Pempertanyakan Proses Pembuatan SIM

Harian Analisa: Senin, 06 April 2015

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Di negeri ini, di negara Indonesia, hukum dan aturan yang dibuat oleh pemerintah harus dipatuhi. Segala tindakan yang menyimpang dari aturan yang diberlakukan sudah tentu akan mendapat sangsi. Akan tetapi, kadang-kadang peraturan dalam negeri tidak berjalan seirama dan serasi. Misalkan secara umum proses pembuatan Surat Ijin Mengemudi (SIM) yang perlu kita kritisi.

Mungkin sudah lumrah kita mendengar keluhan masyarakat umum akhir-akhir ini, bahwa polisi lalu lintas sering menilang pengendara yang tidak mengantongi SIM. Kadang para pengendara yang terkena bukti pelanggaran (Tilang) di jalan beralasan bahwa SIM mereka ketinggalan, hilang, atau masih dalam proses pembuatan di kantor kepolisian. Selain itu pula, kadang pengemudi yang terkena Tilang mau bayar di tempat, tanpa harus minta surat Tilang. Sudah tentu jelas, uang itu tidak masuk ke dalam kas negara, tapi masuk ke kantong para polisi yang nakal.

Sebenarnya cukup banyak alasan para pengemudi yang tidak memiliki SIM sebagai syarat absah untuk menggunakan jalan raya berlalu lintas. Mayoritas keluhan mereka yang tidak memiliki SIM, yaitu karena proses pembuatan SIM yang sangat begitu sulit dan rumit. Tidak mengherankan jika proses tersebut yang berupa tes (ujian) tulis dan lapangan sangat sulit, karena tes tersebut tidak pernah dipelajari oleh calon pembuat SIM atau tidak pernah diajarkan. Parahnya lagi, demi untuk mendapat SIM agar tidak di-Tilang di tengah jalan, mereka sebagian berani membayar dengan mahal (suap) untuk mendapat surat ijin berkendara tersebut. Logikanya, sulit lolos ujian tulis yang tak pernah dipelajari atau diajarkan, lebih-lebih ujian di medan lapangan yang tidak sesuai dengan mayoritas fakta jalan raya yang digunakan publik.

Mari kita lihat dan kaji proses pembutan SIM di lembaga kepolisian. Pertama, sebagaimana lumrah yaitu mengisi formulir. Kedua, tes kesehatan. Dalam hal ini hanya kesehatan mata terhadap warna-warna berhuruf atau berangka. Ketiga, daftar foto hingga proses foto yang di belakang ada meteran tinggi badan. Keempat, mengikuti tes tulis tentang lalu lintas dan rambu-rambu jalan, dan. Kelima, tes lapangan.

Ujian dan Pendidikan

Secara sederhana, pelaksanaan tes tulis setelah menyetor formulir pendaftaran merupakan tes penentu untuk bisa lolos pada tahap ujian lapangan. Tapi, bagi mayoritas masyarakat, pada level tes tulis masih tampak sulit. Hanya segelintir orang yang berhasil mengikuti (lolos) tes tulis pembuatn SIM. Mereka yang lolos dalam tes tulis sebagian memang membaca dan mencari sumber di internet (termasuk saya pribadi) secara pribadi, serta sebagian isunya ada yang rela membayar demi mendapat kode jawaban. Entah benar atau tidak kita bisa buktikan sendiri.

Sebuah keganjilan yang perlu kita pertanyakan yaitu tentang pemberian materi soal yang di luar kendali pikiran para peserta. Jika pertanyaan-pertanyaan yang disajikan dalam lembar ujian tulis proses pembuatan SIM merupakan sebuah pendidikan yang benar-benar diketahui oleh para calon pemilik surat mengemudi, maka dengan mudah mereka akan bisa menjawabnya. Tapi kenyataannya, masih banyak di antara mereka yang tidak lolos, alias tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut karena ketidaktahuan terhadap rambu-rambu lalu lintas.

Lantas, kita jangan serta-merta menyalahkan para pendaftar yang tidak lolos dalam tes tulis, tapi kita introspeksi diri terlebih dahulu. Mungkin, bisa kita logikakan bahwa kinerja lembaga kepolisian yang membiarkan masyarakat tidak tahu tentang aturan dan rambu-rambu lalu lintas. Sepertinya tampak ada unsur kesengajaan. Masyarakat tidak diberi semacam penyuluhan atau sosialiasasi tentang peraturan dan rambu-rambu lalu lintas di jalan. Jika sebuah sosialisasi itu diberikan dan menjadi agenda lembaga kepolisian kepada masyarakat, sudah barang tentu masyarakat tanpa harus menyuap saat proses pembuatan SIM, dan pada tahap tes tulis bisa dipastikan lolos.

Selain itu, masih ada semacam kejanggalan pada ujian lapangan dengan medan uji coba yang di luar kewajaran. Sangat tidak wajar tes lapangan yang harus mengelilingi lingkaran angka delapan, zigzag balok kayu, dan jalan menikung-nikung tanpa menurunkan kaki. Beberapa tes tersebut tampak begitu ganjil dengan fakta yang ada di jalan raya. Persoalannya, medan seperti itu sangat sulit ditemukan di jalan raya, bahkan bisa dikatakan tidak ada, kecuali jalan gelombang dan peluit pertanda berhenti di tanjakan. Hakikatnya sangat sederhana, berikan masyarakat pendidikan tentang peraturan dan rambu-rambu lalu lintas di jalan.

Sangat tidak rasional medan tes lapangan tersebut dengan fakta di jalan raya. Kita bisa mengganggap bahwa proses tersebut memang sistematis agar masyarakat banyak yang tidak lolos dalam pembuatan SIM, sehingga untuk menilang pengguna jalan raya lebih mudah untuk menemukan alasan karena tidak memiliki sura ijin. Setidaknya, ujian lapangan pembuatan SIM disesuaikan dengan fakta yang ada di jalan raya, medannya tidak usah dibuat-buat, yang dalam bahasa masyarakat umum bahwa pembuatan SIM sepertinya memang dipersulit. Entah kebenarannya. Tapi kita bisa melihat dari kinerja lembaga kepolisian yang kurang aktif dalam memberikan penyuluhan tentang rambu-rambu dan aturan lalu linta jalan kepada masyarakat. Mereka seakan-akan memang dibiarkan bodoh dan tidak tahu apa-apa tentang peraturan lalu lintas.

Maka dari itu, sebuah pendidikan melalui sosialisasi atau penyuluhan dari lembaga kepolisian tentang pemahaman aturan dan rambu-rambu lalu lintas di jalan, harus benar-benar diberikan kepada masyarakat umum secara aktif dan serius. Karena sudah banyak masyarakat yang terkena Tilang karena melanggar aturan atau rambu-rambu lalu lintas meski mereka sudah memiliki SIM. Ini menunjukkan bahwa masyarakat masih awam dengan atuaran lalu lintas di jalan, kemungkinan besar SIM yang mereka dapat hanya karena suap.

Dengan pendidikan dan sosialisasi tentang aturan atau rambu-rambu lalu lintas jalan yang diberikan kepada masyarakat, bisa dipastikan mereka bisa lolos dalam pembuatan SIM tanpa harus menyuap asalkan ujian di lapangan sesuai dengan fakta yang ada di jalan raya, bukan dibuat-buat seperti mengelilingi lingkaran angka delapan, zigzag balok kayu, dan jalan menikung-nikung tanpa menurunkan kaki. Jika kita pandang lebih jauh lagi, bahwa ujian tersebut hanya layak bagi mereka yang ingin mengikuti festival balap motor dan tril menaiki tebing, bukan untuk mereka yang ingin berkendara di jalan raya yang normal-normal saja. Begitu!

*Penulis adalah Akademisi dan Pengamat Sosial UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tulisan ini bisa dibaca dan dinikmati lebih lanjut lagi di: Harian Analisa, Senin, 06 April 2015 Mempertanyakan Proses Pembuatan SIM oleh Junaidi Khab atau di Harian Analisa. Semoga memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: