Takdir dan Jodoh

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Cukup menarik dan penuh inspirasi, khotbah yang disampaikan oleh bapak Ali Masyhudi di masjid Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya. Aku tidak ingat (tidak tahu) secara pasti judul atau tema khutbah shalat Jumat pada saat itu. Tapi, secara eksplisit aku menemukan judul dari inti khutbah Jumat tersebut yaitu tentang Takdir dan Jodoh. Pada intinya dalam khotbah tersebut, yang jelas ada nilai-nilai yang perlu menjadi renungan bagi kita semua. Semoga bermanfaat!

Awal mula yang saya dengar dari sidang Jumat tersebut Ali Masyhudi membahas tentang penutupan Gang Dolly di Surabaya. Ada banyak pihak yang mendukung terhadap penutupan tersebut. Ada pula yang menolak penutupan tersebut. Pro-kontra pun tak terelakkan. Mereka semua yang pro-kontra memiliki alasan rasional yang bisa diterima oleh akal sehat. Mulai urusan keamanan, keselamatan, dan kemajuan. Namun, secara pasti pelegalan prostitusi itu merupakan penyakit masyarakat yang tidak boleh dibiarkan begitu saja.

Dengan dalih ingin membantu mereka yang bekerja sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK), ada pihak yang beralasan menikahi sebagian dari mereka untuk mengurangi beban hidupnya. Kenyataan ini mengingat pada masa Rasulullah Saw. yang mana pada saat itu banyak janda akibat para suaminya gugur dalam medan perang. Kendati demikian, seperti halnya hasrat menikahi PSK Gang Dolly menjadi salah satu alternatif penutupan tersebut, masih dianggap kurang efektif. Inisiatif terebut akan mengundang berbagai macam tindakan dan omongan dari masyarakat. Itu pun belum tentu menjamin terhadap kerukunan dalam berumahtangga.

Tak jauh dari pembahasan tersebut, Ali Masyhudi menyinggung tentang persoalan penentuan jodoh yang banyak didominasi oleh orang tua. Padahal dalam ketentuan semenjak manusia ditiupkan ruh oleh malaikat di sana tidak disebutkan tentang jodoh. Sehingga, jodoh itu didapat dengan ikhtiyar atau sejauh mana manusia itu dalam memperoleh jodoh. Dengan usaha itulah Tuhan akan memberikan jodohnya. Orang tua di sini hanya berperan mencarikan jodoh anaknya sesuai dengan kekufuaan yang dimiliki antara anak dan pilihannya.

Orang tua tidak memiliki wewenang untuk memilihkan jodoh anaknya hanya sesuai dengan keinginan hasrat pribadinya. Jika demikian yang terjadi tanpa memerhatikan kondisi mental anaknya sendiri, orang tua tergolong orang yang hidup dalam keegoisan. Selain itu, jika jodoh seorang anak tidak sesuai dengan kekufuaan dan karakter dirinya, keluarga yang rukun dan harmonis sulit untuk dicapai. Cita-cita keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rohmah sangat sulit untuk digapai. Maka dari itu, orang dalam menentukan jodoh anak-anaknya jangan sampai terpaku pada keinginan pribadinya saja. Tetapi harus melihat kesesuaian antara anak dan orang yang akan menjadi jodohnya.

Salah satu yang menjadi alasan lagi – mungkin ini alasan yang lawas sering didengungkan – yaitu masa depan anak tidak boleh ditentukan oleh orang tuanya. Apalagi persoalan masa depan (jodoh), toh meski dalam Islam ada wewenang tentang kuasa orang tua tak semua elemen setuju. Masak orang tua mau membelikan baju untuk anaknya disesuaikan dengan keinginan, kesukaan, dan motif yang menjadi favoritnya? Tidak mungkin. Orang tua tentu harus membelikan baju atau pakaian sesuai dengan postur tubuh, keinginan, dan motif anaknya. Jika orang tua membelikan baju yang hanya mengukur pada hasrat pribadinya, maka baju itu tidak akan diterima. Walaupun diterima baju itu tidak akan dipakai, dibuang, atau diberikan kepada orang lain. Begitu pula dengan penentuan jodoh seorang anak.

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: “Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga” (Shahih Muslim No.4781).

Setidaknya orang tua harus bijak terhadap anak-anaknya untuk menatap masa depannya. Seandainya orang tua memilihkan jodoh yang tak sesuai dengan keinginan (kekufuaan) anaknya – dalam artian pilihan orang tua saja – kehidupan rumah tangga anaknya tidak dijamin bisa hidup rukun dan harmonis. Begitu pula dengan persoalan jalan hidup. Kita masing-masing memiliki jalan hidup yang berbeda, potensi yang berbeda pula. Maka dari itu, kekuatan otoriter orang tua untuk mengubah potensi (keinginan/kekufuan) anak-anak jangan sampai hanya disesuaikan dengan kehendak dirinya saja.

Allah Swt. berfirman: “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”. (QS. al-Nur, 26). Mungkin demikian catatan ini, dan untuk pemahaman tentang ayat tersebut bisa didiskusikan lebih lanjut

Surabaya: Jumat, 23 Mei 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: