Riwayat Kepahlawanan Laskar Sancaka

Tribun Jogja: Minggu Legi, 01 Februari 2015

Panji Wirapati Pralaya di Tanah Jawa (Junaidi Khab)

Panji Wirapati Pralaya di Tanah Jawa (Junaidi Khab)

Judul               : Panji Wirapati Pralaya di Tanah Jawa

Penulis             : Nugroho Widjajanto

Penerbit           : PT Tiga Serangkai

Cetakan           : I, Maret 2014

Tebal               : vi, 770 hlm.; 21 cm

ISBN               : 978-602-9251-23-4

Peresensi         : Junaidi Khab*

Bangsa asing yang datang ke Hindia Belanda (Indonesia) pada awal mula dengan tujuan untuk berdagang. Hal tersebut ditunjukkan dengan kedatangan Bangsa Arab untuk berdagang yang datang pada pertengahan abad XIII. Bangsa Spanyol pada abad XV, kemudian Bangsa Portugis. Pada akhir abad XVI, baru Belanda melakukan pelayaran ke nusantara (Indonesia) yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Hal tersebut karena Belanda tidak mendapat bahan rempah-rempah dari Portugis

Seperti yang diungkap oleh Ajisaka Lingga Bagaskara (2014) bahwa pada mulanya, pedagang-pedagang Belanda yang berpusat di Rotterdam membeli rempah-rempah dari Lisabon (Lisboa), Portugis. Ketika itu, Belanda masih dalam penjajahan Spanyol. Kemudian terjadilah Perang 80 Tahun, yaitu perang kemerdekaan Belanda terhadap Spanyol. Perang tersebut berhasil melepaskan Belanda dari kekuasaan Spanyol dan menjadikan William van Orange sebagai pahlawan kemerdekaan Belanda.

Pada tahun 1580, Raja Phillip dari Spanyol naik tahta. Beliau berhasil mempersatukan Spanyol dan Portugis. Akibatnya, Belanda tidak dapat lagi mengambil rempah-rempah dari Lisabon yang sedang dikuasai Spanyol. Hal itulah yang mendorong Belanda mulai mengadakan penjelajahan samudera untuk mendapatkan daerah-daerah asal rempah-rempah. Hingga sampai di nusantara, dan berlangsung pada kurun tiga setengah abad lamanya.

Kehadiran buku fiksi sejarah dengan judul Panji Wirapati Pralaya di Tanah Jawa ini merupakan sebuah cerminan sosial masyarakat Hindia Belanda pada masa penjajahan Belanda, abad XVIII. Dari sejarah fiksi ini kita bisa menemukan celah penyebab Hindia Belanda bisa dijajah oleh bangsa asing. Salah satunya adalah karena keserakahan Belanda dan penguasa pribumi sendiri yang bekerja sama dengan bangsa asing tersebut. Sehingga dengan kerja sama itu, mereka menggunakan otoritas untuk mengeruk kekayaan dan memeras rakyat, utamanya yang menjadi pusat pemerintahan yaitu pulau Jawa di Batavia (Jakarta) dan beberapa daerah lainnya.

Akhirnya pada abad XVIII pecah perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Tepatnya yaitu pada tahun 1825 hingga 1830. Akibat perang Jawa ini, Belanda mengalami kerugian besar. Hingga dengan inisiatif kuatnya, pemerintahan Belanda di Jawa melakukan usaha dengan kebijakan cultuursteelsel (tanam paksa). Atas kebijakan ini, penduduk pribumi mengalami pemerasan, kemiskinan, dan kelaparan akibat lahan pertaniannya ditanami tebu, kopi, dan tarum. Lebih parah lagi setelah pejuang-pejuang Pangeran Diponegoro takluk di bawah kaki Belanda akibat Pangeran Diponegoro tertangkap dan dibuang ke Manado, lalu ke Makassar.

Laskar Sancaka

Bukan serta merta pemerintahan Belanda di Jawa bisa leluasa berkuasa pasca Pangeran Diponegoro tertangkap pada 23 Maret 1830. Namun, pemerintahan Belanda yang rakus dan kejam mengalami hambatan dan ancaman dari para pejuang tanah air. Hal tersebut terbukti dengan berdirinya Laskar Sancaka yang dipimpin Kiai Sancaka sendiri dan diikuti oleh anaknya, Panji yang masih berumur delapan tahun hingga beranjak umur belasan.

Sayangnya, Laskar Sancaka tak bertahan begitu lama. Ia berhasil ditaklukkan oleh Belanda dengan cara licik. Pasukan Laskar Sancaka takluk setalah Kiai Sancaka terbunuh dengan cara dikepung dan dikeroyok pada malam hari. Namun, pada saat itu, anak Kiai Sancaka selamat dari kematian. Ia ditolong oleh Papilaya, serdadu Belanda dari Saparua, Sulawesi (hlm. 36).

Novel fiksi sejarah ini merupakan sebuah kisah lanjutan dari perjuangan Pangeran Diponegoro untuk melawan dan mengusir penjajah Belanda di nusantara. Berkat kelihaian dan pengalamannya ketika bergerilya dengan Kiai Sancaka – ayahnya sendiri, Panji Wirapati memiliki ilmu beladiri yang tak pernah dipelajari orang manapun. Ilmu kanuragannya murni dari alam dan pengalaman hidupnya yang sering makan asam garam di tengah hutan saat mendampingi ayahnya bergerilya.

Panji menjadi pendekar pilih tanding yang hebat setelah bertemu dengan Cong Tee Sin atau Babah Tesin pendekar berkebangsaan China yang menyamar menjadi tukang lontong keliling. Dia seorang tabib dan memiliki kekuatan tangguh untuk melawan antek-antek pemerintah Belanda (hlm. 178). Begitupula saat pulang ke Godongklaras, rumah kakeknya. Kesaktiannya makin hebat. Dia menjadi pendekar sakti mandraguna (hlm. 272).

Tak ada penjahat, penarik pajak, dan tentara Belanda yang mampu mengalahkan Panji Wirapati meski diserang menggunakan tembak sekalipun. Pernah suatu ketika Panji melawan tentara Belanda berjumlah 11 orang, semuanya tewas tanpa sisa. Kemudian setelah itu, dia bersama Papilaya menghadapi 30 tentara Belanda dengan senjata lengkap. Mereka semua tewas di tangan Panji dan Papilaya dengan kepala terpisah dan tubuh bergelimpangan darah.

Sungguh menarik dalam pengusiran kolonial Belanda yang dilakukan oleh Panji Wirapati berkat kesaktiannya. Daia seorang pahlawan rakyat Indonesia yang berani menyerang musuh seprang diri. Sebagai generasi Laskar Sancaka yang bersatu dengan pasukan Pangeran Diponegoro, dia mampu menjadikan pemerintah Belanda ciut dan serba takut untuk semena-semena. Sayangnya, kisah ini ditulis seakan tanpa disunting lagi, hal tersebut tampak dari pemilihan diksi sedikit terganjal dan kurang tepat. Meskipun terkesan demikian, buku ini mampu menjadi cermin kehidupan tempo dulu pada masa penjajahan Belanda. Di dalamnya diceritakan tentang cultuurstelsel dan akibat-akibatnya bagi lingkungan sosial dan penduduk pribumi. Dan kepahlawanan Panji Wirapati dalam buku ini patut kita tiru. Semoga!

* Peresensi adalah Pecinta Baca Buku Tinggal di Surabaya.

Tulisan ini bisa dibaca lebih lanjut di: Tribun Jogja, Minggu Legi 01 Februari 2015 Riawayat Kepahlawanan Laskar Sancaka Oleh Junaidi Khab. Semoga memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: