PETI MATI

KOMPAS: Ahad, 04 Januari 2015

Oleh: Ganda Pekasih

PETI MATI Oleh Ganda Pekasih (Junaidi Khab/KOMPAS)

PETI MATI Oleh Ganda Pekasih (Junaidi Khab/KOMPAS)

Dari kuburan tua, beberapa gerobak kayu bergerak seakan dilahirkan oleh malam, menjemput nasib di jalan-jalan yang sedikit kendur dari kendaraan yang tak pernah berhenti meraung.

Menjelang subuh mereka semua kembali. Atap-atap kuburan yang lebar dan kokoh membuat mereka terlindungi dari hujan, mereka tinggal membuat dinding dari plastik atau kardus-kardus bekas, lantai marmer hangat dengan alas seadanya menutupi huruf-huruf permohonan ampun yang tak penting artinya.

Seperti biasa tak banyak benda berharga yang mereka dapat, hasil menjual botol-botol kosong minuman sekadar bisa untuk makan sehari. Beberapa kawan mereka pernah ditangkap, dibawa ke panti sosial, tapi kembali lagi jadi manusia Gerobak.

Dari kuburan tua itu lima hingga tujuh gerobak bergerak seperti kelabang yang keluar dari tanah, berpencar ke segala arah menuruti nasib. Sering ada gerobak ditabrak orang mabuk, dihanyutkan banjir atau dicuri orang. Anak-anak mereka lahir lalu diamuk penyakit hingga dimangsa paedofil atau dibunuh, mayatnya dibuang ke kali seperti orang membuang bangkai binatang.

Di bawah lantai-lantai marmer kuburan itu mereka tahu ada jasad yang terkubur tinggal tulang belulang, huruf-huruf di batu nisan itu artinya bagi mereka cuma kapan tanggal lahir dan kapan mati saja, tak ada yang perlu ditakutkan, yang mereka takuti jika mereka tiba-tiba diusir dari situ, harus mencari lagi tempat gratis baru yang tak mudah, bersaing dengan sesama gerobak dan gelandangan bisa saling bunuh.

Sebelum subuh mereka harus tiba kembali di kuburan jika tidak mau dihadang kemacetan atau tertangkap razia gepeng, beberapa pelacur tua kesiangan dengan mata yang menatap putus asa termenung di tepi kuburan saat mereka tiba, wadam-wadam berwajah kendur disuntik silikon semaunya yang membuat mereka bukan jadi menarik, tapi berubah menjadi makhluk-makhluk aneh.

Menjelang sore beberapa orang masuk kuburan yang bersemak dipagari kawat berduri, tiang-tiang besi gerbangnya roboh dan sebagian raib hilang dicuri. Mereka membawa cangkul, lalu sibuk mencari-cari lokasi menggali. Dari balik dinding tembok-tembok kuburan bermunculan anak-anak gerobak menontoni mereka seperti anak kanguru yang keluar dari kantung induknya, diikuti orang tua mereka. Akan ada penguburan, pikir mereka senang karena kuburan ini sudah jarang dipakai, berarti akan ada rezeki, akan ada yang menyebar-nyebarkan uang.

Tak sampai dua jam mereka selesai menggali. Usai minum dari gelas-gelas plastik dan merokok, para penggali itu lalu pergi tanpa sepatah kata pun, tak ubahnya seperti hantu. Tapi upacara penguburan yang mereka tunggu tak ada hari itu.

Beberapa hari kemudian, ambulans dan dua kendaraan van masuk dari gerbang samping pemakaman. Beberapa orang turun dengan cepat membawa hio yang sudah dibakar menuju kuburan, lampion merah berbentuk hewan dan buah-buah sesaji dalam keranjang hias dibalut kertas berwarna warni cerah. Orang-orang berkacamata gelap berwajah cemas dan pucat memikul peti mati yang diturunkan dari ambulans, berikat pita hitam di kepala. Beberapa orang yang sudah turun lebih dulu cepat membantu, menggotong peti dengan awas, membuat upacara singkat diiringi lonceng yang dibunyikan di atas lubang, lalu peti mayat itu diturunkan, beberapa orang mengambil gambar dengan handphone. Para penggali langsung menguruknya kembali, batu nisan dipasang, lampion dibakar, keranjang-keranjang buah diletakkan, amplop-amplop kertas bersama kembang dihambur-hamburkan.

Anak-anak gerobak yang menonton upacara singkat mulai bergerak, ibu-ibu dan para lelaki yang berharap akan dapat rezeki menyerbu. Para pengubur mayat lalu pergi meninggalkan pemakaman tanpa sepatah kata, tak ubahnya seperti hantu.

Rupanya ada yang akan menunggui mayat yang dimakamkan itu, dia muncul menjelang senja dari gerbang samping bersemak, dia berjaga sampai pagi. Malam kedua dia datang lagi dan seterusnya.

Seorang manusia gerobak dengan pengait besi di tangan sudah tak sabar, dengan mengendap-endap seperti kadal tanah dia mendekati makam mau membongkarnya sejak malam pertama mayat dikubur. Dia yakin ada benda berharga di dalam peti mati itu, memang tak mudah, tapi mumpung kuburan belum dibatu, dia berharap bisa cepat membongkarnya.

”Hei, siapa itu, kemari kamu!” bentak penjaga itu memainkan senternya. ”Kalau tidak kutembak kau!”

Khawatir, akhirnya dia terpaksa keluar dari persembunyiannya.

”Cepat ke sini, bantu aku!”

Oh, apakah dia juga hendak membongkar makam itu?

”Dari kemarin kamu ngintip-ngintip.”

”Maaf, Bang”

”Siapa namamu?” bentaknya.

”Roso, Bang,” jawabnya kikuk.

”Eh, kau punya pacul? Bantu aku menggali kiriman, kami kepepet, gudang lagi dikepung, kau punya gerobak kan?” bisiknya berdesis.

”Punya.”

”Bagus, sekarang kau cari pacul, setelah itu bawa gerobakmu ke belakang.”

”Oke Bang,” jawabnya meluncur begitu saja.

Apakah ini rezeki besar? Pikirnya. Di dalam peti mayat itu pasti ada barang-barang berharga yang ikut mereka kubur dan sekarang mau diambil lagi.

Rupanya makam itu mudah digali kembali, baru tahu dia bahwa lubangnya tak terlalu dalam. Tak sampai satu jam penutup peti berhasil diungkit. ”Siapa yang mati?”

”Jangan banyak tanya, tugas lu bawa barang pake gerobak. Oke?”

”Hhh….”

Penutup peti mati dibuka, lelaki itu mengambil sesuatu, terlihat samar di bawah sinar bulan dua bungkusan berwarna coklat.

”Tutup lagi lubang cepat,” desisnya.

Bak robot mainan disengat listrik dia cepat menguruk tanah kembali.

Gerobak berjalan lambat, sesekali mampir di tempat pembuangan sampah. Makin lama gerobak makin jauh memasuki tengah kota, hingga ke sebuah jalan yang dipenuhi lampu-lampu berwarna, diketahuinya sejak lama adalah sepotong jalan tempat banyak orang mencari hiburan malam.

Dia digiring lewat pesan singkat hingga ke belakang sebuah ruko yang katanya ada bak berisi banyak barang rongsokan. Saat dia mengais-ngais tempat sampah, seseorang datang memeriksa gerobaknya, lalu mengambil barang titipan itu dan memberi dia sejumlah uang yang membuatnya lalu makin semangat mengais-ngais bak sampah itu seperti anjing malam yang kelaparan.

Lega, tapi waktu gerobak mulai didorong beberapa jam yang lalu dia takut, berusaha menenangkan diri menganggap barang itu tak ada artinya, yang dia pikirkan cuma upah gede yang dibilang si Penjaga, sudah lama dia bermimpi mengajak anak dan istrinya meninggalkan kuburan itu mengontrak rumah petak di kawasan banjir kanal yang airnya jernih dan bisa memancing.

Malam berikutnya dia kembali membawa barang itu. Di tengah jalan dia merasa akan tertangkap ketika mobil patroli polisi mengikuti di belakang, Untung dia melewati tempat sampah. Dia segera mendekat dan mengais dengan pengait bengkoknya lalu sengaja memakan sisa nasi dari bungkusan plastik berharap polisi itu mual melihatnya lalu pergi. Benar saja, melihatnya jorok menjijikkan seperti babi, polisi jadi tak punya pikiran curiga, mereka lalu pergi. Dia santai lagi mendorong gerobaknya ke mana harus mengantarkan barang itu seperti malam kemarin. Lengang, sesekali dia masih memeriksa bak-bak sampah sambil membayangkan akan tinggal di rumah petak bersama anak dan istrinya dengan isi perabot lengkap, ada kulkas dan televisi.

Sudah tak ingat dia berapa kali mengantarkan barang-barang itu. Malam ini dia minta yang terakhir, baginya upah sudah cukup bisa ngontrak, bahkan bisa membuat beberapa gerobak untuk disewakan, tapi si Bos berkeras masih ada kiriman lagi. Maka rencana berikutnya dia akan melarikan gerobaknya sejauh mungkin.

Malam ini jantungnya berdetak lebih cepat, kaki bergetar memperhatikan tempat-tempat sampah yang dilaluinya, mengais mengumpulkan botol-botol minuman ke dalam karung plastik, meletakkannya ke dalam gerobak dengan hati-hati. Hingga dia mulai memasuki kawasan bangunan bertingkat yang terang seperti akuarium yang diberi lampu berwarna, suara bola biliar beradu dengan cekikikan tawa perempuan.

Sebelum sampai di tempat biasa lalu seseorang memberinya upah sungguh dia terkejut, muncul patroli polisi di kejauhan menuju ke arahnya. Dia merasa akan tertangkap malam ini. Dia ingin cepat membelok agar terhalang dari penglihatan polisi, tapi itu bisa membuat mereka malah curiga, maka dia mencoba santai mendorong gerobaknya berharap patroli itu cuma lewat. Kalau ketahuan habislah, pikirnya, dia pasti akan dibui bersama anak dan istrinya, itu sama saja dengan masuk ke dalam peti.

Mobil patroli berhenti tak jauh dari gerobak, dua polisi turun, membuka tutup plastiknya sehingga terlihat oleh mereka semua apa yang ada di dalam, detik berikutnya tak diduga sontak anak balitanya menangis. Polisi itu terkejut, detik pertama yang mereka lihat pasti istri dan anak balitanya yang tergolek kesempitan. Dia segera bergerak mendekat seolah sangat khawatir sesuatu akan terjadi menimpa anak balitanya dan berharap para polisi tak menduga ada seorang balita perempuan serta ibunya terbujur dalam gerobak yang membuat perasaan mereka tersentuh. Benar saja, mereka serba salah jadinya, tapi salah seorang masih serius memperhatikan istrinya yang selalu tak memakai beha itu membuka daster dan mendekatkan buah dadanya yang besar ke mulut balita mereka yang menangis. Akhirnya polisi itu menutup kembali gerobak dan berbalik cepat ke mobil mereka.

Patroli polisi meninggalkan tempat itu, selama ini polisi-polisi itu pasti belum pernah melihat anak balita dan ibunya terbujur dalam gerobak yang biasa mereka lakukan kalau bepergian ditambah pula dengan suara tangisan anak balita mereka yang keras membuat para polisi itu cepat pergi.

Jantungnya masih berdebar belum siap mendorong gerobak, kakinya juga masih bergetar, hanya tinggal beberapa ratus meter dia tiba di sana, maka urusan selesai lalu menerima upah yang dirasanya sudah cukup untuk lari. Dia tak akan kembali ke kuburan tua itu, dia tak akan mengantarkan barang-barang itu lagi. Perlahan dia mulai mendorong gerobaknya lagi bersamaan dengan tangis balitanya berhenti.

Terima kasih istriku, cepat gosokkan minyak kayu putih ke tempat yang kau cubit itu, gumamnya lalu membayangkan rumah kontrakan di tepi banjir kanal yang jernih, tempat mereka yang baru siang nanti. Tapi beberapa meter akan membelok ke tempat barang diambil, tiba-tiba terdengar lagi sirene mobil patroli yang muncul di belakang, jantungnya nyaris copot mendengar raungan tiba-tiba itu. Dia ingin istrinya segera mencubit anak mereka lagi biar dia menangis keras.

Beberapa polisi turun mengepung gerobak, membuka tutupnya, tak peduli istrinya menghalangi mereka mengobrak-abrik dan menemukan dua bungkusan kertas coklat berisi barang yang mereka cari dalam daster istrinya. Mereka tampak puas seperti anjing yang telah lama mengendus bau bangkai.

Kuburan digali dan polisi tak menemukan apa-apa lagi di sana kecuali peti mati kosong, orang-orang gerobak memandang sedih kawan mereka yang diborgol, anak dan istrinya masih di tahanan polisi katanya. Saat meninggalkan pekuburan, mereka berpapasan dengan rombongan orang-orang yang datang mau memakamkan mayat, mereka berdiri memperhatikan orang- orang itu dengan pandangan curiga.

Bergegas wajah-wajah pucat menggotong peti turun dari ambulans menuju lubang makam, stanggi kemenyan berasap, uang-uang receh dihambur-hamburkan bersama bunga-bunga. Lalu upacara pelepasan mayat berjalan khidmat, singkat, ada yang menangis, ada yang mengambil gambar dengan hati-hati, para pengubur mayat itu sendu menggumamkan bait-bait pengampunan dan pujian, dari balik kacamata-kacamata gelap mereka dan kerudung-kerudung penutup kepala berwarna hitam….

Jakarta, akhir tahun 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: