Buku, Laptop, dan Pena

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Pada saat ini, saat catatan ini diketik, bahkan sejak aku menginjakkan kaki di Surabaya untuk kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2010, aku sudah mulai banyak hidup dengan buku, masih belum laptop, dan pena sebagai simbol aku mulai belajar untuk menulis meski pada kenyataannya aku mengetik. Hari-hariku penuh dengan buku, laptop, dan pena. Begitu bahasa sederhananya.

Malam ini, hari Senin malam Selasa, tanggal 27 April 2015, tepatnya sekitar pukul 22:00 Wib lewat beberapa menit mungkin, setelah aku makan, aku membaca buku karya Jamil Azzaini yang berjudul “A Tribute”. Buku motivasi yang cukup bisa membuka cakrawala berpikir maju dan terus melangkah untuk menatap hidup agar bermanfaat bagi orang lain dan lebih-lebih khususnya bagi diri sendiri.

Pena, mana pena? Aku kadang selalu disibukkan oleh pena yang yang kadang kuletakkan di sampingku saat membaca buku. Entah buku apa pun itu. Pena, mana pena? Aku sering melihat-lihat sekitar tempat dudukku di kamar hanya sekadar untuk melihat, tepatnya mencari pena yang kuletakkan kadang lupa kuletakkan di bagian mana. Begitu. Setiap ada kalimat penting dan menarik menurut pikiranku, aku selalu menggaris-bawahi kalimat tersebut. Bahkan tiap kata yang menarik menurutku, pasti dicoret dalam bentuk lingkaran.

Hal tersebut baru kulakukan baru-baru ini, yaitu sekitar tahun 2014. Tapi tidak semua buku yang kubaca dicorat-coret. Kadang juga jenuh dan membuatku harus bekerja ekstra antara fokus membaca dengan memberi catatan berupa tanda atau coretan pada kalimat atau kata-kata yang menurutku bagus. Begitu aktivitasku. Aku ini tidak memiliki pekerjaan sebagaimana teman-teman kebanyakan yang banyak bekerja di kantor. Aku bekerja di depan laptop, mengetik segala apa yang perlu kuketik, baik menjadi semacam opini atau gagasan, resensi buku, cerpen, catatan seperti yang kutulis ini, dan puisi.

Kadang aku sempat malu jika ditanya tentang pekerjaan dan lulus kuliah. Aku tidak bekerja sebagaimana mayoritas teman-temanku. Aku termasuk mahasiswa yang sedikit lalai dengan tugas kuliah. Utamanya skripsi yang tidak kunjung selesai hingga semester sepuluh pada saat ini, catatan ini ditulis. Keren? Keren sih keren. Tapi aku harus bayar kampus tanpa masuk kuliah. Pikirku kan percuma bayar. Tapi, tidak masalah, aku anggap itu sedekah bagi para dosen dan pegawai kampus UIN Sunan Ampel Surabaya.

Bagiku, sebenarnya kuliah adalah tempat tambahan untuk belajar dan tidak menjamin mahasiswanya yang ada di dalam kampus cerdas dan pintar. Kalian tahu, aku beranggapan demikian karena apa? Ya, karena mereka tidak akan cerdas atau pintar jika hanya kuliah masuk, pulang, tidur, makan, PS-an (itu tuh main game yang macam-macam), dan sisanya mandi, buang hajat (bukan hajat keinginan itu loh, tapi itu tuh, masak tidak tahu?) sudah tahu kan maksud hajat itu? Ya, benar apa yang kalian pikirkan, nletong (Bhs. Jawa) ke kakus modern tanpa belajar atau sekadar membaca buku. Terus, mau jadi manusia macam mana coba jika kerjaannya hanya seperti itu? Ya, hanya hidup untuk dirinya sendiri. Terus, mana kiprah dan perannya bagi orang lain? Itu harus ada.

Bukan aku ingin dianggap sebagai orang yang gila buku dan menulis, aku juga suka main game. Tapi kita harus mengatur waktu, mana yang kebutuhan primer, sekunder, dan tersier? Kita harus bisa membedakan dan memanfaatkan segala waktu dan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan primer. Termasuk di antaranya belajar (dengan membaca, diskusi, dan entah lah yang lainnya).

Menurutku sih, ya sebagai mahasiswa harus bisa membaca. Eh, tentu bisa ding, aku lupa. Harus bisa nulis, eh juga bisa ding. Itu tuh, teman-teman sering baca status dan SMS, juga sering menulis status dan SMS. Mereka bisa semua, tapi sulit untuk membaca dan menulis yang lebih serius. Iya, aku tahu kadang di media sosial atau ponsel itu seirus dan bermanfaat. Tapi sedikit, tidak begitu banyak. Ada yang banyak? Mungkin ada, tapi aku kurang tahu hal itu.

Laptop, mana laptop? Eh, laptopku harus menjadi ladang penghasilan. Baik penghasilan ide, uang, ilmu, dan lain sebagainya yang bermanfaat secara nyata bagiku, lebih-lebih bagi orang lain. Dengan laptop yang aku punya, pujiku kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, aku bisa melakukan banyak hal. Terimakasih kepada kedua orang tuaku yang telah menyumbangkan uangnya untuk membeli laptop miniku ini. Semoga awet, bermanfaat bagiku dan bangsa pada umumnya. Amin. Aku tidak akan menyia-nyiakan laptop miniku ini. Aku akan berdosa jika tidak menggunakan laptopku dengan baik.

Buku, oh buku! Aku harus apakan dirimu? Ya, tidak harus bingung, baca saja buku itu Jun! Eh, namaku Junaidi Khab, tapi karena namaku pasaran, maka kutambahkan saja bagian akhir namaku dengan akronim “Khab”. Itu singkatan dari nama kedua orang tuaku. Mau tahu gak? Nama ibuku sedikit mirip dengan Kementerian Sosial masa kepemimpinan Joko Widodo. Tahu kan? Itu tuh, Khofifah Indar Parawansa. Ya, mirip itu. Cuma nama ibuku hanya nama depannya saja. Lha, di sana aku memasang awalan dalam akronim dari nama ibuku. Terus yang kedua huruf “b”, itu nama ayahku. Itu huruf awal nama ayahku. Perlu dirahasiakan? Tidak usah lah, “b” kependekan dari Burhani, tepatnya H. Burhani nama ayahku. Sudah jelas kan? Apa maksud di belakang namaku?

Baik, sejak aku mengenal dunia buku dan pena, aku seakan haus buku dan ingin muntah dengan mual hebat untuk terus mengeluarkan ide-ide. Hidupku tidak ingin berpisah dengan buku dan dunia tulis menulis. Banyak tokoh yang menginspirasiku. Banyak, banyak sekali dari berbagai suku dan bangsa. Dari sumber inspirasi tertinggi, yaitu al-Quran, Nabi Muhammad Saw., Imam fikih yang empat dalam agama Islam, Imam al-Ghazali, Pramoedya Ananta Toer, Mahatma Gandhi, Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan banyak lainnya. Duh, pokoknya banyak dan aku harus berucap terimakasih kepada Tuhan, karena Dia telah hadir dalam jiwa dan batinku.

Ya, aku harus membaca, kapan pun seumur hidupku. Aku juga harus menulis semasa aku juga hidup dan aku masih mampu. Selain aku membaca dan menulis, aku harus bermanfaat bagi orang lain. Aku tidak boleh mencemooh orang lain karena beda latar belakang, kaya, miskin, beda ras, atau apalah. Aku hanya ingin hidup damai dan bahagia dengan mereka serta bisa saling menasehati dalam hal kebaikan. Begitu keinginanku, tapi bukan hanya itu. Masih banyak keinginan lainnya yang tidak sempat kutulis dalam catatan ini. Semoga bermanfaat. Amin.

Surabaya, 27 April 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: