Menghormati Eksistensi Kaum Perempuan

Harian Analisa: Rabu, 11 Februari 2015

Awan Theklek Mbengi Lemek Tentang Perempuan dan Pengasuhan Anak (Junaidi Khab)

Awan Theklek Mbengi Lemek Tentang Perempuan dan Pengasuhan Anak (Junaidi Khab)

Judul               : Awan Theklek Mbengi Lemek Tentang Perempuan dan Pengasuhan Anak

Penulis             : Hersri Setiawan

Penerbit           : Gading Publishing

Terbitan           : 2014

Tebal               : 108 hlm

ISBN               : 978-979-24-0480-7

Peresensi         : Junaidi Khab*

Membicarakan perihal perempuan seakan tak ada ujung pangkalnya dalam kehidupan ini. Perempuan menjadi buah kata dan kalimat yang tetap gurih dan renyah dalam tiap persimpangan zaman dan waktu. Peristiwa perempuan menyeruak ke permukan karena alasan tertentu yaitu – akibat adanya suatu kaidah yang dianggap tidak adil bagi perempuan. Sehingga polemik tentang perempuan sering menjadi buah bibir masyarakat, forum organisasi, lembaga, instansi, pendidikan, bahkan dalam sastra pun perempuan menjadi makanan yang terus gurih dan renyah.

Namun, meski perempuan menjadi suatu polemik yang begitu menyeruak di belahan bumi ini, kenyataan bahwa perempuan sering dipinggirkan oleh masyarakat – khususnya oleh kaum lelaki – yang seakan menjadi penguasa kehidupan ini. Dan tak ayal jika dahulu Kartini dengan gerakan pemikirannya selalu menolak adat yang selalu menganggap rendah kaum perempuan. Begitu pula perempuan yang dibahas oleh Hersri Setiawan tak jauh dari pandangan Kartini – yaitu tentang kewajiban dan kesamaan hak perempuan – dalam kehidupan bermasyarakat.

Melalui kehadiran buku ini, Hersri Setiawan mencoba untuk memberikan pengalamannya mengenai perempuan yang selalu termarjinalkan pada kancah kebebasan serta dalam pusaran hak dan kewajiban yang semestinya didapat. Awan Theklek, Mbengi Lemek merupakan sebuah representasi dari perwujudan perempuan yang selalu dianggap sebagai alas kaki di siang hari, dan alas tidur (selimut) di waktu malam.

Begitulah gambaran perempuan sepanjang zaman sehingga bermnculan berbagai macam gerakan keperempuanan – emansipasi wanita – sebagai tonggak utama dalam memperjuangkan kelayakan perempuan untuk maju ke depan publik. Seperti dikutip buku ini dari redaksi jurnal Prisma, edisi Juli 1981. Menurut Hersri Setiawan, membicarakan tentang emansipasi sosio-kultur wanita bukanlah untuk mempertentangkan dengan hak kaum laki-laki, tetapi untuk bersama kaum lelaki memperbaiki sistem dan hubungan kemasyarakatan, cara serta pembagian produksi.

Sri dengan lugas meyatakan bahwa kaum perempuan sebenarnya merupakan tenaga produktif utama masyarakat tempo dulu, bahkan hingga saat ini. Di jaman dahulu – orang nomadik – karena memburu sumber pangan yang berlarian dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Sekarang sesudah kaum perempuan pandai bercocok tanam, mereka diikat oleh sumber pangan yang tidak berkisar bahkan satu jengkal pun! Maka perempuan inilah juga, bukan laki-laki, yang menjadi arsitek pertama pembikin gubuk untuk berteduh dari hujan dan terik matahari yang menimpa diri dan anak-anaknya sambil menunggu saat ketika tanamannya telah memberikan buah (Hal. 14).

Sebenarnya jika kita lihat dan runut kesejarahan kehidupan perempuan dari dahulu hingga sekarang, perempuan memiliki andil cukup banyak dan peran besar bagi keberlangsungan hidup ini. Sangat mudah sekali kaum perempuan untuk menghancurkan dunia ini. Untung saja ada banyak perempuan yang tak sebejat itu sehingga kehidupan ini berjalan imbang. Namun, tiada guna jika perempuan menjadi sumber kehancuran. Tetapi, meski perempuan memiliki andil dan peran besar kedudukannya tidak bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah oleh kaum lelaki.

Selain itu, yang menjadi kegalauan pemikiran Sri tentang emansipasi wanita yaitu adat yang menjadi biang keladi dari ketimpangan antara hak dan kewajiban seorang perempuan. Kungkungan adat lah yang menjadi pengikat perempuan hanya sebagai alas kaki di siang hari, dan alas tidur di waktu malam. Perempuan dengan pedoman adat demikian tidak akan mendapat haknya, tapi dia akan dikekang oleh kewajiban belaka.

Hersri Setiawan (2012:94) menyatakan bahwa adat juga menanamkan semangat “semua untuk semua” dan “satu untuk semua”, di sini sila kelima Pancasila menemukan akarnya. Bahwa dalam melaksanakan prinsip itu anjing termasuk diperhitungkan, tentu ini bukan suatu ekstremitas. Sebab mereka tidak melihat “siapakah dia”, tapi “fungsionalkah dia” bagi masyarakat. Bukan “siapa”-nya, tapi “apa” lalu “bagaimana”-nya. Intan tetap intan walau keluar dari mulut anjing, kata pepatah. Ini memang sikap mental Indonesia. Sementara itu seorang anak, walaupun namanya anak manusia, selama dia belum bisa berfungsi, maka dia pun belum mendapat porsi.

Begitu kuatnya suatu adat untuk mengekang kehidupan ini. Padahal adat itu dibuat oleh manusia agar tidak menyengsarakan. Tapi kenyataannya, banyak adat yang mengekang kehidupan. Diyakini atau tidak, adat merupakan bentuk aturan guna membentuk keadilan dalam lingkungan masyarakat. Namun, ketika lewat masanya, adat yang digunakan sebagai acuan kenyamanan lingkungan tidak akan digunakan lagi sesuai dengan tuntutan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan. Sehingga adat yang demikian harus dibuang dan dimusnahkan lalu disesuaikan dengan norma keadilan yang benar-benar memberikan hak yang setara antarsesama manusia, baik laki-laki ataupun perempuan yang menjadi objek kejahatan para lelaki dan adat.

Artikel dalam buku ini tak lain merupakan sebuah sanggahan atas tuduhan bahwa perempuan hanya memiliki hak hidup di dapur, sumur, dan kasur. Hina memang jika melihat perempuan dari sisi adat yang mengekangnya. Namun kehinaan tersebut akan dicoba untuk ditemukan titik mulianya atas tuduhan bahwa perempuan hanya sebatas sehelai alas yaitu siang sebagai alas kaki, dan malam sebagai alas tidur belaka.

* Peresensi adalah Pecinta baca buku, berdomisil di Surabaya.

Tulisan ini bisa dibaca lebih lanjut di: Harian Analisa, Rabu, 11 Februari 2015 Menghormati Eksistensi Kaum Perempuan Oleh Junaidi Khab (PDF), atau Harian Umum Analisa Medan (web), atau Gading Publishing (web). Semoga memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: