Malala dan Pendidikan Perempuan Paksitan

KORAN MADURA: Jumat, 20 Februari 2015

I Am Malala Menentang Maut di Perbatasan Pakistan-Afganistan (Junaidi Khab)

I Am Malala Menentang Maut di Perbatasan Pakistan-Afganistan (Junaidi Khab)

Judul               : I Am Malala Menantang Maut di Perbatasan Pakistan-Afganistan

Penulis             : Malala Yousafzai dan Christina Lamb

Penerbit           : mizan

Cetakan           : I, Mei 2014

Tebal               : 383 halaman

ISBN               : 978-979-433-840-7

Peresensi         : Junaidi Khab*

“Aku tak ingin dianggap sebagai ‘anak perempuan yang ditembak oleh pasukan Taliban’, tapi ‘anak perempuan yang berjuang untuk pendidikan” (Malala Yousafzai).

Nama Malala Yousafzai pernah booming di berbagai media massa pada tahun 2012, utamanya media online yang terus menerus menyiarkan sosok Malala. Sabtu, 12 Oktober 2014 kemarin dia diberitakan sebagai penerima nobel perdamian dunia. Dia adalah gadis muda yang berani menantang maut hanya karena memperjuangkan pendidikan bagi anak perempuan di Pakistan. Berkat kegigihan dan keberaniannya menantang pasukan Taliban, dia mendapat nobel perdamaian dari PBB, dan mulai saat itu pendidikan untuk anak perempuan di Pakistan mulai dirasakan. Sungguh usaha dan perjuangan yang luar biasa yang patut kita tiru.

Kehadiran buku “I Am Malala Menantang Maut di Perbatasan Pakistasn-Afganistan” ini merupakan sebuah catatan kisah perjuangan pendidikan yang inspiratif. Dari kisah-kisah tersebut, saat kita mengetahui betapa beraninya seorang gadis muda menantang maut. Bulu-bulu kulit akan bergidik dan berdiri dengan sendirinya. Seakan-akan buku ini penuh dengan sihir yang bisa memengaruhi kekaguman perasaan dan hati setiap pembaca.

Malala terlahir dalam keadaan genting di Pakistan. Nasibnya di tengah kemelut konflik Pakistan dengan Taliban menyebabkan tak seorang pun penduduk desa mengucakan selamat kepada ayahnya – Ziauddin – selaku kepala keluarga. Meskipun di saat itu penduduk desanya bersimpati terhadap ibunya yang melahirkan. Ziauddin tak memiliki uang untuk rumah sakit atau bidan, jadi kelahiran Malala hanya dibantu oleh seorang tetangganya saja (hlm. 19).

Malala Ditembak

Hingga akhirnya Malala ditembak pada Oktober 2012 menggunakan senjata Colt. 45 oleh pasukan Taliban saat pulang dari sekolahnya bersama teman-teman lainnya. Dia tidak sadarkan diri. Terakhir yang dia ingat dan dengar bukan bunyi peluru, tapi hanya bunyi tindihan kapak memotong leher ayam yang didengar dan dilihat di pasar pinggir jalan. Dia langsung dilarikan ke rumah sakit oleh sopir bus sekolah yang ditumpanginya karena ada tanda-tanda dirinya masih hidup (hlm. 287).

Salah satu alasan Malala menjadi sasaran pasukan Taliban karena dirinya selalu aktif membela dan memperjuangkan hak pendidikan anak-anak perempuan. Itu pun bersama ayahnya sendiri. Dia menjadi teman perjuangan ayahnya untuk waktu yang lama, pertama-tama secara rahasia, dia berganti nama sebagai Gul Makai.

Kemudian setelah sekian lama menggunakan nama samaran, dia cukup terbuka sebagai Malala, dia berani menggunakan nama aslinya. Ketika namanya sudah terendus oleh pasukan Taliban karena aktivitasnya di beberapa media, berbagai aktivitas oleh ayahnya pun dibatasi, namun dia kurang menghiraukannya. Akibatnya, dia terus dibuntuti oleh pasukan Taliban hingga berakhir pada penembakannya di bus sekolah.

Kisah dan pengalaman dalam buku ini akan menjadi sebuah inspirasi perjuangan pendidikan untuk anak-anak perempuan, laki-laki, dan penduduk seluruh dunia. Karena pendidikan merupakan tonggak untuk membangun suatu bangsa dan peradaban. Kisah-kisah inspiratif Malala akan menyulut semangat dan motivasi dalam diri kita untuk terus berjuang, lebih-lebih demi pendidikan anak bangsa.

Kekerasan, pemberontakan, dan peperangan yang beralasan demi negara dan kemajuan, tak ada gunanya karena itu hanya akan merusak tatanan kehidupan umat manusia. Namun melalui pendidikan, jalan damai, keamanan, dan perdamaian bisa dijadikan ukuran keberhasilan hidup umat manusia dalam berbangsa dan bernegara, seperti yang dicontohkan oleh Malala. Selamat membaca dan menginspirasi perjuangan Malala demi pendidikan!

* Peresensi adalah Pecinta Baca Buku Asal Sumenep, Tinggal di Surabaya.

Bisa dibaca di: KORAN MADURA, Jumat, 20 Februari 2015 Malala dan Pendidikan Perempuan Pakistan. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

2 Responses to Malala dan Pendidikan Perempuan Paksitan

  1. khurun says:

    kelihatannya bukunya bagus

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: