BAKUL DAUN CINCAU

KOMPAS: Ahad, 22 Februari 2015

Oleh Parakitri T Simbolon

BAKUL DAUN CINCAU Oleh Parakitri T Simbolon (KOMPAS/ Junaidi Khab)

BAKUL DAUN CINCAU Oleh Parakitri T Simbolon (KOMPAS/ Junaidi Khab)

BAKUL daun cincau. Bakul, daun, cincau! Bakul dan daun saya tahu. Cincau juga sedikit saya tahu. Namun, bakul daun cincau dan daun cincau sama sekali saya tidak tahu.

Saya baru mengetahuinya pada suatu sore, sekitar pukul empat, ketika saya naik angkot warna biru jalur Parung-Lebakbulus di suatu tempat yang disebut ”Pojok” di tepi Jalan Cirendeu Raya, di sisi Lapangan Terbang Pondok Cabe. Rencananya saya akan turun hampir di ujung jalur angkot itu, di tempat taksi ”ngetem” persis menjelang pintu masuk tol Pondok Pinang. Dari sana saya akan meneruskan perjalanan dengan taksi.

Sudah tujuh belas tahun saya tinggal di kampung dekat lapangan terbang itu, tapi baru pada tahun kelima belas saya mulai rajin naik angkot. Penyebabnya, kemacetan Jalan Cirendeu Raya sudah tak tertahankan. Hanya angkot dan motor yang bisa menerobosnya. Pada lima tahun pertama, dengan menyetir mobil sendiri saya hanya memerlukan delapan menit melalui jalan yang panjangnya sekitar sepuluh kilometer itu. Pada lima tahun kedua sudah menjadi lima belas menit; pada lima tahun ketiga sudah tiga puluh menit. Lalu pada dua tahun terakhir sedikitnya sudah satu jam.

Sungguh makan hati rasanya saat mula-mula saya naik angkot. Sudah panas di dalam dan ”sewa”-nya padat, sopirnya juga ugal-ugalan, sedang mobil sendiri nongkrong dan karatan di garasi. Terhadap sopir yang ugal-ugalan itu, anehnya sewa bukannya protes, malah ramai-ramai mengipasi agar dia lebih berani mencuri jalur. Saya ingat dulu saya suka memepet angkot yang gila-gilaan sembari membunyikan klakson sekeras-kerasnya. Lama-lama saya pasrah saja, dan dua tahun terakhir ini saya sudah berubah sama sekali: Benar-benar berdamai dengan angkot.

Entah kenapa, perubahan diri saya terhadap naik angkot menjadi istimewa pada sore hari itu. Yang pasti alasannya bukan karena saya tahu akan ketemu dengan seorang bakul daun cincau yang menawan hati. Selama menanti angkot warna biru itu, saya merasa enteng jasmani dan rohani, seenteng sehelai bulu angsa yang melayang-layang ditiup angin seperti yang tergambar dalam film bagus tahun 1994 yang berjudul Forrest Gump itu. Setiap kali angkot warna putih berhenti untuk mengajak saya naik, saya memberi tanda menolak dengan sikap hangat bersahabat. Saya memang sengaja memilih naik angkot warna biru.

Saya sempat tersenyum buat diri sendiri saat mengenang kebodohan saya dulu dalam urusan memilih naik angkot yang mana. Semula saya boleh dibilang agak fanatik dengan angkot warna putih karena mengira lebih nyaman. Munculnya jauh lebih sering daripada warna biru, dan ”rute”-nya lebih singkat, Pamulang-Lebak Bulus. Saya pikir waktu itu, angkotnya lebih longgar, dan tentu saja karena itu lebih bersih.

Ternyata saya keliru sama sekali. Angkot putih memang muncul lebih sering, mungkin karena ”rute”-nya lebih pendek, tapi berhentinya jauh lebih banyak untuk ”ngetem”. Akibatnya, perjalanan menjadi jauh lebih lambat karena sopir terus menunggu-nunggu sewa. Tidak jarang juga sopir seenaknya saja memutar balik angkotnya. Penumpangnya diminta saja turun untuk dipindahkan ke angkot lain. Sebaliknya dengan angkot warna biru. Karena jalurnya panjang, angkot jarang kekurangan sewa sejak dari Parung sehingga sopirnya tidak perlu ”ngetem”.

Mendadak terlihat angkot warna biru yang sarat sewa melaju ke arah saya. Khawatir sopirnya tidak mau berhenti, saya sampai mengumpankan diri dengan merentangkan tangan kiri, tidak cukup dengan memberi tanda saja. Benarlah, saya hanya kebagian dingklik yang terselip di tentang tangga naik, sehingga saya harus duduk menghadap ke belakang. Saya langsung melihat dua karung plastik berisi penuh di belakang, terapit di antara lutut-lutut penumpang kanan-kiri. Dari balik kedua karung itu menyembul sebentuk kepala beruban, seputih uban saya.

Agaknya hanya saya yang menaruh perhatian pada kedua karung dan kepala yang menyembul di baliknya itu. Belum pernah saya melihat penumpang angkot membawa barang sebesar itu. Menurut saya dua karung itu makan tempat terlalu banyak. Mestinya dia naik angkutan barang, truk kek atau pick-up kek. Namun demikian tidak tampak ada yang keberatan. Semua tidak acuh. Juga tidak ada yang bicara satu sama lain. Masing-masing sibuk dengan kegiatan remeh-temeh seperti dengan telepon genggam atau sekadar termenung saja.

Terus-terang dudukan saya serba tanggung. Arah kaki saya harus serong sehingga pinggang terasa kepuntir. Boleh dikata saya meringkuk sehingga diam-diam saya berharap agar dua karung dan kepala beruban itu segera turun entah di mana. Ternyata harapan saya sia-sia saja. Sampai menjelang akhir perjalanan saya, karung dan kepala itu masih bertahan, sementara penumpang lain sudah pada turun, termasuk yang duduk di samping sopir.

Meski penumpang yang tinggal hanya kami berdua, saya tidak beranjak dari dingklik saya. Saya sengaja bersikap demikian agar bisa tetap mengamati kepala berkarung itu, dan sekaligus menunjukkan protes bisu terhadap dirinya. Eh, lambat laun dia mengangkat kepala sambil menyibakkan celah di antara kedua karungnya. Maka tampaklah seorang tua-renta yang seluruh kulitnya kisut-misut sedang mengumbar senyuman teramat manis ke arah saya.

”Maaf, terpaksa naik angkot,” katanya, seolah-olah dia tahu apa yang saya pikirkan. Suaranya terdengar bagus nyaring, bernada basso profondo, mirip suara presiden Jokowi.

”Yang terpaksa, saya atau bapak,” sahut saya dengan nada bertanya sambil menunjuk diri sendiri, lalu diri orang tua itu. Saya sadar nada suara saya jauh lebih lunak daripada sikap awal saya, tapi rupanya tetap saja terasa kereng. Tandanya, senyuman orang tua itu kembali mengembang, tapi dua kali lebih manis.

Saya merasa diri takluk, dan tanpa sadar balas tersenyum. Senyuman itu, suara itu, uban itu, dan kulit kisut-misut itu langsung melantunkan pesona kelembutan. Setelah saya perhatikan lebih jauh, giginya pun tampak masih utuh dan bersih, meski mungkin hanya bagian depan, pertanda dia bukan perokok. Yang membuatnya lebih menawan lagi adalah sosoknya yang mungil, semua bagian badan tampak serasi dalam celana pendek, kemeja lengan pendek, dan sepatu tenis, yang semuanya berwarna sudah pudar.

”Saya yang terpaksa naik angkot,” katanya sama lembutnya. ”Sopir
pick-up yang sudah janji akan membawa saya, ingkar. Minta maaf pak. Kepada sopir dan penumpang lain saya sudah lebih dulu minta maaf.”

Selama percakapan kami yang pendek itu berlangsung, sopir angkot yang juga tidak muda lagi itu mungkin sudah ada sepuluh kali menoleh ke arah kami. Dia juga tersenyum, pertanda buat saya bahwa ucapan orang tua itu benar adanya. Hati saya pun terasa lega selega angkasa, sekaligus merasa beruntung dapat ketemu seseorang yang santun di tengah lingkungan yang sudah cemar dengan akuisme dan nafsu-nafsi pribadi.

”Bapak bawa apa dalam karung itu, kalau boleh tahu,” kata saya dengan niat tulus melanjutkan percakapan.

”Barang halal bapak. Barang sangat bagus.” Jawabannya bersayap, lagi-lagi pertanda selain beradab, orang tua itu pasti sudah banyak mengenyam asam-garam kehidupan. Kalau dia pernah jadi pejabat, kemungkinan dia pejabat yang baik dan berpendidikan. Kalau swasta, sangat boleh jadi dia terpelajar, pernah sukses, dan kegagalan pun tidak kuasa membunuh wataknya.

Saya membalas senyumannya, semoga sama manisnya, lalu tidak berkata apa-apa lagi karena percaya dengan sikap dan kata-katanya. Mendadak dia terdengar menegaskan. ”Barang bagus ini daun cincau bapak. Daun cincau hijau yang tanamannya merambat, bukan perdu, bukan juga janggelan. Semoga bapak pernah suka minum cendol cincau.”

Dengan singkat dia lalu menerangkan seluk-beluk daun cincau, yang bagi saya ternyata cukup rumit. Yang membuat saya kaget bukan hanya itu, tapi terlebih keterangannya yang sungguh mati tidak pernah saya tahu, bahwa cincau yang dulu sempat saya gemari itu ternyata terbuat langsung dari dedaunan, bukan dari tepung biji-bijian.

Uh, saya yang boleh dikata telah menjelajahi kebanyakan sudut-sudut bumi ini, dan merasa sudah terpelajar hingga setinggi langit, ternyata tidak ketulungan bodohnya. Cobalah timbang. Daun cincau itu konon diambilnya dari Ciseeng, suatu kecamatan dekat Pasar Parung, Bogor, yang tak sampai lima belas kilometer jauhnya dari kampung Bulak Timur tempat saya tinggal. Selama ini saya pikir bahan cincau hanya ada di Tiongkok, dan kita mengimpornya.

Yang lebih membuka mata saya lagi adalah keterangannya menjawab sederet pertanyaan saya tentang tata-niaganya. Jawabannya jelas dan lugas. Dua karung itu masing-masing berisi 20 kilo daun cincau yang dibayarnya Rp 5.000 per kilo. Dia akan membawanya ke Pasar Mede di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, makanya dia harus turun sampai titik terakhir jalur angkot di Terminal Lebak Bulus. Dari sana dia akan mencari alat angkutan lain.

Di Pasar Mede, orang tua itu akan menjual daun cincaunya seharga Rp 20.000 sekilo. Kaget juga saya mendengar angka itu. Itu berarti dia akan mendapat keuntungan kotor sedikitnya 300%. Dia, katanya, setiap minggu ke Ciseeng, memetik sendiri daun cincau dari kebun penduduk. Dengan demikian dia akan memperoleh hampir Rp 2,5 juta keuntungan setiap bulan dari kegiatan sampingan seringan itu.

Tanpa saya kehendaki, terbayanglah jutaan orang bodoh seperti saya, sebagian besar di antaranya anak muda. Mereka kebanyakan hanya tahu menjadi buruh dengan UMP (Upah Minimum Provinsi) yang tidak lebih besar daripada pendapatan sampingan orang tua itu. Saya pun melihat keluar. Pengendara motor masih tetap menyemut sepanjang jalan. Sepertinya semuanya anak muda. Ah, betapa kecil kemungkinannya anak muda naik angkot dan ketemu dengan orang tua bakul daun cincau itu. Kalaupun ketemu, anak muda itu mungkin sama tidak acuhnya seperti penumpang lain.

Mendadak, sopir angkot memperingatkan bahwa saya sudah hampir tiba di tempat tujuan. Sekali lagi saya menatap bakul daun cincau itu dengan nanap sambil tersenyum semanis mungkin. Dia pun membalasnya dengan senyumannya yang menawan.

”Terima kasih bapak atas percakapan kita yang menyenangkan,” kata saya sambil menyalaminya. ”Kalau boleh tahu, berapa usia bapak?”

”Usia kita mungkin kira-kira sama bapak,” sahutnya dengan mata berbinar.

Terus terang saya sulit menerima dugaannya tentang usia kami yang sama, sekurang-kurangnya karena saya belum sekeriput dia. Duh, dia sepertinya menangkap protes bisu saya.

”Kita sama-sama ubanan bapak,” katanya menambahkan.

Saya pun tertawa lepas, selepas saya meloncat turun dari angkot warna biru itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: