Si Bongkok Udang

RADAR SURABAYA ● MINGGU, 4 JANUARI 2015

Oleh: Junaidi Khab*

Si Bongkok Udang (Radar Surabaya/Junaidi Khab)

Si Bongkok Udang (Radar Surabaya/Junaidi Khab)

Aku bingung dengan gejolak batinku saat ini. Hatiku tercabik bagaikan bangkai ditukik oleh burung gagak yang gagah berani. Para tetangga pada ramai bergosip tentang diriku yang gila lelaki. Perempuan-perempuan yang tahu tentang diriku, tentu akan mengernyitkan dahi. Katanya aku ini perempuan yang tak tau diri. Aku perempuan yang banyak dosa. Aku pula perempuan yang harus siap memakan dosa-dosa itu dari api neraka kelak ketika aku sudah mati.

Hatiku tak kuat menahan gosip yang bagaikan suara guntur dan petir yang menyambar-nyambar berkilatan di kala hujan turun pada malam hari. Gelap gulita menyelimuti perasaan dan hatiku. Tiap aku keluar rumah, para tetangga dan perempuan dengan nada mengejek berkata: “Perempuan jalang!” ada pula yang berkata: “Perempuan liar!”.

Dengan kata-kata itu aku termarjinalkan. Seakan-akan aku diusir dari kampung halamanku sendiri. Atau bahkan aku diharap cepat-cepat mati. Aku memang mengakui, aku ini memang perempuan jalang, aku memang perempuan liar. Tapi aku tidak terima jika aku diejek, dihina, diusir dan apalagi dinistakan. Aku tak terima jika aku diusir dari kampung halamanku. Padahal aku tak menyakiti dan tak mengganggu kehidupan para tetanggaku.

Aku semakin terpukul dan hatiku teriris-iris ketika para tetanggaku bercerita tentang diriku yang punya banyak suami. Aku akui, aku memang memiliki banyak suami. Ya, aku punya banyak suami. Tapi aku tak merebut suami-suami mereka.

Katanya aku menyalahi aturan dan fitrah alam. Menyimpang dari ajaran agama tentang larangan poliandri. Menerjang adat yang telah menjadi hukum kehidupan para tetanggaku. Aku memang tahu, agamaku melarang poliandri dengan alasan yang cukup jelas. Secara alamiah, poliandri memang tidak baik dan membawa bencana dalam kehidupan rumahtangga. Adat pun ikut-ikutan mengharamkan poliandri dengan alasan senada.

Ada kelainan dalam jiwaku tentang hasrat seksual dan biologis. Aku hanya takut melanggar agama jika aku tidak melakukan poliandri. Batinku dilema dengan agama yang melarang menikah poliandri, bersuami lebih dari satu. Kebimbangan dan dilema membawaku pada duniaku sendiri untuk memutuskan bersuami dari satu. Itu pun dengan persetujuan suamiku sendiri tanpa paksaan.

***

Pernah suatu ketika aku berkonsultasi pada seorang dukun ahli mantra dan seks. Aku katanya salah satu dari perempuan si bongkok udang. Iya, di bawah tengkukku, tepatnya punggungku bagian ke bahu sedikit membongkok seperti udang. Tapi tidak bongkok karena cacat. Bongkokku ini katanya bongkok udang. Perempuan bongkok seperti aku ini katanya memiliki hasrat seksual yang sangat tinggi.

Iya, aku akui pula apa kata dukun itu. Aku memang memiliki birahi dan hasrat seksual yang sangat tinggi. Kadang ketika aku berhubungan badan dengan suamiku, aku sulit mencapai klimaks padahal sudah satu jam bahkan lebih. Sementara suamiku sudah orgasme setengah jam yang lalu. Aku bingung ketika demikian. Aku kecewa dengan kekuatan suamiku.

Berbagai jamu dan obat tradisional telah kusarankan pada suamiku. Dia juga banyak bertanya dan belajar tentang ilmu seksual agar tahan lama ketika bergaul denganku. Hingga mengeluarkan banyak uang untuk usahanya itu. Obat-obatan herbal dan modern telah ia konsumsi. Terapi telah menjadi pekerjaan sehari-harinya. Tapi hasilnya masih tetap saja. Aku tidak mudah terpuaskan.

Itu alasan suamiku agar aku bersuami lagi supaya hasratku terpenuhi dan tidak kecewa lagi. Dengan sepenuh hati, aku pun mengikuti sarannya, karena memang aku kecewa. Aku bersuami lagi. Aku baru sampai klimaks jika bermain dua kali dengan suami-suamiku.

Kamar suamiku berbeda-beda dalam satu rumah. Ketika aku tidak klimaks di kamar suami satunya dan suamiku sudah klimaks, aku langsung berlarian pada suami yang satunya. Lalu baru aku akan merasakan klimaks dan orgasme yang tiada tara. Itu pun suamiku mencapai klimaks dan orgasme terlebih dahulu.

Kini suamiku berjumlah dua belas orang. Tiap malam hasratku harus terpenuhi. Satu malam aku harus dilayani oleh dua orang suami, tapi tidak bersamaan dalam satu kamar. Jika aku harus mengikuti aturan agama – bersuami satu – aku khawatir menjadi perempuan tunasusila. Atau aku akan menjadi perempuan pembantah suami. Tidak puas dengan suami sendiri lalu mencari lelaki hidung belang meski itu suami tetanggaku, atau mencari di pagar-pagar dengan mata buta dan perasaan kelam. Ini lebih tak bermoral daripada poliandri. Itu yang tak kumau.

Banyak para lelaki berpoligami hanya karena nafsunya belaka. Sementara nafkah lahiriyah bagi istri-istrinya jarang terpenuhi dengan baik. Pertengkaran dalam rumahtangga lelaki yang berpoligami sering terjadi. Para lelaki beristri lagi tanpa izin dari para istrinya yang hanya menjadi pemuas nafsu birahi belaka. Perempuan sudah dipermainkan. Mungkin karena mereka tak perkasa, sehingga suaminya berpoligami

Pertengkaran seperti yang mereka alami, tidak aku alami. Karena aku diizinkan bersuami lagi oleh suami-suamiku. Dan nafkahku terpenuhi segalanya. Suami-sumaiku rajin bekerja dan beribadah. Mereka rukun dalam satu rumah dengan keluarga besar. Anak-anakku juga tak luput dari kasih sayangku dan kasih sayangnya.

Aku lebih memilih poliandri daripada mendapat hujatan dari orang banyak dan mendatangkan masalah lebih besar lagi. Dengan poliandri aku tak akan mengganggu dan menggoda para perjaka, lelaki, dan suami orang lain. Namun aku masih dilema dengan aturan yang menghukum perempuan untuk berpoliandri. Hukum itu bagiku tidak adil yang terus-terusan menyerukan tentang larangan poliandri.

***

Malam terus memberangus dan menyusuri di tiap sela-sela batinku. Waktu meninggalkanku dalam kegelisahan yang tak kunjung usai ini. Saat malam itu, kemelut dan gulatan batinku membuncah. Kedilemaan antara poliandri dan bersuami satu menyusup ke dalam sel-sel darahku. Aku pun pamit pada para suamiku untuk berkunjung ke kiai Samaun. Aku pun diizinkan dan ditemani oleh seorang dari suamiku. Aku berharap dari kiai Samaun mendapat jawaban yang memuaskan tentang hukum poliandriku dalam mengarungi bahtera kehidupan rumahtangga bersama suami-suami dan anak-anakku.

Kususuri gelapnya malam dengan lampu senter yang sengaja kuredupkan agar tak diketahui oleh para tetangga. Langkah demi langkah kujalani. Hingga aku diantarkan ke depan rumah kiai Samaun yang tampak begitu indah meski hanya terbangun dari batang bambu dan atap jerami.

“Selamat malam pak Kiai”.

Aku menyapa dari luar rumah itu tanpa salam sebagaimana orang kebanyakan. Cahaya lampu di dalam gubuk itu bertambah terang. Tampaknya kiai Samaun belum tidur dan dia menyalakan lampu lagi agar gubuknya lebih terang dan bercahaya. Pintu gubuk itu terbuka perlahan. Dengan tangan terbuka kiai Samaun menyilakan aku dan suamiku masuk.

“Ada keperluan apa nduk, malam-malam begini datang ke gubukku?”.

“Saya ingin meminta penjelasan dan keterangan tentang hukum poliandri yang saya jalani dalam beberapa tahun ini pak Kiai”.

“Lantas…?”. Pembicaraannya terpotong oleh celotehku.

Kiai Samaun pun mendengarkan segala curahan hatiku dengan penuh saksama. Detak-detak jam di dinding bambunya menambah keseriusan curhatanku dan simakan kiai Samaun. Kiai Samaun hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Seakan-akan mencari jawaban tentang pembolehan poliandri. Namun, aku masih tetap kecewa dengan jawaban kiai Samaun yang paling alim di daerahku itu.

“Nduk, dalam aturan agama dan adat, poliandri tetap tak diperbolehkan”.

Pak kiai lebih lanjut dengan penjelasan dan alasannya tetap melarang poliandri. Aku hanya tertunduk tersipu kecewa dengan larangan itu. Haram katanya. Ya, haram. Katanya perempuan itu akan jadi rebutan para suaminya lalu terjadi pertengkaran di antara mereka jika poliandri terjadi. Katanya pula perempuan tak akan mampu melayani para suaminya. Padahal aku tidak menjadi rebutan. Malah aku yang kecewa pada suamiku di kala malam menyelimuti tubuhku dengan aroma ketidakpuasan.

Lalu aku pamit pulang bersama beribu kekecewaan dengan suamiku. Aku akan melawan arus kehidupan ini untuk menjalani bahtera rumahtanggaku. Poliandriku tak akan sama seperti yang dibayangkan oleh adat dan agama. Aku perempuan yang tak sama dengan perempuan-perempuan pada umumnya. Aku perempuan yang lebih tangguh dan keranjingan kebutuhan biologis yang tak cukup dilayani oleh satu orang suami dalam satu kali main.

Yogyakarta, 04 Januari 2014

* Cerpenis Tinggal di Surabaya dan Bergiat di Komunitas Sastra UIN Sunan Ampel Surabaya.

Jika ada yang ingin membaca versi koran cetaknya, bisa mengakses dengan mengklik tulisan berwarna sebagaimana berikut. RADAR SURABAYA MINGGU, 4 JANUARI 2015 Si Bongkok Udang Oleh Junaidi Khab. Semoga memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: