Keangkuhan atau Bukan?

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Catatan ini aku buat atas prinsip budaya antre alias menunggu giliran (hak) yang kita miliki masing-masing. Mungkin kita sudah tahu perihal persoalan antre terjadi dimana-mana, di bank, mall, supermarket, dan warung-warung kecil tempat pembelian kebutuhan sehari-hari, bahkan di tempat berwudu atau mandi pun antre harus dijadikan bahan landasan untuk mendapatkan hak masing-masing.

Di Surabaya tempat aku merantau, aku biasanya cuci-cuci peralatan untuk memasak dan makan di tempat keran umum tempatku tinggal. Di sana, di lantai dua ada semacam keran air yang oleh teman-teman digunakan untuk mengalirkan air ke bak cucian pakaian, berwudu (cucu muka/ wajah), atau seperti yang tadi untuk mencuci peralatan-peralatan makan seperti sendok, piring, dan lainnya. pada saat aku sedang mencuci, kadang ada seorang teman yang menunggu untuk berwudu, tapi aku tetap mencuci peralatan makan sampai selesai.

Kadang yang antre itu ngomong, “ayo, ini saya mau shalat”. Pikiranku jadi terganggu. Kucuekin saja omelannya. Aku juga punya prinsip dan hak menggunakan keran itu. Pikirku begini saja “Eh kok dia mau merebut hakku? Dia menggunakan alasan untuk sholat lagi. Padahal, tempat lain untuk berwudu masih ada. Misal di kamar mandi juga bisa.” Aku bergumam sendiri begitu.

Jadinya ketika selesai cuci peralatan makan, aku jadi teringat pada kejadian-kejadian kekerasan dan bom bunuh diri yang menggunakan agama demi membenarkan perilaku yang manusiawi itu. Aku pikir peristiwa ketika aku mencuci peralatan makan di keran umum (yang aku kadang juga antre) dan teman yang mau wudu dengan alasan sholat (secara tak langsung ingin bilang agar aku mengalah). Tapi aku pada prinsipku sendiri ini hakku mendapatkan bagian mencuci pada saat itu.

Memang lebih baik kita mengalah, lalu lantas dengan mereka yang tak mau kalah? Seandainya mereka memang mau sholat tepat waktu, mereka sebelumnya sudah siap-siap. Begitu juga, jika ingin mendapat pahala jihad, tidak usah meresahkan orang lain (yang bahkan sealiran, sama agama, dan tak memusuhi), cuma kadang mereka merasa dimusuhi, sehingga perang jihad bom bunuh diri yang mengatasnamakan agama dilakukan agar mereka dibenarkan.

Surabaya, 13 Februari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: