Kita Wajib Melakukan Introspeksi Diri

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Ketika aku akan membeli nasi ke warung langgananku, di timur tempat aku numpang hidup di Surabaya. Aku sedikit terhenyak dengan sebuah kata-kata yang keluar dari salah satu mulut teman senior di tempatku numpang hidup. Aku melihat teman senior yang tengah duduk tepat di jalan, tempat berlalu-lalangnya teman-teman dan juga dia sendiri. Bukan tempat duduk yang ditempati untuk duduk memang itu bisa diduduki, tapi tidak kondusif karena akan mengganggu orang yang akan lewat. Dengan jumawa dan berlagak sombong dia berkata “Hei, bilang permisi kek!” Kepada temanku yang baru datang, entah dari mana. Sepertinya baru selesai olahraga, entah olahraga apa, aku kurang tahu, mungkin futsal atau bulu tangkis. Nada suaranya sedikit tampak serius, meski mungkin juga dia berusaha berniat untuk bercanda. Tapi, bagi temanku yang ditegur bernada canda itu, temanku menoleh. Sementara temannya yang lain di belakangnya yang mau lewat langsung bilang “Permisi…” Begitu yang kudengar. Orang itu seakan terpaksa mengucapkan kata “permisi”. Bagiku hal itu membuat otak dan pikiranku bekerja keras untuk menganalisa kejadian tersebut.

Aku terus berlalu saja untuk membeli nasi. Tapi pikiranku masih mencoba menelisik lebih tajam. Sebagaimana pengalaman sebelumnya, teman senior tersebut memang suka dihormati, kadang suka cari muka (camuk) atau perhatian, lebih-lebih dari pemilik tempat yang kutempati saat ini. Dengan kalimatnya di atas, sudah tampak dia (teman senior) tidak terima pada temanku yang mau lewat karena tidak mengucapkan kata “permisi”. Bagiku, tidak masalah temanku itu meski tidak bilang “permisi”. Tapi, jika berbicara lebih baik, lebih mengucapkan kata “permisi”. Tapi jika dituntut untuk mengucapkannya, sudah jelas orang itu gila hormat. Aku tidak suka itu, meski semua orang ingin dihormati, tapi tidak usah mencari hormat dari orang lain atas keberadaan kita. Biarlah orang lain yang menilai seutuhnya, lalu rasa hormat itu kita dapat dengan cara yang mulia dan alami sebagai bentuk balasan dari segala sesuatu yang kita perbuat.

Jangan Selalu Menyalahkan Orang Lain

Aku memiliki pandangan tersendiri dengan sikap teman senior tadi. Dalam benakku, teman senior itu sudah tentu menyalahkan temanku yang lewat tanpa mengucapkan kata “permisi”. Ya, temanku yang lewat bisa dianggap kurang sopan. Teman yang sudah terlanjur lewat sebelumnya, hanya menoleh ketika ditegur oleh senior tadi. Tunggu dulu. Benarkah temanku yang salah? Kita coba telusuri secara sederhana. Menurutku, temanku yang lewat tanpa permisi tidak salah. Karena senior yang duduk bukan pada tempat selayaknya duduk. Masak kita mau duduk di jalan raya misalkan di Jl. A Yani Surabaya? Sudah tentu tidak mungkin. Begitu juga dengan mereka, tidak layak duduk di tempat orang untuk berjalan.

Mengapa mereka, teman-temanku (anggaplah) lancang tanpa mengucapkan permisi kepada teman seniorku itu? Sudah tentu jelas, tempat itu merupakan untuk berjalan bagi teman-teman. Salahnya, ada pada senior itu. Coba senior itu tidak duduk sambil ngobrol di jalan, temanku tidak mungkin melakukan kesalahan. Perlu diingat, mayoritas kita selalu menyalahkan orang lain tanpa melihat sesuatu yang telah kita perbuat. Orang lain biasanya berbuat salah karena sesuatu yang kita lakukan keliru. Maka dari itu, kita selalu introspeksi diri agar tidak menyalahkan orang lain, sementara diri kita masing-masing sudah tentu tidak mau disalahkan.

Aku menyadari dengan peristiwa yang baru kuceritakan di atas. Tempatnya sama, aku pernah duduk di jalan, ya di tempat aku numpang hidup di Surabaya. Tiba-tiba ada anak-anak kecil yang berlari dan melompat di depanku. Aku hampir saja akan memarahi anak tersebut. Tapi, aku menenangkan diri karena aku punya komitmen untuk sabar, sadar, dan selalu penuh kebijakan. Aku merenung. Ya, aku yang menyebabkan anak tersebut berbuat salah. Apa sebabnya? Ya, karena aku duduk di tempat yang bukan tempat untuk duduk, tapi untuk jalan. Lah, sama persis dengan peristiwa yang kuceritakan tadi. Teman senior itu tidak melakukan introspeksi diri atas peristiwa yang menimpanya.

Teman senior itu pernah kutegur ketika aku baru keluar dari kamar mandi. Kebetulan, dia juga baru keluar dari kamar mandi. Di berhenti di dekat wudu, entah mungkin antri mau wudu juga. Tapi caranya yang keliru, dia antri di jalan yang biasanya digunakan keluar-masuk kamar mandi ke kamar teman masing-masing. Lha, temanku yang antri ada yang mau masuk ke kamar mandi. Tapi jalannya terhalang oleh teman senior yang tadi. Akhirnya, dia lewat di jalur licin yang bukan jalan yang selayaknya dia dapat. Jalan itu ditempati senior yang sedang berdiri. Temanku yang lewat di tempat yang licin tadi, kepeleset cuma tidak terjatuh. Limbahnya muncrat ke kakiku. Lalu aku kembali lagi ke kamar mandi untuk mencuci kaki yang terkena muncratan air limbah kecil tadi (air comberan yang menggenang tapi sedikit). Kemudian aku keluar dengan berkata “Ayo lah… Kasihani yang lain. Jangan antri di tempat untuk orang berjalan.” Kataku sambil berlalu, karena di dekat kamar mandi banyak yang antri dan aku khawatir menghalangi mereka untuk masuk ke kamar mandi. Apa kata dia?

“Kasihani, kasihani dewe.” Dengan logat Jawa-nya. Lha, maksudnya apa? Pikirku begitu. Mungkin dia tidak terima jika ditegur atau dinasehati oleh orang lain. Lebih-lebih olehku yang juniornya. Aku tidak heran dengan dia, karena aku tahu dan paham, dia selalu ingin dihormati, meski dengan cara mengemis pada orang lain. Mengemis maksudnya selalu menyalahkan orang lain agar menghormat atau melakukan kebaikan agar selalu dipuji dan dipandang baik. Aku pernah melihat tingkahnya yang demikian. Maka dari itu, ingat jangan selalu menyalahkan orang lain. Karena mayoritas orang lain itu berbuat salah karena ulah yang kita lakukan. Semoga tulisan ini dibaca dan dijadikan bahan introspeksi diri oleh yang bersangkutan. Jika tidak dibaca atau tidak dijadikan sebagai bahan introspeksi diri, berarti doaku tidak dikabulkan.

Surabaya, 22 April 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: