SEPOTONG KAKI UNTUK AYAH

KOMPAS: Ahad, 22 Maret 2015

Oleh I Nyoman Wirata

SEPOTONG KAKI UNTUK AYAH Oleh I Nyoman Wirata (KOMPAS/ Junaidi Khab)

SEPOTONG KAKI UNTUK AYAH Oleh I Nyoman Wirata (KOMPAS/ Junaidi Khab)

Dia aku sebut saja pohon ayah. Sebab memiliki kekuatan hidup bertahan pada akarnya. Dia sangat tabah walau badai menerpanya dari waktu ke waktu. Seperti pohon, akarnya kuat berpegangan di tempat dia tumbuh. Badai revolusi, badai politik di tahun 65, dan badai niskala atau kekuatan yang tak kasatmata, sama saja dapat memberangus akarnya.

Itu sebabnya, baginya kemiskinan belum berarti apa-apa, sebab seperti pohon, musim akan memberi harapan hidup, titik embun adalah berkah untuk menumbuhkan harapan. Akar adalah sumber spirit. Tidak akan ada kata menyerah dan selanjutnya benih-benih kehidupan baru tumbuh.

“Aku tamatan revolusi, seorang residivis,” katanya. Dia dikerangkeng semasa revolusi dan sesudah masa kemerdekaan bekerja di penjara tempat dia dikerangkeng dulu. Kemudian dia terancam dikerangkeng kembali tidak bisa ke mana-mana karena kakinya diamputasi. Keseimbangan terancam karena kehilangan sebuah tungkai penyangga tubuhnya.

Dia sangat gembira. Matanya berkaca-kaca. Itu saat terindah bagiku dan itu saat pertama kali aku rasakan dia pulih. Agak ceria dan mulai banyak bicara seperti sebelum kakinya diamputasi.

“Persis!” katanya, sambil memperhatikan bentuk kaki palsu dari kayu bentawas buatanku. Tapi ketika dia menimang-nimang, “Agak berat,” katanya. Kita coba saja pasang engselnya dan kalep kulitnya. Dia senang dengan kaki palsu kayu pertama buatanku.

Di hari ketujuh dia menyerah. “Pahaku terasa copot menahan berat.” Tapi dia tetap percaya kaki palsu buatanku selanjutnya akan lebih baik. Itu membuat aku merasa sangat dihargai. “Saya akan mencari kayu yang lebih ringan,” kataku suatu petang. “Kalau pakai waru, gimana, ya,” tanyaku membuka percakapan. “Waru, wani, sandat, kayu yang ringan, tapi rapuh. Kalau mau cari waru agak besar dan alot, pergilah ke Umadui. Atau ke Kepaon. Di sana banyak pohon yang sudah berumur.”

Saya ingat tempat itu. Dulu ketika masih punya sepeda dengan bunyi cik-cik-cik dan remnya menyentak dengan suara menjerit, dia sering mengajakku ke sana. Sepeda itu dijual, lalu membangun bale delod, sebuah rumah dengan jendela kaca, tembok luar setengah badan berisi hiasan granit berupa batu-batu kecil, dipadu dengan pecahan beling dan batu saga merah yang tersebar sebagai ornamen. Sepeda itu hasil penjualan pulpen Parker dan pulpen Parker itu hadiah karena mengungkap misteri dalam sepilah kitab atau lontar kuno. Itu hal yang paling membuatnya tersanjung.

Kenangan itu mengembalikan suasana hatinya kemudian menjadi obrolan panjang. Bisa sangat panjang kalau dia bercerita tentang dunia pewayangan. Dia memiliki simpanan cerita menarik tentang isi kitab kuno yang ditulis di atas daun ental atau rontal. Ketika kitab berupa ental, lontar, sebagai teks berada di dalam ruang dengan pintu tertutup bagi seorang sudra, dia sudra yang memiliki kesempatan untuk membuka pilah-pilah kitab kuno di sebuah puri di mana beragam lontar kuno disimpan secara turun-temurun.

Itu mungkin sebabnya, seperti kataku, dia seperti pohon, memiliki akar yang kuat karena nyastra atau hubungan intens dengan ajaran dalam karya sastra. Itu mungkin sebabnya, ia tetap bisa bertahan dalam perubahan yang kadang penuh ancaman. Karena itulah dia mengajarkan agar selalu membaca ulang seluruh kenangan hidup yang paling pahit untuk menguatkan akar kehidupan.

Bayangkanlah, dari sepilah prasi, semacam komik di atas pilihan lontar, lalu berubah wujud menjadi pulpen Parker lalu berubah menjadi sepeda dengan bunyi cik-cik-cik dengan bunyi rem menjerit, kemudian menjadi rumah yang merupakan sebuah kemewahan. Seorang peneliti dari Belanda kehilangan jejak cerita dalam prasi tersebut lalu seorang yang sama sekali tak dinyana mampu menguak misterinya. Suatu hal yang tak terduga, semua itu dapat mengubah cara berpikir bahwa kehidupan nampak sangat ramah, tapi di lain waktu begitu ganas dan tak terduga mengamputasi kekuatan berdiri dan keseimbangan.

“Apakah kaki palsu itu begitu penting?” Pertanyaannya mengagetkan dan membuat aku kehilangan keseimbangan sebab aku tengah mengkhayal sebagai Mpu Kuturan. Konon, seorang mpu bernama Kuturan didatangi oleh pohon-pohon seraya mempersembahkan diri dengan khasiatnya sebagai obat. Jika saja pohon-pohon datang menjelaskan diri memiliki tubuh alot dan ringan, maka pekerjaan membuat kaki palsu akan lebih mudah.

Petualangan menemukan kayu dimulai dari belukar ke belukar. Waru, wani, sandat berada di lekuk-lekuk jalan subak. Pohon pandan berduri memagari sepanjang sisi jalan. Sandat ada di teba atau wilayah belakang rumah atau di sanggah sebagai wilayah suci tempat persembahyangan di setiap rumah. Pantang menanamnya di natah umah atau di halaman tengah rumah. Wani ada di dekat grembengan atau tebing dengan palung sungai kering di bawahnya, tempat makhluk halus menyembunyikan anak-anak. Waru tumbuh subur di muntig atau tanah timbul di tengah payau. Les waru atau inti kayu waru memiliki alur melingkar dan berwarna, bagus untuk patung celeng.

Kaki kedua selesai. Kemudian yang ketiga lalu yang keempat. Secara bentuk berani jamin, persis. Dipulas agar sesuai warna kulit. Dipasang engsel dari pelat diambil dari rantang aluminium. Kalep dari kulit diambil dari kulit bagian atas sepatu tentara yang berisi kasper logam. Dia mencoba satu per satu. “Pas!” katanya. Tapi belum tiga bulan dia mengeluh. Ujung pada potongan kakinya mengelupas panas dan lecet. Suasana rumah surut, tapi dia tak hanyut.

Dia seperti pohon, sangat tegar. Aku yang kalah. Hilang rasa gembira setelah gagal membuat sepotong kaki palsu untuk ayah. Sepotong kaki palsu yang membuatnya nyaman berjalan atau sekadar menolong dirinya sendiri.

Suatu hari dia menyuruhku mengambil sebidang kanvas ukuran satu meter kali satu meter. Ternyata dia telah menyelesaikan figur-figur aneh di atas kanvas. Bentuk potongan-potongan kaki melayang di langit. Di kanvas belacu ukuran besar itu penuh kepala terpenggal ditopang seonggok kaki. Kepala yang tersambung dengan potongan kaki melayang di udara dan ada yang nongol dari sisi kanvas. Dia sudah memulai dengan memberi sigarmangsi, sebuah teknik melukis dalam seni lukis klasik, pada skets tersebut.

Dia melukis kembali.

Mata saya berbinar. Sudah lama dia menderita dengan erangan panjang karena rasa sakit. Sudah lampau rasanya hubungan dengan kanvas, tinta bak, kuas, pena bambu dan cerita wayang yang terhimpun dalam-dalam di benaknya. Sudah lama tak kedengaran dia nembang sambil ngoceh tentang cerita di balik tembang itu. Sudah lama, meme, ibu, tidak duduk di sebelah meja tempat alat-alat melukisnya sambil ngobrol tentang I Dagdag, I Kelor, dan orang-orang yang pernah numpang di rumah dan hilang di tahun enam puluh lima.

Seperti sebatang pohon akarnya begitu kuat. Setelah badai menerpanya, setelah seluruh daunnya ranggas, pokoknya kering seperti tak ada harapan hidup, kini pucuk-pucuknya tumbuh. Secercah sinar dari timur di sana arah kehidupan dimulai, ke sana arah tubuh disujudkan, tempat para hyang bersemayam, kiblat kebaktian dan sujud kepada Ilahi.

“Ya, sudah! Tak usah mikir kaki palsu. Meja itu juga cacat, tapi indah walau memiliki tiga kaki. Kamu sudah menakik, mengukir potongan kayu sisa untuk kaki palsu menjadi meja yang cacat dengan hanya tiga buah kaki tapi indah. Indah karena mengikuti lekuk dan alur kayu. Alur kayu, alur waktu alur kehidupan menyatu di sana. Kita hanya memberi sedikit ukiran dan membiarkan bagian lain tetap utuh karena dapat mengingatkan kita tentang meja cacat itu berasal dari sebatang pohon yang kuat akarnya.”

Kemudian saya menemukan kayu dari sepotong pohon kayun, pohon keinginan, yang tumbuh di jagat diri, menjadi kaki pengganti kaki ayah yang hilang dan menjadi bagian ke mana pun dia pergi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: