Belajar dari Sebuah Mimpi

Era Madina: Minggu, 04 Januari 2015

Mesopotamia mimpi panjang yang teramat melelahkan (Junaidi Khab)

Mesopotamia mimpi panjang yang teramat melelahkan (Junaidi Khab)

Judul               : Mesopotamia mimpi panjang yang teramat melelahkan

Penulis             : Senja Nilasari

Penerbit           : PING!!! (DIVA Press)

Cetakan           : I, September 2014

Tebal               : 220 halaman

ISBN               : 978-602-296-023-2

Peresensi         : Junaidi Khab*

Mendapatkan pengalaman bukan hanya ketika kita tersadar dengan mata terbuka saja. Namun, dari sebuah mimpi kita bisa belajar tentang kehidupan. Kita bisa menyadari bahwa mimpi bukan sekadar ilusi dan angan-angan, tapi mimpi merupakan alam bawah sadar yang menjalaninya. Ada yang mengatakan bahwa alam mimpi merupakan alam dimana manusia memasuki cahaya Tuhan.

Kita bisa lihat dari kisah nabi Yusuf perihal mimpi yang memiliki banyak makna dan pelajaran bagi kehidupan kita semua. Juga dari para raja-raja dan orang terdahulu, dengan mimpi-mimpinya di saat tidur, mereka bisa mengantisipasi banyak hal yang mungkin akan terjadi. Begitulah, mimpi bisa memberikan informasi bagi kita semua, kita bisa belajar dari sebuah mimpi.

Kehadiran buku yang berjudul Mesopotamia ini akan mengajak kita untuk mengarungi sebuah mimpi sejarah kerajaan di Sumeria. Karya ini merupakan karya fiksi yang berupa sejarah masa silam. Yaitu pada masa abad XXI sebelum masehi.

Abdurrahman (Oman), seorang arsitek Iraq yang mengalami panjang di Sumeria. Dia menjadi seorang budak oleh orang-orang yang menolongnya ketika tiba-tiba berada di suatu tempat yang tidak ia kenal (hlm. 26).

Dirinya yang seorang ahli arsitektur andal pada masanya (abad XX setelah masehi/ 2014 M) tidak bisa berbuat banyak. Seakan-akan langkah dan gerak-geriknya diperlambat oleh keadaan yang menyertainya. Dia hanya bisa bergerak sesuai perintah tuannya. Secara akal sehat dia menyadari, bahwa dirinya bukan budak yang bisa menolak apa yang diperintahkan oleh orang yang menolongnya dan menjadi tuannya sendiri. Namun, apa daya, tak ada kekuatan berontak meski pikirannya sadar.

Dia menjadi budak tiga kali perjalanan dalam mimpi itu. Pertama, dia menjadi budak dari orang yang menolongnya, Tuan Abgal. Kedua, dia menjadi budak dari seorang yang berhasil membunuh Tuan Abgal, Tuan Halbi. Ketiga, dia menjadi budak Raja Shulgi dari sebagai hadiah dari Tuan Halbi untuk bekerja di lingkungan istana. Pertama-tama untuk membuat batu bata (hlm. 162).

Meskipun Oman seorang arsitektur dan mengaku kepada Raja Shulgi, dia tidak bisa diterima begitu saja karena dia berstatus budak pada saat itu. Namun, akhirnya berkat pertimbangan dari Raja Shulgi, Oman diminta pendapat tentang bangunan untuk pemujaan dewa-dewa penduduk Sumeria di kota Ur. Dia yang merancang bagian atas dari kuil yang bertingkat tiga itu.

Hingga akhirnya, Oman tersadar dari mimpi panjangnya. Dan kuil di alam nyata itu setelah dikunjungi, memang dalam keadaan hancur. Dia menerka sebagaimana dalam mimpinya bahwa kuil yang tinggal satu tingkat itu hakikatnya bertingkat tiga. Bangungan itu hancur karena gerusan zaman yang terlalu lama (hlm. 213).

Dari mimpi itulah suatu kenyataan bahwa kita kadang tak memiliki kekuatan atas kehendak Tuhan. Mimpi menjadi sebuah alamat bagi kita untuk menjalani kehidupan lebih baik. Mimpi buruk yang dialami Oman itu, jarang terjadi dalam kehidupan manusia. Oman, seorang arsitektur hebat dari Iraq. Dalam dunia lain, dia menjadi budak yang bisa diperintah apa saja oleh tuannya. Hingga akhirnya, berkat perjuangannya, dia juga diterima sebagai arsitek kuil kerajaan.

Suatu tanda baik bagi Oman bahwa dirinya yang arsitek benar-benar berprofesi sebagai arsitektur profesional. Itu terbukti dengan banyak karya arsiteknya yang dikagumi dan diminati oleh dunia internasional, contohnya; proposal yang dipresentasikan di Jakarta sebelum dia tertidur dengan mimpi panjangnya itu diterima sebagai proyek megabesar suatu perusahaan Indonesia yang beridiri di Jakarta.

Dari novel yang mayoritas berisi tentang perjalanan mimpi seorang Abdurrahman ini, kita akan menemukan makna atau hakikat suatu mimpi bagi kita sendiri. Mimpi, memiliki arti penting bagi masa depan yang akan kita jalani. Secara tidak langsung, novel ini merupakan suatu gambaran bagi Oman bahwa dirinya berprofesi menjadi seorang arsitektur yang andal. Begitu pula dengan mimpi yang membangunkan kita di saat malam atau siang, itu menjadi sebuah pertanda bagi masa depan yang kita jalani. Mari kita berusaha untuk bermimpi yang indah dan baik dengan membangun pikiran yang lebih positif untuk menuju masa depan yang gemilang.

* Peresensi adalah Pecinta Baca Buku Tinggal di Surabaya.

Tulisan ini bisa dinikmati lebih lanjut di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: