CERITANYA

KOMPAS: Ahad, 08 Februari 2014

Oleh: Norman Erikson Pasaribu

CERITANYA Oleh Norman Erikson Pasaribu (KOMPAS/ Junaidi Khab)

CERITANYA Oleh Norman Erikson Pasaribu (KOMPAS/ Junaidi Khab)

Suatu subuh ia tiba-tiba merasa ia hanyalah seorang Homo Fictus*, dan kehidupan yang ia jalani adalah ceritanya.

Sepanjang siang gadis itu mencoba tetap mengerjakan tugasnya seperti biasa, ia tetap menjerang air panas, tetap membobotkan bubuk kopi dengan timbangan, memasukkan biji-biji kopi ke dalam mesin penggiling, mengucapkan terima kasih kepada pelanggan yang meninggalkan kedai, meskipun di dalam dirinya ada adonan tepung dengan soda kue terlalu banyak: adonan itu mengembang dan mengembang dan mengembang, membuat dadanya sesak.

Menjelang sore—sekitar pukul dua—ketika kedai kopi tempat ia bekerja tak terlalu ramai, ia masuk ke kamar mandi pegawai dan menatap bayangan dirinya sendiri di cermin. Ini adalah daging betulan, pikirnya; protein, air, bilayer-bilayer lipid sungguhan; tetapi ini sebetulnya hanyalah kata-kata, meskipun pada awal mula sedikit banyak adalah memang protein dan lipid, yaitu ketika mereka semua masih berbentuk jutaan neuron di kepala seseorang.

Ia mengambil kartu nama pegawai yang tersemat di dadanya, dan mencopot peniti yang melekat di sana. Ia menusukkan ujung jarum peniti ke ujung jarinya. Sesuatu yang berwarna hitam keluar perlahan. Ia mencium aroma cairan itu, dan mencicipinya. Itu sesuatu yang tak pernah ia kenal. Ia tahu tentang darah. Ia paham mengenai darah. Dan ini bukan darah. (1) Warnanya tak merah, (2) aromanya memang sedikit anyir tapi bukan anyir-darah. Ia pun mencoba mengingat kali terakhir ia jatuh dan kakinya berdarah… dan ia tak bisa. Ia mencoba mengingat orangtuanya, tetapi yang muncul di kepalanya hanyalah seorang perempuan berambut keriting-gembung seperti brokoli. Tak ada ayah, ataupun seorang laki-laki yang dapat disangka ayah. Apa ia tak memiliki ayah dan hanya punya seorang ibu, seperti Yes… Hah? Apa yang baru ia pikirkan? Yes…? Ia tak ingat.

Ia mencoba menelusuri masa kecilnya, tapi hanya gambar-gambar tak tampak saling berkaitan yang timbul. Sebuah pacuan kuda. Sebuah parade di mana seorang laki-laki muda berdandan sebagai balerina dan ia menertawakan laki-laki muda itu. Lalu sebuah danau; ia ada di atas perahu angsa bersama dengan seorang bocah laki-laki. Tunggu… Apakah itu dirinya? Gadis kecil itu kurus betul, tak mirip ia. Tetapi sesuatu di dalam dirinya mengatakan bahwa gadis itu memang dirinya. Ia pun merasa pening. Ia keluar dari kamar mandi. ”Boleh aku rehat selama lima menit?” katanya kepada Anton, teman kerjanya di kedai. Ia mencoba mengingat segala hal tentang Anton. Yang muncul hanyalah: (1) mereka telah bekerja bersama selama dua tahun, (2) dan kini begitu akrab seolah lahir dari rahim yang sama, (3) dan ia seorang gay. Ia mencoba mengingat tanggal lahir Anton… Tak ada yang muncul. Bagaimana bisa? pikirnya putus asa.

”Kenapa? Pusing memikirkan ibu kosmu?” canda Anton.

Ia menggeleng, meskipun benar Ibu kosnya orang paling memuakkan di seluruh semesta alam.

Ia mengambil pena dan kertas, dan duduk di sudut kedai. Ia mencoba untuk melakukan freewriting. Minggu lalu ia datang ke sebuah kelas menulis, dan si pengajar bilang metode ini baik untuk memancing ingatan-ingatan lampau ke permukaan.

Ia pun berpikir, ”Apa yang membuat ibu kosnya memuakkan?” dan kemudian menuliskan jawabannya.

Tetapi yang muncul di kepalanya hanyalah rupa seorang laki-laki. Ia menatap kertas, membaca kalimat pertama tulisannya: ”Ia biasanya membawa beberapa buku dan menghabiskan waktu dengan membaca.” Ia mengernyit, merasa membaca buku bukanlah karakter yang memuakkan—ia menyukai buku.

Ia pun mengganti instruksinya. Ia memikirkan ”kue bikinan ibu” dan akan menuliskan apapun respons otaknya terhadap rangsangan kata itu.

Tetapi yang terbit di kepalanya adalah laki-laki itu lagi! Ia teringat bagaimana pada suatu malam hujan deras dan lelaki itu datang ke kedai; dia memesan cokelat panas dan keks keju, dan lelaki itu bilang, ”Tolong cheesecake-nya dipanaskan ya, Manis.” (”Dia memanggilku ’Manis’!” pikirnya.) Sementara mengenai ”kue bikinan ibu”, yang timbul hanyalah kata ”gurih” dan ”marzipan”. Tak ada gambaran apapun mengenai kue itu sendiri atau ruang makan keluarganya. Ia bahkan tak tahu apa itu ”marzipan”!

Ia menghela napas putus asa. Siapapun yang menulis ceritaku ini, pikirnya, pastilah amatiran, dan kurang awas dengan detail.

Ia memutuskan untuk membaca, dan mengambil majalah wanita yang tergeletak di meja. Belum ada dua detik, ia langsung membelalak. Hanya ada putih polos di semua halaman. Apa maksudnya ini semua, pikirnya, ketimpangan dan ketidaksempurnaan ini? Apa gunanya mencipta apabila kau tak mampu mencukupi apa yang ciptaanmu butuhkan? Ia berharap penulisnya paling tidak masih ingat bahwa semua orang memerlukan cinta, semua orang, termasuk dirinya. Ia berharap seseorang telah dituliskan untuknya. Ia berharap ceritanya bukanlah kisah sedih yang diniatkan untuk menjaring pembaca-pembaca putus asa. Ia berharap ceritanya ditulis tanpa melibatkan alkohol.

Ia merasa ia butuh istirahat, berpikir kegilaan ini akan berakhir apabila ia tidur cukup. Ia berharap—meski ia telah tahu ini mustahil—akan terbangun sebagai manusia biasa keesokan harinya. Ia pun izin pulang cepat. Ia melambai kepada Anton, dan berjalan meninggalkan kedai.

Di dalam bus, ia teringat malam nanti ada kuliah Kalkulus II dan Pengantar Kosmologi (ia mengambil kuliah ekstensi Fisika di kampus tak ternama dekat kosnya) tetapi merasa tak bersemangat. Ia mengirimkan pesan titip absen kepada teman sekampusnya.

Ia mencoba membayangkan rupa penulis yang menuliskan ceritanya itu. Apa dia laki-laki? Atau perempuan? Sepertinya laki-laki, pikirnya, kalau dia perempuan, aku mustahil bernasib semalang ini. Kalau dia perempuan aku tentu memiliki kesempatan kuliah layak, berpenghasilan sama dengan Anton, dan tidak terus-menerus memikirkan laki-laki—seolah hanya itu isu yang penting bagiku. Tetapi, apakah ia tampan dan orang-orang menyebutnya ’penulis tampan’? Apakah aku menyukai warna hijau karena ia menyukai warna hijau? Apakah ia ramping, atau malah gemuk, seperti aku?

Apakah aku gemuk karena ia gemuk, atau ia gemuk karena aku gemuk?

Jangan-jangan ceritaku itu adalah sebuah karya autobiografis atau semi-autobiografis, pikir gadis itu, sehingga bisa jadi di atas sana, di balik awan, di balik bintang-bintang, di balik tepi-tepi dari semesta yang terus mengembang perlahan, ada seorang lelaki gemuk yang juga sering bangun subuh-subuh, lalu memeriksa telepon genggamnya dan hanya menemukan iklan operator, lalu bangkit karena hendak menyeduh kopi, tapi akhirnya urung karena ingat dia ingin menguruskan badan, kemudian juga teringat dengan seseorang yang membuatnya ingin menguruskan badan, dan lalu juga teringat dia tak bisa menemui seseorang itu meskipun sangat rindu, dan akhirnya sebagai pengalih perhatian dia menyalakan laptop, mencoba menulis sesuatu.

Barangkali lelaki itu sudah lama ingin menulis sebuah cerita metafiksi, dan pagi buta itu memulainya dengan: ”Suatu subuh…”—lalu mungkin laki-laki itu tak sanggup menyelesaikan kalimat itu, dan kemudian dengan putus asa dia memikirkan bahwa jauh di atas dunianya, di balik selimut atmosfir, di balik ribuan, jutaan komet dan asteroid, di balik tepi-tepi dari semesta yang terus mengembang perlahan, ada seorang perempuan gemuk yang tengah menuliskan kisahnya, dan perempuan itu sama sepertinya: juga bangun subuh-subuh, juga memeriksa telepon genggamnya dan hanya menemukan iklan operator, juga…. Gadis itu memberhentikan bus di depan gereja dan berjalan menuju kosnya.

Gadis itu berpikir, semua ini, kehidupanku ini, adalah kesia-siaan, dan ada hanya karena seseorang yang kurang kerjaan.

Jika lelaki gemuk itu tak pernah mencoba lagi menulis cerita itu, pikir si gadis, aku tentu tak akan pernah ada dan tak harus mengalami ini semua. Gadis itu akan terus berada di dalam kepala lelaki itu, tak sadar mengenai keberadaan dirinya, seperti bayi di dalam rahim.

Ia kini penasaran mengapa ia tertulis sebagai seorang gadis gemuk dan bukannya lelaki gemuk, tetapi ia langsung sadar bahwa itu tak ada pengaruhnya—bila pun ada, tak signifikan. Apa bedanya gadis gemuk yang tak dicintai siapapun dari lelaki gemuk yang tak dicintai siapapun? Ia memasukkan anak kunci ke lubang pintu depan, dan kemudian masuk ke dalam kosnya.

Ia ingin pada ceritanya itu ia tak disebut sebagai ”aku” karena ”aku” begitu terbatas, tetapi sebagai ”ia” atau—meskipun ini tak ideal—”si gadis gemuk”, dan ada seorang narator tahu-segala yang mengatakan, ”dan lelaki itu mencintai gadis gemuk itu diam-diam, dia mencintai gadis itu sejak kali pertama keks keju hangat bikinan gadis itu lumer di mulutnya, sejak ia menghirup teh hitam yang gadis itu seduh untuknya. Ketika kehangatan menyebar di lambungnya lelaki itu berpikir, Aku akan mencintai gadis ini sampai aku mati.”

Gadis itu menatap ke tangga di sebelah kiri kamarnya. Ibu kosnya selalu melarang ia naik ke sana. ”Hubungan kita cuma ibu dan anak kos. Tidak lebih!” Ia ragu sebentar, tetapi kemudian mulai menaiki tangga itu, menikmati tiap-tiap tapaknya, dan tiba di lantai dua. Ia terpana. Ia menemukan dunia serba putih. Ia mencoba maju, namun menabrak suatu dinding tak terlihat. Dinding? Ia tertawa lama sekali. Ini bukan dinding, pikirnya, ini adalah Tak Ada, bagian semestaku yang belum/tidak lelaki gemuk itu tuliskan.

Gadis itu membayangkan ceritanya kelak diterbitkan di sebuah koran; dan di ujung kanan halaman, tepat di atas tempat dan tanggal penulisan cerita, ada sebuah untuk yang diikuti satu nama, atau bisa juga dua. Gadis itu tentu tak tahu nama-nama macam apa yang tertera. Barangkali Maria, Mario? Leona atau Leo? Dias (?) atau Dias (?) Entahlah. Tetapi ia tahu pasti ia ingin menjadi seperti teman-temannya di masa kecil yang berteriak Ayo! Ayo!Ayo! kepadanya ketika lomba makan sayap ayam, membuatnya merasa tidak sendirian. Ia hendak menyemangati si lelaki gemuk untuk menyelesaikan cerita itu, ceritanya, dengan harapan lelaki itu tahu dia itu tak pernah sendirian, dan agar pada akhirnya segala hal menjadi jernih, dan gadis itu tahu cerita macam apa yang didiaminya dan alasan ia dituliskan.

Untuk Leo dan Dias, yang akan berulang tahun

*Tokoh rekaan dalam sebuah karya fiksi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: