Looking For Existence of The God

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Di akun FB-ku, aku memasang status tentang Tuhan, sebagaimana berikut: Junaidi Khab “Bagaimana cara membedakan (nama) Tuhan “الله” yang disebut oleh umat Islam bahwa dia adalah Tuhan yang hakiki selain nama Tuhan yang sembilan puluh sembilan dengan Tuhan umat yang beragama non-Islam? Begini, ada satu contoh pertanyaan dalam pembacaan talqin, siapa nama Tuhanmu? Lalu dijawab dengan jawaban “Allah adalah Tuhanku”. Padahal kata “الله” hanya berasal dari kata “اله” nakirah (umum) yang dikhususkan (makrifat) dengan penambahan huruf AL “ال”. Pertanyaan ini bisa diperluas dengan pertanyaan dan perenungan yang lain. Aku yakin, sedikit yang bisa atau mau menjawab kegundahanku ini. Sebenarnya pertanyaan itu sudah muncul sejak aku masih SMA.”

Dari status tersebut, muncul beberapa komentar dari beberapa teman. Komentarnya, aku terima semua dan berusaha untuk dicerna dalam otak untuk menemukan jawaban. Berikut beberapa komentar teman-teman yang langsung kutanggapi. Label nomor merupakan komentar, sementara yang tidak ada nomornya merupakan respon dari tiap-tiap komentar yang ada nomornya. Perlu dicatat, komentar teman-teman kuedit agar tidak disingkat seperti SMS. Ada sebelas komentar yang masuk, sebagaimana berikut:

1. Irfan Al-ayat Apa ini yang sampean maksud ;الله = ال + اله = الاله? Dan uniknya lagi, di dalam bahasa Arab, hanya kalimat الله yang dibaca tidak sesuai dengan tulisan. Bacanya “AWWOH” dengan L sedikit samar. Dan lebih uniknya lagi dan lagi; meskipun ALLH ditulis dengan huruf Latin Allah, tapi semua Muslim Indonesia atau di Barat Eropa tetap membacanya yangg muncul huruf W yakni AWWAH atau AWWOAH bukan huruf L.

Junaidi Khab Yup, sebagian orang Jawa ada yang menggunakan O. Umat Kristiani menyebut tidak sama dengan Umat Islam. Begitu mungkin jika kita mengkaji kata-katanya lebih luas. Ada banyak perbedaan pengucapan untuk kata Allah.

2. Irfan Al-ayat Dalam Ilmu Bahasa (linguistic) dikenal istilah fonetik, yakni cara membaca tulisan dan BACAAN itu disimbolkan dalam tanda kurung tegak [……….] atau tanda /……../ Contoh bacaan fonetis dapat dilihat saat Anda membaca Kamus Inggris. ONE [wan] atau/wan/Tulisan ONE tapi dibaca W-A-N bukan dibaca O-N-E. Jadi, bacaan fonetisnya /WAN/ meskipun tertulis ONE. Orang-orang Yahudi Sephardim, Kristen Arab dan Muslim Arab kalau menemukan kata ALLH dalam kalimat bahasa Arab selalu bacaan fonetisnya menjadi /AWWH/ bukan dibaca ALAH seperti bacaan fonetis versi orang Kristen Indonesia.

Junaidi Khab Kalau persoalan fonetik atau ilmu bunyi tentu pelafalan kata (Arb: kalimat) cukup bervariasi. Apalagi beda ras yang mengucapkannya. Ya, begitu lah keagungan Tuhan.

Irfan Al-ayat Sepakat mas, jadi nama Allah dalam kata dan dalam pengucapannya adalah “literasi”, Namun, hakikatnya atau esensinya adalah “tunggal dan mutlak”. Tapi tetap, ulama muslim kita mengajarkan kita tentang cara mengetahui literasi yang benar atau “aslia”, maka ulama mengarang kitab “jazariyah” tentang makhorijal huruf, cara pengucapan yang benar, tapi tetap itu tidak masalah karena tidak termasuk kajian esensi dari eksistensi yang hakiki (Allah).

Junaidi Khab Sip. Begitu variasinya. Semua ber-Tuhan pada yang menciptakan. Cuma masing-masing di antara kita (agama-agama lain) memiliki persepsi yang berbeda. Tapi, pada intinya mereka memiliki Tuhan yang harus disembah dan diagungkan karena karunianya bagi umat manusia.

Irfan Al-ayat Akar agama Smith adalah Tuhan yang diajarkan oleh Nabi Adam. Agama yang diajarkan oleh nabi Adam akan terus mengalami pengembaraan dan penyempurnaan sampai di zaman Muhammad (yang paling sempurna), itu yang saya yakini mas… Selebihnya monggo, mari kita tafsirkan sendiri-sendiri.

3. Irfan Al-ayat Kenapa dipilih “Allah” selain dari yang 99 nama? Bismillah mungkin ini jawabannya: “Allah” adalah nama yang tak memiliki atribut apapun selain dirinya sendiri, berbeda dengan “Ar-rahman, Ar-Rahim, al-Huda, dll”. Jika yang dipakai mutlak adalah selain nama “Allah”, maka Tuhan hanya sebatas atribut yang dikenakannya dan tidak melingkupi yang lainnya. Kalau kita ingin mencoba mengartikan nama “Allah” artinya sama dengan HASHEM, itu istilah Ibrani yang artinya Sang Nama atau Sang Empunya Nama.

Junaidi Khab Aku cukup mendengarkan dan menikmati sembari menghayati komentar ini. Tapi pikiranku kembali pada makrifat dan nakirah.

4. Irfan Al-ayat Ha dalam gramatika Ibrani disebut kata sandang sebanding dengan “Sang” dalam bahasa Indonesia. Atau Ha dalam bhs Ibrani sebanding dengan AL dalam bahasa Arab; atau The dalam bahasa Inggris. Shem dalam bahasa Ibrani artinya Nama sebanding dengan Isim dalam bahasa Arab. Jadi HASHEM dalam bahasa Ibrani sama dengan AL-ISM dalam bahasa Arab.

5. Irfan Al-ayat Jadi, dari segi Bahasa Allah itu adalah nama dengan pengertian definitif paling Mutlak. Dari segi filsafat ia juga paling mutlak karena tidak memiliki atribut selain diri sendiri, dan dari segi sejarah nama “Allah” adalah nama yg paling sakral dan dijunjung tinggi di semua kitab semitik, (HA)(S)(HE)(M), YHWH, ALLH, adalah tetragramaton yang merujuk pada satu nama suci yakni ALLH (dengan ajaran yang telah disempurnakan).

Junaidi Khab Nah, di situ. Mengapa menggunakan nakirah yang di-makrifat-kan? Lebih-lebih menggunakan “AL”. Ini yang membuat saya bingung.

Irfan Al-ayat Itu menurut saya (mungkin), agar kita dalam setiap belajar menempuh jalur makrifatullah. Hehehe.

Junaidi Khab Istilahnya begini mas: Hem, dalam ilmu nahwu itu ada isim makrifat yang bermakna khusus, contohnya nama alam/ manusia (Junaidi, Irfan, Bowi, dLL). Juga ada, isim nakirah yang bermakna umum, tapi isim nakirah (yang umum) itu bisa di-makrifat-kan (dikhususkan) dengan ditambahi huruf “AL”. Lafat “اله” setelah ditambah huruf “AL” menjadi “الله”.

Irfan Al-ayat Oh gitu ya mas? Saya masih sedikit belajar bahasa Arab mas. Itu tadi kajian filologi yang juga sedikit saya pahami. Terimakasih mas, nanti saya renungkan kembali. #bismillah

6. Irfan Al-ayat cc pak Menachem Ali.

7. Khairul Umam Saya kurang paham kalau kata “Allah” dibaca “Awwah”. Setahu saya bacaannya tetap begitulah selama saya belajar ngaji al-Qur’an dan tajwid-nya. Bahkan di Arab pun saya tidak mendengar bacaan “Awwah” yang ada ya tetap seperti aslinya meski pun memang lam-nya agak samar tapi tidak sampai mengubah lam pada wau.

Junaidi Khab Begini kak, emang macam-macam cara orang yang membaca lafal itu. Hanya lafal itu yang dibaca beda. Tapi, mayoritas umat Islam membacanya dengan pipi seakan tembem, alias dibaca tebal. Umat Nasrani membacanya tipis.

8. Irfan Al-ayat Iya mas. Maksud saya ya begitu… Cuma, saya kesulitan menulisnya, maka saya tulis “Awwah” (sebenarnya dengan L samar) hanya untuk sekadar mempermudah penyampaian.

9. An Ismaeel Ilginio Jawabannya ada dalam benakmu…

Junaidi Khab …Iya kang. Ada dalam benakku yang masih kucari. Mungkin orang lain tidak memiliki benak seperti yang kucari, atau punya tapi mereka egois, atau mereka tidak mau mencoba untuk memikirkan kekuasaan Tuhan semesta alam yang penuh dengan rahasia.

10. Ahmad Muntaha Afandie Kalau sudah ada al-sudah ma’rifat, betul. Itu dalam domain ilmu nahwu. Namun, tidak seratus persen ma’rifat dalam kajian semantik kognitif, dalam hal ini faslu fi al-fadla’āt al-dzihniyyah (espaces mentaux; ruang mental). Al-ma’rifah li a-‘ahd al-dzihni itu masih menyisakana problem, dua: rule et valen (al-daur wa al-qimah). Begitu juga dengan isim alam, dari segi kata sudah ma’rifat, tapi dari segi substansi (al-dzat), ia masih “misteri”. Muhammad datang, sudah tahu yang datang bukam selain orang yang bernama muhammmad, tapi di bumi ini ada berapa Muhammad. Kecuali jika ada hal lain yang mengkhususkannya.
Nah, coba silahkan analisa ruang mental Fauconnier ini diterapkan.

Junaidi Khab Siap bang Ahmad Muntaha Afandie Tapi saya jadi khawatir jika ada orang yang punya anak, lalu anaknya diberi nama “Allah”.

11. Muhammad A’la menurutku karena bahasa yang dipakai adalah bahasa Arab, coba malaikat tanya dengan bahasa Madureh, mon ta’ ejeweb pangeran ekoah.

Junaidi Khab Bisa jadi kanda Muhammad A’la Tapi yang jadi persoalan utama kan di atas tentang al makrifat, isim nakirah yang dimakrifatkan dengan makna “ahad” kata bang Ahmad Muntaha Afandie.

Semoga statusku ini memberikan manfaat bagi kita semua untuk mengetahui tentang hakikat kekuasaan Tuhan. Amin.

Surabaya, 02 Mei 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: