Hakikat Menjadi seorang Penulis

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Menjadi seorang penulis, bukan hanya pandai dalam menghasilkan tulisan yang bermutu, menarik, dan menginspirasi banyak orang. Tapi, menjadi penulis harus bisa menelurkan penulis-penulis lain yang lebih andal dan inspiratif”. Junaidi Khab.

Mungkin seperti itu menurutku menjadi seorang penulis yang baik. Hal tersebut menjadi kegelisahan dalam hidupku. Kegelisahan tersebut muncul dalam benakku sekitar tahun 2014. Pada tanggal 16 Desember 2014 aku menulis sebuah artikel berjudul “Meregenerasi Budaya Menulis”. Maksud dan inti artikel tersebut berisi tentang ide agar setiap penulis juga berlomba-lomba untuk menghasilkan generasi penulis. Bahkan jika bisa, generasi berikutnya harus lebih andal dan lebih dari dirinya (penulis) dalam menghasilkan buah tulisan. Keinginanku selain berhasil dalam dunia tulis-menulis, aku juga harus berhasil meregenerasi budaya menulis terhadap orang lain.

Sangat sulit. Satu alasan yang cukup bisa diterima alasanku mengatakan sulit. Menelurkan seorang penulis yang lebih baik dari aku sendiri, ibarat aku akan bunuh diri. Coba pikirkan, jika ada penulis lain yang lebih kreatif dan tulisannya lebih bagus. Aku akan kalah oleh dirinya dan media atau penerbit akan lebih melirik pada penulis lain tersebut. Begitu kekhawatiranku, mungkin juga kekhawatiran para penulis lain. Aku menyukai dunia tulis-menulis sejak tahun 2010 ketika aku masuk kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya, saat itu masih IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Tapi lambat-laun, aku seakan terpanggil untuk meregenerasi penulis yang andal lainnya. Jangan hanya kau sendiri yang harus bisa menulis. Aku tidak mau egois dengan diriku sendiri, asik dan menikmati dunia tulis-menulis dengan karya yang cukup gemilang dan banyak, tapi tidak ada inisiatif untuk menelurkan penulis lain. Aku percuma jika hanya menghasilkan banyak tulisan tanpa menghasilkan banyak penulis.

Aku merasa hidupku tak seimbang saja. Hasratku benar-benar, kadang setiap bertemu dengan teman-teman, ingin sekali mengajak untuk belajar menulis yang baik. Tapi kadang hasratku itu kandas, karena tidak semua teman-temanku menyukai atau hobi menulis. Memang ada sebagian orang yang bisa menulis, anggap lah penulis seperti aku yang masih tahap belajar. Tapi, sepertinya hanya menikmati hasil karya-karyanya tanpa memiliki keinginan untuk mengajak teman lain untuk menulis dan menikmati karya-karya mereka.

Mungkin hasratku saja yang terlalu besar dan menggebu-gebu untuk menelurkan penulis andal, tapi mereka yang diajak untuk menulis tidak memiliki hasrat seperti yang tertanam dalam jiwaku. Seakan-akan yang ingin bisa menulis hanya aku, sementara mereka hanya banyak bicara dan berkata “aku sebenarnya ingin belajar menulis”. Tapi mereka tak kunjung menulis. Fakta dan kata-kata tidak sesuai antara kenyataan dan omongan.

Kamu tahu, sejak itu, ketika hanya aku yang berinisiatif untuk menelurkan penulis, sementara orang yang kuajak untuk menulis hanya “ngomong” saja untuk menulis tapi tiada hasil, aku pasrah saja. Tapi, setiap ada orang yang bilang mau belajar untuk menulis kepadaku, aku sangat senang dan bahagia. Aku buka tangan selebar-lebarnya untuk menyambut dan membimbingnya. Tapi, aku dulu belajar menulis tidak banyak dibimbing secara intens oleh orang yang kuanggap guru sekaligus senior, Syaiful A’la. Aku hanya dipandu untuk membaca sebuah buku, lalu dipandu untuk menulis yang telah kubaca (resensi). Tulisanku dilihat hanya beberapa kali saja. Setelah itu, aku diajari cara mengirim via email, itu pun aku diajari dengan cara yang menurutku unik dan kurang perhatian. Tapi, setelah kupikir-pikir, cara tersebut cukup membuatku lebih kreatif.

Aku duduk di belakangnya ketika dia mengirimkan tulisannya via email di warnet (waktu itu musim warnet). Aku hanya melihat langkah-langkahnya dan dia sedikit menjelaskannya hal-hal yang perlu dilakukan. Sudah begitu saja. Tulisanku lama tidak dimuat, bukan dia yang mengedit (membaca ulang) dan memperbaikinya. Tapi dia memintaku agar dibaca ulang dan diedit kembali. Lalu kukirim lagi tulisan resensi itu ke satu media lokal yang tidak pernah lupa setiap minggu. Tidak dimuat, dibaca dan diedit lagi, hingga berkali-kali dan berulang kali. Lama sekali.

Aku melakukan pengeditan sendiri tanpa bantuan siapa pun. Berbeda dengan teman-teman yang kuajak untuk menulis. Mereka menyodorkan sebuah tulisan (karyanya) kepadaku, dan aku yang diminta untuk membaca dan mengeditnya. Karena aku ingin dia bisa menulis dan semangat untuk terus berkarya dan menulis, aku dengan tangan terbuka menerima tulisan itu dan membaca secara menyeluruh serta memperbaiki kesalahan-kesalahannya. Sebenarnya, aku tidak begitu suka jika mau belajar nulis dan aku yang harus mengeditnya. Menurutku, jika mereka benar-benar mau belajar untuk menulis, mereka akan belajar tentang penggunaan kaedah EYD yang baik dan benar. Selain itu, mereka mau membaca ulang dan memperbaiki kesalahan-kesalahan tulisannya, baik kata-kata, kalimat, paragraf, dan maksud isi paragraf atau tulisan yang dibuat agar mudah dipahami atau dimengerti.

Tapi pendapat lain mengatakan bahwa penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Tepat sekali, karena seorang penulis memang diharuskan membaca agar isi tulisannya benar-benar bermutu dan berkualitas bagi pembaca sehingga mereka terinspirasi dan bisa menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Namun, perlu diingat bahwa mereka yang menulis dan membaca juga harus bisa menelurkan generasi berikutnya. Mungkin ini akan menjadi amal jariyah, yaitu sedekah yang pahalanya tidak akan pernah putus. Amin.

Aku tetap pada komitmen awal dulu, selain memang sepakat dengan ungkapan “penulis yang baik adalah pembaca yang baik” komitmenku untuk mengajak teman yang berpotensi atau berkeinginan untuk menulis. Begini, jika aku berhasil mencetak seorang penulis, berarti aku berhasil dan otomatis secara tidak langsung ideku tetap bisa diteruskan olehnya. Berbeda jika seorang penulis hanya menulis tanpa menelurkan penulis lain dengan menggemblengnya. Hasilnya, ya hanya tulisan, tapi bisa saja orang belajar dari tulisan tersebut. Tapi, nilai sosial dan kebersamaan dalam belajarnya yang berbeda. Mungkin demikian. Mari kepada para penulis yang andal, kita harus menelurkan atau meregenerasi para penulis yang lebih berbakat dan hebat!

Surabaya, 29 April 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: