Menjaga Keutuhan NKRI

Harian Analisa: Sabtu, 25 April 2015

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kini sedang berada dalam ancaman aliran-aliran radikal yang menginginkan konversi dari negara demokrasi ke negara Islam (khilafah). Itu terlihat dengan maraknya gerakan Islam kanan, seperti HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang mempropaganda penerapan syari’at Islam di Indonesia. Tak ada tujuan lain dari aliran radikal ini, kecuali ingin menerapkan syari’at Islam versi masyarakat Arab di Timur Tengah. Yang mana hal tersebut dipicu oleh negara demokrasi ini sudah tak mampu lagi untuk menopang dan menegakkan keadilan. Seperti maraknya kasus suap korupsi dan ketimpangan hukum yang sudah tampak jelas.

Padahal, sejak NKRI berdiri, para pendiri negara menyadari bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk, karena terdiri atas berbagai suku bangsa, adat istiadat, budaya, bahasa daerah, serta agama yang berbeda-beda. Dengan keanekaragaman tersebut, mengharuskan setiap langkah dan kebijakan negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara diarahkan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa untuk membela dan mempertahankan tanah air Indonesia. Jiwa nasionalisme harus benar-benar mumpuni dan mengalir dalam tiap darah anak bangsa ini.

Dr. Nur Syam (2007:210-211) menyatakan bahwa al-Quran memang diturunkan dalam bahasa Arab. Bukan karena apa-apa, melainkan karena Rasul yang dipilih oleh Allah adalah dari belahan bumi yang berbahasa Arab. Jadi, syariat Islam juga berbahasa Arab. Dan lebih lanjut, tentunya ada dialektika antara ajaran Islam dengan budaya Arab. Nabi Muhammad dalam kerasulannya tidak membabat habis tradisi Arab, tetapi memberi spirit dengan ajaran Islam. Jika budaya Arab tersebut bertentangan dengan Islam, maka nabi Muhammad memberikan cara baru. Cara berpakaian orang Islam Arab adalah kebudayaan orang Arab yang ditradisikan oleh Islam di Arab. Tatacara berpakaian itu tentunya terkait dengan tradisi, iklim, dan suasana psikologis yang memang relevan dengan orang Arab.

Hakikatnya, fenomena konversi dari negara demokrasi ke negara Islam merupakan bentuk ketidakpuasan sebagian masyarakat terhadap birokrasi dan pemerintahan Indonesia yang belakangan ini sudah terjadi ketimpangan. Kasus suap korupsi saja sudah menjadi budaya yang akut di negeri ini. Hukum hanya dihegemoni oleh para elit saja. Sejatinya Indonesia ini merupakan hutan yang singa dan srigalanya para pejabat sendiri yang selalu mengkambing hitamkan rakyatnya sendiri menjadi santapan hukum. Mereka yang lemah tentu akan kalah dan dijebloskan ke dalam penjara.

Ali Maschan Moesa (2011) juga menyatakan bahwa jika kita ingin mengkonversi Negara Pancasila dengan Negara Islam, maka umat yang beragama lain juga akan berbuat sama sehingga yang terjadi justru konflik yang mengarah pada pertumpahan darah, sehingga nasionalisme itu akan hilang. Hal yang sangat penting adalah kesejahteraan rakyat dan umat beragama mempunyai kebebasan untuk menjalankan ajaran agamanya masing-masing.

Islamophobia

Selain itu, NKRI bukan hanya terancam dalam perihal jiwa nasionalismenya belaka. Namun, negara yang mayoritas dan terbesar penduduknya menganut agama Islam pun akan punah. Islam dan ajarannya akan menjadi teror yang sangat menakutkan. Ajaran Islam yang menjadi pegangan teguh bangsa Indonesia ini akan larut oleh berbagai aliran Islam radikal yang tidak memandang keutuhan dan kepentingan umat manusia secara keseluruahn. Padahal ajaran al-Quran bersifat universal dan toleran bagi umat di dunia ini.

Patut kiranya menjadi cermin kegegalan Islam dengan syari’atnya untuk berdiri di Eropa. Satu hal yang menjadi kegagalan Islam di Eropa, yaitu cara dan ekspansi penyebaran syari’at Islam dengan kekerasan atau peperangan. Misalkan penyebaran dan ekspansi syari’at yang dilakukan oleh Kara Mustofa. Berperang yang menjadi senjata dan andalan utama oleh Kara Mustofa dari Turki untuk menyebarkan syari’at Islam di Eropa. Kenyataannya Islam di Eropa bukan malah berkembang dengan baik. Namun yang terjadi islamophobia yang akut terjadi di Eropa. Sebaliknya, Indonesia menjadi negara Islam terbesar di dunia. Itu tak lain karena metode penyebaran dan ekspansinya tidak dengan jalan kekerasan atau peperangan.

Disadari atau tidak, di belahan dunia lain ada orang-orang yang mengaku terlalu mencintai Islam tapi mengerjakan yang bertolak belakang dengan semangat kecintaannya. Orang-orang yang memilih jalan teror atas nama agama. Mereka mengerjakan jihad yang mereka akui sebagai perintah Tuhan. Klaim jihad yang akhirnya hanya membuat semakin banyak orang menyalahpahami ajaran Islam. Dan tak jarang pula Islam (utamanya pesantren) dianggap sarang teroris (Hanum Salsabiela Rais, 2013:94).

Jika syari’at dan ajaran agama Islam disebarkan dengan cara kekerasan dan tak berperikemanusiaan seperti yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI) dan Islam radikal lainnya di Indonesia, maka Indonesia juga akan mengalami hal yang senada dengan Eropa. Yaitu islamophobia akibat metode yang diterapkan hanya berpatokan pada satu kaedah yang secara garis kemanusiaan bertentangan, kekerasan lah yang nyata.

Dari abu sa’id alkhudriy radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: saya pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak bisa, maka dengan lisannya, jika tidak bisa maka dengan hatinya. Maka yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman”. (HR. Imam Muslim).

Sebenarnya ada yang disalahartikan dalam hadis tersebut. Makna penunjuk “itu” bukan kembali pada sesuatu yang dekat, tetapi pada yang jauh. Tentunya kembali pada “mengubah dengan tangan”. Sedangkan FPI mengartikannya bahwa mengubah dengan hati yang paling lemahnya iman. Ini yang perlu disadari.

Maka dari itu, menjadi Islam tidak sama dengan menjadi Arab. Bangsa Indonesia jangan sampai terkecoh oleh budaya Arab. Padahal jika Indonesia berhasil dikonversi menjadi negara khilafah dengan penegakan syari’at Islam, belum tentu menjamin keadilan dan mengubah keterpurukan bangsa ini yang sudah akut dalam kasus korupsi akibat kurangnya karakter mulia para pemimpin bangsa ini. Begitu pula dengan aliran Islam radikal jangan sampai menodai eksistensi Islam yang sebagai rahmat bagi seluruh alam dengan hanya berpatokan pada satu kaedah yang disalahartikan. Mari kita pelajari agama Islam dengan menyeluruh dan lebih universal.

*Penulis adalah Akademisi UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tulisan ini bisa dibaca dan dinikmati di:  atau di Harian Analisa. Semoga memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: