LIANG LIU

KOMPAS: Ahad, 5 April 2015

Oleh Dewi Ria Utari

LIANG LIU Oleh Dewi Ria Utari (KOMPAS/ Junaidi Khab)

LIANG LIU Oleh Dewi Ria Utari (KOMPAS/ Junaidi Khab)

Tepat di seberang rumahku, kira-kira 100 meter jaraknya dari pintu gerbang, terdapat sepetak tanah seluas 500 meter persegi. Tanah kosong itu kabarnya milik seorang kaya raya dari Jakarta yang ia beli tujuh tahun silam untuk ia jadikan rumah tinggal namun sampai sekarang tak sebongkah bata pun dipasang di sana.

Yang ada justru puluhan pohon liang liu yang ditanam berderet rapi membentuk barisan seperti penari berbaju hijau yang meliuk-liuk diterpa angin, menunduk mengangguk-angguk anggun dalam kearifan yang muncul menjelang senja.

Siapa pun tak mengetahui alasan pemilik tanah itu menanami pohon liang liu itu karena sepanjang 60 tahun hidupku di sini, aku belum pernah bertemu pemiliknya. Sebenarnya ini memalukan karena aku di sini sudah seperti sesepuh yang bahkan kepala desa pun kerap meminta pendapatku. Masakan aku sampai tidak tahu siapa yang membeli tanah itu tujuh tahun lalu. Padahal aku juga sering terjaga terutama di usia tuaku ini dan tak pernah sekali pun melihat siapa pun menjenguk tanah itu. Akhirnya karena aku semakin menyukai pohon-pohon itu, aku memerintahkan Yanto, tukang kebunku, untuk menyirami dan memberi pupuk secara berkala. Setiap sore aku juga mengajak Lanang, anjing herderku, untuk berjalan-jalan di antara pohon liang liu itu. Kebiasaan ini mulai menjadi bagian hidupku sejak pohon-pohon itu melampaui tinggiku.

Sepekan lalu, aku melihat keganjilan pada Lanang. Setiap jam tiga dini hari, ia terbangun dan berjalan ke arah balkon yang langsung menghadap ke tanah kosong itu dan berdiri tegak. Tak lama ia menggonggong pelan membuatku terjaga. Sembari memulihkan kesadaranku, aku berjalan ke arahnya dan mencoba melihat ke arah yang sama dengan Lanang. Tak ada apa pun. Hanya bayang-bayang gelap liang liu yang sesekali bergesekan tertiup angin dini hari. Begitu seterusnya hingga di malam ketujuh, aku melihat seorang perempuan berdiri di antara pepohonan. Ia memandang ke arahku dan melambaikan tangannya.

Sejenak aku ragu. Bayangkan, jam tiga dini hari. Mana mungkin ada orang yang terjaga pada waktu seperti ini. Apalagi berdiri di antara pepohonan itu. Namun aku bukanlah penakut. Toh ada Lanang di sebelahku. Konon jika itu makhluk halus, seekor anjing akan merasakannya. Namun kulihat Lanang terdiam. Tidak tampak gelisah. Akhirnya aku memutuskan turun bersama Lanang dan kuajak dia keluar rumah menuju tempat perempuan itu berada.

Sembari menarik tali kekang yang kusangkutkan ke tali leher Lanang, aku menyeberang jalan dan mendekati perempuan itu. Aku membawa senter meski lampu jalanan sebenarnya sudah cukup menerangi jalanan namun tak cukup kuat menembus barisan liang liu. Kini aku telah berada di depannya. Kuarahkan senter menerangi wajahnya. Ia langsung memejamkan mata.

”Jangan takut,” ujarnya sambil menghalangi sinar senter yang mengarah matanya. Kuturunkan senter dan kuarahkan ke tanah. Ia tersenyum dan mengelus Lanang yang mengendusnya.

”Kamu tak bisa tidur?” tanyanya.

”Aku terjaga karena anjingku selalu terbangun pada jam sekitar ini sejak seminggu terakhir. Apakah itu karena kamu?”

”Mungkin. Aku ke sini sejak seminggu ini. Menengok pepohonan ini.”

”Pohon liang liu ini punyamu?”

Ia mengangguk.

”Kenapa jam tiga pagi?”

”Karena aku masih terbangun hingga subuh. Aku insomnia. Sering kali tidur dengan jam yang berbeda.”

Anak muda zaman sekarang, pikirku. Tidakkah mereka punya kehidupan di siang hari.

”Kamu mau singgah ke rumahku? Tak jauh dari sini. Di tikungan jalan. Aku baru pindah sebulan lalu,” ujarnya.

Di rumahnya, ia bercerita tentang dirinya, tanah kosong itu, dan liang liu. Ia mengaku membeli tanah itu dari temannya yang kesulitan keuangan. Ia mengaku tak memiliki rencana apa pun untuk tanah itu. Setidaknya belum. Karena sejak lama ia menyukai pohon liang liu, ia kemudian memutuskan menanamkan pohon-pohon itu di sana. Total ada 19 pohon di tanah itu.

”Kenapa 19?”

”Karena hanya cukup ditanami 19 pohon,” ujarnya sambil menuangkan anggur merah ke dalam gelas untukku.

”Apa yang membuatmu menyukai pohon itu?”

Dia terdiam. Seperti berpikir memilih jawaban yang tepat. Entah mengapa ia begitu berhati-hati bercakap-cakap denganku. Bahkan sejak awal kusadari, semua ceritanya tentang dirinya, tanah itu, dan pohon itu, terkesan meragukan.

”Aku merasa bentuk pohon itu puitis sekali. Merunduk namun tak jatuh. Di Barat, pohon itu dinamakan Weeping Willow. Di sini, banyak yang menamainya Janda Merana. Kurasa-rasa pohon itu memang tampak sedih. Mungkin karena itu aku menyukainya. Karena aku menyukai kesedihan.”

Seketika aku melihat kerapuhan yang memikat dari dirinya. Ia begitu tak yakin. Ragu-ragu. Matanya yang bulat menatap mataku lekat. Dan saat itulah aku seolah merasa dia mengenalku. Bertahun-tahun lamanya.

”Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyaku sambil menyalakan rokok.

”Mungkin. Entahlah. Apakah itu penting saat ini?”

”Tidak,” kataku sambil mengisap rokokku pelan-pelan. Kami saling menatap dalam diam. Di ujung mataku, aku melihat Lanang yang sudah tidur mendengkur dekat kakiku.

”Kamu mau kubuatkan teh hangat manis dan mi goreng? Aku sedikit lapar. Kamu bisa melihat-lihat lukisanku sembari menungguku masak,” ujarnya sambil beranjak berdiri.

Baru kusadari banyak lukisan yang terpasang di rumah ini. Sambil memasak, ia bercerita bahwa sebagian lukisan itu karyanya dan sebagian lagi ia beli dari beberapa temannya.

”Yang mana karyamu?”

”Kamu pasti menyadarinya.”

Ia benar. Setelah berkeliling, aku menyadari ada sejumlah kesamaan di sebagian besar lukisan.

”Yang ini kan?” tanyaku sambil menunjuk lukisan-lukisan wajah manusia tampak samping yang dilukis dengan charcoal.

Ia mengangguk.

”Kenapa selalu tampak samping?”

”Karena aku suka duduk di samping orang ketimbang di depannya. Dan buatku, setiap orang lebih menarik jika diketahui sebagian dari dirinya, sebagian wajahnya. Bagian lainnya bisa ia simpan atau ia perlihatkan pada orang lain yang berada di sisi sana. Aku sudah cukup puas untuk melihat dari satu sisi,” ujarnya sambil berjalan ke arahku dan menyodorkan secangkir teh panas.

Sambil meminum perlahan teh itu, aku menyadari pernah mendengar pendapat semacam ini dan melihat lukisan-lukisan ini entah di mana dan kapan.

Aku terbangun pukul 11 siang di kamarku dengan kepala berdenyut. Aku tak ingat kapan aku pulang dari rumahnya. Sambil menatap langit-langit kamarku, kubiarkan pikiranku menuntunku perlahan-lahan pada pertemuan dan percakapanku dengan perempuan itu. Semua ceritanya tentang tanah itu, pohon liang liu, lukisan-lukisan yang pernah kulihat, rasa teh manis yang masih tersisa di lidahku, menyusun suatu mozaik yang masih menyisakan sejumlah lubang di sana-sini. Namun aku merasakan ketakutan yang tanpa dasar tentang bentuk mozaik seperti apa yang akan tersusun ketika semua kepingannya terkumpul. Belum-belum aku sudah merasa pengecut.

Seharian itu aku gelisah. Tak sabar menunggu tengah malam. Kemarin ia bilang jika ingin menemuinya, tunggu setelah jam 12 malam. Nocturnal sekali perempuan itu, pikirku. Mungkin itu yang membuat kulitnya pucat. Kurang terkena sinar matahari.

Malam itu dan malam-malam selanjutnya, aku menghabiskan waktu bersamanya. Setiap malam ia menceritakan sebuah kisah yang berbeda-beda tentang orang-orang yang ia kenal maupun tidak ia kenal namun ia dengar dari kenalannya, yang merapuh ingatannya. ”Aku baru menyadari bahwa dari semua yang ada pada diri manusia, ingatan adalah hal yang terapuh. Tahukah kamu film-film tentang zombi itu? Aku yakin mereka menjadi mayat hidup karena mereka gagal mengingat kemanusiaan mereka. Gagal mengingat jejak sejarah yang telah mereka jalani. Tahukah kamu tak ada yang lebih menyedihkan ketika kita tak lebih seonggok jasad tanpa makna di hadapan orang yang kita sayangi. Bahkan kupikir-pikir, definisi cinta itu tak ada tanpa adanya ingatan. Dan mungkin Einstein ketika itu tidak sedang mencoba menemukan cara untuk melengkungkan ruang waktu, tapi ia ingin mencari jawab bagaimana mengabadikan ingatan,” ujarnya dengan kesedihan yang muncul tiba-tiba.

Karena itulah ia tidak pernah memberi jawab atas pertanyaanku tentang sebuah kamar di rumahnya yang selalu dikuncinya. Menurutnya, kamar itu menyimpan semua ingatannya. Dan menurutnya, ingatan harus tersimpan dengan caranya masing-masing supaya tidak tersia-sia.

Aku tak menghitung berapa malam yang kuhabiskan bersamanya. Namun semakin sering bersamanya, aku gelisah dengan lubang-lubang mozaik di otakku yang seperti menggelitikku untuk mencari potongannya yang hilang. Kegelisahan inilah yang membuatku nekat malam ini untuk mendatanginya. Aku sengaja melanggar permintaannya untuk tidak datang tanpa seizinnya.

Kususuri ruang demi ruang di rumah ini dan kulihat lebih saksama lukisan-lukisan yang dipajang di dindingnya. Kepalaku berdenyut. Lukisan-lukisan ini pernah kulihat sebelum aku bertemu dengannya. Bahkan benda-benda antik yang menjadi pajangan di rumah ini juga terasa akrab buatku. Dalam kesunyian yang membuatku menggigil, aku merasa semua detil di rumah ini kukenali.

Perlahan aku berjalan mendekati kamar yang terletak di ujung ruangan. Sedikit gamang aku memegang pegangan pintu. Ragu membentur dadaku. Membuatku sesak dan berkeringat dingin. Aku berdiri setengah bertopang di pintu menahan tubuhku yang terasa sedikit lemas. Namun seperti halnya Hawa yang telah tergoda buah kuldi, demikianlah aku yang begitu berhasrat membuka pintu ini.

Kamar ini gelap. Aku meraba dinding dan kudapati sakelar lampu yang segera kupijit. Begitu terang menguasai ruangan, aku mendapati ruangan ini hanya berisi sebuah kursi yang diletakkan menghadap sebuah lukisan besar seukuran 5 x 2 meter. Aku mendekati kursi yang sepertinya sengaja ditempatkan bagi siapa pun yang ingin melihat lukisan itu.

Sambil perlahan duduk, degup jantungku makin cepat saat menyadari figur yang ada di bidang gambar lukisan itu. Di sana tampak sebatang liang liu berwarna merah. Liang liu itu tumbuh di sebelah sungai yang juga berwarna merah. Tanah tempat pohon itu juga berwarna merah, hanya cenderung lebih tua hingga mendekati warna cokelat. Semua di lukisan itu merah. Juga sebuah rumah berarsitektur menyerupai kelenteng yang berdiri di kejauhan sebagai latar belakang pohon itu.

Seketika semua potongan mozaik itu bermunculan. Bergerak sendiri menyusun sebuah pola kisah yang menyakitkan dan menghantam batok kepalaku. Aku mengerang kesakitan seiring semua ingatan itu bermunculan. Ingatan tentang dirinya yang begitu takut kehilanganku; matanya yang selalu menyimpan harap untuk bersamaku setiap kali aku berpamitan pulang; senyum kekanak-kanakannya saat aku mengatakan menyukai sweter yang ia rajut untukku – meski kemudian tak pernah kupakai; kekhawatirannya yang berlebihan pada lambungku yang lemah; kebingungannya saat kukatakan aku tak pernah memiliki pilihan favorit atas semua lukisan dan barang-barang antik milikku, atau apa pun yang kumiliki di rumah ini; tentang pohon liang liu tempat aku menciumnya pertama kali; dan tulisan terakhirnya saat mengirimkan lukisan ini kepadaku 19 tahun lalu.

”Sayangku, aku tak pernah tahu dengan cara apa aku bisa kamu kenang selamanya. Mungkin dengan lukisan ini, aku bisa meniadakan kesementaraan di antara kita.”

Di lukisan itulah ia menciptakan merah dengan semua darah yang ia keluarkan sendiri dari sayatan di pergelangan tangannya. Di lukisan itu pula ia memberiku kenangan yang merenggut semua ingatanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: