Ketegangan Menjelang Keruntuhan Orde Lama dan Orba

Lampung Post: Minggu, 10 Mei 2015

Detik-Detik Paling Menegangkan (Junaidi Khab)

Detik-Detik Paling Menegangkan (Junaidi Khab)

Judul               : Detik-Detik Paling Menegangkan

Penulis             : Mohammad Goenawan

Penerbit           : Palapa

Cetakan           : I, 2015

Tebal               : 244 hlm; 14 x 20 cm

ISBN               : 978-602-255-815-6

Peresensi         : Junaidi Khab*

Kehadiran karya Mohammad Goenawan yang berjudul “Detik-Detik Paling Menegangkan; Rangkaian Peristiwa Mencekam Menjelang Kejatuhan Soekarno dan Soeharto” ini merupakan satu di antara buku sejarah politik yang berusaha mengungkap peristiwa pra Soeharto dan Soekarno lengser. Dua bapak bangsa ini cukup terkenal karena beberapa alasan, salah satu di antaranya yaitu; Soekarno terkenal sebagai presiden pertama Republik Indonesia (RI) dengan julukan masa pemerintahannya Orde Lama (Orla). Sedangkan Soeharto, terkenal sebagai pemangku jabatan presiden RI paling lama di Indonesia, tokoh pemimpin diktator, dan masa pemerintahannya dijuluki sebagai pemerintahan Orde Baru (Orba).

Dengan bahasa yang lugas dan cermat, Goenawan berusaha menyingkap beberapa peristiwa yang sangat mencekam dan menegangkan di puncak akhir masa pemerintahan dua bapak bangsa ini. Dua bapak bangsa ini harus turun dari tampuk kepemimpinan RI dengan cara terpaksa. Ada banyak peristiwa menegangkan sebelum dua bapak bangsa ini harus turun dari jabatan sebagai presiden negera RI.

Pelengseran Soekarno

Pada masa menjelang puncak pemerintahan Soekarno berakhir, ada beberapa peristiwa yang sangat menegangkan dan menyayat hati. Salah satu di antara peristiwa tersebut yaitu terjadinya pemberontakan 30 September 1965, atau yang dikenal G/30 S (hlm. 55). Selain itu yang sangat mencekam dan menegangkan pada detik-detik keruntuah pemerintahan Soekarno yaitu tragedi Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) yang diberikan oleh Soekarno kepada Soeharto (hlm. 89).

Dua peristiwa yang terjadi pada masa pemerintahan Soekarno tersebut menyisakan luka pilu di hati bangsa Indonesia. Rangkaian peristiwa G 30 S ini menyebabkan ratusan ribu penduduk Indonesia, terutama di Jawa dan Bali harus kehilangan nyawanya. Puncak peristiwa ini terjadi pada tanggal 30 September 1965. Sehingga peristiwa ini kemudian dikenal dengan sebutan tragedi G 30 S dan menyisakan trauma berkepanjangan bagi bangsa Indonesia. Hingga pada akhirnya, seiring peristiwa berlalau, Soeharto berhasil memegang tampuk pemerintahan RI.

Pelengseran Soeharto

Peristiwa pelengseran Soekarno memang sangat menegangkan. Begitu pula pada detik-detik keruntuhan pemerintah Soeharto. Keadaan juga tak jauh berbeda menegangkan dengan pra-pelengseran Seokarno sebagai presiden pertama RI. Pada detik-detik keruntuhan masa pemerintahan Soeharto, negara RI diwarnai oleh demonstrasi yang tiada putusnya (hlm. 142).

Pada 21 Mei 1998, Soeharto dipaksa meletakkan jabatan. Upaya penggulingan kekuasaan melalu jalur eksta parlementer itu memiliki sejarah panjang. Letupan aksi demonstrasi besar pertama terjadi pada 15 Januari 1974, atau dikenal dengaj peristiwa Malari (Lima Belas Januari 1974). Dalam peristiwa Malari, ratusan mahasiswa turun ke jalan. Mereka sebagian besar merupakan mahasiswa angkatan tahun 60-an yang memiliki jasa dalam melakukan penokohan terhadap Soeharto dalam menumbangkan Soekarno. Namun, pada akhirnya mereka juga yang melakukan penolakan atas intervensi asing yang sedang dibangun oleh Soeharto dengan Jepang.

Selain peristiwa demonstrasi yang tiada henti tersebut, pada masa menjelang keruntuhan Orde Baru diwarnai dengan peristiwa penculikan aktivis 1998 (hlm. 158) dan penculikan Widji Thukul (hlm. 164). Tragedi penembakan beberapa mahasiswa Trisakti, sehingga peristiwa ini dikenal dengan tragedi Trisakti (hlm. 185). Dan peristiwa kerusuahn Mei 1998 (hlm. 193).

Dari sekian kerusuhan menjelang keruntuhan kekuasaan Soeharto, kerusuhan Mei 1998 merupakan kerusuhan paling besar sejak 1956-1998. Bahkan disebutkan oleh Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), Sandyawan Sumardi mengatakan bahwa kasus tersebut adalah tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Kekacauan pada masa itu menewaskan sekitar 1.880 jiwa.

Bukan hanya peristiwa-peristiwa sebagaimana disebut di atas. Karya ini masih menyimpan beberapa peristiwa memilukan yang perlu menjadi bahan renungan dan refleksi diri bagi kita, sebagai bangsa Indonesia. Khususnya nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi hanyut tanpa terasa hanya akibat kepentingan politik kelempok tertentu.

Secara umum, buku ini mengulas-tuntas berbagai peristiwa yang – bagi bangsa Indonesia – sangat memilukan, menyedihkan, dan menyayat hati. Secara garis besar, karya ini memaparkan berbagai isu politik menjelang dua tokoh bangsa Indonesia yang cukup terkenal, Soekarno dan Soeharto akan segera turun dari jabatan sebagai pemimpin Indonesia. Beberapa peristiwa menegangkan pada detik-detik keruntuhan kepemimpinan Soekarno dan Soeharto ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Dengan peristiwa tersebut, bangsa Indonesia dan para pemimpin negeri bisa belajar menata diri untuk memajukan Indonesia. Melalui karya ini, kita semua bisa bercermin dari kemanusiaan yang hancur akibat pergolakan politik yang sudah tidak sehat dan tidak stabil lagi akibat sifat hedonis para pembesar negeri ini. Semoga!

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku Tinggal di Surabaya.

Tulisan ini bisa di baca lebih lanjut di: Lampung Post, Minggu 10 Mei 2015 Ketegangan Menjelang Keruntuhan Orde Lama dan Orba oleh Junaidi Khab MB. Semoga bisa memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: