain, berhutang untuk membayar kembali di kemudian hari. Karena dengan tekad demikian, Tuhan akan memberikan jalan keluar untuk memudahkan pembayaran hutang yang menjadi beban orang yang berhutang. Jangan sampai sok lupa atau melalaikannya karena pinjaman yang kita lakukan sangat kecil nominalnya. Karena setiap hutang akan tetap dianggap hutang selamanya.

Memang kita maklumi, manusia identik dengan sifat lupa. Sehingga kadang hutang tidak dibayar karena lupa. Meskipun orang yang punya piutang ingat, tidak enak menagih karena jumlah hutang (mungkin) terlalu kecil. Jika tidak ada kepastian dari yang berhutang, maka orang yang punya piutang akan selalu mengingatnya. Kecuali memang direlakan, atau benar-benar lupa/ dilupakan olehnya. Tapi kadang sulit untuk merelakan hutang sekecil apapun di kala keadaan kita kepepet.

Maka dari itu, melakukan transaksi utang-piutang jangan dianggap sepele karena nominalnya kecil, bahkan jika dalam jumlah sangat kecil sekali. Jika sudah ada akad untuk berhutang, maka selamanya akan dianggap hutang. Kecuali sudah dibayar atau direlakan, bisa dengan cara orang yang berhutang meminta kerelaan orang yang memberi pinjaman. Tapi hal tersebut juga sangat sulit dilakukan oleh si penghutang, kadang karena merasa malu atau kadang merasa nominalnya yang sangat kecil. Di sini perlu adanya keterbukaan antara si penghutang dan si pemberi piutang, lebih-lebih kesabaran si pemberi piutang dan pengertian yang memiliki hutang.

Hal yang sangat memalukan, di saat orang yang punya piutang menagih pinjamannya, kadang mendapat ocehan dari si penghutang karena jumlah sedikit sampai ditagih. Hakikatnya orang yang punya piutang tetap menganggap hutang meski yang dipinjam nominalnya sangat kecil. Di sinilah sakit hati dari pihak orang yang punya piutang bermula. Bisa jadi dia tidak memberi pinjaman lagi sekecil apapun nominalnya. Maka dari itu, sekecil apapun kita berhutang pada orang lain jangan sampai menyepelekannya, lebih-lebih menyakiti hati orang yang memberi pinjaman.

Jika kemungkinan besar kita lupa atas hutang yang kita tanggung, maka hendaknya kita mencatat/menuliskannya dalam catatan pribadi. Dengan tujuan, suatu ketika catatan tersebut bisa kita baca, sehingga hutang kita tanpa harus ditagih terlebih dahulu untuk membayarnya oleh orang yang memberikan pinjaman. Ingat! Kadang orang yang memberi pinjaman itu malu atau males untuk menagih piutangnya. Sehingga harta itu menjadi api, petaka, atau kehidupan orang yang berhutang tidak berkah. Dan kelak ketika sudah wafat akan diminta pertanggungjawaban atas hutang yang tidak dibayar. Maka dari itu, selain tidak menyepelekan hutang sekecil apapun, selayaknya setiap transaksi utang-piutang harus dicatat sebaik mungkin.

Allah Swt. di dalam al-Quran sempat mengingatkan kepada kita semua, yaitu umat yang beriman agar mencatat/menuliskan setiap melakukan transaksi utang-piutang untuk waktu yang telah ditentukan. Begitu juga harus diingat bahwa jangan sampai bosan atau tidak mau menuliskannya, untuk batas waktunya baik hutang itu kecil atau bahkan lebih-lebih dalam jumlah yang sangat besar. Karena kita semua memiliki hak dan tanggungjawab masing-masing yang harus dijaga dan dilaksanakan (QS. al-Baqarah:282).

Firman Tuhan yang berupa peringatan untuk mencatat transaksi utang-piutang tersebut memiliki korelasi yang sangat jelas dengan hadits Nabi Muhammad Saw. di atas. Jika kita memang memiliki maksud untuk membayar hutang, maka mencatat hutang berapapun nominalnya harus dilakukan meski pihak pemberi hutang tidak menginginkannya. Kadang ketidakmauan orang yang memberi piutang untuk mencatat, sebenarnya ingin mengetahui sejauh mana orang yang berhutang menjaga kewajiban (loyalitas) dan tanggungjawabnya untuk membayar hutang. Di sini orang yang memberikan piutang menggunakan bahasa majas yang harus dipahami oleh orang yang berhutang.

Surabaya, 31 Desember 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: