SARAN SEORANG PENGARANG

KOMPAS: Ahad, 3 Maret 2015

Oleh Sori Siregar

SARAN SEORANG PENGARANG Oleh Sori Siregar (KOMPAS/ Junaidi Khab)

SARAN SEORANG PENGARANG Oleh Sori Siregar (KOMPAS/ Junaidi Khab)

Ikra memberikan tanggapan awal untuk karya pertama Radit yang dimuat di sebuah surat kabar Jakarta pagi itu.

Karya Bambang Heras

Karya Bambang Heras

”Kalau menulis jangan meliuk-liuk begitu. Langsung saja. Lugas. Gambaran yang melelahkan itu, misalnya, kutemukan pada kalimat ’Tubuhku saat ini membutuhkan asupan karbohidrat, karena memang waktunya telah tiba. Tak dapat ditunda lagi. Karena keterlambatan akan membuat lambungku menjerit. Itu yang tidak kuinginkan’. Mengapa tidak disingkatkan saja menjadi ’Aku lapar. Kalau tidaksegera makanlambungkusakit’.

Radit yang cerpennya baru pertama kali dimuat di surat kabar, mengangguk mengiyakan.

”Kalimat-kalimat pendek jauh lebih kuat. Bertele-tele itu penyakit, metafora juga jangan terlalu banyak”.

Pengarang muda yang masih merasa dirinya perlu banyak belajar itu mengangguk lagi. Ini yang membuat Ikra senang. Pendapat dan sarannya pun mengalir dan melimpah-ruah tidak tertahan.

”Karya yang rumit dan sukar dipahami walaupun telah dibaca berkali-kali, bukanlah karya yang baik. Karangan itu rumit karena pengarangnya tidak dapat berpikir jernih. Akibatnya, karyanya juga keruh. Nah, sekarang ini banyak orang yang tidak lagi dapat berpikir jernih, termasuk pengarang, sehingga karangan-karangan yang super sulit sangat banyak beredar. Pesan moralnya tidak jelas dan apa sebenarnya yang diinginkan pengarangnya tidak ada yang tahu.

Mereka sangat senang disebut pengarang kontemporer, karena bagi mereka kata kontemporer itu sendiri memiliki makna khusus, seakan-akan mengangkat mereka memasuki sebuah status sosial baru yang lebih tinggi. Padahal arti kontemporer menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat yang diterbitkan Departemen Pendidikan Nasionaladalah pada waktu yang sama, semasa, sewaktu, pada masa kini dan dewasa ini. Kalau kamu tidak percaya silakan periksa di kamus yang kusebutkan itu.

Mereka lebih tersanjung lagi jika dikelompokkansebagai avant-garde yang maknanya golongan perintis/pelopor (terutama dalam seni). Menurut Kamus Inggris-Indonesia susunan John.M.Echols dan Hassan Shadily. Gagah, kan? Ada pengarang yang seperti itu, bahkan mungkin banyak. Menjadi pengarang sebaiknya tidak berangkat dari pemikiran seperti itu. Jadikanlah mengarang itu seperti berolahraga. Berolahraga untuk sehat bukan untuk menjadi juara PON, SEA Games, Asian Games atau Olimpiade. Artinya, selagi masih kreatif menulislah terus. Selagi sehat teruslah berolahraga.

Kalau kamu sering membaca karya sastra, kamu pasti merasakan mana karya sastra yang ditulis dengan jujur dan sepenuh hati dan mana yang berambisi untuk menjadi perintis atau pelopor. Karya yang baik tidak harus karya perintis atau pelopor itu. Pramoedya itu bukan pelopor, tapi siapa yang berani membantah bahwa karyanya baik. ”Pulang” karangan Toha Mochtar tetap menyentuh, mengharukan, indah dan enak dibaca karena ditulis dengan jujur lebih dari 50 tahun lalu. ”Mercy” tulisan pemenangHadiah Nobel, Toni Morrison, yang berkisah tentang penderitaan warga kulit hitam di Amerika tidak membuat pembaca mengerutkan kening, begitu pula karya para pemenang Nobel lainnya.

Karya Alice Munro, penulis cerpen pemenang Hadiah Nobel tahun 2013 itu, enak dibaca karena ditulis dengan jernih tanpa tendensi bersulit ria. Memang aku baru membaca dua cerpennya yaitu ”Dear Life”(2013) dan”Corrie” (2012). Kau harustahu ketika Alice Munro menerima Hadiah Nobel, Akademi yang memberikan hadiah itu menyebutnya ’master of the contemporary shorts story’. Bacalah karya-karya Munro yang dapat kau beli di toko buku (aku tidak etis jika menyebutkan nama toko buku itu). Bacalah dan bacalah. Gunakan bahasa Inggrismu yang lumayan baik itu untuk membaca karya-karya dunia. Jangan jadi pengarang’seperti katak di bawah tempurung’ yang hanya membaca karya-karya kawan sendiri.

”Kalau kamu tetap ingin dikelompokkan sebagai avant-garde boleh saja. Cuma kalau kamu tidak berhasil, jangan kecewa atau berhenti mengarang. Banyak pengarang muda yang juga mati muda. Maksudnya, setelah merasa tidak berhasil menjadi tokoh penting dalam sastra Indonesia, mereka berhenti menulis. Bisa juga kekeringan ide, karena malas membaca karya sastra yang baik dan sibuk dengan karyanya sendiri. Kalau kamu mau menjadi pengarang, jadilah pengarang seumur hidup, bukan karena terlalu banyak waktu luang, iseng-iseng, atau mengisi waktu sambil menunggu hasil lamaran kerja yang kamu kirimkan. Jangan pula kamu berhenti mengarang karena kamu menjadi birokrat yang memegang jabatan penting”.

Ikra menatap Radit yang dengan tekun mendengarkan orasinya. Radit merasa dirinya dibekali dengan berbagai saran dan nasihat yang memang dibutuhkannya.

”Ada yang mau ditanyakan?”

”Tidak”

”Tidak?’

”Rasanya semua sudah lengkap. Saya tinggal melaksanakan anjuran itu.”

Belum. Itu baru awal. Masih banyak yang lain yang harus kamu ketahui. Kalau karyamu telah banyak dan kamu ingin menerbitkannya dalam sebuah buku, jangan lupa meminta pengantar dari pengarang terkenal. Di sampul belakang buku juga jangan lupa dicantumkan pendapat sejumlah pengarang, dosen, redaktur atau tokoh penting. Bukumu bisa laku dengan pengantar dan komentar itu.

Jangan lupa sebagai pengarang kau harus sabar. Jika mengirimkankarangan ke sebuah media cetak kau harus siap untuk menunggu Godot (Merujuk kepada karya Samuel Beckett, ”Waiting for Godot”). Artinya, tidak ada kepastian kapan karya itu akan dimuat. Sebelum ada kepastian karyamu ditolak atau dimuat, jangan coba-coba mengirimkan karanganmu itu kepada media cetak yang lain. Kalau itukau lakukan, kau akan masuk ”daftar hitam” para redaktur yang sangat menentukan itu.

DiJakarta ini ada redaktur yang suka sekali memberi pelajaran mengarang kepada para penulis baru. Kalau ajarannya dituruti karyapengarang itu pasti akan muncul dan tidak jarang dipuji pula. Karena itu karya bagus para pengarang lain sering ditolak sang redaktur, karena para pengarang itu tidak mau mematuhi ”perintah” sang redaktur. Kamu harus tahu, nepotismejuga ada dalam dunia karang mengarang.

Selain itu kamu harus dapat menangkap kecenderunganyang ada. Misalnya, kalau adasayembara menulis fiksi, tulislah yang kedalamannya luar biasa sehingga untuk memahaminya orang harus minimal membacanya sepuluh kali.Karena para juri sekarang ini umumnyamenyukai karyaseperti itu. Eh, kok saranku ini bertolak belakang dengan saran yang kusebutkan tadi, ya?

Apa lagi, Radit? O, ya, aku heran mengapa kau memilih menjadi pengarang, profesi (kalau ini boleh disebut profesi) yang sama sekali tidak menguntungkan secaraekonomi. Honorariummu yang akan kau terima kecil sekali, walaupun ada juga koran yang memberikan honorarium lumayan. Orang yang telah telanjur masuk ke dunia kepengarangan inibanyak yangmundur teratur. Nah, pengarang kreatif yang tidak mampu lagi menulis ini disebut ’budayawan’. Paling tidak begitulah kata seorangpenyair yang sangat serius menulis puisi. Bisa saja ini sinisme yang dilontarkansang penyair karena ia merasa kesal karena media cetak dan media elektronikterlalu mudah menyebut seseorang dengan sebutan budayawan.

Ada lagi yang juga penting kusampaikan kepadamu. Jika kau mengarang janganlah semata-mata menggantungkan diri pada imajinasi betapa hebat dan liar pun imajinasimu itu. Banyak sumber yang dapat dijadikan titik tolak. Misalnya, sejarah, kondisi sosial politik, ekonomi, pendidikan, pelanggaran HAM, penegakan hukum dan lain-lain. Jadi karyamu akan memiliki tempat berpijak dan tidak terus-menerus terbang di awang-awangkarena tidak mampu mendarat di bumi.

Dengan banyak membaca karya sastra dunia kau akan tahu bahwa pengarang besar dunia Leo Tolstoy pernah menulis novel pendek berjudul ’Hadji Murat’. Siapa menduga bahwa Tolstoyjuga mengenal kata haji yang kita hormati itu.Ini fiksi sejarah yang bercerita tentang seorangpemimpin pemberontak Avar yang bersekutu dengan Rusia yang pernah diperanginya hanya karena rasa dendam. Jadi bukan tulisan murni fiksi tapi ada kaitannya dengan sejarah.

Seperti halnya kamu, saat ini banyak muncul pengarang muda. Mereka tidak peduli apakah disebut sastrawan dan kontemporer atau tidak. Mereka terus berkarya. Jika ada penulis resensi menyebut karya mereka beraliran realisme magis, realisme sosial, konvensional, surealisme, absurd, merekatenang-tenang saja. Umumnya begitu. Tidak semua tentunya, karena ada juga yang membusungkan dada karena dipuji oleh penulis resensi. Disebutkan penulis resensi karena jumlah kritikus sastra saat ini sangat minim.

Mungkin kau bertanya-tanya mengapa karya sastra yang bagus jarang sekali difilmkan atau tidak ditoleh oleh para produser. Agar kau tidak terus bertanya-tanya, haruslah kau ketahui bahwa karya sastra adalah anak tiri yang terpinggirkan. Sudah anak tiri terpinggirkan lagi. Yang laris itu karya tulispopuler yang dicetak belasan kali dan diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa asing. Matapara produser sangat tajam seperti mata elang. Karena itu mereka berani memfilmkankarya-karya populer ituyang dijamin pasti laris dan menggemukkan pundi-pundi. Terlalu banyak saranku kepadamu. Jangan-jangan ini akan melemahkan hasratmu untuk menjadi pengarang. Kalau itu yang terjadi alangkah berdosanya aku. Karena itu kusudahi di sini, Radit. Selamat mengarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: