Peradaban Tiongkok sebagai Cermin Kemajuan

Riau Pos: Ahad, 22 Februari 2015

Peradaban Tiongkok sebagai Cermin Kemajuan (Junaidi Khab)

Peradaban Tiongkok sebagai Cermin Kemajuan (Junaidi Khab)

Judul               : Filosofi-Filosofi Tiongkok Kuno Aktualisasi Pemikiran Tiongkok terhadap Dunia Modern

Penulis             : Emsan

Penerbit           : Laksana (DIVA Press)

Cetakan           : I, September 2014

Tebal               : 276 halaman

ISBN               : 978-602-255-646-6

Peresensi         : Junaidi Khab*

Kehadiran buku ini sangat inspiratif dan penuh dengan spirit untuk terus menatap hidup ke depan agar lebih maju, makmur, dan sejahtera. Selain sangat inspiratif, buku ini menjadi cambuk bagi bangsa Indonesia. Cerminan kemajuan Tiongkok bukan serta merta harus dicibir, tetapi harus menjadi kaca cermin bagi bangsa Indonesia agar memiliki spirit seperti yang dibangun oleh kemajuan bangsa Tiongkok dalam menghadapi dunia modern.

Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk saat ini sudah menggeliat dan bangun dari tidurnya. Berbagai kemajuan yang datang dari Tiongkok sudah banyak ditemui di belahan dunia internasional. Tiongkok menghadapi dunia modern bukan semakin terlelap tidur, namun ia bangkit dengan berjuta-juta mimpi yang dibangun sejak beribu-ribu tahun lamanya. Kini, Tiongkok hanya tinggal menggeliat saja, lalu ia akan melihat dunia mulai dari bisnis, pasar, politik, dan perdagangan internasional dalam pelukannya. Kemajuan demi kemajuan terus bergulir di pangkuan Tiongkok hingga saat ini.

Salah satu komitmen orang Tiongkok dalam menemui kemajuannya yaitu tidak melupakan filosofi-filosofi dan budaya warisan Tiongkok kuno. Jika bangsa Indonesia tidak mau meniru berkaca pada Tiongkok dan hanya mengutamakan egoisme berpikir yang arogan tanpa mengingat filosofi dan kultur peninggalan leluhur, maka bangsa Indonesia hanya akan menjadi bangsa yang melongo dan ternganga melihat kemajuan bangsa lain.

Dari perputaran roda kehidupan, Tiongkok tak terlepas dari pasang surut perubahan dinasti hingga menjadi negara. Dari sekian banyak dinasti yang datang hilir mudik di Tiongkok, dinasti Zhou yang memiliki peranan dan kekuatan bagi bangsanya melalui para filsufnya. Dinasti ini kerap disebut oleh sejarawan sebagai awal peradaban Tiongkok. Sebab, zaman dinasti inilah lahir sejumlah filsuf besar, yang melahirkan banyak ajaran dan hingga saat ini masih dipegang teguh. Misalkan Lao Zi, Kong Zi (di Indonesia disebut dengan Konfusius atau Konghuchu), dan lain sebagainya yang dikenal dengan sebutan berbeda di belahan dunia (hlm. 36).

Dilihat dari beragam dan luhurnya ajaran filosofi Tiongkok kuno, pastilah nilai-nilai luhur itu memberikan inspirasi dan pengaruh yang besar terhadap mental, karakter, sikap hidup, cara pandang, dan etos orang-orang Tionghoa (Tiongkok). Sesuatu yang kita lihat saat ini tentang masyarakat Tionghoa merupakan cerminan dari masa lalu mereka yang pernah ada (hlm. 130-131).

Ada yang terasa hambar dalam ulasan buku ini. Penulis seakan-akan sangat menguasai secara utuh tentang sejarah Tiongkok. Hal tersebut bisa dilihat banyak terdapat keterangan-ketengan yang seakan hanya ide dan gagasan sendiri dari penulis. Tidak banyak menyebutkan sumber pembicaraan atas penjelasan tentang Tiongkok. Keilmiahan buku ini kurang manis lantaran terlalu mengacu pada cara penyampaian yang tak menyebutkan sumber secara jelas. Penulis seakan mengutip pendapat orang lain secara utuh.

Namun hal tersebut tak menjauhkan maksud dan tujuan utama dalam ulasan buku ini tentang rahasia Tiongkok bisa menjadi negara yang mulai menggeliat maju. Ada sisi menarik yang juga menjadikan buku ini enak dibaca, yaitu penulisan yang cukup sederhana dengan bahasa yang lugas sehingga mudah untuk dipahami. Berbeda dengan buku-buku yang menyampaikan ide dan pesan melalui teori-teori, namun pembaca kebingungan untuk memahaminya.

Buku ini hadir sebagai sebuah refleksi bagi kita semua sebagai bangsa Indonesia agar tidak melupakan filosofi-filosofi dan budaya leluhur yang hakikatnya banyak digali dari kehidupan bangsa Indonesia sendiri. Sehingga bangsa Indonesia memiliki kekuatan dan pengaruh yang tiada tandingannya. Untuk menguatkan betapa berpengaruhnya filosofi nilai-nilai budaya para leluhur terdahulu, kita bisa berkaca pada Tiongkok yang tak pernah melupakan ataupun mengabaikan filosofi-filosofi warisan Tiongkok kuno. Dengan begitu, mereka seakan menemukan harta karun yang terpendam. Dengan filosofi-silosofi tersebut, Tiongkok bisa berdiri kokoh dalam menghadapi dunia yang semakin mengglobal dan persaingannya yang cukup ketat dan bebas saat ini.

* Peresensi adalah Pecinta Baca Buku Asal Sumenep, Tinggal di Surabaya.

Tulisan ini bica dibaca di: Riau Pos, Ahad, 22 Februari 2015 Peradaban Tiongkok sebagai Cermin Kamajuan oleh Junaidi Khab. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: