Elegi Cinta di Musim Kemarau

Bangka Pos: Minggu, 02 November 2014

Oleh: Junaidi Khab*

Image-Bangka Pos, Minggu 02 November 2014 Eligi Cinta di Musim Kemarau Oleh Junaidi Khab

Image-Bangka Pos, Minggu 02 November 2014 Eligi Cinta di Musim Kemarau Oleh Junaidi Khab

Suara burung-burung di reranting pohon pada pagi hari itu membawa suasana lebih sejuk nan indah. Bagaikan berada di taman surga Firdaus meski tak pernah melihat dan mengunjunginya. Lambaian-lambaian daun pepohonan memberi isyarat bahwa ia tidak sendirian. Terpaan angin di daun-daun itu menjadi teman sesandingan dalam tiap langkah yang aku tapakkan di atas bebatuan tempat aku mengadu perasaan pada alam. Kehidupan di atas bebatuan itu tidak memberi secercah harapan meski terasa bahagia hidup dalam lantunan dan syair-syair para pujangga cinta di lembah kegersangan.

Sebongkah batu yang terpaku, merenungi nasib dirinya yang tak ada kata dari suara hatinya. Kian hari kian menghitam oleh terpaan sinar sang surya. Namun tak ada kata hina bagi dirinya. Bagiku ia teman yang setia dalam menunggui terbenamnya sang surya di kala sore hari atau di kala pagi hari. Kini mungkin hidupku juga bernasib sama dengan batu itu. Terdiam membisu tak ada kata yang dilontarkan lantaran hati bimbang perasaan gundah gulana dirundung nestapa oleh kisah cinta yang kujalani. Aku telah lama berbagi dengan batu hitam pekat itu.

Di musim kemarau itu aku tak memiliki gairah hidup lagi dalam mengarungi bahterah di dunia ini. Segalanya sirna. Segalanya binasa. Bukan hanya tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan yang menghembuskan nafasnya pada musim itu. Kisahku mungkin terlalu prematur kejadiannya. Tak mungkin mampu menghadapi elegiku yang masih terus bermuara dalam lubuk hati ini.

Sosok gadis cantik dan manis kini harus lenyap dari pelukanku. Aku tak mampu memeluknya. Aku lemah dibanding kekuatan Tuhan. Tak ada rinai-rinai yang memberikan harapan dalam setiap lamunanku. Istri tercintaku ikut terbang bersama Israil. Tiba-tiba lamunanku dihembus suara molek di belakangku.

“Yah, kenapa sendirian?”.

Aku langsung menoleh melihat pada datangnya suara molek tadi. Tak ada angin, tak ada suara burung. Suara itu jelas di telingaku mengingatkanku pada sosok Safirah istriku yang telah diskusi dengan Israil.

“Eh, Rita, ada apa nak?”.

“Lapar yah…”.

Suasana girang dalam hatiku redup seketika di saat Rita mengeluh lapar. Bahan persediaan di rumah sudah tinggal beberapa kantong beras saja. Cukup untuk dua bulan jika makan dalam sehari hanya dua kali dengan sepiring nasi. Dadaku kuusap. Air mataku menetes. Cepat-cepat aku mengkedipkan terus agar Rita tak tahu apa yang sedang terjdi pada diriku sebagai sosok ayah yang tak memiliki pekerjaan apapun. Apalagi di musim kemarau saat ini.

Kugendong Rita dibawa pulang ketika matahari sudah mulai menguning. Kata-kata indah selalu kulontarkan. Itu sebagai ganti sesuap nasi yang biasa ia lahap tiap hari. Raut mukanya tampak ceria ketika aku memberikan rumor yang menggelikan hatinya. Namun kala itu senda gurauku tak mempan lagi. Mungkin rasa laparnya sudah melilit perutnya. Rita terus mengeluh kelaparan setelah terjaga di malam hari.

Dengan mata masih panas lantaran baru saja terpejam, aku dengan tubuh bergoyang mendekati periuk yang berisi nasi. Tinggal setengah piring dengan lauk daun ketela dan garam putih. Sepiring nasi itu pun kubawa ke hadapan Rita. Dengan lahap ia langsung menghabisinya. Ia terlelap setelah melahap sepiring nasi.

Malam itu aku tak sempat memejamkan mata lagi. Perasaanku berbicara dengan heningnya malam musim kemarau yang begitu membekukan kulit dan rongga tenggorokan. Bersamaan dengan angin yang berlalu di depan rumahku, terdengar ketokan pintu dari luar rumah. Perlahan aku mendekati gagang pintu rumah. Kubuka dengan kehati-hatian dan memastikan siapa yang datang malam-malam seperti ini.

Angin sudah terlelap tidur berdekapan dengan bintang-bintang. Tak ada seorang pun setelah pintu kubuka. Tak jauh dari halaman rumah, aku melihat sosok tubuh berambut terurai panjang. Hanya tampak bayangan hitam dalam pekatnya malam. Dengan perasaan gamang aku menghampirinya.

“Siapa?”.

“Oh, mas Alfin”.

“Iya, ini siapa”.

“Saya mas, Lameda”.

Mendengar jawaban itu aku langsung mendekat dan bicara atas kedatangannya malam-malam seperti itu di luar teras rumah. Lameda sebenarnya ingin melampiaskan nafsu birahinya dengan diriku. Namun ketika ia mulai bicara yang aneh-aneh aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Hingga larut malam perbincangan dengan Lameda masih mengasap di atas dinginnya malam di bawah sinar-sinar bintang yang memberikan sejuta keindahan bak suami sitri yang sedang berbagi.

Tak lama setelah terlalu larut malam aku pun pamit masuk rumah, mengarungi dinginnya malam. Lameda pun mengiyakan pamitanku dengan sedikit sinis karena keinginannya tak bisa kupenuhi. Aku dan dirinya sama-sama dirundung nestapa. Suaminya selingkuh dengan perempuan kaya di lain desa. Sementara diriku ditinggal istri yang setia padaku dan Tuhanku.

Aku pun mulai menyelimutkan kain ke sekujur tubuhku. Angin yang bersahutan di daun-daun pepohonan di luar rumah menidurkanku dalam dinginnya malam. Rita begitu nyenyak di sebelahku mengarungi dunia mimpinya. Sejenak aku melupakan sosok Safirah yang terus membayangi hidupku.

***

Rembulan musim kemarau baru bangkit dari peraduannya. Lampu lilin dinyalakan oleh Rita di dapur dan rumahku. Lantunan ayat suci dari bilik kamar Rita terdengar begitu merdu. Bintang bersahutan dan mengamini tiap ayat-ayat yang dibaca oleh Rita. Aku menapakkan kaki ke kamarku sendiri. Merebahkan tubuh terasa capek memikirkan sosok Safirah yang begitu setia padaku selama hidupnya.

Bersamaan dengan angin berlalu-lalang tiba-tiba jendela terbuka. Aku hanya melihat jendela yang terbuka lebar itu. Perlahan muncul gerakan bayangan hitam. Dari bentuknya seperti gadis setengah baya. Rasa kaget pun menyelimuti pikiranku. Selimut yang semula di kaki kutarik sampai menutupi wajah. Dalam pikiranku yang datang itu bayangan Safirah yang selalu berada dalam hati dan pikiranku.

Selimut kubuka, tapi bayangan hitam itu mendekatiku. Kumenyalakan lilin yang memang kuhemat. Sinar lilin menyinari ruangan kamarku. Kini terlihat jelas wajah cantik rambut hitam pirang di hadapanku. Lameda datang diam-diam ke kamarku. Entah apa maksudnya. Dalam benakku ia ingin melampiaskan birahinya padaku. Memang benar, setelah makin lama ia memelukku. Aku bingung harus berbuat apa. Jika aku bentak ia akan marah dan kecewa lalu keluar dengan kasar kemudian dilihat tetangga. Malam itu pun aku dengan dirinya menjalin asmara tanpa sepengetahuan Rita di kamar sebelah yang sudah lelap setelah membaca ayat al-Qur’an.

***

Rasa sesal bertambah dalam hidupku. Aku telah berbuat dosa atas ketidaksanggupanku menahan derita ini. Bimbang terus menjadi-jadi dalam kehidupanku. Setidaknya rasa bersalahku akan sirna dengan menikahi Lameda janda muda itu. Setelah beberapa bulan aku merenung, akhirnya aku harus melamar Lameda dengan mahar yang tidak begitu isitimewa.

Namun setelah keluarga baruku terbangun, harapanku jauh dari kehendak Tuhan. Lameda yang dulu penyayang terhadap Rita, lambat laun ia mulai sinis dengan keberadaan Rita dalam keluargaku. Tanpa sepengetahuanku Rita sering dimarahi dan kadang dijewer. Itu aku tahu dari tetangga sebelah yang melihat perlakuan Lameda pada Rita ketika aku berangkat kerja untuk menghidupi mereka berdua.

***

Angin musim kemarau di depan rumah berseleweran. Matahari sudah mulai menguning. Ayam dan anak-anaknya ramai mengajak tidur mengarungi ratu kedinginan. Aku pun menaruh pakain lusuh yang kukenakan kerja serabutan milik tetangga. Sejenak aku rebah di lantai depan rumah. Suasana rumah sangat sepi. Pintu tertutup rapat. Lampu-lampu belum dinyalakan.

Aku mencoba menghangatkan suasana. Aku bangkit menuju gagang pintu yang tak menyapaku sejak tadi. Pintu kuketok lalu aku masuk rumah. Tak ada suara angin. Rumahku berantakan. Kaca hancur. Seakan isi dalam dadaku akan keluar bagai lava gunung merapi. Pikiran kacau. Perasaan was-was diliputi oleh puing-puing beling yang berserakan di lantai.

Segera aku menuju kamar Rita. Pintunya ditutup tidak begitu rapi. Aku langsung menerobos celah kecil pintu itu. Aku tidak dapat bergerak setelah melihat tubuh Mungil Rita bergantung bak kelelawar terjebak perangkap. Rambutnya teracak-acak. Tak ada meja atau kursi yang terlihat sebagai penopang kakinya. Istri tercintaku telah lapuk dimakan rayap. Kini anakku harus menelan tali-temali di sela-sela lehernya.

Aku keluar rumah mencari Lameda. Jalan satu kilo meter kutempuh bagaikan kilat yang melesat ke rumah Lameda. Suasana gelap lantaran sang surya sudah tertidur setelah mendengar lantunan nama-nama Tuhan di masjid. Ternyata Lameda sudah menutup pintu. Dengan muka merah. Nafas naik turun. Aku langsung menendang pintu rumahnya. Keadaan masih terasa sepi. Kamar khusus Lameda langsung kutatap dengan mata memerah. Ia hanya terdiam dengan muka memutih bak kapur di dinding. Ia bangkit dengan selimut kusam.

Satu langkah ia menapakkan kakinya tanganku terbang memenuhi pelipisnya. Tak ada suara tangisan. Air matanya mengucur. Hidungnya berdarah. Keringat-keringat di tubuhku mencoba melepas amarahku. Namun sekian dicoba menenangkan jiwaku, darah makin deras mengalir ke seluruh sel otot di tubuh.

Tanpa pikir panjang aku menarik tubuh Lameda membentur kayu runcing bekas ranjang yang rusak di sebelah tempat tidurnya. Tubuh terpasung dengan darah mengalir dari perutnya. Perlahan ia menyerahkan nafas terakhirnya padaku. Musnah sudah cintaku. Istriku, anakku, dan Lameda hanyut dalam kegersangan karena takut tidak makan dalam keluargaku hingga menggantung anakku satu-satunya yang kucintai.

Kini aku harus pasrah pada mertuaku dan masyarakat demi cintaku di musim kemarau ini yang terkoyak oleh kegersangan dan ketakutan lapar oleh istri keduaku. Korban cintaku, anakku sendiri. Kini semua sudah lapuk dimakan liarnya kemarau yang harus meneteskan darah.

Malam-malam di saat bintang mulai sahut menyahut dan sapa menyapa dengan kedip-kedip mesra. Masyarakat dan mertuaku mengarakku menuju jeruji besi. Aku meninggalkan cinta kematianku yang tergantung dan terpasung di dalam gubuk. Cintaku harus damai bersama gersangnya tanah. Daun-daun kering di halaman rumah menjadi saksi cintaku yang berakhir duka ini. Terpaan kemelut jiwa yang harus menjadi mahal dalam perjalanan bahteraku.

Surabaya, 12 April 2013

* Cerpenis Tinggal di Surabaya dan Bergiat di Komunitas Sastra UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tulisan/ karya ini bisa dibaca di: Bangka Pos, Minggu 02 November 2014 Eligi Cinta di Musim Kemarau Oleh Junaidi Khab. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: