Internationalization of Madurese Language

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Tadi malam, pada diskusi acara Indonesia Belajar-IB Surabaya, aku sempat melontarkan pernyataan bahwa bahasa Madura akan menjadi bahasa Internasional sebagaimana bahasa Inggris menjadi bahasa internasional. Aku tidak begitu ragu, bahkan sepertinya tidak ada keraguan apa yang kuucapkan itu. Bahasa Inggris menjadi bahasa internasional karena ada banyak negara yang di dalamnya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-harinya. Bukan karena banyaknya penutur bahasa Inggris, sehingga membuatnya menjadi bahasa internasional. Jika demikian, maka bahasa Mandarin adalah penutur terbanyak di dunia ini.

Begitu pula bahasa Madura. Bahasa Madura akan menjadi bahasa internasional dalam pandanganku. Hal tersebut bisa kita lihat dari masyarakat Madura yang sudah banyak menyebar di belahan bumi. Sebenarnya, pikiran semacam ini aku teringat dengan novel “Dunia Anna” karya Jostein Gardeer yang menceritakan tentang ramalan masa depan dengan menuliskan suatu surat untuk anak cucu pada generasi berikutnya. Aku tuliskan catatan ini, mungkin nanti pada generasi berikutnya ketika bahasa Madura menjadi bahasa internasional akan disadari oleh umat manusia tentang kebenaran terkaanku ini yang kuanggap sebagai hipotesa awal saja.

Sebenarnya, pada kesempatan diskusi tersebut sebagian tidak percaya. Andaikan mereka bicara, mungkin begini kata-katanya, “Kamu ini ngawur Jun!” Kurang lebih seperti itu ketika mendengar pernyataanku tentang internasionalisasi bahasa Madura. Mungkin aku memang ngawur (sembarang), tapi hal itu yang kurasakan saat berdiskusi dengan teman-teman di IB-Surabaya. Begitu pendapatku tentang bahasa Madura yang ingin menyaingi bahasa Inggris.

Catatan ini kutulis pada saat tubuhku kurang fit (I am sick). Tadi malam tidak makan, hanya kemarin sore makan satu kali. Itu pun hampir lupa untuk makan. Akhirnya, untuk makan pada malam hari aku benar-benar lupa hingga akhirnya aku sampai di tempatku, aku baru sadar kalau perut memanggil-manggil untuk segera diisi. Tapi, sayang seribu sayang, sudah banyak warung yang tutup berhubung malam sudah menjelang pagi. Aku bersabar saja dan menahan perut yang melilit dengan minum susu krim lalu diikuti dengan minum air putih. Pikirku agar reda perutku yang terus melilit, mendingan perut bisa lebih nyaman. Tapi sulit untuk tidur meski mata sudah sangat ngantuk, perut tidak bisa bersahabat. Mungkin demikian catatan yang mampu kutulis untuk kali ini. Tetap jaga kesehatan meski banyak belajar, diskusi, baca buku, berorganisasi, dan ngurus skripsi.

Surabaya, 09 Mei 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: