BALADA CUN DAN SUAMI BARUNYA

KOMPAS: Ahad, 29 Maret 2015

Oleh Dedi Supendra

BALADA CUN DAN SUAMI BARUNYA Oleh Dedi Supendra (KOMPAS/ Junaidi Khab)

BALADA CUN DAN SUAMI BARUNYA Oleh Dedi Supendra (KOMPAS/ Junaidi Khab)

Akhirnya setelah berbulan-bulan menjanda, Cun menampakkan roman akan menikah lagi.

Bagi para tetangga, keputusan ini sangat dilematis. Keluarga besar, dunsanak, dan anak-anaknya sudah pasang pagar besi dari awal. Mereka sama sekali tidak setuju sebab rekam-catatannya dalam bersuami-istri tidaklah bagus. Suami pertama digugat cerai karena hidup miskin terus-menerus. Pria malang itu kembali ke rumah orang tuanya dengan meninggalkan seorang anak. Lalu suami kedua-seorang lelaki tua-pergi untuk menikah lagi dan menitipkan sepasang buah perkawinan. Padahal mereka sudah hidup mapan. Suaminya itu bekerja sebagai pegawai negeri di sebuah institusi pendidikan. Sementara dari mantan suami ketiga, ia mendapatkan tambahan sepasang anak tiri. Itu pun tak lama. Hanya hitungan minggu, perempuan itu kembali kehilangan seorang suami dan sepasang anak tiri. Cekcok antar anak menjadi penyebabnya. Sedangkan suami keempat bertahan beberapa bulan saja karena di suatu siang, seorang wanita datang ke rumahnya dan mengaku sebagai istri dari suaminya. Perang mulut seketika bergejolak di teras rumah. Siang itu juga secara tidak resmi, perempuan empatpuluh tahunan itu kembali menjanda.

Bagi para lelaki, matanya adalah mantra; tempat bermuaranya semua kenikmatan-kenikmatan dunia, danmata itu siap menyihir pria-pria gatal mana saja. Lelaki-lelaki tua tanggung, baik yang duda maupun beristri dan beranak lima sering menggoda, memberi uang, atau membelikan makanan.

Tapi sayang, tak satupun lelaki yang tersangkut dalam jeratan mata Cun. Suami satu seumur hidup yang diidam-idamkan Cun hingga kini belum tampak juga batang hidungnya. “Tuhan, apa memang ada perempuan yang sengaja diciptakan untuk selalu gagal dalam bersuami?” Ratapnya di dalam kamar, setelah perang mulut tempo hari dengan istri pertama suami barunya. Sungguh pailit. Cun, perempuan berpinggul bahenol itu pailit nian dalam berumah tangga.

Kerap pagi-pagi setelah urusan di rumah selesai, Cun meluncur ke rumah tetangga, sekadar melanjutkan pembicaraan yang terpotong karena malam tadi yang begitu cepat larut, atau membahas soal baru yang tiba-tiba hidup dan menggeliat-geliat di kepalanya. Ada yang hanya gosip, ada juga yang benar. Tapi, seperti kata-kata tetangganya: Dari sepuluh kata-kata yang dikeluarkan Cun, bahkan satu saja belum tentu bisa dipercaya.

Tetangga yang sudah paham dengan tabiat Cun biasanya hanya melayani obrolan Cun dengan sedikit anggukan, satu-dua lengosan, dan banyak upaya untuk menghindar secepatnya; ada yang beralasan ke toilet, lalu tidak pernah kembali lagi ke dalam percakapan, atau pura-pura ingin memasak, atau malah tertidur karena dongengan Cun yang begitu melenakan. Bila sudah begitu, Cun surut tanpa kata, kembali ke rumahnya. Tentu saja, Cun yang tak mudah patah semangat itu kembali keesokan harinya dengan cerita yang lebih pedas-pedas-manis dari hari sebelumnya.

Bila kata-kata Cun adalah asap-asap tipis, maka rumah-rumah yang pernah didatanginya telah berjelaga-jelaga pekat karenanya. Dari dapur tetangga satu, asap-asap itu meninggi, merayap sampai ke dapur tetangga lainnya. Kemudian, apa yang dirahasiakan Cun kepada seorang tetangga telah menjadi rahasia bagi ibu-ibu di kampung itu.

Kebiasaan Cun menggunjingi tetangga yang satu ke tetangga yang lain terhenti saat ia disibukkan dengan kasmaran yang baru. Cun jatuh cinta lagi.

Gelagat Cun ini tercium juga oleh sesanaknya. Bagaimana tidak, nyaris tiap hari Cun menerima telepon dari lelaki yang sama. Hampir tiap minggu, Cun ke pasar raya. Alasannya berbelanja keperluan dapur. Tapi seluruh kampung tahu, bahwa ia sedang indehoi dengan lelaki berkumis tebal di sebuah pondok mesra di tepi laut. Salah seorang warga pernah memergokinya. Kepada salah seorang tetangga, ia juga tak segan-segan mengakui bahwa ia telah menemukan lelaki yang selama ini ia impi-impikan. Kepada anak dan sesanaknya, ia berkilah bahwa itu cuma teman, kenalan lama waktu bekerja di kota dulu.

“Seharusnya, Si Cun tidak lagi sibuk memikirkan siapa calon suaminya. Anaknya, Si Ros itu, sudah patut pula dicarikan laki!” kata Ni Nah mengomentari.

“Dasar perempuan tak tahu diri. Ingin enak sendiri,” kata perempuan lainnya.

Cun bukan tak tahu soal komentar tak sedap dari tetangga-tetangga usil itu. Apa hendak dikata, matanya sudah tertutup cinta. Rasa cintanya kepada Da Ji, yang ternyata dukun kampung sebelah itu sudah menjalar ke seluruh tubuhnya, mengebalkan organ-organnya dari serangan hina-caci-maki orang-orang. Ia yakin, Da Ji adalah dermaga terakhir kasih sayangnya akan berlabuh.

Cun menjadi gelap mata, sepekat malam saat ia kabur, meninggalkan rumah dan anak-anaknya yang sedang tidur pulas, untuk hidup bersama calon suami yang begitu diagung-agungkannya. Kepada Mak Iti, perempuan tua sebelah rumah, ia menitip pesan untuk tidak memberitahukan perihal pelariannya ini kepada siapa-siapa. Ia juga titip beban untuk menjaga anak-anaknya dari jauh.

“Ini pilihan hidup saya, Mak. Orang-orang hanya pandai menilai, tapi tak mampu memberikan makan. Biarkan saya hidup senang,” katanya.

Sebelum azan subuh, Cun sudah jauh. Pagi-pagi sekali, raungan pecah dari rumah Cun. Mak Iti tahu, anak-anak Cun tak akan lagi bertemu emaknya.

Tentu bukan Cun namanya, bila tak jadi biang berita besar. Setahun setelah melarikan diri, ia pulang. Di suatu siang, sebuah mobil pick up hitam berhenti di depan rumahnya. Cun turun bersama suaminya. Orang kampung yang kebetulan melihat kepulangannya hanya terpana, tak mampu berbuat apa-apa.

“Apa masalahnya? Saya hanya pulang ke rumah saya sendiri. Siapa yang berani melarang!” tantangnya. Salah seorang kerabatnya, perempuan tua pingsan seketika. Anak-anaknya hanya pasrah. Antara lega emak mereka akhirnya pulang dan malu dengan warga kampung.

Orang-orang kembali ramai membicarakan Cun. Tapi tak ada yang berani terang-terangan lantaran takut dengan merek suami barunya yang tukang obat itu. Mereka takut dikerjai, dibuat sakit aneh, atau mati seketika. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan dukun kampung seandainya dia murka?

Rumah Cun kini ramai. Tiap hari selalu ada orang yang datang bertamu, bahkan sampai tengah malam. Bukan tamu Cun. Tapi tamu suaminya; orang-orang yang merasa berpenyakit di badan dan di hatinya.

“Jadi bagaimana, Mak Ji?” Pasiennya, seorang wanita, ingin suaminya menurut kepadanya, tidak berminat melirik perempuan lain.

Mak Ji mendehem sekali dan menggulung-gulung kumis tebalnya, seperti sedang berpikir keras. “Ini akan sangat sulit, Nak Tina,” ujarnya kemudian. “Suamimu juga sudah diguna-guna dukun lain. Dukun ini juga hebat sekali.” Tina tampak cemas.

“Tapi, tenang saja,” katanya lagi. “Tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan oleh Mak Ji-mu ini. Apa kau mau suamimu dibuat seperti kerbau yang dicucuk hidungnya?” Mak Ji berbesar dada guna membesarkan hati Tina. Jika si pasien menatap matanya, maka ia akan melihat padang luas hijau, dengan angin sepoi-sepoi membelai rumput-rumput.

Tina tersenyum. “Terserah, Mak Ji. Saya hanya ingin suami saya tidak selingkuh. Semakin dia lekat, semakin bagus, Mak Ji.”

“Tunggu sebentar,” Mak Ji mengurai sila dan melangkah ke kamar. Ada sekitaran sepuluh menit sebelum akhirnya dia keluar dengan sebotol plastik cairan kekuningan. Di dalamnya juga ada beberapa jenis bunga berwarna merah dan kuning, serta beberapa butir beras yang mengendap di dasar botol. Juga sepotong kunyit dan jahe.

“Minumkan air ini kepada suami kau. Jangan sampai dia tahu. Habiskan air itu. Kau mengerti?” Mak Ji menyerahkan botol itu. Tina menerimanya sambil mengangguk, paham akan apa yang dibicarakan Mak Ji. Sebelum pulang, Tina mengasurkan sejumlah uang. Mak Ji pun tidak perlu berbasa-basi menolaknya.

Dari ruang tamu, Cun hanya mendengarkan urusan Mak Ji dengan Tina. Cun tidak boleh ikut campur dalam hal itu, Mak Ji berpesan. Cun ikut saja. Dia tidak perlu repot-repot memikirkan apa yang dilakukan suaminya, selama uang jajan selalu diberikan tiap hari; hanya itu hal yang paling diimpikan Cun ketika menjadi seorang istri. Dia bahkan tidak lagi peduli, apakah obat-obat yang diberikan Mak Ji dapat menyembuhkan pasien yang datang kepadanya. Bahkan ketika dia tahu bahwa cairan yang diberikan kepada pasien itu hanyalah campuran air kencing dan air putih, Cun pura-pura acuh saja.

“Da Ji tahu apa yang dia lakukan,” kata Cun suatu kali sambil mematut-matut cincin emas yang baru saja dibelikan Da Ji. Begitulah, di belakang Da Ji yang brengsek, selalu ada Cun yang dungu.

Cun tidak segan mengguling-gulingkan badannya di teras rumah sore itu. Urat malunya telah putus ditebas kenyataan.

Dari kemarin-kemarin orang-orang sudah curiga dan mengantarkan syak itu kepada Cun. Tapi Cun bergeming. Cintanya kepada Da Ji tak akan goyah hanya karena selentingan yang tak bisa diterima akal itu. Cun berjanji, inilah cinta terakhirnya. “Da Ji tidak mungkin melakukan hal itu,” Cun membela diri. “Lagipula, Si Inga itu tak ada menarik-menariknya. Anjing saja tak niat.”

Namun ketika Cun tahu bahwa Da Ji adalah kucing jantan berhidung belang sedang menggoda Inga, Cun marah besar kepada suaminya.

“Apalagi kurangnya saya, Da Ji? Saya sudah melakukan apapun yang Da Ji mau.”

“Kau sudah tua, Cun. Sudah hambar. Tak terbit lagi seleraku melihat kau.” Da Ji bahkan tak memandang Cun ketika mengatakan itu. Cun menggagai-gagai kepada Da Ji. Ia tersujud-sujud di kaki Da Ji. “Bunuh saja saya, Da Ji. Bunuh! Kalau memang Si Inga juga yang Da Ji inginkan, biarlah saya mati.” Ancam Cun. Da Ji acuh.

Para tetangga hanya menonton dari kejauhan. Si Inga, yang tak lain adalah adik kandung Cun sedang berkemas di kamarnya, tepat di sebelah rumah Cun. Hari itu, ia begitu bahagia. Da Ji akan mengajaknya pindah ke desa lain. Mereka akan memulai hidup baru. Yang tidak ada Cun-nya.

“Kemarin, kau menyuruhku bercerai dengan suamiku. Sekarang, bagaimana rasanya jika suamimu jadi suamiku, Ni Cun.” Mata Inga berkaca-kaca. Senyumnya selebar dunia.

Dan dermaga Cun akhirnya kandas jua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: