Melepas Gadget atau Alat Teknologi Saat Berbicara

Oleh: JUNAIDI KHAB*

Dari Kanan - Ainul Yaqin, Ahmad Halif, Amiruddin Alatas, Junaidi Khab (Saat Presentasi tentang Literasi), Marlaf Sucipto, Masnida, dan Fawaid pada Diskusi Indonesia Belajar-IB Surabaya Jawa Timur

Dari Kanan – Ainul Yaqin, Ahmad Halif, Amiruddin Alatas, Junaidi Khab (Saat Presentasi tentang Literasi), Marlaf Sucipto, Masnida, dan Fawaid pada Diskusi Indonesia Belajar-IB Surabaya Jawa Timur

Di era modern saat ini, teknologi menjadi suguhan nomor satu dalam kehidupan masyarakat dunia. Hal tersebut terjadi karena kecenderungan manusia ingin hidup enak dan nyaman dengan cara yang cepat dan instan. Itu manusiawi yang tidak bisa kita bantah lagi. Ada banyak produk teknologi yang membanjiri gaya hidup manusia. Baik mulai dari mesin-mesin modern yang bekerja sesuai pengaturan yang dikehendaki oleh manusia, hingga gadget yang memberikan layanan akses dunia internasional secara mudah dan ringan.

Bahasa sederhananya, dengan berkembangnya teknologi dan ada kelahiran gadget menjadikan dunia seakan-akan halaman manusia. Segala apa yang menjadi kebutuhan hidup bisa diakses melalui teknologi modern. Gadget di sini mengartikan teknologi ringan yang bisa dipegang dan dibawa kemana-mana, seperti hendaphone, ipad, tabled, smartphone, atau jenis lainnya. Di era modern saat ini, mayoritas manusia sudah bisa pegang handphone. Ini sudah menjadi tren dan kebiasaan manusia. Dengan handphone manusia bisa berhubungan jarak jauh.

Ada banyak manfaat yang bisa diberikan oleh alat-alat modern tersebut yang tidak bisa kita sebutkan satu persatu secara menyeluruh. Alat-alat tersebut secara umum mampu membantu dunia komunikasi manusia secara luas dan bebas. Pernah aku membaca suatu artikel berbahasa Inggris dalam pelajaran bahasa Inggris sejak waktu SMA. Dalam artikel tersebut menyatakan bahwa teknologi menjadikan manusia tidak bisa hidup bersosial dengan baik. Setelah lama kelamaan, aku merasakan dan membenarkannya.

Seseorang yang berlama-lama di depan komputer atau laptop, pikirannya akan terasa kaku, sehingga dengan kondisi atau lingkungan sekitar biasanya tidak begitu peduli. Aku pernah merasakannya, rasanya males berkomunikasi dengan orang di dekat kita usai berlama-lama di depan komputer/ laptop. Apalagi teknologi yang berjenis handy, alias mudah dipegang tangan dan dibawa kemana-mana. Teknologi semacam ini membiasakan diri kita, manusia untuk berkomunikasi jarak jauh dengan orang lain. Secara otomatis, orang-orang di dekat kita tidak begitu dipedulikan, alias dicuekin. Kita lebih memilih berkomunikasi dengan orang yang tidak tampak di depan mata.

Catatan ini muncul dari pikiranku sebenarnya sudah lama. Namun baru kutulis saat ini setelah sekian lama melihat fenomena tentang sifat diri yang kurang peduli dan kurang menghargai terhadap teman/ orang yang berada di dekat kita karena asyik bermain dengan teknologi. Tentu merasakan tidak nyaman atau tidak orang yang bersama kita, jika kita cuek dengan asyik menikmati teknologi yang kita pegang. Ini harus menjadi sebuah refleksi kesadaran diri agar kita tidak diatur oleh teknologi, tapi bagaimana kita bisa mengatur teknologi agar bisa digunakan dengan sebaik mungkin tanpa menyepelekan orang yang bersama kita.

Lebih-lebih saat berbicara, atau saat diskusi, atas saat rapat. Kebiasaan kurang baik muncul dalam kondisi semacam itu. Banyak yang asyik dengan teknologi yang dimilikinya saat berbicara dengan orang lain, saat mengikuti rapat, saat mengikuti diskusi. Tapi, masih saja ada yang beralasan bahwa meski dirinya asyik dengan teknologi yang dimilikinya tetap mendengarkan. Di sini, kita tidak hanya membicarakan tentang persoalan mendengarkan saja, tapi menghargai orang lain, lebih-lebih yang berbicara sampai mulutnya berbusa.

Jadi sebisa mungkin lah saat berbicara dengan orang lain, mengikuti rapat, mengikuti diskusi atau forum lainnya jangan asyik sendiri dengan teknologi yang kita miliki. Lepas teknologi saat kita berbicara dengan orang yang sudah benar-benar nyata berada di dekat kita. Mungkin bagi yang apatis dan egois, peringatan semacam ini disangkal dengan alasan dan argumentasi ilmiah populer untuk membenarkan diri sendiri. Memang sangat sulit menghargai orang lain yang berbicara. Usahakanlah alat yang berupa handphone, tablet, ipad, dan alat teknologi yang mudah dipegang tangan ditaruh dulu, ketika berbicara dengan orang lain, mengikuti diskusi, atau mengikuti rapat dan sebagainya lainnya.

Surabaya, 15 Desember 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: