Menyibak Legenda Keberadaan Atlantis

Seven Wonders (Junaidi Khab)

Seven Wonders (Junaidi Khab)

Judul               : Seven Wonders

Penulis             : Peter Lerangis

Penerbit           : Metamind (PT Tiga Serangkai)

Cetakan           : I, Agustus 2014

Tebal               : x, 414 hlm: 20 cm

ISBN               : 978-602-257-329-6

Peresensi         : Junaidi Khab*

Kadang membaca sebuah karya (novel atau cerita fiktif) seakan-akan kita membaca diri sendiri. Hal tersebut karena penulis mampu menjiwai ide dan daya imajinasinya yang seakan-akan orang lain dan juga dirinya sendiri yang menjadi tokoh utama dalam karyanya. Namun, membaca novel “Seven Wonders Kebangkitan Kolosus” ini, penulis tidak mengajak untuk membaca diri pembaca. Tapi seakan-akan kita diajak untuk mengembara ke dunia penuh kejahatan dan kebuasan makhluk aneh.

Bukan suatu hal yang tak mungkin ketika membaca suatu karya kita tak merasakan keadaan menakutkan atau mencekam. Seluruh kisah yang disuguhkan dalam novel ini akan membangunkan bulu kuduk. Rasa ngeri dan meringis dengan peristiwa-peristiwa menjijikkan serta seram mungkin akan memengaruhi pikiran untuk berhenti membaca, tapi rasa penasaran akan terus merambat agar kita menapaki kata dan kalimat berikutnya. Dengan kata lain, novel ini mampu menyajikan kisah menakutkan yang memaksa pembaca untuk masuk bagian di dalamnya, yaitu menjadi seorang detektif.

Seven Wonders Kebangkitan Kolosus (Junaidi Khab)

Seven Wonders Kebangkitan Kolosus (Junaidi Khab)

Perjalanan kisah ini dimulai oleh kehidupan seorang tokoh utama bernama Jack McKinley, masih remaja biasa yang masih menempuh pendidikan. Jack ini merupakan seorang anak yang memiliki kemampuan super, melebihi kekuatan manusia pada umumnya. Hal tersebut tampak dari tanda (lamda) bagian tengkuknya yang menyerupai huruf V terbalik (hlm. 20). Dia seakan dibawa ke alam mimpi, tapi akhirnya menyadari dia berada di Institut Karai, diculik oleh seorang Profesor, Prof. Bhegad.

Di Institut Karai tempat (laboratorium) Prof. Bhegad, Jack sebenarnya bukan hanya satu-satunya orang yang memiliki lamda tersebut. Di sana ada tiga orang lainnya yang memiliki tanda sama, Aly, Marco, dan Cass. Pada awalnya, Jack tak memercayai takdir yang melekat pada dirinya sebagai orang terpilih untuk memasuki dan menemukan daerah Atlantis yang menjadi legendaris dalam sejarah perjalanan dunia.

Dalam situsnya, Aneh Didunia (2014:1) menyebtukan bahwa mitos tentang peradaban Atlantis pertama kali dicetuskan oleh seorang filsuf Yunani kuno, yaitu Plato (427-347 SM). Diceritakan bahwa di hadapan selat Mainstay Haigelisi, ada pulau yang sangat besar, dari sana kita dapat pergi ke pulau lainnya. Di depan pulau-pulau itu seluruhnya adalah berupa daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena. Namun di luar dugaan, Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.

Atlantis dan Kolosus

Memercayai keberadaan Atlantis seakan-akan memerlukan keimanan yang sangat kuat. Seperti kita memercayai adanya Tuhan Semesta Alam yang tak bisa dilihat dengan mata, tak bisa dijangkau oleh pikiran, dan tak bisa diraba dengan tubuh atau hati. Di sini keimanan atas keberadaan benua Atlantis akan mendapat sebuah amunisi penjiwaan, bahwa Atlantis bukan sekadar dongeng, tapi juga kuasa Tuhan atas kebesarannya menciptakan dunia, lalu melenyapkannya. Kemudian, Jack dan kawan-kawannya menemukan sesuatu yang dianggap dongeng menjadi nyata, Atlantis ada, dengan menemukan Kolosus dan Lokolus sebagai bukti legenda negara tersebut.

Empat tokoh dalam novel ini awal mula akan menjalani proses penyelamatan dari kematian oleh Prof. Bhegad di Institut Karai. Ketika mereka sudah mencapai tingkat keseimbangan untuk menguasai kekuatannya sendiri, akan ada kekuatan yang tak terbayangkan oleh akal sehat manusia. Namun, mereka berusaha kabur, meski beberapa kali tertangkap kembali karena di antara mereka dipasang alat pendeteksi di balik kulit masing-masing dengan operasi ringan.

Salah satu penyebab inisiatif kabur dari Institut Karai, karena mereka menduga Prof. Bhegad sebagai orang gila, alias penipu. Secara tak diduga mereka dihadapkan dengan tugasnya sendiri tanpa diminta oleh Prof. Bhegad. Cass tertangkap oleh Griffin, makhluk serupa burung berbadan singa (hlm. 331). Mereka berusaha mencarinya. Di tengah perjalanan pencarian Cass, di luar dugaan, mereka telah memasuki Atlantis yang menjadi legenda tenggelamnya negara besar dan super maju pada masanya.

Jack berhasil mendapatkan Lokolus, semacam bola yang memiliki kekuatan ajaib. Jack yang memegangnya bisa terbang sesuai kendali pikirannya. Lalu Griffin bisa ditaklukkan oleh mereka berempat dalam perjalanan keluar dari benua yang diyakini sebagai Atlantis. Mereka berempat mendapat julukan masing-masing (hlm. 409). Marco adalah tentara yang paling tangguh dan berani. Cass adalah pelaut yang dapat melakukan navigasi di dalam kabut tebal. Aly adalah pematri yang dapat memahami bagaimana sesuatu bekerja dan memperbaikinya. Dan Jack adalah penjahit yang menyatukan semuanya.

Kehadiran novel detektif ini merupakan sebuah upaya menyibak legenda pulau Atlantis yang tertelan banjir dan gempa bumi. Sebagaimana diyakini, Atlantis benar-benar ada jauh sebelum Plato hidup pada masanya. Temukan tabir penyingkap misteri dan legenda Atlantis melalui penemuan Kolosus dan Lokolus dalam novel ini! Selamat mengarungi dunia detektif!

* Peresensi adalah Pecinta Baca Buku Tinggal di Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: