Hati-Hati (Motif) Penipuan

Junaidi Khab di Depan Kebun Binatang Surabaya

Junaidi Khab di Depan Kebun Binatang Surabaya

Oleh: Junaidi Khab*

Penipuan sudah lumrah terjadi di kalangan masyarakat. Baik penipuan yang bermotif iming-iming (abstrak seperti transfer uang) atau (pembayaran) tunai (nyata dan dilihat mata seperti Umrah oleh salah satu agen, lalu agen tersebut menghilang). Siapa yang tak tergiur jika mendapat hadiah misalkan mobil dan diminta hanya transfer uang misalkan Rp.10.000.000.00? Sedangkan nilai Rp.10.000.000.00 jika dibanding dengan harga mobil ya jauh berbeda, semua tentu akan tergiur. Tapi hati-hati jika kita belum melihat barangnya secara langsung. Itu sudah tentu jelas penipuan. Baca: pengalaman hampir ditipu di Facebook.

Penipuan yang pernah kutahu ada beberapa modus atau motif bentuk penipuan. Apa pun bentuk penipuan yang direncanakan oleh seseorang, sudah barang tentu sangat di luar dugaan pikiran/akal sehat. Menang hadiah lah, intinya meminta agar kita mengirim/transfer sejumlah uang. Masak mendapat hadiah harus transfer uang duluan tanpa melihat barangnya terlebih dahulu. Yang lebih parah jika penipu itu mengatasnamakan keluarga kita yang sedang kecelakaan, siapa yang tidak akan mempercayainya jika keluarga yang dibilang kecelakaan tadi dihubungi tidak bisa, padahal ada dalam rencana matang pelaku penipuan tersebut. Ada beberapa motif penipuan yang pernah saya tahu sebagaimana berikut:

Pertama, model SMS atau telpon ke nomor ponsel. Dulu, waktu baru-baru punya hape model awal, aku dapat SMS. Dari isi pesan SMS tersebut, aku katanya memenangkan Toyota Yaris (mobil). Seperti apa ya mobilnya? Aku sempat berpikir seperti itu. Karena memang tidak tahu banyak merk/model mobil. Sudah tentu jelas aku senang jika memang benar-benar mendapat hadiah mobil. Tapi aku sudah paham pesan tersebut merupakan motif penipuan, karena meminta sejumlah uang untuk ditransfer ke suatu rekening bank. Aku diamkan saja SMS tersebut, karena memang aku tak memiliki rekening, alias buku tabungan. Kejadian itu ketika aku masih sekolah, kira-kira sekitar kelas III Mts/SMP.

Kedua, motif telpon ke hape yang kita pegang. Modusnya ini sama dengan yang SMS, yaitu mendapat hadiah. Kita seolah-olah memenangkan suatu undian yang diadakan oleh pihak operator kartu yang kita pakai (misalkan kartu XL), karena pengalaman itu terjadi pada nomor XL. Kemungkinan besar juga pada nomor-nomor kartu selain XL. Lalu, setelah di-SMS orang tersebut dihubungi via telpon, bicara secara langsung. Peristiwa ini terjadi pada tetangga saya sendiri. Namanya Utik. Dia manggil saya ketika saya lewat dekat rumahnya.

Saya sudah paham itu penipuan, dan Utik tak begitu bisa berbahasa Indonesia yang baik. Maka inisiatif membantunya pun kulakukan dengan mengganti telponnya. Aku dengarkan orang yang bicara di sana. Ternyata aku diperintah pergi ke bang, katanya untuk dipandu melakukan transfer uang. Oh, saya tak punya buku tabungan atau rekening atau ATM bank. Ya, saya jawab sekenanya. Aku menipunya juga. Iseng, emang-emang saya dulu itu jarang ada orang nelpon. Jadi, setiap orang yang nelpon pasti saya layani dan ladeni mau ngomong apa saja. Senanglah pokoknya jika ada orang yang nelpon. Tapi, untuk yang ini saya menipu juga. Saya pura-pura mau pergi ke ATM bank di kecamatan. Sebenarnya saya tidak ngapain-ngapain. Bermain saja hingga orang itu nelpon lagi. Ketika orang itu nelpon, kubilang ada di jalan. Terus begitu. Akhirnya capek sendiri orang itu. Lalu, aku bilang pada Utik bahwa itu penipuan.

Ada kasus lain yang menimpa temanku juga, Ahfas Silmi juga ketika di Surabaya. Kisahnya begini: Aku ketemu Ahfas dalam keadaan layu dan lesu. Dia tampak tak bersemangat. Aku tanya “Lho, kamu kok loyo gitu Fas?” Sembari menarik nafas, dia menjawab, “Aku ketipu Ned” aku langsung kaget. Akhirnya aku minta diceritakan. Katanya dia mendapat hadiah dari seseorang yang menelpon. Dia diminta transfer uang. Entah disihir atau dihipnotis, dia katanya langsung nurut saja. Satu ATM disinggahi ternyata gagal, sampai ke tempat yang sedikit jauh dia jalan kaki mencari ATM katanya. Itu sambil ditelpon (telpon belu mati/putus) memang sengaja ditunggu oleh yang meminta uang tersebut.

Ahfas kan dipandu cara-caranya. Ketika ketemu ATM, dia masuk dan dipandu. Katanya dipandu dari awal dan dia mengikuti instruksi orang yang menelpon tadi. Nah, dia baru sadar setelah uangnya raib Rp.300.000.00, standar mahasiswa jumla itu sudah lumayan banyak untuk hidup di Surabaya. Dia pun menyesal. Katanya dia seperti dihipnotis, sehingga mengikuti segala instruksi dari penelpon. Dia gundah dan tampak tak bersemangat katanya takut jika orang tuanya tahu bahwa dia kena tipu via telepon dengan iming-iming hadiah.

Ketiga, motif kecelakaan/ musibah/ kematian. Ini atas cerita Ihya’ Ulumuddin, teman pondok pesantren Luhur al-Husna di Surabaya. Dia bercerita yang intinya begini, juga penipuan. Ada seseorang bernama Hamzah di Lamongan. Tentunya di desa. Tapi bapak Hamzah ini aktif di beberapa instansi, anggaplah kantoran. Kejadiannya begini, orang rumahnya (pihak keluarga bapak Hamzah) mendapat telpon dari seseorang yang suaranya mirip bapak Hamzah tadi. Kata orang tadi, bapak Hamzah kecelakaan. Awalnya pihak keluarga menyangka yang nelpon itu bapak Hamzah sendiri karena suaranya mirip, dengan nomor yang beda. Tapi orang itu mengabarkan bahwa bapak Hamzah kecelakaan dan akan dioperasi di rumah sakit. Langsung pihak keluarga kaget. Terus, orang itu meminta sejumlah uang, Rp.10.000.000.00 untuk biaya operasi. Pihak keluarga sebelumnya tidak mempercayainya. Lalu mencoba menghubungi nomor ponsel bapak Hamzah.

Terpisah, bapak Hamzah pada saat itu sedang rapat resmi dan sangat formal di suatu tempat. Ya, otomatis setiap ada telpon pasti diabaikan. Sampai pihak keluarga itu menghubungi beberapa kali, akhirnya menyerah dan memutuskan bahwa bapak Hamzah ini benar-benar kecelakaan. Pihak keluarga pun sibuk mencari pinjaman uang. Akhirnya berhasil mengumpulkan uang senilai Rp.10.000.000.00 dan langsung ditransfer ke nomor rekening sebagaimana permintaan orang yang mengabarkan kecelakaan bapak Hamzah.

Ketika rapat sudah selesai, bapak Hamzah ini melihat ponselnya. Ada beberapa kali nomor/ panggilan masuk. Lalu dia menghubungi nomor tersebut. Ketika dihubungi, ternyata keluarganya langsung menanyakan kabar dan kondisinya. Pak Hamzah ini langsung kaget. Lalu dia menceritakan bahwa dirinya baru selesai rapat. Pihak keluarga kaget lagi (merasa kena tipu). Tadi waktu ada telpon masuk bapak Hamzah memang tahu, karena berhubung rapat sangat formal, jadi dia tidak mengangkatnya. Pihak keluarga langsung kaget, uang Rp.10.000.000.00 raib begitu saja.

Keempat, motif instruksi berupa SMS ke nomor hape. Perisitiwa ini terjadi pada teman saya juga, asal Lamongan pula. Temannya Ihya’ Ulumuddin, namanya Rangga Sa’dillah, anak Kemenag di Lamongan. Ceritanya begini, Rangga suatu hari (pagi) mendapat pesan/ instruksi yang mengisyarakat dirinya agar mematikan ponselnya. Pesan itu berisi perintah dari polda katanya, katanya ada razia narkoba di Jawa Timur, maka dari itu atas kepercayaan rangga, karena instruksinya tak merugikan secara dangkal, maka Rangga pun mematikan ponselnya (hape). Dia pun beraktivitas (kuliah).

Terpisah, di rumah (Lamonga, rumah Rangga), keluarganya mendapat sebuah telpon yang mengabarkan bahwa Rangga sedang kritis di rumah sakit karena kecelakaan. Sontak keluarga kaget pula. Awalnya memang pihak keluarga tidak mempercayainya atas laporan tersebut. Karena kurang mempercayai kabar tersebut, maka pihak keluarga langsung menghubungi nomor Rangga. Ternyata hape Rangga tak bisa dihubungi, mati/ tidak aktif. Pihak keluarga pun terhenyak dan percaya atas kabar tersebut bahwa Rangga benar-benar kecelakaan dalam dalam keadaan kritis.

Tapi, adik Rangga (kata Ihya’ namanya Randi) mencoba mendatangi tempat Rangga dulu mondok di Lamongan. Randi ini mau minta nomor teman Rangga yang kuliah di Surabaya dan bisa dihubungi. Nah, di sana dia mendapat nomor Ihya’ Ulumuddin. Kemudian Randi menghubungi Ihya’. Ihya’ juga bingung. Tapi dia memberi penjelasan bahwa Rangga tadi pagi waktu berangkat kuliah ke kampus. Akhirnya, setelah lama berbincang-bincang dan bercerita, Rangga datang ke pondok pesantren Luhur al-Husna. Lalu Ihya’ memberikan ponselnya pada Rangga. Randi pun bicara panjang lebar tentang kabar itu.

Pada masih telponan dengan Rangga, orang yang meminta biaya atas kecelakaan Rangga untuk biaya operasi nelpon lagi. Saat itu juga, Randi memarahinya dengan sumpah serapah dan kata-kata kasar. Lalu, orang itu mematikan telpon. Untung pihak keluarga Rangga tidak langsung mentransfer uang sebagaimana permintaan pelapor tadi.

Dari kasus bapak Hamzah dan Rangga ini, kasusnya sama, yaitu kecelakaan dan pihak keluarga dihubungi via telpon oleh orang yang tidak dikenal agar mengirimkan/transfer dana sekian juta. Peristiwa yang bapak Hamzah mempercayai orang yang melapor karena pada saat bapak Hamzah dihubungi meski ponselnya aktif tak diangkat olehnya. Jadi keluarga menganggap/ percaya pada pelapor bahwa bapak Hamzah benar-benar kecelakaan. Jika kita logikakan, pelapor sudah tentu tahu bahwa bapak Hamzah ini sedang rapat dinas/resmi/ formal sehingga memanfaatkan waktu itu untuk menipu keluarga. Sudah dipastikan bahwa bapak Hamzah akan mendiamkan hapenya atau paling tidak, jika ada orang nelpon tidak ada akan diangkat berhubung dalam rapat resmi/formal. Sudah dapat dipastikan pelapor ini adalah orang terdekat yang mengetahui tentang aktivitas bapak Hamzah.

Sedangkan kasus yang Rangga agar tidak dapat dihubungi, dapat instruksi yang mengatasnamakan Polda Jatim agar mematikan ponselnya. Sudah barang tentu pelapor bisa menebak, nanti keluarganya akan menghubunginya. Sangat cerdas pelaku ini. Maka dari itu, kita harus berhati-hati jika ada orang yang melaporkan tentang keluarga kita dan meminta sejumlah uang. Kita harus memastikan terlebih dahulu dengan cara mencari kabar atau informasi lebih jauh lagi. Intinya hati-hati.

Kelima, pendekatan di media online seperti email atau facebook. Jika via email sangat banyak saya mendapat pesan/informasi telah mendapat hadiah atau kepercayaan seseorang untuk menitipkan sejumlah uang yang nominalnya sangat mustahil kita percayai. Tapi saya tidak meladeninya hingga jauh, tapi sekadar memberikan data diri seperti nama dana alamat saja. Setelah itu tak begitu saya respon. Ini via email. Ada lagi via facebook.

Begini kisahnya, dan ini nyata. Saya kan suka bermain facebook (FB), sedikit banyak saya jujur dengan identitias di FB. Nah, di situ (dari FB) ada orang yang menaruh kepercayaan bagi saya untuk menitip senilai uang pounds dari London, Inggris. Pemilik akun yang sangat percaya sama saya pun bercerita panjang lebar. Saya sebelumnya sudah menebak, bahwa pendekatan ini hanya penipuan. Benar memang, ini penipuan.

Uang dari London-Inggris katanya mau dikirim via agen, lupa nama agennya, nanti akan saya berikan juga ceritanya yang lengkap dengan nama agen yang dijanjikan oleh pemiliki akun FB tersebut. Dia seorang perempuan berkebangsaan Indonesia yang sudah lama hidup di Inggris dan memiliki satu putri. Katanya hartanya akan diambil alih oleh pihak keluarga suami yang menceraikannya, makanya dia ingin menitipkannya padaku. Aku siap saja meski aku yakin akan ditipu. Sebenarnya aku meledeninya karena aku sendiri ingin tahu modus penipuannya nanti seperti apa.

Ternyata sama, meminta sejumlah uang untuk menebus kotak uang di banda Soekarno-Hatta di Jakarta. Kamu tahu berapa tebusan sebagai biaya agen? RP.9500.000.00. Dari mana aku dapat uang sebesar itu? Berikut ceritanya dalam pesan surel (surat elektro/ chat FB) dengan saya:

Sebagaimana cerita curhat via FB tersebut, benar pada hari Rabu, 21 Januari 2015 pukul 08:47 sebelum saya berangkat ke Juanda untuk menjemput kak Rofiqi ada telepon masuk dari luar operator (+6285695940977). Awal mula suara seorang lelaki berbahasa Inggris dan gerasak-gerusuk. Dia menanyakan apa saya bisa berbahasa Inggris, kujawab bisa. Tapi aku menyarankan agar menggunakan bahasa Indonesia, lalu telpon itu digantikan pada seorang perempuan.

Aku bilang saja, mau menemuinya di Jakarta, mau berangkat dan mungkin sampai nanti malam. Telpon pun mati. Sebenarnya, aku pura-pura yang mau berangkat ke Jakarta. Ternyata aku tidak dihubungi lagi. Seandainya saya dihubungi lagi, aku akan bilang ada di Jakarta dan minta jemput, nanti untuk biaya transportasi diganti bersamaan dengan permintaannya. Aku lho, juga mau nipu.

Setelah telpon mati/terputus, aku dapat SMS begini: “BANK BTN A/N IRMA WIDIASTUTI NO.REK: 0027701500015679. Pembayaran Tax Clearance= Rp.9.500.000,- tks.” Itu dari nomor: +6285695940977. Kemudian ada SMS susulan, begini bunyinya: “Setalah transf.pembayaran tax clearance charge,tolong konfirmasikan melalu tlp/sms di No.Telehone ini.Dan sms kan juga alamat email Bpk Junaidi utk pengiriman tanda terima bukti pembayaran tax clearance charge.Kami tunggu ,tks.” Itu juga dari nomor yang sama (+6285695940977). Pesannya tanpa kutambahi atau kukurangi/edit sedikitpun bahasa dan kata-katanya. Hati-hati ya dengan berbagai iming-iming hadiah atau kerjasama yang meminta uang pada kita tanpa tatap muka terlebih dahulu. Ini percakapan yang pernah aku alami, silakan klik Percakapan Modus Penipuan.

Surabaya, 22-23 Januari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: