Tentang Kekuasaan Tuhan

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Ketika aku membaca novel karya Jostein Gaarder yang berjudul “Dunia Anna”, pikiran terus berjalan jauh, entah kemana. Yang jelas, ketika sampai pada kalimat “…bahwa bintang terdekat dari matahari kita letaknya sejauh 4,3 tahun cahaya. Nama bintang itu Alfa Centauri. Namun, terbang dengan kecepatan sebuah jumbo jet ke bintang tetangga terdekat dari matahari akan memakan waktu lima juta tahun!”. Begitu kira-kira bunyi kalimat itu. Sungguh menarik dan penuh reflektif.

Secara refleks, aku sejenak berhenti membaca. Lalu merenung tentang lebarnya luar angkasa yang hampa itu. Selain itu, aku memikirkan tentang kekuatan cahaya. Lalu teringat dengan mi’roj Nabi Muhammad Saw. ke sidrotil muntaha, langit ketujuh. Logikanya memang mustahil terjadi, tapi karena manusia berpikir dan berakal, lambat-laun masyarakat memercayai mi’roj Nabi. Hal tersebut terbukti ada yang menemukan dengan analisis keilmuan, bahwa Nabi Muhammad raganya diubah menjadi cahaya. Sehingga masuk akal jika beliau bisa sampai ke langit ketujuh dalam perjalanan sekitar satu malam, tidak sampai. Sungguh luar biasa kekuasaan Tuhan.

Setelah itu, secara refleks pula, aku menyampaikan dengan membuka pembicaraan dengan teman yang sedang bermain catur di sampingku. Aku langsung mengatakan bunyi kalimat dalam buku yang kubaca, persisnya kalimat tercetak miring di atas tadi. Lalu, temanku itu kaget setelah aku bilang bahwa bintang itu lebih besar dari matahari dan bulan. Tampaknya dia kurang percaya sebagaimana saya katakan. Anggapannya, bintang ya seperti yang kita lihat. Kecil dengan bentuk runcing-runcing. Padahal bintang juga planet yang tidak jauh berbeda dengan bumi dan matahari, bundar. Cuma letaknya yang sangat jauh. Sehingga tampak kecil dengan bentuk gemerlap yang lancip-lancip itu.

Kemudian, aku merenung sembari mengeluarkan pertanyaan tentang wahana atau ruang angkasa yang menjadi tempat planet-planet itu seperti apa jika jarak antara bintang ke matahari membutuhkan 4,3 tahun cahaya untuk menempuhnya. Itu yang terdekat, apalagi yang jauh dan terjauh? Sungguh Tuhan Mahakuasa atas segala makhluknya. Mungkin di sinilah fungsi filsafat dan otak manusia agar berpikir. Kadang manusia berpikir selalu disalahkan. Padahal al-Quran sendiri menganjurkan agar manusia berpikir. Hem, tapi juga iya. Katanya tidak boleh memikirkan Tuhan karena otak manusia tidak akan mampu. Tapi aku bingung, bagaimana jika aku ini tidak berpikir tentang eksistensi Tuhan, tapi mencari Tuhan sebagaimana Ibrahim? Tuhan itu ada, tidak menyerupai apa pun yang bisa kita pikirkan. Berbicara tentang Tuhan, tidak akan pernah selesai, karena Tuhan Mahasegalanya!

Foto di atas, yang ada di sebelah tulisan ini seperti perenang hebat. Foto itu dijepret di Bojonegoro saat jalan-jalan bersama teman-teman KKN PAR.

Surabaya, 19 April 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: