KEBOHONGAN ITU MANIS, VARDHAZH

KOMPAS: Ahad, 8 Maret 2015

Oleh Indra Tranggono

KEBOHONGAN ITU MANIS, VARDHAZH Oleh Indra Tranggono (KOMPAS/ Junaidi Khab)

KEBOHONGAN ITU MANIS, VARDHAZH Oleh Indra Tranggono (KOMPAS/ Junaidi Khab)

Seluruh rakyat Republik Garpallo sangat yakin, Presiden Grag-Gaz telah mati. Di layar televisi, rakyat menyaksikan peti jenazah Presiden Grag-Gaz diturunkan ke liang lahat diiringi musik dan tembakan salvo, sebelum akhirnya ditimbun tanah.

Kamera televisi juga menyapu wajah-wajah istri, anak, menantu, sanak keluarga Presiden Grag, pejabat-pejabat tinggi, duta-duta besar berbagai negara, para konglomerat, tokoh-tokoh agama, politisi, akademisi, seniman, militer, dan pelayat lainnya yang menyiratkan duka mendalam.

“Sungguh… negeri ini sangat kehilangan putra terbaik bangsa. Tuan Grag-Gaz telah membawa menuju horizon cahaya,” kata Sarvantina Tunner, Ketua Majelis Tinggi Perwakilan Rakyat Republik Garpallo, di akhir pidato sambutannya.

Kompleks Taman Makam Pahlawan seluas sepuluh hektar itu disulap menjadi arena yang penuh warna. Terpampang baliho-baliho besar yang memasang wajah tampan Presiden Grag serta berbagai kegiatan sosialnya, foto empat istrinya, 25 anaknya, 25 menantunya, dan puluhan cucunya. Semua foto itu tidak dicetak tapi dilukis oleh belasan maestro.

Di beberapa tempat ada kemah-kemah yang dijaga perempuan-perempuan cantik yang siap melayani berbagai permintaan makanan dan minuman. Ada juga kemah besar yang memajang seluruh memorabilia sang presiden, misalnya album sejarah yang menggambarkan perjalanan kariernya, sejak ia mahasiswa, terjun di partai politik, jadi tokoh oposisi, jadi ketua partai, dan jadi presiden.

Istri keempat Tuan Grag, Nyonya Zabathini yang berusia sekitar 35 tahun dan cantik itu, kepada para wartawan bilang bahwa pihak keluarga harus memenuhi pesan dari suaminya agar membuat pesta ketika Tuan Grag meninggal. “Kematian harus dirayakan karena kematian adalah kemenangan mengatasi waktu menuju keabadian, begitu kata Tuan Grag saat beliau selesai menjalani operasi jantung yang ternyata gagal…,” ucap Nyonya Zabathini terisak.

Berbagai media massa cetak dan elektronik mencatat bahwa upacara kematian Tuan Grag adalah upacara paling besar dan sukses dalam sejarah meninggalnya tokoh-tokoh penting negeri Garpallo. Tempat pemakaman telah berubah jadi arena pesta dan bazar. Tercatat sekitar hampir dua juta orang melayat, 500.007 karangan bunga, omzet pedagang kali lima mencapai 600 ribu dollar, dan omzet parkir kendaraan mencapai 200 ribu dollar.

Entah siapa yang menggerakkan, mendadak muncul gelombang demonstrasi mahasiswa. Ratusan ribu massa meluberi Grag-Gaz Square. Bendera-bendera berkibar-kibar. Poster-poster menyala. Mereka menuntut seluruh harta Tuan Grag disita. “Selama 25 tahun Presiden Grag berkuasa, negara telah dirugikan sebesar 800 miliar dollar!!” teriak anak muda dengan pita merah terbebat di kepala.

Vardhazh, presiden pengganti Tuan Grag, telah memerintahkan Menteri Pertahanan Gargano Zappulato untuk melibas aksi mahasiswa. Jaksa Agung Valoe Bessy pun telah ditugaskan untuk menutup pengusutan kasus dugaan korupsi Tuan Grag.

“Tuan Grag itu junjungan kita semua. Tidak elok kita mencari-cari kesalahan beliau. Dan kalau toh beliau ini bersalah, maka aku sudah mengampuni sebelum dimohon. Bangsa yang berbudi luhur adalah bangsa yang mau memberi maaf sebelum diminta,” kata Vardhazh dalam jumpa pers di istana negara.

Para demonstran semakin meradang. Mereka menjebol pagar istana.

“Saya sangat yakin, Tuan Grag tidak pernah korupsi. Beliau ini tak lebih dari seorang pertapa dalam memimpin negara. Hanya makan kentang dan ikan asin ditambah kecap,” ucap Vardhazh.

Para demonstran semakin merangsek. Namun, orang-orang berseragam dan berwajah garang menghalau mereka. Terjadi baku hantam. Banyak orang luka. Berdarah. Para demonstran tak menyerah, namun tembakan gas air mata membuat mereka lari lintang pukang.

“Saya tidak suka anarki! Kepada adik-adik mahasiswa saya pesan, hentikan semua hujatan dan makian jika kalian tidak ingin bobok manis di sel tahanan,” ujar Vardhazh.

Vardhazh disertai para pengawal bersenjata lengkap, melaju dengan mobilnya menuju vila di Bukit Sutra. Bukit ini sering disebut orang sebagai bukit pengampunan yang dipilih para penguasa untuk istirahat dan merenung.

Kehadiran Vardhazh memecah sunyi tafakur seorang laki-laki gagah yang bersimpuh di atas karpet. Laki-laki itu memberi isyarat melalui pandangan matanya. Vardhazh pun duduk di kursi agak jauh dari posisi laki-laki gagah itu. Beberapa saat kemudian, laki-laki gagah itu beranjak dan menemui dan memeluk Vardhazh erat-erat.

“Tuan Grag…,” ucap Vardhazh spontan.

“Ssssttttt… jangan keras-keras…,” ucap laki-laki tambun itu lirih.

“Maafkan saya Tuan….”

“Bagaimana perkembangan keadaan, Tuan Presiden Vardhazh?”

“Tuan Grag jangan mengolok-olok saya. Saya tak lebih dari pembantu Tuan….”

“Riil, kamu ini presiden, boy. Kenapa masih gamang? Aku memang sengaja memilihmu untuk menggantikan aku melalui sidang Majelis Tinggi. Oya, apa yang bisa kamu laporkan, Vardhazh?”

“Rakyat percaya bahwa Tuan telah mati. Ya, mereka sangat yakin bahwa Tuan Grag ada di dalam peti mati yang dimasukkan dalam liang lahat dalam pemakaman itu. Sungguh, ini teater paling sempurna dan ajaib.”

“Begitulah yang kuinginkan. Begitulah yang terjadi. Oo ya, aku sangat terkesan dengan pernyataanmu dalam jumpa pers bahwa setiap hari aku hanya makan kentang, ikan asin, dan kecap. Kamu pintar mengambil hati rakyat….”

“Maafkan saya Tuan… maafkan. Saya telah berbohong….”

“Itu kebohongan yang manis, Vardhazh… Sangat manis… Begitulah seharusnya. Seorang penguasa harus pintar beternak kebohongan. Hanya dengan menanam kebohongan di mulut, orang macam kita bisa bertahan.”

“Benar, Tuan. Semua itu seperti yang pernah saya baca dalam buku Kebohongan yang Sopan yang Tuan tulis.”

“Kamu telah tuntas membacanya?”

“Bukankah itu bacaan wajib bagi seluruh kader partai kita, Tuan?”

Tuan Grag tersenyum. “Berarti kamu sudah menyerap sari pati kebohongan. Ini tak ada hubungannya dengan dosa atau apa…. Yang harus kamu tahu, rakyat selalu kecanduan untuk dibohongi.”

“Ooo tentu, Tuan…. Dalam soal kebohongan Tuan adalah maestronya. Aduh maaf Tuan, maaf….”

“No problem, boy. Itu predikat yang elegan. Maestro kebohongan. Dan aku suka,” Tuan Grag tertawa.

Ketegangan yang sempat dirasakan Vardhazh langsung mengendor. Suasana pun cair. Vardhazh mengusap keringat di keningnya dengan tisu basah.

“Di balik kebohongan ada tambang emas yang tak pernah habis dikuras. Tapi ingat, kebohongan butuh konsistensi dan keyakinan untuk menjadi kebenaran.”

Kepala Vardhazh mengangguk-angguk seperti mesin.

“Kamu telah melihat sendiri bagaimana aku mementaskan sandiwara kematianku. Aku susun skenarionya sendiri. Aku jadi sutradaranya sekaligus produsernya. Aku rekrut para profesional dari direktur rumah sakit, dokter-dokter spesialis, pers, ahli rias, dan busana hingga para jenderal dan event organizer,” ujar Tuan Grag sambil menuangkan anggur merah di gelas.

“Tuan tidak khawatir rahasia ini bocor?”

“Kekhawatiran itu tetap ada meskipun aku sudah melenyapkan para profesional yang terlibat dalam proyek besar sandiwara kematianku. Oya, aku punya ide. Aku akan operasi wajah. Semua sudah siap. Minggu depan kulaksanakan.”

“Tuan memang hebat. Cerdas.”

“Aku masih bingung menentukan bentuk dan rupa wajahku nanti…. Ada usul? Yang penting jangan mirip wajah aktor opera sabun.”

“Bagaimana kalau hidung tuan dibikin lebih mancung dan mata Tuan dibikin lebih lebar?”

“Ah itu mirip tukang jual obat di Golden Park. Dan lagi, hidung saya kan sudah mancung. Mosok saya harus mirip Pinokio? Boy, aku ingin wajahku berubah total. Misalnya mirip wajah seorang rabi atau orang-orang suci.”

Vardhazh disergap rasa heran. Tapi hanya diam. Tuan Grag tampak berpikir keras.

“Bagaimana jika wajahmu saja yang kupinjam untuk dijadikan model? Wajahmu polos. Tak ada aura kejahatan. Bagaimana?”

Vardhazh tersengat. Dadanya sesak. Jantungnya berdetak cepat. “Barangkali Tuan bisa mencari model wajah yang lain…,” ujar Vardhazh gugup.

Tuan Grag menggeleng. “Aku ingin jadi dirimu. Aku ingin ikut mengendalikan pemerintahan di negara kita. Kamu keberatan?”

Darah Vardhazh berdesir. “Tentu tidak, Tuan….”

“Bagus. Aku harus menjadi presiden lagi dengan meminjam wajahmu! Oke, boy?”

Dada Vardhazh terasa semakin sesak. Mendadak ia tumbang. Tuan Grag tersenyum.

Operasi wajah Tuan Grag berjalan lancar dan hasilnya sempurna. Wajah Tuan Grag kini sama persis dengan wajah Vardhazh, bahkan hingga jumlah pori-pori atau kerut-merutnya.

Dengan wajah Vardhazh kini Tuan Grag tampil dalam berbagai acara kenegaraan. Ia pun kembali menguasai parlemen, kejaksaan, kehakiman, sektor pajak, sektor migas, anggaran belanja negara, dan lainnya. Namun, rakyat tetap yakin bahwa orang yang memimpin Republik Garpallo saat ini tetaplah Vardhazh yang menggantikan Grag-Gaz yang sudah meninggal enam bulan lalu. Nasib Vardhazh sendiri tidak jelas. Soal ini, hanya keluarga Vardhazh yang tahu.

Setiap hari terjadi demonstrasi. Rakyat tidak puas pada kepemimpinan “Vardhazh” yang dianggap korup. Rakyat merindukan kembalinya kekuatan politik Grag-Gaz untuk mengendalikan Republik Garpallo. Mereka pun kini semakin yakin bahwa mantan Presiden Grag-Gaz sangat bersih. Maka, skenario pengganti “Vardhazh” pun telah disiapkan Tuan Grag. Nyonya Zabhatini, istri keempat Tuan Grag, telah dipilih untuk menjadi presiden.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: