Renungan Inspiratif Status FB

Junaidi Khab Duduk Menunggu Waktu di Surabaya

Junaidi Khab Duduk Menunggu Waktu di Surabaya

Hari ini ketika aku membuka akun facebook (FB) menemukan status teman yang menarik untuk kita renungi. Dari dua teman FB ini, statusnya berupa sebuah renungan atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Dua status ini bagi saya menginspirasi, meski status kedua (milik Sungging Raga saya sedikit edit kata-katanya, karena banyak yang disingkat/ semacam SMS). Jika M Faizi dalam statusnya melakukan permenungan melalui bebintang yang indah di langit, tapi Sungging Raga melakukan permenungan laba-laba yang ada di langit-langit rumahnya. Dua status FB ini menurutku unik, menarik, dan inspiratif untuk dijadikan bahan refleksi terhadap diri sendiri dalam menjalani kehidupan dunia-akhirat. Berikut cuplikannya:

M Faizi: “Tadi, selepas shalat Maghrib, saat bintang-bintang mulai tampak, aku mendongak ke langit: beberapa terang menghias angkasa; indah justru karena berserakan. Kemudian, bergumpal awan datang menyaput. Sebagian terlurub, lantas seluruhnya tertutup. Guntur bergelegar dan lampu mati: itulah dua pertanda yang kuamati bahwa hujan akan turun tak lagi. Langit kini gelap keseluruhan, sesekali petir, sesekali terang, mirip diskotik.

Saat mati lampu, aku merasa hidup di zaman purbakala kecuali masih ditemukannya jaringan internet yang bertahan hidup berkat UPS pada BTS. Hidup di zaman canggih yang masih sering mengalami mati lampu membuat aku bertanya-tanya, apa gunanya wujud manusia di bumi? Adakah kita, homosapiens ini, benar-benar satu-satunya makhluk berakal yang ada di alam semesta raya ini?

Di Bimasakti, ada jutaan atau bahkan milyaran bintang. Mereka berdekatan bagai tetangga RT/RW, tapi jaraknya minta ampun jauhnya. Ukurannya pun menggunakan ‘light year’ (tahun cahaya), bukan ‘kilometer’ karena yang demikian itu hanya pantas untuk sepeda motor bebekku dan sepeda motor turingmu. Kubayangkan, kalau aku pergi ke Bulan naik Astrea Prima, butuh 120-an kali ganti oli dan 1 truk tangki medium isi bensin untuk tiba di sana, itu pun dengan catatan tak bisa kembali karena mesin pasti sudah ambrol dan tak ada toko suku cadang di sana. Bagaimana dengan jarak ke Polaris, ke Sirius, juga ke tempat-tempat yang lebih jauh lagi yang jaraknya hanya diketahui berdasarkan kira-kira belaka?

Kiranya, benda-benda langit macam itu tidak muncul begitu saja secara iseng. Lantas, jika memang ‘ciptaan berpikir’ itu cuma manusia dan hanya Bumi yang paling mungkin ditempati, apakah Jupiter, Saturnus, dan tempat-tempat raksasa lainnya di angkasa raya itu dihuni oleh Jin, E.T., UFO, dan sebangsanya? Jika tidak, untuk apa semua itu ada jika bukan demi satu ‘hukum keseimbangan’ yang ujung-ujungnya adalah demi ciptaan agung bernama ‘manusia’?

Betapa sepele hidup kita jika sejak lahir sampai mati tak pernah memikirkan betapa kecil kita di sini, di bumi yang besarnya barangkali hanya seukuran onde-onde yang tampak dari puncak Monas jika dibandingkan dengan benda-benda raksasa lainnya?

Kiranya, Jakarta (atau juga kota-kota besar lainnya) perlu mengalami pemadaman macam ini, dengan aba-aba guntur dan angin, sesekali saja. Tanpa sensasi seperti ini, mana mungkin warganya dapat melihat pemandangan langit malam sembari merenung dan berpikir ‘untuk apa, sih, semua itu’? Polusi cahaya yang luar biasa membuat bintang-bintang hanya dapat dilihat di planetarium, di Jalan Cikini, itupun harus bayar.

LAMPU SUDAH MENYALA. LAPORAN SELESAI.”

Sungging Raga: “Tiap malam saya sering melihat langit-langit kamar sambil melamun, membayangkan tentang enaknya kalau punya penghasilan tetap. Sudah dijadwal akan dapat uang segini di waktu ini. Gak harus mikir berat besok gimana, bulan depan gimana, urusan hidup jadi lancar tinggal ikut aja. Gak perlu takut miskin sebagaimana firman Allah di surat al-Baqoroh: “syetan menakut-nakutimu dengan kemiskinan.”

Kemudian ketika masih memandang langit-langit kamar, saya melihat seekor laba-laba kecil di sudut kamar (ketahuan ini jarang bersih-bersih), laba-laba itu kelihatannya berdiam terus setiap hari, tapi ternyata tidak, ia rajin membikin jaring, menunggu ada hewan-hewan kecil yang nyangkut di jaringnya untuk dimakan. Apakah laba-laba itu punya penghasilan tetap? Apakah ia yakin akan selalu ada hewan kecil yang nyangkut secara rutin pada waktunya? Bagaimana kalau usahanya sia-sia lalu ia mati kelaparan? Ternyata tidak. Selalu ada saja hewan kecil yang terperangkap meski gak tiap hari. Dan itu selalu cukup untuk laba-laba itu bertahan hidup. Siapa yang memberinya rezeki berupa hewan-hewan kecil kalau bukan Allah?

Karena itu, kalau kita termasuk yang tidak punya penghasilan tetap, maka ingat bahwa rezeki & pemberian Allah itu selalu tetap, tidak putus, mengalir terus. Kita cuma harus berusaha & bertawakal, seperti laba-laba kecil itu.”

Surabaya, 29 Januari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: