Aku Ingin Membeli Sikat Besar

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Baru kali ini keinginan terbesarku kembali menyala-nyala bagaikan api yang sedang membara. Kamu tahu keinginanku yang menurutku sangat besar? “Aku ingin membeli sikat besar. Itu tuh, ikat baju saat di cuci. Atau sikat kamar mandi yang super besar itu. Bukan sikat gigi.” Tidak usah heran dengan keinginanku yang gila ini. Menurutku hal itu sangat mulia. Karena keinginan itu muncul dalam pikiranku ketika aku sedang mandi. Kamu tahu aku mandi di mana? Ya, sudah tentu di kamar mandi, bukan di kamar tidur. Di sela-sela aku menyiramkan air ke sekujur tubuh, perasaan yang berupa keinginan itu muncul secara berproses. Ya, berproses.

Awal mulanya, aku ini tidak suka jika melihat sampah berserakan atau tempat kotor. Lha, setiap masuk kamar mandi, aku selalu menemukan sampah-sampah sisa bungkus sabun, odol, dan lain sebagainya. Ya, dengan sabar aku membersihkannya dengan membuang ke luar kamar mandi. Maaf, tidak kubuang ke tempat sampah karena aku sudah tidak menggunakan baju. Biarlah nanti mudah membuangnya mending kuletakkan dulu di luar kamar mandi. Biasanya ada yang membersihkan, seorang ibu-ibu yang sering membersihkan tempatku tinggal di Surabaya. Lebih tepatnya seorang pembantu yang disediakan untuk mengepel tempatku tinggal.

Kamu tahu cara aku membuang sampah yang berserakan dalam kamar mandi? Pertama-tama, kadang aku memilih satu per satu menggunakan tangan, entah itu tangan kanan atau tangan kiri. Kadang pula aku mencari kreksek. Jika ada kreksek, aku buka lebar-lebar kreksek itu, lalu sampah-sampah itu kumasukkan ke dalam kreksek. Kemudian kuletakkan di luar kamar mandi agar tidak membuat kotor kamar mandi, pikirku. Aku hanya heran dengan teman-teman, mereka kok tega membuang sampah dalam kamar mandi. Setidaknya, sebagai orang yang berilmu dan yang jelas mereka sudah kuliah, mahasiswa, mereka harus tahu diri lah. Meski tempat ini bayar, ya kita jaga bersama-sama kebersihannya.

Kadang ada kreksek yang tergantung di dinding. Aku meyakini, ini juga ada sebagian teman yang peduli untuk menyatukan sampah agar tidak berserakan. Dulu, aku pernah memasang seperti itu. Tapi ada yang melepas. Seperti tidak penting kreksek itu kuletakkan di dinding. Padahal jika ada sampah kan bisa diletakkan dalam kreksek itu, lalu kita tinggal membuangnya nanti, tanpa harus tangan yang memilih sampah yang berserakan di lantai kamar mandi. Entahlah, aku tidak mengerti dengan teman-teman yang tidak peduli dengan kebersihan, utamanya kamar sendiri dan kamar mandi. Kadang orang hanya menyukai kebersihan, tapi tidak suka bersih-bersih.

Nah, hari ini (Sabtu, 02 Mei 2015), aku kebetulan mandi di kamar mandi lantai dua, memang aku tinggal di lantai dua. Tepatnya kamar mandi bagian tengah. Di sana, di dalam kamar mandi aku melihat sampah berserakan lagi. Lalu, di tempat sabun (bagan dinding) aku melihat seonggok sikat baju. Aku merasa senang. Siap. Aku buang sampah yang berserakan di lantai kamar mandi ke luar. Lalu kusiram lantai itu sampai tidak ada sisa sampah kecil yang menyerupai pasir dan lain-lain. Hanya tinggal lumut yang baunya tidak sedap jika kalian cium di sana. Lumutnya berwarna kekuningan seperti kotoran manusia. Ih, menjijikkan kan? Makanya kubersihkan. Perlahan tapi pasti kusikat lantai kamar mandi, hingga pinggiran closed tempat teman-teman buang air besar.

Hingga akhirnya kamar mandi pun bersih lantainya. Aku tidak berani menyikat closed-nya. Karena terlalu jijik. Biasanya, aku menyikat hingga closed-nya bersih. Tapi jika kebetulan membawa sabun bubuk. Sabun bubuk itu kutaburkan ke dalam closed, lalu aku menyikatnya hingga bersih menggunakan tangan. Aku tidak bilang sama teman-teman, ya malu lah aku ini hanya mampu mengerjakan hal-hal seperti itu. Tapi, aku yakin, ini mulai dan demi kebaikan bersama yang kulakukan tanpa harus diminta oleh orang lain. Bahkan, aku tidak suka jika ada teman yang tahu lalu memujiku. Menurutku, tidak usah memuji, tapi juga melakukan seperti yang kulakukan. Itu lebih mulia daripada hanya memujiku.

Hal itu kulakukan bukan hanya satu kali atau dua kali. Tapi beberapa kali setiap masuk kamar mandi. Jika tidak ada sikat besar, aku hanya membuang sampahnya atau sekadar meringkasnya ke dalam kreksek jika ada teman yang juga peduli lingkungan bersih. Begitu yang kulakukan ketika melihat kamar mandi kotor. Kamu tahu? Itu sebagai bentuk syukurku bisa bersih-bersih kamar mandi yang cukup bagus. Aku di rumah tidak mempunyai kamar mandi seperti yang kubersihkan itu, kamar mandi yang berlantai dan ada closed-nya. Semoga saja aku bisa membuat yang lebih bagus dari kamar mandi yang sering kubersihkan di sini dan bisa membuatku lebih bersyukur.

Aku jadi teringat dengan kisah Imam al-Ghazali yang ketika menuntut ilmu selalu bersih-bersih, dan dia menjadi ulama besar. Bukan hanya pada saat itu aku teringat dengan kisah hidup Imam al-Ghazali, tapi setiap aku akan bersih-bersih pasti mengingatnya. Aku ingin seperti Imam al-Ghazali, ingin sekali. Maka dari itu, sedikit banyak aku menirukan apa yang telah dilakukan oleh Imam al-Ghazali. Aku benar-benar terinspirasi atas kebaikan yang dilakukan oleh dia, melakukan kebaikan yang hakikatnya bermanfaat pada dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar. Ya, itu bersih-bersih. Dalam ceritanya, Imam al-Ghazali katanya bersih-bersih membuang kotoran hewan menggunakan tangannya. Maka dari itu, aku tidak jijik jika untuk bersih-bersih demi kebaikan bersama. Guru inspiratifku, Imam al-Ghazali. Guru spiritual kerbersihan dan kepenulisan. Terimakasih Tuan telah menginspirasi saya untuk berbuat baik dan menulis. Semoga Tuan mendapat tempat yang layak di akhirat. Amin.

Setelah lantai kamar mandi sudah bersih, aku mandi. Di tengah guyuran air ke sekujur tubuh, aku berpikir; “Andai aku punya sikat baju (sikat yang besar) secara pribadi, maka setiap aku masuk kamar mandi, jika kamar mandi itu kotor akan kubersihkan dengan sikatku itu”. Atau setidaknya, setiap kamar mandi ada sikat besar, aku akan membersihkannya dan jika tidak ada sikat, akan kubuang sampah-sampah yang berserakan tanpa diketahui oleh teman-temanku. Semoga apa yang kulakukan itu bernilai ibadah. Amin. Aku menuliskan catatan ini bukan karena pamer pekerjaan, tapi agar teman-teman pembaca jangan menjadi diri yang egois dengan membuat sampah sembarangan. Selain itu, terserah para pembaca catatan kecilku ini mau dimaknai, entah ini pamer pekerjaan kebaikan, atau aku ini sombong. Tapi, niatku begini, jika tulisan ini dibaca mari kita berbuat yang terbaik. Pada intinya, aku ingin mengajak teman-teman untuk berbuat yang terbaik, baik itu bagi diri sendiri, orang lain, atau lingkungan yang kita tempati. Semoga bermanfaat. Amin.

Surabaya, 02 Mei 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: