Pendidikan Moral Berbasis Guru

Duta Masyarakat: Senin, 23 Februari 2015

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Jika guru kencing berdiri, maka murid akan kencing berlari”. Mungkin pepatah lawas tersebut bagi masyarakat sudah tidak asing lagi. Siapa pun sudah dapat dipastikan mengetahui hakikat pepatah tersebut. Meskipun kadang sebagian orang masih memaknainya secara harfiah (tersurat) juga secara mendalam (tersirat). Bahkan, belakangan ini, pepatah tersebut sudah berkembang dan diubah sesuai selera masyarakat: “Jika guru kencing berdiri, maka murid kencing berlari, lalu masyarakat kencing terbirit-birit”.

Begitulah gambaran tentang moral kehidupan bangsa Indonesia. Secara harfiah, pepatah tersebut mengungkapkan bahwa jika seorang guru ketahuan kencing berdiri, sudah dipastikan muridnya yang tahu akan lebih parah dari perilaku gurunya, yaitu kencing berdiri. Mereka akan melakukan kencing dalam keadaan berlari. Begitu pula dengan masyarakat, akan mudah meniru cara kencing murid dari seorang guru, bahkan lebih parah lagi, yaitu kencing terbirit-birit. Pepatah ini harus menjadi renungan kembali untuk membangkitkan sebuah pendidikan moral yang segalanya bersumber dari guru.

Secara tersirat, pepatah tersebut menjadi cerminan dan pegangan bahwa seorang guru menjadi panutan bagi murid atau anak didiknya. Bahkan, masyarakat – dalam hal ini orang tua anak didik – perilakunya juga bercermin pada sosok guru. Kejanggalan beruntun dalam guru kencing berdiri, murid kencing berlari, dan masyarakat kencing terbirit-birit harus menjadi sebuah acuan bagi para pendidik (guru). Mereka harus selalu introspeksi diri agar seluruh aktivitas dan perilakunya tidak bernilai negatif – dari segi moral – yang bisa ditiru oleh para muridnya dan masyarakat pada umumnya.

Pada era Orde Baru (Orba) (1966-1998), kita mengenal pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP), yang mana materi ini mengajarkan nilai-nilai yang terkandung dalam tubuh pancasila sebagai dasar negara. Sehingga, masyarakat Indonesia pada saat itu, seutuhnya menerima landasan-filosofis Pancasila sebagai nilai-nilai luhur hidup berbangsa dan bernegara. Tapi sayangnya, seiring Orba tumbang, PMP dihapus dari mata pelajaran sekolah, sehingga tak mengherankan jika banyak aliran radikal yang menggugat landasan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) agar diubah menjadi negara berbasis Islam (Khilafah).

Di sini, guru hakikatnya ibarat PMP yang mampu memberikan nilai-nilai kehidupan dan kebangsaan bagi manusia. Pendidikan moral berbasis guru inilah yang harus diterapkan dalam lingkungan akademisi, sekolah dan perguruan tinggi. Melihat fakta yang terjadi terkait dengan pilihan hidup yang semakin bebas, moral seorang guru tidak begitu diperhatikan. Guru lebih memilih hidup bebas, tapi di sisi yang lain mewanti-wanti peserta didiknya agar berperilaku positif. Ini merupakan fenomena ganjil yang mengganjal dan tumpang tindih yang perlu direnungkan dan dijadikan bahan dasar perbaikan moral anak bangsa dengan bercermin pada guru.

Guru, Karakter, dan Moral

Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu memahami terlebih dahulu tentang makna dan hakikat ‘guru’. Guru tak lain adalah suatu hal atau pribadi yang patut digugu dan ditiru. Itu merupakan pengertian umum yang lumrah berbentuk kepanjangan dari sebuah akronim. Apa pun yang bisa digugu dan ditiru, itulah guru. Di sini kita bisa menarik benang merahnya, bahwa jika suatu hal perilaku dari seseorang tidak patut digugu dan ditiru, hal itu bukan guru yang pantas dijadikan panutan.

Seseorang yang patut digugu dan ditiru tak lain mereka yang memiliki karakter mulia, yaitu watak, tabiat, atau pembawaan yang baik. Bahkan, mereka harus memiliki moral yang mulia, yaitu batin, susila, budi-bahasa yang tinggi, orang yang kuat disiplin batinnya, atau orang yang mengutamakan perilaku yang mulia (Pius A Partanto dan M. Dahlan Al Barry, 2001:312 dan 489). Hakikatnya, seorang guru harus berperangai baik dan mulia, baik dari sisi karakter atau moralnya. Orang yang memiliki sifat-sifat demikian layak dijadikan panutan, merekalah guru bangsa yang patut digugu dan ditiru.

Sayangnya, masyarakat dan para peserta didik sudah dibutakan oleh salah kaprah, bahwa setiap guru atau orang yang mengajar layak digugu dan ditiru cara hidupnya. Meskipun kadang menirunya hanya berdasarkan emosi dan ego belaka, karena mereka senang meski yang diperbuat oleh seorang guru bernilai negatif, masih tetap ditiru. Padahal hakikatnya bukan demikian. Salah kaprah inilah yang menuntut mereka – yang terlanjur dianggap sebagai guru – agar mengubah karakter dan moralnya lebih baik dan mulia. Sehingga patut untuk digugu dan ditiru.

Seorang guru bukan hanya berperan sebagai penyampai materi pelajaran dan materi-materi pendidikan moral lainnya, tetapi mereka juga mengawali langkahnya sebelum menyampaikan berbagai materi tersebut. Hal ini sebagai penunjang keberhasilan apa yang disampaikan yang dikolaborasikan dengan perilaku hidupnya sehari-hari. Sehingga terjadi kesinambungan antara materi yang disampaikan dan pola hidup dengan karakter atau moral yang baik dan mulia. Begitu mungkin peran guru, pendidikan moral harus berangkat dari kepribadian seorang guru yang sudah bertahun-tahun lamanya dijadikan sebagai cermin dan panutan oleh masyarakat secara umum.

Memperbaiki moral atau perilaku para peserta didik dan masyarakat umum harus dimulai dari seorang guru. Guru merupakan tulang punggung pendidikan dan ilmu pengetahuan. Jika tulang punggung sudah rapuh dan keropos, sudah dapat dipastikan seluruh anggota tubuh tidak akan bisa berdiri tegak. Toh meskipun bisa tegak, rasa sakit akan terus menjalar akibat kerapuhan dan kekeroposan. Begitu peran seorang guru bagi generasi penerus bangsa dan masyarakat secara umum. Semoga!

* Penulis adalah Akademisi UIN Sunan Ampel Surabaya.

Karya ini bisa dibaca di : DUTA MASYARAKAT, Senin, 23 Februari 2015 Pendidikan Moral Berbasis Guru oleh Junaidi Khab. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: