JEMARI KIRI

KOMPAS: Ahad, 26 April 2015

Oleh Djenar Maesa Ayu

JEMARI KIRI Oleh Djenar Maesa Ayu (KOMPAS/Junaidi Khab)

JEMARI KIRI Oleh Djenar Maesa Ayu (KOMPAS/Junaidi Khab)

Beberapa waktu setelah cincin itu melingkar di jari manis tangan kanannya, sulit bagi Nayla untuk menggerakkan jari-jemari di tangan kirinya. Tiba-tiba seluruh jemari tangan kirinya layu. Sehingga mengerjakan apa pun ia terpaksa hanya menggunakan jari-jemari di tangan yang satu.

Kesal sekali Nayla dibuatnya. Bukan hanya karena ia sudah tak mampu lagi mengerjakan hal-hal besar dengan keseluruhan jemari di kedua tangannya saja. Tapi membersihkan kotoran yang menempel di duburnya setelah buang air besar pun ia tidak bisa. Walaupun tangan kirinya bisa bergerak seperti biasa, tapi diam saja kelima jarinya. Telapak tangannya seolah cuma berfungsi sebagai penyanggah jari-jemari yang kesemuanya merunduk ke bawah. Semakin besar upaya Nayla untuk mengguncangkan tangan kirinya, maka jejemari itu justru semakin terlihat lemah.

Nayla sudah mencoba berbagai cara agar jari-jemari di tangan kirinya berfungsi normal kembali. Di luar tindakan yang dilakukannya sendiri, ia pun mencoba berbagai macam jenis terapi. Mulai dari dokter spesialis tulang, sampai cenayang. Mulai dari ahli nujum, sampai spesialis tusuk jarum. Tapi tetap saja jari-jemari di tangan kirinya tak berfungsi seperti biasanya. Bahkan tak jarang beberapa terapi mengakibatkan jari-jemari di tangan kirinya itu berubah dari ukuran yang semestinya. Membengkak mereka. Kadang sebentar, kadang cukup lama. Terapi yang harus dilakukan pun jadi ekstra. Membuat Nayla semakin putus asa.

Nayla menatap jari-jemari tangan kirinya yang terkulai. Lalu dengan jari-jemari tangan kanannya ia belai. Pada saat itulah ia memerhatikan cincin di jari manis tangan kanannya. Cincin emas putih bertatahkan permata itu masih cantik terlihatnya. Tapi perasaannya tidak sama dengan ketika Nayla pertama kali melihatnya.

Masih jelas di ingatan Nayla betapa rikuh pacarnya saat itu. Di sebuah restoran yang menghadap hamparan laut, pacarnya menggenggam kedua tangan Nayla dengan wajah bersemu. Diucapkannya satu kata demi kata dengan terbata-bata seperti orang yang lidahnya kelu. Tak berapa lama kemudian ia mengeluarkan cincin itu. Bahagia yang Nayla rasakan membuatnya tak lagi bisa mendengar saat mulutnya mengucap, ”I do.”

Saat itu Nayla benar-benar sudah lupa pada apa yang merisaukannya setiap hari. Saat itu Nayla benar-benar sudah lupa pada mimpi buruk yang tiap malam selalu menghantui. Saat itu Nayla benar-benar sudah lupa pada apa yang sangat ia hindari. Saat itu Nayla benar-benar sudah lupa diri!

Segala petuah yang dulu orang tuanya katakan, Nayla hiraukan. Segala logika yang tertanam di kepalanya, Nayla abaikan. Segala peristiwa di masa lalunya, Nayla singkirkan. Cincin emas putih bertatahkan permata yang sudah tersemat di jari manis tangan kanannya bagaikan jendela yang terkuak lebar menatap masa depan.

”Ngelamun aja kerjanya setiap hari. Perempuan ga ada gunanya sama sekali!”

Bukan karena Nayla sedemikian larut ke dalam lamunanlah yang membuatnya tak sadar akan kedatangan suaminya. Tapi karena ia sudah terbiasa dengan ketidakhadiran suaminya di rumahlah penyebabnya. Apalagi saat itu hari belum juga petang. Kenapa suaminya sudah pulang?

Nayla mengikuti langkah suaminya yang bergegas menuju kamar tidur. Tapi baru beberapa langkah, suaminya sudah langsung menegur.

”Ga usah ngikutin saya. Mending kamu beresin rumah sana!”

Langkah Nayla segera terhenti. Terasa sembilu mengerat lubuk hati. Dengan langkai gontai ia berbalik arah. Sambil telinganya terus merekam suara derit koper yang ditarik dari dalam lemari oleh suami yang mulutnya belum juga berhenti mengeluarkan sumpah-serapah. Tak berapa lama kemudian suaminya keluar kamar dengan menjinjing satu koper besar. Dan secepat datangnya, secepat itu pulalah ia melangkah keluar. Meninggalkan Nayla yang hanya bisa menatap nanar. Menonjok hati Nayla hingga memar.

Andai dulu Nayla tidak silau karena cincin emas putih bertatahkan permata yang meringkuk manis di dalam kotak beludru warna merah muda, andai dulu Nayla tetap pada rencananya untuk tidak menikah selamanya, apakah hidupnya akan terasa jauh lebih baik? Andai orangtuanya tidak melarang Nayla bercerita pada siapa-siapa tentang pelecehan seksual yang pernah dilakukan oleh guru sekolah dasarnya, lantas Nayla menceritakan kebenaran itu pada suaminya, apakah suaminya akan bisa menerima dengan baik? Bulu kuduk Nayla bergidik. Teringat kedua mata suaminya di malam pertama yang menatap Nayla dengan jijik.

”Kalau saja perceraian bukan aib buat keluarga besar saya yang terpandang, sudah pasti saya ceraikan kamu, perempuan jalang!”

Mulut Nayla serasa tercekat. Sekujur tubuhnya dingin bagaikan mayat. Apa yang selama ini ia takuti akhirnya terjadi. Dan ternyata rasanya jauh lebih menakutkan dari mimpi-mimpi buruk yang setiap malam tak pernah berhenti menghantui. Bagaimanapun, Nayla masih berusaha percaya bahwa itu semua tak terjadi. Ia berusaha percaya jika itu semua hanya mimpi. Ia pun berusaha menyubit dirinya dengan jari tangan kiri. Dan pada saat itulah baru Nayla sadari jika jari-jemari tangan kirinya sudah tak bisa digerakkan lagi.

Nayla kembali menatap cincin di jari manisnya. Cincin emas putih bertatahkan permata itu tetap cantik terlihatnya. Tapi perasaannya tidak sama dengan ketika Nayla pertama kali melihatnya.

Tiba-tiba betapa ingin Nayla melepas cincin itu. Tapi bagaimana mampu jika jari-jemari tangan kirinya terkulai layu? Dengan sabar Nayla mendorong cincin di jari manisnya dengan ibu jari tangan kanannya. Tapi usahanya itu sia-sia belaka. Dan setiap kali ia gagal, semakin serasa gila Nayla dibuatnya. Ia guncang-guncangkan jari-jemari tangan kirinya yang layu. Dihantam-hantamkannya ke atas meja kayu. Tapi tetap saja tak ada reaksi. Jari-jemari tangan kirinya benar-benar sudah mati.

Nayla pun segera berlari ke dapur untuk mengambil pisau lalu memotong jari-jemari tangan kirinya satu per satu. Betapa puasnya ia melihat jari-jemari itu jatuh menimpa lantai batu. Darah bercucuran seperti anak panah hujan. Mengubur jari-jemari kirinya yang berceceran.

”Nay, Nay, bangun, Nay!”

Tubuh Nayla berguncang-guncang. Saat matanya terbuka, yang paling pertama dilihatnya adalah siluet ibunya yang tengah membelakangi lampu di luar kamar yang menyala terang.

”Nay, tenang, Nay. Kamu cuma mimpi buruk lagi. Ada ibu di sini.”

Ibu membelai mesra rambut Nayla yang tak mengatakan sepatah pun kata. Ibu segera merebahkan tubuhnya di sebelah Nayla. Diciumnya kening Nayla dengan mesra. Namun Nayla malah membuang muka dan membalikkan tubuhnya.

”Besok kita ke dokter lagi ya, Nay.”

Nay tetap tak mengatakan sepatah pun kata. Tak juga membalikkan tubuhnya. Tak juga melihat mata ibunya yang sedang berkaca-kaca. Seperti matanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: