Belajar Menghilangkan Sifat Egois

Kabar Madura: Rabu, 04 Fabruari 2015

Only You (Junaidi Khab)

Only You (Junaidi Khab)

Judul               : Only You

Penulis             : Mustika Amalia

Penerbit           : Bentang Pustaka

Cetakan           : I, Mei 2014

Tebal               : vi + 250 hlm.; 20,5 cm

ISBN               : 978-602-7888-95-1

Peresensi         : Junaidi Khab*

Di kala kita membicarakan tentang cinta, secara tak sadari kita telah mengulas hakikat dari hati yang melahirkan cinta dari banyak rahim. Dari rahim-rahim itu, cinta bisa tumbuh serta berkembang berbagai macam rupa dan warna. Dengan begitu, cinta tampak begitu indah. Namun, ketika kita membicarakan cinta (hati) dan egoisme (pikiran), maka cinta tidak akan memiliki arti apa-apa. Karena cinta sifatnya abstrak dan tak rasional adanya. Maka dari itu, di saat cinta bersemi jangan sampai ditaburi pestisida pikiran yang akan mematikan hakikat cinta yang ada itu meski kenyataannya abstrak dan tak rasional menurut akal pikiran.

Kadang perasaan cinta sengaja ditutupi oleh egoisme dan pikiran yang selalu mau rasional. Cinta tak akan bertahan hidup jika bersanding dengan egoisme diri. Melalui karya novel ini – Only You – Mustika Amalia akan mencoba berbagi imajinasinya tentang perjalanan cinta yang seseorang yang terhalang oleh pikiran yang selalu egois dan tak mau peduli. Dari kreasi imajinai pikirannya ini, ia ingin menguliti egoisme, hingga ia mampu menaklukkan egoisme atas perasaan cinta. Sehingga, cinta yang abstrak bisa tumbuh subur membawa kebahagiaan bagi kita semua.

Kisah yang disajikan dalam novel ini menceritakan tentang cinta yang tersambung sekaligus terputus (bertepuk sebelah tangan). Galang terpikat kepada Alexandra (Lexa), namun Lexa tidak menyukai Galang meski dia orangnya banyak diburu wanita cantik karena keramahan dan kemurahan senyumnya. Dia berkomitmen tidak akan kenal cinta dan hidup berkeluarga karena trauma atas orang tuanya yang cerai dan meninggalkan dirinya sejak berumur tujuh tahun.

Namun, begitu juga ketika Lexa mengenal Aditya lewat lukisan yang berjudul “Ruang Rindu”, dia jatuh hati kepadanya. Tapi begitu juga, nasib Lexa tak jauh berbeda seperti Galang. Dia juga ditolak mentah-mentah oleh Aditya. Alasan Aditya menolak Lexa karena hatinya tak mau tergantikan oleh yang lain kecuali kekasihnya – Renata – yang telah meninggal di pangkuannya saat mendakit gunung Gede di Bandung. Dai tak mau menghianati Renata dengan mencintai orang lain selainnya. Meskipun Lexa mengejar-ngejar Aditya, kasih-sayang dan perhatian Galang tak pernah pupus diberikan pada Lexa (hlm. 47).

Pada akhirnya Galang merelakan Lexa untuk memilih antara bertunangan dengan dirinya, namun jika Lexa tak bahagia dia boleh membatalkan pertunangan yang sudah direncanakan oleh dua keluarga besarnya. Lexa memilih mundur ditunangkan dengan Galang. Dia kabur dari kota, pergi ke gunung Gede. Kebetulan, Aditya untuk menghilangkan rasa kesal dan marahnya dia juga menuju gunung Gede sebagai tempat mengadu pada masa dulu. Di sana mereka bertemu, Aditya meminta maaf dan akan berubah pikiran untuk mencintai Lexa sepenuh hatinya. Lexa pun terhanyut dalam lautan bahagia mendengar ucapan tulus dari mulut Aditya. Mereka pun menyiapkan malam pernikahannya.

Imajinasi berliku melalui hubungan yang rumit, Amalia berhasil mempertautkan kisah cinta yang saling seret-menyeret peresaan seorang perempuan di antara dua laki-laki yang dicintai dan yang tidak dicintainya. Kerumitan hubungan ini membawa kita pada kisah yang seakan-akan tanpa fiktif di dalamnya. Dengan kata lian, kisah ini berhasil membawa kita pada alam nyata yang banyak dialami oleh laki-laki dan perempuan dalam menampakkan rasa cinta dan egoisnya.

Karya ini penuh inspirasi untuk mengatakan yang sejujurnya tentang perasaan (cinta) yang kita rasakan terhadap seseorang yang juga memiliki perasaan yang sama, agar tak saling menyakiti terlebih dahulu sebelum jatuh ke hamparan cinta yang penuh kasih. Egoisme yang kita miliki perlu ditaklukkan untuk mengungkap perasaan (cinta) yang sejujurnya. Kita tak boleh menutup atau mengingkari perasaan oleh ego yang kita miliki. Kisah dalam novel ini perlu kita acungi jempol karena telah berhasil menyajikan menu romantika kehidupan yang rumit dan penuh kesedihan, namun endingnya penuh kebahagiaan. Selamat membaca dan mengambil hikmah di baliknya!

* Peresensi adalah Pecinta Baca Buku Asal Sumenep, Tinggal di Surabaya.

Tulisan ini bisa dibaca lebih lanjut di: Kabar Madura, Rabu, 4 Februari 2015 Belajar Menghilangkan Sifat Egois oleh Junaidi Khab. Semoga memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: