LETEH

KOMPAS: Ahad, 12 April 2015

Oleh Oka Rusmini

LETEH Oleh Oka Rusmini (KOMPAS/ Junaidi Khab)

LETEH Oleh Oka Rusmini (KOMPAS/ Junaidi Khab)

Tak ada yang tahu dari mana Ni Luh Wayan Arimbi berasal. Kehadiran perempuan cantik berkulit gelap itu tetap diselimuti misteri. Pan Kobar juga tidak mau pusing menelusuri riwayat pembantunya itu.

”Orang mana dia, Pan Kobar?”

”Kau ini mau ngopi apa

nggosip? Kayak perempuan saja. Suka omong yang tidak penting.”

Begitu selalu jawaban Pan Kobar, pemilik warung kopi di pinggir jalan besar itu. Warung Pan Kobar terkenal, ramai dikunjungi sopir truk-truk besar. Para lelaki dari desa seberang pun suka nongkrong di warung kopi Pan Kobar. Konon kopi Pan Kobar lezatnya luar biasa. Apalagi kalau diminum sambil memandang wajah Arimbi yang berkilau menggairahkan. Badan dan pikiran langsung terasa segar.

Pan Kobar ingat betul bagaimana Arimbi ditemukan. Mungkinkah dia berasal dari alam lain? Bidadari yang dikirim Sang Hyang Jagat untuk menemani hidup Pan Kobar? Mungkin menjadi istrinya?

Istri? Pan kobar tercenung. Merasa nelangsa.

I Wayan Kobar nama lengkap lelaki kekar itu. Kobar berarti semangat membara, kekuatan dahsyat yang mampu melumat apapun yang ada di depannya. Nama yang gagah. Maskulin. Menyeramkan. Juga agak mistis.

Menurut cerita orang desa, ketika Kobar dilahirkan, guntur meledak bersahutan. Hujan membadai. Sungai meluap dan mengamuk. Alam seakan murka. Dalam alam pikiran warga desa, itu pertanda buruk. Desa akan ditimpa grubug, bencana besar. Desa akan leteh, kotor, cemar. Upacara besar harus dihaturkan untuk Ida Betara, dewa-dewa dan para leluhur.

Sebelum kelahiran Kobar, sudah bertahun-tahun desa itu seperti kena kutuk. Tidak ada anak laki-laki dilahirkan di desa itu. Semua bayi yang lahir berjenis kelamin perempuan. Warga desa sudah lelah minta petunjuk kepada banyak balian, tanpa hasil. Beragam upacara dan sesaji telah mereka tumpahkan demi mencari jawaban. Kenapa di desa mereka tidak lahir anak lelaki?

Lalu pada suatu pagi, matahari tak terbit lagi. Desa dililit kegelapan. Kegelapan kelabu. Orang-orang desa tidak lagi bisa membaca waktu. Tidak ada lagi siang dan malam. Senja dan subuh sama saja. Malam purnama dan malam rembulan mati tak bisa dibedakan lagi.

”Kalau alam jadi kacau begini, apa yang harus kita lakukan?”

”Haturkan sesaji besar. Mungkin kalau diberi upeti, alam mau kompromi.”

”Ngawur. Memangnya alam itu kayak politisi atau pejabat yang bisa disogok?”

”Siapa tahu. Namanya juga usaha. Patut dicoba. Bukankah begitu budaya yang dicontohkan para pemimpin negeri kita? Istilahnya, gotong-royong….”

Ketika itu warga lelaki sedang berembuk di balai banjar. Sudah sebulan desa mereka tidak diguyur sinar matahari. Lalu hujan turun begitu deras. Pohon-pohon berderak, meliuk-liuk. Tidak ada lelaki yang berani keluar dari ruangan. Semua terlihat cemas. Semua memanjatkan doa. Menyeru para leluhur. Mencoba mohon ampun.

Tiba-tiba sebatang pohon beringin tua rubuh menimpa balai banjar. Para lelaki itu terluka, darah membasahi lantai. Mereka menjerit-jerit dan memaki-maki. Namun makin banyak makian mereka, makin banyak pula dahan pohon yang jatuh menghajar tubuh mereka. Dahan-dahan itu menancap pada tubuh mereka. Darah mereka muncrat membasuh daun-daun pohon beringin. Daun-daun menyerap darah mereka dengan rakus.

Para lelaki itu terkapar dengan luka tusuk yang parah. Mereka mati tertikam dahan-dahan pohon beringin. Ranting-ranting menjelma jadi keris yang mengoyak tubuh mereka.

Laki-laki yang tersisa di desa itu tinggal seorang pemangku tua. Mangku Siwi, demikian warga desa biasa menyebut pendeta pura desa itu. Sesungguhnya sudah lama Mangku Siwi menyampaikan pawisik bahwa desanya akan mengalami serentetan kejadian aneh yang buruk. Namun tak ada yang percaya. Orang-orang di desanya hanya sibuk memperkaya diri. Ingin cepat hidup enak dengan menjual tanah warisan. Sudah lama pura dan subak tidak berfungsi dengan semestinya. Lahan desa makin marak ditumbuhi pohon beton.

Sejak terjadinya kematian aneh warga lelaki di balai banjar, desa itu dijuluki Desa Luh, Desa Perempuan. Para investor yang telah membeli tanah di desa itu kabur ketakutan. Tidak ada orang luar yang berani mengunjungi desa itu. Mereka takut terkena leteh yang mengepul dari tanah Desa Luh. Desa itu menjadi sepi, kelam dan terkucil. Meski alam telah meminta tumbal nyawa hampir semua warga lelaki, matahari belum juga muncul di desa itu.

Pada suatu hari, para perempuan berkumpul di pura desa.

”Jero Mangku Siwi, bagaimana nasib desa kita? Apa yang harus kita lakukan?”

”Saat ini kita hanya menunggu kelahiran.”

”Kelahiran? Siapa yang akan melahirkan? Bukankah sudah tidak ada lelaki di desa ini?”

Para perempuan itu berharap Mangku Siwi membocorkan rahasia yang dititipkan alam padanya. Mereka tahu, sang pemangku bisa membaca pertanda. Dialah satu-satunya tempat para perempuan itu minta petunjuk atau minta tolong.

”Nunas iwang, Jero Mangku. Mohon maaf. Bolehkah kami tahu, siapa perempuan yang mengandung? Apakah ada lelaki datang ke desa ini dan menyentuh salah satu perempuan tanpa kami ketahui?”

Wajah perempuan-perempuan itu terlihat ketakutan. Alam telah menghukum mereka dengan kejam. Azab apa lagi yang akan mendera mereka jika ada perempuan di desa itu yang hamil tanpa suami?

Mangku Siwi hanya membisu.

”Mungkin hamil sendiri. Bukankah Kunti bisa melahirkan Karna tanpa disentuh laki-laki?” ujar seorang perempuan.

”Siapa bilang?” bantah perempuan lain. ”Kunti tentu bersentuhan dengan laki-laki. Dia memang bilang tidak berhubungan badan dengan laki-laki. Tapi bagaimana kalau dia bohong untuk menutupi aib? Mungkin dia main sama pacarnya yang tidak bisa dia miliki.”

”Benar juga,” dukung perempuan lain. ”Mungkin Kunti cuma mengarang cerita sebagai trik supaya selamat. Biar lolos dari cibiran. Aku sudah lama jadi perempuan. Aku tahu bagaimana cara mengakali perkara begituan. Kalau dilukai, perempuan bisa menjelma jadi makhluk paling jahat di muka bumi. Bisa menghancurkan apa saja. Apalagi perempuan kayak Kunti. Perempuan cerdik. Semua cerita itu cuma taktik supaya dia tetap dipandang suci.”

Mangku Siwi mengangkat dupa tinggi-tinggi.

”Seorang lelaki akan lahir di desa ini,” ujarnya lirih.

Selang beberapa hari, I Wayan Kobar lahir dari rahim perempuan bisu-tuli yang hidup sebatang kara. Ibu Kobar seorang perempuan cantik berkulit gelap yang selalu menundukkan wajah. Semua warga ikut merawat bocah lelaki yang menjadi harapan untuk melanjutkan keturunan mereka di desa itu.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Kobar telah tumbuh menjadi seorang pemuda, warga menemukan seorang pemudi asing terikat di pohon pule dekat kuburan desa. Tubuh perempuan ini penuh luka dan berbau amis. Tak ada sinar kehidupan di matanya yang cekung. Wajahnya begitu mengerikan. Rambutnya gimbal, panjang sepinggang. Dia tampak lebih mirip monster atau raksasi.

”Masih hidup?” tanya seorang perempuan sambil menutup hidungnya.

”Jangan kausentuh!”

”Dia tidak beracun. Tidak akan menularkan penyakit pada kalian,” seru Mangku Siwi yang datang membawa air dan dupa. Tubuh perempuan itu dipercikinya dengan air.

”Ini pertanda apa lagi, Jero Mangku?”

”Kita rawat dia.”

”Sayang sekali dia perempuan,” celutuk seorang perempuan. ”Kapan laki-laki datang ke desa ini? Aku sudah hampir lupa bau tubuh laki-laki.”

”Dasar gatal!” sahut perempuan lain.

Mereka tertawa cekikikan sambil memandang Mangku Siwi. Lelaki itu tak peduli. Mulutnya komat-kamit. Tampaknya sedang merapal mantra.

”Mangku Siwi juga laki-laki,” bisik seorang perempuan.

”Maksudmu?”

”Kenapa kita tidak giliran tidur sama dia saja?”

”Apa?!”

”Ssst. Tidak usah mendelik seperti itu. Tadi kau bilang sudah lupa bau laki-laki. Kenapa kita tidak coba mengingat kembali rasa tubuh laki-laki dengan tidur sama Mangku Siwi?”

”Gak sudi.”

”Aku juga tidak!” sahut perempuan lain.

”Mendingan menggosokkan tubuhku ke pohon kecapi habis buang air. Lebih terasa.”

”Benar. Memangnya kau mau main sama pemangku itu?”

”Baru ide. Harus dipikirkan lebih matang lagi. Dengan hening.”

”Otakmu memang kacau!”

”Jelas kacaulah. Sudah lama sekali tidak tidur sama laki-laki.”

”Husss. Sudah. Kau ini kayak bisa basah saja melihat gaya Mangku Siwi merapal mantra.”

Perempuan-perempuan itu terdiam. Mereka memang tidak dapat merasakan setetes pun nafsu birahi terhadap Mangku Siwi. Melihat gerak-gerik lelaki itu, urat gairah seluruh perempuan di desa itu langsung putus. Pupus.

Mangku Siwi terlalu mencintai Kosmis. Otak dan hatinya hanya berisi manta-mantra. Semua yang bergerak, segala yang berdetak, ditangkapnya sebagai sasmita untuk kelanjutan hidup desanya.

”Namakan perempuan ini Ni Luh Wayan Arimbi. Mandikan dia,” ujar Mangku Siwi datar.

Perempuan-perempuan desa itu bergerak menjalankan perintah sang pemangku sambil menahan napas. Tubuh perempuan asing itu benar-benar berbau sangat busuk. Seluruh isi perut mereka terasa berontak minta keluar.

Mereka memandikan Arimbi di sungai. Daki tebal pada tubuhnya dirontokkan dengan batu kali. Sekujur badannya digosok dengan batu bata tumbuk supaya lenyap segala korengnya. Setelah dikeramasi puluhan kali dengan bubuk merang, barulah rambut perempuan itu menunjukkan warna aslinya. Hitam pekat.

Para perempuan desa itu rajin melumuri tubuh Arimbi dengan beras tumbuk campur kunyit agar kulitnya bersinar. Setiap pagi ia wajib meneguk ramuan asam untuk melancarkan peredaran darah di tubuhnya.

Tepat satu bulan tujuh hari kemudian, Arimbi seperti menjelma jadi perempuan baru. Pipinya merah. Tubuhnya segar berisi. Matanya cerah. Parasnya bercahaya, mengingatkan pada Ken Dedes yang memikat Ken Arok dengan cahaya yang meluap dari tubuhnya. Untuk pertama kalinya, ia tersenyum.

Dan di langit timur, matahari juga tersenyum. Para perempuan desa memejamkan mata, silau diterpa sinar matahari yang datang sesudah begitu lama menghilang. Mereka berharap Arimbi menikah dengan Kobar dan menyemaikan benih manusia baru, sebanyak-banyaknya, yang akan melanjutkan riwayat desa mereka.

Sebagai ungkapan terima kasihnya kepada warga desa, Arimbi membantu Kobar berjualan di warung kopi. Ia segera menjadi primadona. Warung kopi Kobar menjadi laris. Kobar pun bisa menyumbangkan dana untuk pembangunan pura, jembatan dan berbagai fasilitas lain di desanya.
Namun Kobar dan Arimbi belum juga membina rumah-tangga. Warga desa tak habis pikir. Bukankah

Kobar pemuda yang tampan, badannya bagus, pujaan banyak gadis dari desa lain? Dan Arimbi bunga desa, incaran banyak lelaki? Tidakkah mereka ingin menyelamatkan desa mereka dari ancaman kepunahan?

”Jero Mangku, bagaimana kelanjutan nasib desa kita?” demikian warga sering bertanya kepada sang tetua desa tentang hubungan antara Kobar dan Arimbi. Dan yang ditanya selalu membisu. Mangku Siwi seperti sengaja membiarkan warga terus bertanya. Terus berharap-harap cemas.

Kobar sendiri bukan tak tahuharapan warga kepadanya. Tapi dia juga tak punya jawaban. Di dasar hatinya, ia hanya bisa mencangkuli dirinya. Wujudku memang laki-laki, tapi aku tak punya gairah terhadap perempuan.

OKA RUSMINI, MENULIS PUISI, CERPEN, NOVEL. PERAIH SEA WRITE AWARD(THAILAND, 2012); UNTUK NOVEL TEMPURUNG DAN KUSALA SASTRA KHATULISTIWA 2013-2014; UNTUK BUKU PUISI SAIBAN. SAAT INI SEDANG MENYIAPKAN BUKU MEN COBLONG, TINGGAL DI DENPASAR, BALI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: