Strategi Dalami Bahasa Arab dan Hukum Islam

Santri News:Rabu, 31 Dsember 2014

Ensiklopedi Komplit Menguasai Bahasa Arab (Junaidi Khab)

Ensiklopedi Komplit Menguasai Bahasa Arab (Junaidi Khab)

Judul               : Ensiklopedi Komplit Menguasai Bahasa Arab

Penulis             : Abdul Lathif Said

Penerbit           : mitrapustaka (Pustaka Pelajar)

Cetakan           : I, November 2014

Tebal               : 615 halaman

ISBN               : 978-602-8480-70-3

Peresensi         : Junaidi Khab*

Bahasa Arab merupakan bahasa al-Quran yang diwahyukan kepada nabi Muhammad Saw. Dari sumber hukum dan ilmu pengetahuan tertinggi ini, banyak bermunculan keilmuan-keilmuan yang menggunakan bahasa Arab. Sehingga, ajaran-ajaran bernuansa Islam banyak bersumber menggunakan bahasa Arab. Maka dari itu, orang-orang yang ingin mengetahui tentang ajaran nabi Muhammad Saw. tentang agama Islam harus benar-benar paham tentang kaidah dan penggunaan atau pengucapan bahasa Arab sesuai dengan ketentuan atau aturan dalam bahasa Arab.

Karena sebuah bahasa tak semua kosa-katanya bisa diterjemah, terlebih Arab, maka mempelajari bahasa Arab suatu keharusan. Terlebih para santri dan ustadz. Guru ngaji dan kiai, yang sering membawa dan menyampaikan agama (Islam). Jika kualitas bahasa arabnya setengah-setengah, bagaimana mungkin menguasai agama (Islam). Jelas, dia akan menyesatkan atau mustahil bisa menyampaikan agama sampai pada kualitas puncaknya. Sebab perangkat agama saja tak punya. Tak kredibel. Tak lengkap.

Bagaikan seseorang yang ingin membangun gedung pencakar langit, namun terhadap alat-alat dan cara membangun gedung itu saja tak menguasai. Tentu bangunan tersebut mustahil tercapai, begitu pula halnya jika mau membangun atau mengokohkan fondasi agama Islam untuk disampaikan kepada masyarakat, jika peralatan menguasai bahasa Arab tidak ada, maka cara menyampaikan ajaran agama Islam yang berbahasa Arab tersebut juga mustahil tercapai (hlm. xiii).

Maka, menguasai bahasa Arab serta kaidah-kaidah menggunaannya merupakan suatu keharusan jika kita memang mau belajar ajaran agama Islam dan menyampaikan kepada masyarakat. Kehadiran buku ini bukan semata untuk menguasai bahasa Arab. Tapi ada nilai tersurat dan tersirat, yaitu agar dalam memahami ajaran agama Islam yang berbahasa Arab tidak terjadi kekeliruan karena salah tafsir saat memberikan arti.

Secara garis besar, dalam kaidah bahasa Arab dikenal dua piranti (alat keilmuan bahasa) untuk menguasainya, yaitu; nahwu dan shorof. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan tenses dan grammar. Nahwu merupakan bagian dari ilmu bahasa Arab yang mempelajari tentang perubahan harkat di akhir kata dan pembentukan kalimat. Sementara shorof merupakan bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari tentang perubahan kata untuk membentuk waktu, tempat, atau benda.

Salah satu contoh dari materi nahwu, yaitu kata yang berupa benda (isim), dalam satu kalimat, maka harkat akhirnya bisa dibaca fathah, kasroh, atau dhommah. Hal tersebut tergantung terhadap kelimat penyusunnya. Jika suatu kalimat hanya terdiri dari fi’il dan fa’el atau subjek dan predikat, maka fa’el-nya (subjek) dibaca dhommah. Tetapi jika suatu kalimat terdiri dari fi’il, fa’el, dan maf’ul, maka kata benda (isim) setelah fi’il (predikat) yang menjadi fa’el dibaca dhommah, dan setelahnya yang menjadi maf’ul (objek) dibaca fathah (hlm. 21).

Misalkan kalimat ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًاsusunan kalimat tersebut jika salah baca, maka artinya pun bisa berubah dan ambigu. Arti kalimat tersebut yaitu “Zaid memukul Amar”, jika cara baca harkat terakhirnya dibalik, maka maknanya akan ambigu dan bisa bermakna “Amar memukul Zaid”, bukan Zaid lagi yang memukul, tapi Amar.

Begitu pula dengan ilmu shorof. Shorof di sini mengajarkan bagaimana pembentukan kalimat/ kata, fi’il atau kata kerja (predikat). Shorof di sini berbicara waktu, misalkan waktu lampau, sekarang, dan yang akan datang serta kata kerja yang ditambahi oleh huruf lain dan yang tidak ditambahi. Dalam shorof, untuk menunjukkan waktu sekarang dan akan datang hanya dikenal satu kata, yaitu fi’il mudlari’ (hlm. 444).

Misalkan يَقْتُلُ زَيْدٌ عَمْرًا yang berarti “Zaid sedang membunuh Amar”, jika kalimat tersebut ditambah kata يَقْتُلُ زَيْدٌ عَمْرًا غَدًا maka makna kalimat tersebut berubah arti, menjadi “Zaid besok akan membunuh Amar”.

Menguasai bahasa Arab memang sangat sulit jika tidak menguasai dua ilmu alat ini, nahwu dan shorof. Dua alat ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ada hubungan timbal balik yang bisa membangun pembentukan makna dari suatu kalimat. Ketika salah dalam memberikan harkat pada suatu kata, maka sudah dapat dipastikan makna kalimat yang mengandung kata tersebut akan salah juga.

Buku ini hadir untuk membuka jalan buntu bagi kita semua untuk menguasai bahasa Arab. Dengan tujuan agar tidak banyak kekeliruan dalam memberikan makna kalimat yang berbahasa Arab. Lebih-lebih jika memaknai kalimat bahasa Arab yang mengandung ajaran dan hukum-hukum agama (Islam). Jika cara membacanya salah akan berdampak pada pemahaman pembaca yang tentunya juga akan keliru dalam menyampaikan risalah atau ajaran agama (Islam). Maka dari itu, buku ini hadir sangat tepat sekali untuk memandu para pembaca dalam menguasai bahasa Arab dan memahami ajaran agama (Islam) dengan baik dan benar. Semoga!

* Peresensi adalah Pecinta Baca Buku, Tinggal di Surabaya.

E-Mail            : john_gapura@yahoo.com

Tulisan tersebut bisa dibaca lebih lanjut di Santri News. Semoga berkah dan bermanfaat. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: